
Lusi sengaja membawa gergaji kecil untuk menggergaji bangku milik Franda, seniat itu. Milka pun juga ikut dalam rencana ini mereka sengaja datang lebih pagi untuk melakukan misi ini ia berdiri didepan pintu untuk melihat kondisi diluar kelas agar lebih aman. "Buruan lus buruan." Bisik Milka.
"Bentar lagi." Sahutnya. Didalam hatinya ia harua bisa mencelakai Franda karna sudah lancang dekat dengan Rival cowok yang ia taksir selama ini.
"Udah, mending kita ke kantin aja biar gak ketahuan." Mereka menaruh tas mereka di bangku masing-masing. Mereka tertawa licik bisa melakukan hal ini apalagi apa yang mereka lakukan pasti akan berhasil dan membuat Franda malu dan jatuh atau yang lebih parah.
"Gue gak sabar lagi pengen liat Franda jatuh gitu aja."
"Eh, tapi gue takut ada yang liat tadi lus, gimana?"
"Udah deh gak usah bahas. Lagian gue lapar nih gue pesen dulu pengen sarapan." Ia tidak perduli dan ia juga yakin kalau apa yang ia lakukan tadi akan pasti berhasil.
"Gue masih gak yakin kalau ini bakalan gak keungkap. Gimana nih?" Milka masih belum yakin dengan ketenangan Lusi.
Lusi menaruh soto diatas meja beserta air teh hangat disampingnya. Ia melihat Milka yang masih diposisinya. "Loh kok lo gak pesen apa-apa? Lo mau disini terus ya? Nanti bel lo mil."
"I---ya."
...•••...
"Loh kenapa ini bangku bisa goyang-goyang gini? Perasaan baik-baik aja deh kemarin?" Perasaan Franda sudah tidak enak dengan bangku yang ia duduki sedangkan guru masih menjelaskan materi didepan.
"Rasain lo emang enak, sok sih jadi cewek. Hahaha." Lusi tersenyum licik dengan gerak-gerik Franda yang bingung dan tidak nyaman.
Dan dalam waktu beberapa menit kemudian bangku Franda tiba-tiba saja patah dan Franda jatuh dibawah. Sontak membuat pusat perhatian beralih kepadanya yang semula mendengarkan guru menjelaskan didepan. "Awwwww." Teriakkan menjadi pusat perhatian mereka.
"Franda kamu kenapa?"
"Eh gak tau nih bu kayaknya bangkunya patah deh. Soalnya goyang-goyang gitu."
"Loh sekolah ini sekolah bagus ya, masa bangku bisa patah alasan aja bu." Lusi mencoba untuk mempropakasi keadaan.
"Bu, kayaknya bawa ke UKS aja deh." Saran Rival diterima oleh bu guru untuknya. Rival keluar dari bangku dan berusaha untuk membantu Franda untuk berdiri. Disini suasana berubah menjadi suasana yang lebih dramatis lagi apalagi disaat Rival sang ketua kelas membantunya untuk berdiri. Tatapan Lusi jauh lebih tajam dan kenapa semua diluar rencananya. Rival menarikkan tangan Franda tepat di bahunya untuk menuntun ke UKS. "Yuk buruan."
Franda harus pasrah dan hanya diam saja menahan malu orang-orang yang ada di kelas melihatnya. "Gue bisa jalan kok."
"Gak, kaki lo itu keseleo, gak boleh dipaksa." Untungnya pelajaran masih berlangsung dan tidak terlalu aktivitas diluar kelas tapi tetap aja malu diliatin beberapa yang melihatnya.
Disaat seperti ini Franda baru menyadari kalau Rival memang orang baik yang jangan dinilai dari luarnya aja, yang terlihat seperti cowok kasar atau cowok yang enggak banget, semua itu bisa dilihat dari sikap Rival yang tidak disangka-sangka.
...•••...
"Nih pake minyak kayu putih buat bagian yang sedikit biru dan buat yang sedikit lecet bisa gue tetesin obat merah."
__ADS_1
"Sakit gak?" Dengan polosnya Franda mengucap seperti itu. Membuat Rival geli begitu saja. "Gak kok gak sakit. Ya bikin sakit itu ditinggalin."
"Gak nyambung val."
"Makanya disambung-sambungin dong."
"Kaki lo masih sakit? Kok lo bisa sih jatuh gitu aja? Lo banyak gerak." Baru juga Rival mengatakan hal yang aneh tapi keluar begitu saja ketika Rival mendengar Franda menjerit. Lalu ia memarahi Franda yang menahan kesakitan.
"Masih, gak tau kenapa keram gitu, keseleo mungkin."
"Atau gue pijitin aja ya?"
"Ah gak usah entar dioles sama minyak kayu putih udah sembuhan."
"Kenapa lo sekarang tiba-tiba baik sama gue? Eh maksud gue kenapa lo berubah."
Ia mendekat dan menatap mata Franda dengan jeli hingga ia salah tingkah. "Ya karna gue suk suk suka sama lo."
"Hah?"
Jadi benar apa yang Albert katakan waktu itu?
"Cie wajahnya merah, ya enggaklah gue gak suka sama cewek kayak lo. Tapi gue juga gak benci. Gue pengen perbaiki nilai gue aja yang anjlok karna sikap kan lo tau gue ketua kelas kan?"
"Gue tau, lo anak yang pintar." Senyum Franda.
"Lain kali hati-hati. Tapi kok rada aneh gitu ya. Kok bisa sih bangku lo bisa goyang gitu bukannya baik-baik aja? Pasti ada yang sengaja nih, awas aja kalau gue tau gue aduin wali kelas."
"Enggak mungkin, gue aja kali yang gak hati-hati."
"Enggak gue penasaran." Sahutnya yang berpegang teguh dengan pendiriannya.
"Lo boleh balik ke kelas,."
"Lo sendiri? Mau disini? Disini da hantunya loh. Aduh takut deh gue ini aja udah merinding tau gak." Rival sengaja menakut-nakuti Franda dengan berpura-pura ketakutan.
"Gak ah masih pagi juga." Franda perlahan turun dari tempat tidur mencoba untuk meraih sepatu yang tepat dibawah tempat tidur tapi tidak bisa. Rival menggeleng pelan dan mengambilnya lalu memasangkan sepatu ke kaki Franda.
"Sini biar gue pasangin sok sih lo. Makanya kalau minta tolong gak usah gengsi deh." Walaupun ngomel-ngomel Rival tetap saja bersikap sweet.
"Ngapain lo liatin gue? Eh jangan sampai lo suka sama gue, gue baik karna gue pengen berterima kasih doang karna lo udsh bantuin gue buat balas----"
"Gue mengerti."
__ADS_1
"Bagus deh kalau gitu, mau gue bopong?"
"Gak perlu, gue bisa jalan kok." Jawabnya dengan pelan. Rival tetap tidak percaya malah ia tertawa pelan dengan sikap Franda yang gengsi entah kenapa dia suka sama cewek yang suka jual mahal.
Dengan kaki yang pincang membuat Rival ada dibelakang Franda.
...•••...
"Hei, katanya lo tadi masuk UKS ya?" Franda dan Rival saling tatap satu sama lain.
"Eh iya kan, tau dari mana?"
"Temen gue liat tadi, lo bopong dia?" Rival mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Oh gitu, pulang bareng gue mau gak? Ada hal yang pengen gue omongin sama lo."
"Makasih ya kak Roy, udah baik sama aku. Tapi kayaknya aku harus balik sama Rival soalnya aku udah janji sama dia. Maaf kak." Rasa kecewa itu pasti ada Roy mengangguk paham padahal ia ada yang ingin ia ucapkan tentang sesuatu tapi sudahlah mungkin bukan saatnya.
"Kalau gitu gue duluan ya kak." Rival menepuk bahu Roy sebelum ia pergi merangkul Franda.
Dari kejauhan Roy melihat Franda dan Rival yang semakin dekat. Rival yang tidak pernah terlihat semenjak dengan Rubi kini malah bisa dekat kembali dengan seorang perempuan.
"Maaf kak aku harus lakuin ini demi kebahagiaan orang lain. Sebenarnya aku juga pengen kalau disuruh untuk memilih." Gumam Franda dalam hati.
Rival membukakan pintu mobil dan menyuruh Franda untuk masuk kedalam mobil. "Tumben lo nolak kakak gue? Kenapa? Bukannya lo suka sama kakak gue?"
Deg!! Apa Rival tau kalau gue suka sama kak Roy. Pikirnya.
"Kenapa diem?? Bener kan?"
"Gak kok."
"Gimana kaki lo? Udah?" Ketika Rival ingin melihat kaki Franda ia langsung memindahkannya kesamping.
"Udah mendingan kok. Makasih tadi udah baik." Rival mengangguk dan kini ada keheningan yang membuat Franda stak begitu saja membuang wajahnya kearah lain.
Kenapa bisa dikondisi seperti ini sih?
Disisi lain,
Lusi kesal sekali ia tidak terima dengan apa yang terjadi tadi semua diluar ekspetasi. "Lus, tungguin gue dong, buru-buru banget."
"Habis gue kesel, kenapa Franda malah ditolongin sama Rival? Gue kan gedek mil."
__ADS_1
"Ya udah kali, entar kita rencanain semuanya ya."
"Apa lo bilang? Pokoknya lo bantuin gue buat rencanain rencana selanjutnya! Gue gak mau tau."