Mantan Terindah

Mantan Terindah
14. Perhatian


__ADS_3

"Bert, kayanya si Rival kemakan sama omongannya deh tumben banget hari ini semangat." Rudy yang tidak kunjung berubah dari semester awal yang selalu saja masih mengumbal gombal kesetiap cewek yang ia tuju.


"Ya baguslah kalau dia berubah. Lo kapan?" Tanya Albert yang menyudutkan Rival.


"Eeeeee, apaan sih kok jadi gue." Sahutnya yang menggaruk kepala yang tidak terasa gatal. Dari kejauhan terlihat sekali Rival keluar dari mobil dengan gaya yang begitu mempesona. Hal yang menjadi perhatian bagi siapa saja yang melihatnya cukup biasa saja apalagi ditambah Rival sudah terbiasa mendapat respon dari kaum hawa.


"Hai Rival, ganteng banget hari ini." Rival mengeluarkan senyum khasnya yang selalu menggoda. Ia melangkah menuju kelas Roy untuk mengirimkan surat ketidakhadiran karna Roy sedang demam.


"Eh, ini surat dari kak Roy, dia hari ini gak masuk jadi ini suratnya."


"Eeee,, iyyyya." Gugupnya yang memandangi wajah tampan Rival yang lalu berlalu begitu saja. Apalagi aroma parfum yang masih tersisa ketika ia pergi.


"Kenapa? Kok lo kayak terpesona gitu?"


"Riiii----val."


"Oh adiknya Roy kan? Iya sih dia ganteng gak kalah juga sama Roy."


"I---ya. Gue aja gemeter natap tadi." Sahutnya yang sedikit lebay.


Ketika sahabat Rival sudah menunggu didepan kelas untuk berbincang Ria. Baru saja pagi, Bima yang doyan makan, kini sudah menghabiskan dua bungkus roti ditangan kanannya dengan air mineral ditangan kirinya untuk melancarkan pencernaannya.


"Siapa yang sakit?"


"Kak Roy. Dia demam."


"Oh gitu." Rival melihat kearah bangku Franda yang masih kosong biasanya perempuan itu lebih awal.


"Liatin siapa val?" Ucap Albert yang sepertinya mencium aroma tidak beres.


"Lo nyariin Franda. Dia belum datang."


"Apaan sih ngaco deh kalian siapa juga yang nyariin Franda bisa-bisa kalau dia geer denger kalian ngomong gitu. Gue masih normal ya."


"Ya----kin."


"Iya yakin." Franda melintas masuk, sekilas mendengar dialog mereka tanpa memikirkan lebih lanjut. Sedangkan Rival langsung  mengambil bangku kosong yang ditempati Cerry disebelahnya Franda ia menangis tugas yang di kerjakannya.


"Mana tugas ya lo rangkum gue pengen periksa." Padahal tugas kelompok masih 3 hari lagi.


"Di---rumah."


"Lo gimana sih?"


"Maa---af."


"Lagian juga masih tiga harian juga val. Kok ribet gini." Rival hanya diam dan langsung menaruh tas di bangkunya.


"Udah lama banget ya kita gak malak di belakang sekolah. Jadi kangen gue biasa waktu itu makan gratis eh sekarang harus hemat sama uang jajan huh."


"Iya juga sih gue jadi kangen, tapi kayaknya udah males gue kayak gitu coy gue pengen tobat aja." Sontak mereka tertawa lepas dengan ucapan Rival yang seakan sedang bercanda padahal ia benar-benar tidak bercanda.


"Hahaha, lo sakit val? Atau Roy? Kayaknya lo sakit juga deh."


"Apaan sih gak jelas banget."


Bel pun berbunyi itu tandanya pelajaran akan segera dimulai. Tapi tenang, pelajaran pertama mereka adalah olahraga yang pasti akan lebih tidak terburu-buru.


"Cer, kita ganti baju di toilet aja ya?" Ucap Franda yang menjadi kebiasaan kalau mengganti pakaian. Cerry pun mengangguk pelan dan membuka tasnya untuk mengambil baju olahraga tapi ketika Franda menunggu didepan kelas ternyata Cerry panik mencari celana panjang olahraga yang tidak ada alias hilang.


Franda mendekat "Kenapa cer?"


"Celana panjang olahraga gue kemana ya? Perasaan udah gue bawa tadi di rumah kok bisa gak ada sih didalam tas gue? Kemana ya?" Cerry panik dengan jam olahraga yang sebentar lagi berlangsung. Yang sering kali melakukan pemanasan terlebih dulu untuk peregangan.

__ADS_1


"Gimana kalau lo pinjam celana panjang olahraga gue aja?"


"Eh, jangan gitu lo kalau mau olahraga ya olahraga aja gue bisa bilang sama pak Edwin kok."


"Ta------"


"Udah, gak papa kok mending lo ganti baju buruan entar lo dimarahin lagi." Suruhnya yang dengan berat hati Franda menuju ke toilet sendirian.


Rasanya beda banget ketika seorang sahabat tidak ada disamping kita apalagi ketika kita sudah terbiasa bersama. Inilah yang dirasakan oleh Franda yang harus sendiri berolahraga karna Cerry tidak membawa celana olahraga.


"Woy buruan." Teriak Lusi dari luar. Biasa kalau Lusi sudah berteriak pasti Cerry yang akan menjawab teriakkannya sering kali mereka beradu teriak.


"Lama banget." Dorong Milka dari belakang agar Franda mempercepat langkahnya. Franda memegang kakinya yang menyentuh tembok dan dengan sengaja terdorong oleh Milka ia hanya diam dan menuju kedalam kelas.


"Hahaha rasain, sok manis sih jadi orang." Ketawa Milka yang memang ia sengaja.


Cerry memberanikan diri untuk mengatakan ini kepada gutu olahraga yanv sudah ada di lapangan. "Pak saya Cerry, saya juga bingung sama celana olahraga saya yang ada didalam tas tadi padahal dari rumah sudah saya bawa tapi pas saya kepengen ganti udah gak ada. Jadi saya gak ikut ya pak?" Mohonnya ditengah-tengah lapangan dengan baju seragam putih abu-abu padahal pelajaran olahraga adalah pelajaran kesukaan Cerry tidak mungkin ia harus memakai rok dan memaksakannya.


"Ya sudah kalau gitu, tapi minggu depan kamu ikut ya?"


"Oh iya pasti kok pak." Jawabnya.


Franda menunggu Cerry yang masih memberitahukan kalau ia tidak ikut.


"Cer." Wajah Franda tidak bisa ditahan lagi. Ia padahal pengen olahraga bareng.


"Hahha udah gak papa." Kaki Franda kenapa merasa sakit yang tiba-tiba padahal ia sama sekali tidak merasakannya tadi. Apa mungkin ketika Milka mendorongnya tadi?


"Kok lo jalannya pincang gitu?"


"Gak papa kok santai aja."


...•••...


Roy melihat seseorang yang duduk membelakangi sofa yang begitu besar yang berwarna cokelat itu. Tampak ada yang tidak asing lagi. Rival membawakan minuman keatas meja untuk menyuguhkan air yang ia buat di dapur tadi.


"Nih, diminum dulu gue gak mau ya kalau anak orang kehausan karna gue." Ia mengambil dengan tampak ragu. Roy kembali mendekat lalu melihat dari arah depan.


"Eh, ada Franda?" Kejutnya dengan badan yang masih panas.


"Eh, ada kak Roy. Kakak tadi gak masuk ya? Kenapa sakit?" Franda berbeda ketika berbicara dengan Roy ia lebih banyak bertanya dan sepertinya lebih canggung dengan Rival. Rival menatap serius dengan dialog mereka.


Roy tersenyum tipis "Iya nih, lagi demam. Gak enak badan. Tumben kesini?"


Belum juga Franda menjawab Rival menyelonong untuk menjawab. "Dia satu kelompok sama gue kak." Roy mengganguk paham. Roy merasa senang ketika Franda ada di rumahnya seakan ia menjenguk dengan keadaan yang tidak sengaja.


"Lo udah minum obat belum kak?" Tanya Rival agar Roy tidak mengganggu mereka.


"Oh, belum bisa ambilin diatas kulkas di dapur." Suruhnya yang langsung dianggukkan oleh Rival.


Disela itu Franda merasa gugup kalau didekat Roy jantungnya seakan berdebar kencang ia harus menjaga jarak karna ancaman itu.


"Kenapa Roy natap gue gitu?" Batin Franda yang tidak berani menengadah.


"Ee, Fran."


"Eee, kak Roy cepat sembuh ya." Loh kenapa kalimat ini bisa keluar begitu saja yang malah membuat jantung tak karuan. Roy memanggil Franda kembali dan mereka ada saling kontak satu sama lain.


"Eeee..."


"Nih kak obatnya." Rival melihat keduanya ada yang berbeda apa yang sebenarnya terjadi tadi.


"Kenapa ya?" Ucapnya lagi.

__ADS_1


Hening. Mereka hanya diam dan tidak menjawab apa.


"Gimana kaki lo udah gak lagi?" Tanya Rival yang menatap Franda yang berjalan sedikit pincang. Belum juga ia menjawab Roy melontarkan pertanyaan. "Kaki lo kenapa?"


"Gak papa kok kak cuma ke seleo doang." Sahutnya. Rival pun marah karna maah pertanyaan kedua yang ia jawab yaitu pertanyaan Roy ia menggeprak meja dengan santai.


"Yang nanya duluan itu gue bukan kak Roy. Lo kenapa sih? Lo suka sama kakak gue hah?" Pertanyaan itu membulatkan mata Roy dan Franda mereka menatap satu sama lain.


"Apaan sih lo val." Roy mengambil obat yang diberikan Rival tadi lalu ia meminum dengan dua kali tegukan dengan segelas air putih hangat.


Rival menarik tangan Franda agar cepat-cepat keluar dari rumahnya untuk mencari referensi yang menurutnya kurang yaitu dengan tema lingkungan itu. Padahal menurut Franda semua itu sudah detail kurang apa lagi coba?.


"Masuk." Franda melihat wajah Rival yang tampak kesal dan marah-marah.


"Ini cowok bikin gue emosi aja." Gumam Franda yang mengecek layar ponselnya dan ada kotak masuk.


"Cepet sembuh." Ia tersenyum dengan orang baru saja ia jumpai tadi.


"Kenapa lo senyam-senyum gitu? Lo pikir lo cantik? Muka juga pas-passan gitu." Ledek Rival dengan tertawa lepas. Franda hanya diam dan diam.


"Kak Roy tadi gak masuk?"


"Kenapa lo jadi kepo gini sih? Urusin aja tugas kita lo aja belum bener juga malah ngurusin kakak gue." Ucapnya yang malah mengomel. Hatinya meluap dengan apa yang diucapkan oleh Rival yang bertubi-tubi. Apalagi ketika seorang perempuan sedang PMS yang sering kali merasakan emosi yang labil dan cepat sekali tersinggung. Nah, ini dirasakan oleh Franda ia sudah merasa tidak mood ia sengaja membuang muka kearah samping sambil melihat mobil dan  kendaraan yang berlalu lalang.


"Bikin emosi banget, gue gak bakalan suka sama dia. Sumpah." Gerutu Franda.


Kini telah sampailah mereka diperempatan jalan yang sering sekali meminjamkan buku - buku yang siap untuk di pinjam. "Ayo buruan." Suruh Rival yang lebih dulu ada didepan. Franda hanya mengikutinya dari belakang. Disana sudah banyak digerumungi oleh para pengunjung yang datang untuk meminjam buku-buku yang sudah tersedia disana. Biasanya orang-orang yang suka membaca dan mencari wawasan atau sekedar berfoto ria.


"Eh buruan malah diam aja? Lo mau disini lama-lama?" Tarik Rival dengan cepat padahal ia tidak tau kalau kaki Franda sakit.


"Ayo buruan." Belum juga mereka masuk kaki Franda tersandung oleh orang yang ada disampingnya kali ini dengan sedikit keras tapi Rival tidak perduli ia menarik tanpa melihat keadaan Franda.


"Eh, lama banget lo ya?"


Franda melepas tangan Rival yang menariknya kerat, ia sempat menatapnya sedikit geram namun diam dan ia berlalu begitu saja meninggalkan Rival sendirian.


"Woy mau kemana lo?" Ucapnya yang bingung.


"Gue gak perduli." Gumam Franda dalam hati. Rival mengejar Franda dan ia menarik dengan cepat lagi dan lagi lagi dengan kasar.


"Eh, lo kenapa sih dari tadi aneh banget."


Diam.


"Woy gue ngomong lo kenapa?" Franda menarik napas berat.


"Kenapa lo kaki lo?" Ia menatap Franda yang mengarahkan kearah kakinya yang dibalut dengan sepatu dan kaos kaki. Rival menarik Franda ke pinggiran lalu mengeceknya.


"Duduk lo. Buka sepatu lo."


"Mah ngapain?"


"Udah diam aja." Rival perlahan mengecek rasa penasarannya itu.


"Kaki lo kenapa? Keseleo? Kok sedikit biru? Lo bawa minyak angin atau apa?" Franda mengeluarkan minyak kayu putih yang selalu ia bawa kemana mana.


Rival mengusapkan minyak kayu putih itu ke bagian mata kaki Franda dengan memijatnya agar lebih mereda. Franda hanya bisa diam dan menatap orang menyebalkan yang ada didepannya.


"Ini tuh harus dipijet dulu, pantesan aja tadi pas olahraga lo tadi kaya pincang gitu jadi ini?" Bawelnya.


"Ma----kasih."


Mereka bertatapan beberapa detik "Iy----a." Gugup Rival yang membuang kearah lain.

__ADS_1


"Ya udah habis ini lo gue antar pulang dan jangan lupa biasanya kalau gue cedera gue suka kompres sama air hangat. Awas lo." Ancaman itu seakan mengancam tapi ia perhatian.


__ADS_2