
Berpura-pura adalah kata yang rumit untuk suatu langkah yang maju.
Hari ini tanpa ada kata semangat didalamnya, Rival hanya berdiam diri di kelas. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi mungkin ini adalah pilihan yang tepat untuk maju ke babak yang baru bukan babak yang lama yang masih ada.
Karna hari ini adalah ujian semester genap untuk memasuki ke tingkat lebih tinggi yaitu kelas XII SMA. Ia harus lebih giat lagi belajar, mungkin kisah asmaranya akan membuat kenangan yang sangat berharga sekali yaitu kenangan pahit dan kenangan yang manus bersama dua orang yang berbeda yaitu Rubi kisah dimasa lalu dan Franda yang merelakannya untuk Rubi, terperangkap dalam kisah cinta segitiga ini.
Franda hanya diam, melihat Rival yang melengos begitu saja keluar kelas tanpa ada kata sapa atau kata hal lainnya. Termenung adalah sesuatu hal yang tepat, Rival pergi begitu saja.
Rival bergerak seperti orang yang terburu-buru dalam hal penting, ia langsung saja mengambil mobilnya dan melesat begitu saja.
Dibalik kaca spion yang berjalan, ia hanya bisa tersenyum tipis kearah sana.
Masa yang dimana ia tidak bisa melupakan itu semua.
Termenung dalam lamunan, ternyata membuat Albert iseng menggoda Franda.
"Hei."
"Apa gue jahat banget?" Batin Franda yang duduk didepan teras melihat kearah langit malam yang begitu cerah. Rasa bersalah yang kini membayanginya.
"Hei." Panggil Albert untuk kedua kalinya.
"Hei juga. Kenapa? Iya? Eh?"
Albert malah tersenyum tipis melihat Franda yang tidak fokus. Ia hanya bisa memegang bahu Franda sambil tersenyum.
"Ikutin apa yang hati lo suruh. Gue yakin kalian berdua tuh saling mencintai jangan buat semua tersakiti. Gue sebagai sahabat Rival tau kalau lo cinta juga dengan Rival. Satu hal yang perlu lo ketahui adalah ketika pikiran lo dan hati lo berbeda jangan salah pikiran karna yang mengendalikan itu adalah pikiran. Semakin lo membuat sakit hati dan semakin lo membuatnya malah patah hati. Good luck ya!" Pergi begitu saja dan membuat Franda cengo karna ucapan yang sederhana namun terkesan sangat dalam sekali.
Menggigit kedua bibir, terdiam dalam lamunan, mematung begitu saja.
"Rival udah tunangan sama Rubi, tapi lo jangan kasih tau yang lain ya. Gue kasih tau lo fran, Rival terpukul sekali pas tau lo mutusin dia bahkan dia kayak sedih banget gitu loh sama lo. Gue harap kalian kembali lagi karna gue belum liat Rival yang berubah seperti ini. Dan asal lo tau fran, Rival tuh tulus berubah sama lo. Gue, gue liat itu didirinya dia." Lalu Albert pergi begitu saja meninggalkan Franda yang masih mematung.
Dan, gak sampai itu...
Franda merasa kalau ia semakin merasa bersalah. Fix itu banget!
Apa gue harus berubah?
Apa gue harus meminta maaf?
Apa yang harus gue lakukan?
__ADS_1
"Makanya jadi cewek tuh jangan maruk, yang ini mau yang itu mau." Lusi menyenggol bahu Franda lalu ia pergi begitu saja.
"Yuk fran." Cerry menggandeng tangan Rival yang melingkar bebas di pinggangnya.
"Cer, apa gue minta maaf aja ya sama Rival. Gue jadi gak enak."
"Ya terserah lo lah, kan gue sebagai sahabat hanya bisa mendukung lo yang terbaik."
"Iya juga sih."
Dari ujung sana terlihat sekali ada seseorang yang melambaikan tangan mengarah kearah mereka berdua. Sosok itu tidak asing dan mengarah kearah mereka.
Jantung mulai berdebar, rasa mulai ingin apalagi Cerry.
Langkah itu semakin dekat dan dekat.
"Hai." Sapa Roy dengan senyum khasnya.
"Kak Roy." Sapa Cerry yang ikut tersenyum.
"Eh fran, kamu pulang sama siapa?"
"Eeee." Ia menatap kearah Cerry yang masih ada disebelahnya.
Rasa sakit itu ada, dan membuat semua seakan berbeda. Dikira senyum itu adalah senyum yang ditujukan untuknya tapi apa?
Sudah jelas jawabannya.
Senyum itu untuk Franda. Apalagi ketika ia mendengar Roy mengatakan aku-kamu yang notabennya gue-lo. Ia memang tidak memiliki hal akan itu, tapi terlihat sekali kalau Roy memiliki rasa ke Franda. Senyum tipis yang hanya bisa tergambar.
"Maaf ya, gak bisa bawa kamu naik mobil kayak Rival. Aku gak biasa naik mobil soalnya gak melihat alam sekitar dengan sempurna. Gak papa kan pa----"
"Kak, makasih sebelumnya, tapi rasa seorang kakak ke adik itu masih ada kan?"
"Nas." Lanjutan yang sempat terpotong tadi.
"Iya masih kok, tenang aja gue gak baperan kok." Menggaruk kepala yang tidak terasa gatal sama sekali. Mendengar hal itu Franda ikut senang.
Tidak ada lagi yang bawel, yang suka marah gak jelas dan bahkan membuatnya kehilangan moment itu. "Jangan diam aja, kalau ada sesuatu yang pengen diceritain cerita aja."
"Fran?"
__ADS_1
"Kenapa kak? Masih inget rumah aku kan?"
Roy tersenyum tipis "Lo mikirin sesuatu ya? Rival?"
"Udah kalau lo beneran sayang sama Rival lo balik aja sama Rival. Gue sebagai kakak bakalan mendukung kalian walaupun hati gue sakit pas tau orang yang gue suka malah suka sama orang terdekat gue!!!" Kalimat macam apa ini? Sefrontal itu kah?
***
Untuk mendekatkan diri lagi dengan Rubi, Rival merubah kebiasaan dan mencoba untuk balik ke Rubi. Dengan cara mengajak Rubi jalan-jalan makan malam lebih tepatnya yaitu setelah sekian lama.
Untuk lebih mendekatkan diri dan lebih santai ia berusaha untuk masuk ke Rival yang dulu, ya Rival yang perhatian dan romantis.
"Gimana enak gak?" Ucap Rival yang menyuapkan es krim kesukaan Rubi. Rubi merasa kalau Rival sudah kembali ke Rival yang dahulu yaitu perhatian, murah senyum dan selalu romantis. Itu yang ia kangenin.
"Makasih ya."
Suapan tanpa dosa.
Rival menarik nafas sebentar, Terpaksa dengan hal ini. "Sumpah gak enak banget." Gumamnya dalam hati.
"Aku gak nyangka deh val kalau misalnya kamu kayak gini lagi. Maafin aku ya, aku salah dan aku janji bakalan berubah menjadi Rubi yang lebih baik."
Rival hanya mencengir ringan tanpa ucapan balasan apa-apa.
"Pertunangan sungguhan kita harus beneran ya, aku gak sabar untuk masakin kamu, aku salim setiap pagi sama kamu, nganterin anak ke sekolah, trus jalan-jangan bareng anak-anak kita nanti, kalau kekondangan udah gak sendiri lagi. Kalau kamu gi------" Belum selesai menanyakan apa yang ia idamkan atau ia impikan Rival langsung memotong obrolan Rubi. "Jangan terlalu berkhayal tinggi, gue takut gak kesampaian. Oh iya, kita masih sekolah rub jadi gak usah kejauhan ya."
"I----iya val maaf." Agak ada rasa sedih ataupun kecewa ia sangat berharap sekali kalau Rival bakalan menjawab sesuai dengan keinginannya bahkan jawaban itu adalah hal yang sangat positif.
"Val boleh nanya gak?"
"Boleh apa tuh?"
"Kenapa sih lo malah pergi val aku pengen jawab jawaban pertunangan itu malah pergi?"
"Gue sakit perut nahan kentut, sorry gue gak tahan."
"Masa sih?" Menurut Rubi itu adalah alasan yang tidak sangat wajar sekali. Tapi ia mencoba untuk tetap percaya karna bisa-bisa mood Rival akan berubah.
"Gimana sama Franda?"
"PUTUS. Gue tunangan lo gak usah bahas perempuan lain rub."
__ADS_1
"Lo gak cemburu?"