
Cinta tanpa syarat itu tidak peduli apa yang terjadi di dalamnya, masalah apa yang sedang dihadapi dan kesalahan apa yang sedang tertimbun di sana, asal bersama dan saling mencintai akan ada sebuah hubungan di sana. Zhavia berkali kali memaafkan Patrick, berkali kali mengerti dan berkali kali tidak peduli dengan apa yang Patrick lakukan padanya. lalu, bagaimana kelanjutan hubungan mereka?
...
Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Zhavia tidak tidur semalam. Dia memikirkan apa yang dilakukan suaminya semalam. Hoshi belum mengangkat panggilannya. Dia benar benar penasaran. Dia sudah meminta tolong pada Sandra dan Dessy, baby sitter Zena untuk mengurus Zena terlebih dulu. Dia mengatakan kepalanya agak pening takut Zena juga memikirkannya. Gadis kecil itu ladang gelisah jika melihat Zhavia kurang enak badan atau bersedih.
Karena pengaruh dari alkohol, Zhavia menuruti Patrick yang mencurahkan hasratnya walau dalam tangisan. Patrick tidak tahu kegundahannya. Kini, Patrick masih tertidur. Ini hari minggu. Biasanya Patrick juga pergi menghadiri pesta syukuran beberapa donatur tapi Zhavia sengaja tidak mengingatkan atau malah membangunkan. Zhavia ingin melihat apakah suaminya itu mengingat ulang tahuannya kemarin atau tidak. Dan kini pun Zhavia duduk di pinggir tempat tidur sambil memegang kemeja Patrick yang masih terdapat bekas lipstick di kerah nya.
Zhavia ingin menunggu sampai Patrick bangun dengan sendirinya. Kesedihan sudah membumbung di hatinya. Mengapa ini terjadi pada rumah tangganya? Tidak ada seorang pun wanita yang membayangkan akan mendapatkan masalah seperti ini ketika menikah. Tidak ada. Zhavia kembali meneteskan air matanya .
Tak lama tangan tangan kekar nan putih itu menelusup menggerayangi pinggang Zhavia. Zhavia terkesiap dan setengah menoleh.
"Sayang, kepalaku sakit sekali, apa semalam aku mabuk?" tanya Patrick mengecupi punggung bawah Zhavia.
"Ya,"
"Apa aku menyakitimu?" tanya Patrick memastikan tubuh Zhavia. Patrick menyadari setiap dia mabuk, dia pasti menyetubuhi Zhavia.
"Ya,"
Patrick mencoba membuka matanya dan beranjak dari tidurnya. Dia duduk di samping Zhavia dengan perlahan.
"Zhavia, apa ada yang sakit? Maafkan aku, kau tahu kan aku tidak bisa menahan hasrat ku kalau sudah setengah sadar dan melihat dirimu," kata Patrick merangkul pinggang Zhavia dan mendekatkannya.
Zhavia tak menjawab. Dia masih menundukan kepalanya memegang kerah kemeja Patrick.
"Zhavia? Ada apa denganmu? Mengapa kau memagang kemejaku? Apa aku sudah melakukan kesalahan?" Tanya Patrick masih tidak mengerti. Dia lalu meraih kemejanya dan akhirnya mengerti mengapa Zhavia begitu sedih.
"Sial! Ini pasti ulah Daniah! Aku tidak akan mau bekerja sama dengannya!" Dengus Patrick yang mengingat Daniah, penyanyi dari management lain yang hendak berlatih di gedung sekolah Patrick. Dia menggoda Patrick yang sedang mabuk kemarin lalu Daniel membawanya pulang.
"Zhavia," panggil Patrick mendongakan wajah Zhavia yang sudah berlinang air mata.
"Zhavia, aku bisa jelaskan! Kalau kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada Hoshi dan Daniel. Mereka yang menemaniku. Tolong percaya padaku," pinta Patrick berkata pelan di hadapan Zhavia.
"Aku lelah Patrick," balas Zhavia.
"Maafkan aku, aku mohon!" Ucap Patrick lagi memeluk Zhavia.
"Aku lelah, kau selalu menipuku. Ini bukan hanya permasalahan lipstick itu. Aku percaya mungkin wanita itu tidak sengaja. Namun, apa kau tahu hal lain yang membuatku kecewa? Sampai sampai aku berpikir tutup saja gedung sekolah itu jika sedikit saja kau tidak lagi memperhatikanku. Untuk apa semua itu kalau aku seperti tidak memiliki suami?" Kata Zhavia dan Patrick merasa tertampar.
Dia menarik dirinya dan meraih wajah Zhavia.
"Zhavia, aku minta maaf, aku salah, sejak pembamgunan itu aku memang sudah tidak bisa membagi waktu denganmu, dengan Zena. Aku minta maaf. Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan membagi waktuku dengan baik. Aku pergi bersamamu, makan siang bersamamu dan sore pulang bersamamu. Kalau aku harus pergi ke tempat yang berbeda, aku akan bertanya padamu apa kau bisa ikut denganku atau tidak. Dan, setiap hari Minggu aku tidak akan kemana mana. Aku akan di rumah bersamamu dan Zena. Dan, Zhavia ..." Kata Patrick masih memegang wajah Zhavia dan satu tangannya menghapus air mata istrinya itu.
Zhavia malah menangis mendengar penuturan suaminya. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi ini semua. Zhavia masih memandang Patrick, menunggu kata kata apa lagi yang hendak suaminya katakan.
"Selamat ulang tahun," ucap Patrick di depan wajah Zhavia.
__ADS_1
Zhavia makin mengeluarkan derai air matanya. Dia pikir, Patrick melupakannya. Namun, tidak ada yang bisa ia katakan. Hatinya masih hancur dengan semua perilaku suaminya selama ini yang terlalu sibuk padahal Patrick pemimpin. Bisa saja dia memberikan pada anak buahnya.
Tapi Zhavia tidak bisa berkata kata karena Eden juga memiliki anak, bahkan anaknya dua. Sementara ibunya sudah sangat tua melebihi Sandra. Sedangkan Hoshi baru satu tahun bersama Patrick. Belum begitu mengerti management yang diterapkan dan bagaimana mengimbangi dirinya dengan Patrick. Apa lagi Daniel. Daniel bahkan hanya tenaga pengajar seperti dirinya. Daniel tidak bisa banyak membantu Patrick.
Satu tahun ini memang hari terberat bagi Zhavia. Zhavia sangat menyadari membentuk perusahaan ini tidak semudah yang ia bayangkan. Dulu dia juga seperti itu dengan Gracia. Jadi, Zhavia tidak bisa berkomentar atau protes banyak pada suaminya.
"Mengapa kau tidak menjawab? Kau marah sekali padaku?" tanya Patrick frustasi.
"Hargai hatiku. Kemarin kau mengingkari janji. Kau tidak pulang tepat waktu. Kau melupakan makan malam ulang tahun ku dan kau kembali dengan keadaan mabuk lalu ada bekas lipstick di kerah kemejamu. Bagaimana perasaanku? Bagaimana? Aku percaya kau tidak selingkuh, tapi apa yang dipikirkan seorang istri jika melihat kondisi suaminya seperti ini, apa Pat?" Decak Zhavia melepaskan pegangan tangan Patrick lalu beranjak dari tempat tidur. Dia menuju ke kamar mandi untuk membasuh dirinya.
Tubuhnya sudah memanas dan kepalanya ikut menegang. Patrick tidak tahu bagaimana perih hatinya kemarin dan sekarang dengan mudahnya dia mengucapkan selamat ulang tahun.
Patrick mengusap wajahnya kasar. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Hoshi.
"Pat, ada apa? Istrimu menghubungiku terus menerus. Sudah kubilang kau jangan mabuk!" Hoshi mengangkat panggilan.
"Putuskan kerjasama dengan Daniah! Aku tidak mau melihat wajah wanita itu!" perintah Patrick.
"Ya, dia terus merayumu, aku sampai kehilangan akal memisahkannya darimu. Sepertinya seseorang memberinya obat perangsang Pat dan dia sangat menyukaimu!" kata Hoshi menanggapi.
"Sial! Lalu, kau apakan dia?" selidik Patrick.
"Aku membawanya ke rumah sakit, kau tenang saja," saut Hoshi di seberang sana.
"Kau tidak terpancing kan?" selidik Patrick lagi.
"Crazy!"
"Masa kau tidak tahu typeku! Dia begitu arogan dan tidak jelas. Mengapa suaranya bagus sekali?" kesal Hoshi yang tidak terima kalau wanita bern Daniah itu memiliki suara yang indah.
"I Don't care! Pokoknya putuskan kerjasama. Aku tidak mau menerimanya di sekolah ku! Katakan juga pada Daniel. Daniel tidak boleh menemuinya. Mereka bersahabat. Kau mengerti?" kata Patrick lagi mengingatkan.
"Ya Pat, tapi kemarin Daniel yang mengantarmu pulang," Hoshi mengingatkan.
"Aku tahu! Baiklah, aku harus membujuk Zhavia. Kemarin Daniah hendak menciumku kan tapi dia sengaja menodai kerah kemeja ku dengan bibirnya! Sial!" keluh Patrick.
"Aku tahu! Semoga Zhavia mengerti, besok aku akan membantumu bicara," saut Hoshi.
"Thanks, Hosh! Hari ini kau saja ke acara ulang tahun anak Albert, aku harus bersama istri dan anakku,"
"Siap Pat! Sampai besok,"
Panggilan dimatikan. Patrick segera menghambur menghampiri Zhavia di kamar mandi.
"Apa yang harus kulakukan untukmu, Zhavia?" Tanya Patrick memeluk Zhavia dari belakang.
Zhavia menggeleng.
__ADS_1
"Jangan diam seperti ini, aku jadi bingung!" kata Patrick lagi.
"Memang tidak ada yang perlu kau lakukan. Aku sudah mengatakan kalau aku lelah. Lelah dengan perasaanku ini. Aku tidak tahu kau merasakannya atau tidak! Setiap jam makna siang aku hanya ingin berdua ke kantin bersamamu, tapi apa yang kudapatkan? Daniel, Daniel dan Daniel! Daniel bisa ada di depan mataku terus menerus!" bentak Zhavia kesal.
"Kau tidak menyukainya kan?" selidik Patrick meremass lembut buah dada Zhavia sambil mengecupi lehernya.
"Sudah gila kalau sampai kau berpikir seperti itu Pat! Kalau aku tahu kau berpikir seperti itu, lebih baik aku bawa Zena dan kembali ke Legacy! Karena kau makin tidak menghargai perasaanku!" kata Zhavia lagi kesal.
"Zhavia, maafkan aku, aku mohon! Aku tidak bisa kau begini. Bagaimana aku bekerja besok?" mohon Patrick.
"Heng, kau saja masih memikirkan besok dan pekerjaanmu!" sindir Zhavia.
"Jadi, kau tidak ingin aku bekerja, iya?"
"Aku tidak tahu Patrick! Aku hanya ingin waktumu! Sudah jelas?"
"Baiklah, satu hari ini aku akan bersamamu! Maafkan aku, jangan seperti ini, aku tidak sanggup!" pinta Patrick lagi dan lagi.
"Terserah apa yang mau kau lakukan padaku! Aku sudah kebal. Aku memiliki Zena dan itu sudah cukup. Kalau kau masih tidak bisa membagi waktumu, itu urusan dan resikomu! Aku sudah memperingatimu dan aku lelah!" saut Zhavia pasrah dengan keadaan Patrick .
"Hem, Zhavia!" Panggil Patrick mengecupi leher jenjang Zhavia terus menerus.
Dia tidak berkata kata lagi. Zhavia membutuhkan pembuktian bukan kata kata. Patrick akan membuktikan padanya perlahan lahan. Wajar kalau istrinya marah. Dia akan memperbaikinya sedikit demi sedikit.
Kini Patrick sudah menanggalkan celana piayamanya. Tangannya mengabsen seluruh bagian tubuh Zhavia tanpa tertinggal sedikitpun. Membalikan tubuh Zhavia menghadapnya lalu kembali membalikkannya lagi. Patrick hendak memanjakan istrinya. Patrick percaya kalau Zhavia akan luluh dengan rayuannya.
Itulah mengapa Patrick begitu mencintai Zhavia. Ingin memberikan apapun untuk nya meski ia lelah, tertatih. Semua yang ia lakukan untuk Zhavia yang hatinya seluas samudra. Cinta pada pandangan pertama ini membuat Patrick terus terobsesi bahkan ingin memberi dunia untuk Zhavia. Dia tidak mau lagi hidup susah seperti waktu itu. Dia harus membahagiakan anak dan istrinya. Dua Z yang begitu ia cintai.
"Zhavia, jangan membisu, cium aku!" Pinta Patrick merengkuh tubuh Zhavia lebih dekat lagi dan memperhatikan wajah istrinya.
"Kau selalu seperti ini ketika aku marah!" ujar Zhavia meneteskan air matanya.
"Bukan hanya ini, ada yang lainnya , tunggu saja. Hari ini aku bersamamu!" Kata Patrick lagi dan mulai mengecup bibir basah Zhavia.
Patrick tersu merayu Zhavia dan akhirnya Zhavia terangsangg. Dia juga merengkuh wajah Patrick dengan sangat protektif. Di bawah siraman shower mereka melakukannya dengan bergairah. Seakan akan tidak ada waktu lagi untuk mereka bercinta .
Tidak setelah klimaks pertama selesai di kamar berair itu tapi ketika selesai dan memasuki kamar, sekali lagi mereka mengulanginya.
Patrick dan Zhavia menikmati Minggu pagi dengan peluh keringat dan decitan tempat tidur serta decak Saliva yang mengumandakan di antara kecupan bibir mereka.
...
hemπ
next part 12
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa π
__ADS_1
thanks for read and i love you π