
Seperti biasa Rival di hukum di tengah-tengah lapangan karna lupa mengerjakan pr. Karna tadi malam ia ronda karna begadang nonton bola.
Matahari yang terik membuat pandangan mata sedikit lebih silau.
"Hai, val ganteng banget kalau lagi keringetan ya." Ucap mereka yang melintas didepan Rival.
Rival tersenyum simpul dan tetap saja menatap tiang bendera dengan hukumannya kali ini.
Dari kejauhan Roy dengan menyelipkan tangan didalam kantung celana. Ia melihat Rival sering sekali seperti ini. Ia tidak habis pikir dengan sikap Rival yang tidak kunjung berubah juga.
"Kenapa sih si Rival malah di jemur gitu? Adik lo kok beda banget ya sama Rival, Roy?" Roy tersenyum singkat dengan pertanyaan teman sekelas melihat Rival yang di hukum di tengah-tengah lapangan.
"Rival, hukuman kamu selesai kamu boleh istirahat." Ucap bu guru yang memberikan hukuman tadi.
"Oh ya udah bu. Saya janji bakalan mengulangi lagi ya. Eh maaf." Rival mencengir ringan dengan menutup mulut dengan tangannya.
"Ya sudah kamu boleh istirahat." Rival mengelap keringatnya dengan tisu yang ia taruh di saku seragamnya.
Ketiga sahabatnya sudah menunggu bu guru pergi dulu baru mereka mengajak Rival ke kantin bareng.
"Val, kasihan banget lo kita kantin yuk soalnya banyak cewek-cewek cantik." Rudy dengan gaya playboynya sudah menyiapkan kata-kata gombal untuk kelas-kelas lain.
"Gue juga, gue laper banget." Bima yang suka banget yang namanya makan dipikirannya kali ini hanya ada makanan dan makanan.
"Aduh, kenapa sih kalian sibuk sendiri. Ya udah deh gue juga laper."
Keringat Rival yang bercucuran membuat dirinya semakin keren bukan malah sebaliknya yang kucel. Karna body Rival yang juga mendukung sekali. Apalagi kalau Rival ke kantin ia menjadi salah satu lirikan-lirikan manja dari kaum hawa dan Rival walaupun bad boy tapi Rival adalah cowok yang susah buat jatuh cinta dan mantannya pun hanya bisa di hitung dari jari berbeda dengan Rudy yang terlihat kalem dan biasa dia adalah cowok yang suka bercabang. Disini saja ia suka nyanyi-nyanyi gak jelas walaupun suara yang lumayan bagus.
"Rival itu gak ada jeleknya ya lus. Ganteng mulu." Gemuruh Milka yang berbisik disela-sela makan mereka.
"Iyalah, dia bakalan jadi calon pacar gue."
"Lo yakin?"
"Jadi lo gak percaya sama gue?"
"Iye percaya sama Lusi kok." Sahut Milka dengan memanyunkan bibirnya.
...•••...
"Franda, kamu mau kemana?" Bu Rita menghentikan langkah Franda dan Cerry.
"Kenapa ya bu?"
__ADS_1
"Kamu bisa ambilkan buku yang ada diatas rak buku, soalnya ibu gak bisa ambilnya sekarang. Kebetulan sekali bukunya warna ungu tua ya? Kamu bisa ambilkan itu.."
"Em." Franda dan Cerry menatap satu sama lain.
"Ya udah deh bu. Nanti saya ambilkan ya." Karna tidak enak menolak Franda dan Cerry pun mengiyakan suruhan bu Rita.
Mereka langsung saja menuju ke perpustakaan.
"Padahal gue males banget fran. Tapi ya udah lah ya."
"Gimana dong mau ditolak juga ya susah cer."
"Iya sih."
Perpustakaan yang tidak terlalu ramai, tidak jauh juga jarak diantaranya. Sering kali perpustakaan ada jam-jamnya kalau lagi ulangan atau ujian maka banyak siswa yang datang ke perpus.
"Bukunya waktu apa sih cer?"
"Ungu tua kalau gak salah."
"Tapi mana ya? Kok semua ada warna hijau sih."
Cerry melototkan matanya dengan kedua tangannya. "Eh ada sih tapi yang diatas itu ya? Waduh gimana dulu."
Karna tubuh mereka yang tidak terlalu tinggi dan sama maka sama saja meminta tolong kepadanya.
"Ah susah juga gimana nih. Coba lo naik deh fran, gue pegangin deh kursinya dari sini." Ia menarik kursi yang ada disana agar bisa diambil buku yang ingin Franda ambil.
"Ah beneran lo cer gue jatuh nantinya." Ucap Franda ragu dengan Cerry yang kadang juga suka ceroboh.
"Udah deh gue janji bakalan pegangin dan jamin bakalan gak jatuh." Ucap Cerry yang meyakinkan kembali Franda.
Dengan kaki yang gemetar Franda menaiki bangku yang Cerry pegang. Itupun Franda masih belum bisa mengambilnya dengan sedikit berjingkit agar sampai.
"Buruan fran hati-hati."
"Pelan-pelan."
"Awas pelan-pelan." Celoteh Cerry yang tidak berhenti.
"Aduh susah banget cer. Lo aja kali lo kan lebih tinggi dari gue beberapa cm." Franda mulai menyerah untuk mengambil buku itu. Tapi entah kenapa sikut sebelah kanannya menyenggol buku yang ada disamping.
"Aaaaaaaaaaa." Cerry sudah menutup kepalanya dengan tangannya agar tidak tertimbun buku-buku itu. Sambil menimbulkan teriakkan kecil dan mata yang terpejam.
__ADS_1
Suara keras datang datang dari atas meja seperti seseorang menaruh tumpukan buku diatas meja.
"Makanya kalau gak nyampe gak usah ambil sok naik kursi segala. Cer buka mata lo." Ucap seseorang dengan parau. Sudah bisa dipastikan itu suara laki-laki. Perlahan Cerry membuka matanya dan melihat siapa pemilik suara itu.
Dan...
Jeng-jenggg.....
"Lo ngapain? Lo pengen ambil buku? Lo pilih aja entar gue ambilin." Cerocosnya dengan cepat. Mereka berdua malah menatap satu sama lain bukannya untuk menjawab.
"Lah malah bengong. Buruan?" Laku tidak lama Franda menunjuk buku yang ia pilih itu.
Tidak perlu lama Rival mengambilnya karna yang mereka tau postur cowok lebih tinggi ketimbang postur cewek.
"Nih. Makanya punya badan jangan pendek susah kan ko ambilnya." Franda hanya diam saja dengan ucapan Rival. Ia menatap Rival dengan tatapan kosong.
"Eh ngapain lo liatin gue? Lo pikir lo cantik? Gak sama sekali. Hai, cer udah deket sama kak Roy belum. Oh iya lo gak kenapa-napa kan?" Rival mengubah pandangannya dan ucapan yang awalnya kasar menjadi lemah lembut dan tersenyum.
"Makasih." Ia mengambil buku yang diambilkan oleh Rival sambil tersenyum.
Rival membalas senyum dengan manis. "Sama-sama." Lalu seketika ia seperti biasa lagi. Senyum manis itu seakan selintas saja lalu kembali seperti semula.
Cerry hanya diam dan tersenyum simpul melihat Rival menaruh buku yang ia bawa ke rak asalnya lalu Rival melengos pergi begitu saja dengan gaya tengilnya. Franda menatap Rival sampai keluar perpustakaan dengan memanyunkan bibirnya dan berjingkit sampai Rival pergi.
"Cie kepo sama Rival ya? Atau lo terpesona sama sosok Rival? Dia kalau senyum manis atau ganteng?" Senggol Cerry sambil tersenyum dan mencolek pipi kiri Franda. Ia menatap wajah Franda yang kosong.
"Manis."
"Eh," Franda menutup mulutnya yang mengucap dengan polosnya, lalu ia meralat lagi dengan cepat."Gue gak terpesona sama dia cer. Kenapa ada cowok kayak gitu ya?"
"Maksudnya lo apa nih?. Cowok ganteng maksudnya lo? Tapi Rival emang ganteng sih gak kalah sama kak Roy juga ya 11 12 lah." Cerry membayangkan apa yang Rival lakukan tadi dengan manis ditambah Roy yang pernah mengajaknya mengobrol sebentar.
"Ya lo cantik cer makanya banyak cowok yang suka. Lah gue cewek biasa aja. Mana aja cowok yang suka sama gue ngelirik aja enggak." Ia menarik kursi lalu ia membuka dan membaca buku yang ia pilih tadi yang sempat Rival ambilkan karna tidak sampai.
"Iya sih fran, gue tau itu tapi ya gue gak suka sama cowok kayak Rival."
"Yakin lo gak bakalan suka sama Rival. Dia ganteng, kaya, tajir dan satu lagi----"
Franda menarik napas berat dan menutup buku yang ia baca menatap mata Cerry dengan tajam "Gak. Gue gak suka cer. Seumur hidup gue gak bakalan suka sama cowok kayak Rival."
"Ah, masa liat aja nanti lo bakalan suka sama Rival. Gue tau lah sifat lo."
"Gak. Gak gak. Berisik lo. Udah ah gue cabut aja bikin bete lo cer." Franda menaruh buku yang tidak habis satu halaman pun ia malah bad mood dan menuju ke kelas kembali meninggalkan Cerry di perpustakaan.
__ADS_1
Cerry berlari mengejar Franda yang berjalan secepat pelari maraton yang sedang berlomba. "Tunggu Franda yang cantik yang molek dan baik sedunia. Tungguin Cerry yang paling cantik level tinggi." Teriak Cerry yang tidak di gubris oleh Franda.