
...Berawal dari kesalahan...
Menyambut pernikahan yang ke 25 tahun mereka, mereka sengaja untuk mengundang siapapun yang mereka kenal dari beberapa kalangan termasuk teman atau sahabat yang seumuran dengan Rival ataupun anak-anak remaja lainnya. Semua sudah dipersiapkan dengan berbagai macam versi. "Mah, pah seriusan nih ngerayain anniversary?"
"Iya sayang, ya udah mamah sama papah urus makanan dulu ya." Ia mencium kedua pipi Rival. Sebagian sudah hampir jadi emang sih kelihatan klasik tapi cukup lah untuk anniversary mereka.
"Jadi gini rasanya kalau rayain anniversary ya." Gumamnya dalam hati.
Rival pun mengambil kunci mobil untuk berangkat ke sekolah, aneh kalau kalau kakak adik satu sekolah malah jarang sekali berangkat bareng sumpah rada aneh.
Pagi ini moodnya sudah mulai stabil dan gak ada beban sekali, ia juga berjanji akan berbuat lebih santun lagi ke Franda karna dicuekkin itu paling gak enak.
"Eh, Val. Denger-denger bokap nyokap lo anniv ya?"
"Hah tau dari mana?"
"Astaga gak usah ditanya lagi eh." Sahut Bima dengan santai.
"Oh iya, kalau gitu datang aja kalau kalian mau disana banyak makanan loh."
"Lusi? Ngapain lo kesini? Lo bikin mood gue rusak aja deh." Rival pun merasa aneh dan gak mau lagi berurusan dengan Lusi ia sudah ilfeel.
"Apa kalian gak bosen buat bikin ulah lagi?"
Lusi hanya bisa menunjuk dengan kesalahan tempo lalu. "Gue minta maaf sama kalian semua."
"Hah? Lo mau minta maaf sama kita? Yang seharusnya itu Franda bukan kita. Kenapa minta maaf ke Franda aja?"
Lagi lagi Franda didalam hatinya Lusi merasa kesal sekali kenapa setiap apapun dikaitkan dengan dia lagi dia lagi.
"Eh guys jangan lupa ya."
"Franda lo undang gak?"
"Iya dong."
"Cie yang udah mulai deket aja. Makanya gitu dong." Sahut Albert yang merasa bangga kalau sepupunya kali ini sudah mulai mengakui kalau selama ini ia menyukai Franda.
Dulu,
Dulu emang sempat kesal karna dengan lancang melaporkan apa yang ia lakukan tapi berjalannya waktu semua itu emang salahnya sendiri bukan orang lain yang harus disalahkan.
"Fran."
"Kenapa?"
"Eh gak jadi." Rival mengurungkan niatnya untuk mengajak Franda mungkin melalui surat box dan sebuah gaun yang sengaja ia kirim lebih dulu.
...•••...
"Pah, tambah lagi dong makannya."
"Ah kamu bisa aja emang papah kamu suruh makan banyak biar gendutan?"
"Hahaha gak gitu." Keharmonisan mereka begitu tergambar dengan cara yang sederhana.
"Ada suara mobil, mending kamu liat siapa dulu deh." Franda mengangguk dan melihat siapa tamu yang datang perasaannya mulai tidak enak mungkin itu Rival kan sudah beberapa kali ia naik dan melihat mobil itu.
"Loh kok ada Rival disini?" Gumam Franda dalam hati.
Pakaian yang tampak berbeda Rival memakai jas hitam dan semua tidak seperti biasanya rapi sekali ditambah dasi kupu-kupu berwarna merah. Sedangkan Franda masih memakai daster kalau malam hari.
Franda pun membuka pintu utama untuk menanyakan Rival dengan kedatangannya itu. Ia semat melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala rapi sekali.
__ADS_1
"Kenapa lo terpesona ya?"
"Kenapa? Ada apa?"
"Gue udah anterin baju ke rumah lo."
"Hah baju? Baju apaan?"
"Gaun." Apa plastik yang berwarna hitam itu? Sayangnya Franda sejak tadi tidak membukanya terlebih dahulu ia malah menaruh kantung plastik diatas meja kamarnya.
"Oh yang ada kantung plastik itu?"
"Ya udah buruan, pakai sekarang. Gue tunggu 15 menit ya." Suruhnya yang membalikkan badan Franda dan menyuruhnya untuk masuk kedalam kamar.
Aneh., baru aja kemarin marah-marah eh sekarang malah kayak begini.
Franda membuka kantung plastik itu, eh ternyata benar isinya sebuah gaun yang sangat indah dan pastinya mahal. Ia membentangkan gaun tersebut hingga memasangnya/menempelkan didepan tubuhnya tepatnya didepan ada cermin yang hampir memperlihatkan tubuhnya.
Teringat hanya diberi waktu 15 menit saja tanpa basa-basi ia memakainya walaupun ini bukan untuk kali pertama. Gak nyaman? Bener banget apalagi ia tidak terbiasa untuk memakai gaun.
"Iya tante, saya bakalan anterin ke rumah dengan selamat dan tepat waktu. Oh iya om entar kita lanjut ngobrol lagi ya." Obrolan terdengar dari luar rumah tepatnya di teras. Loh bisa sedeket ini sama mereka? Papah juga kenapa bisa seakrab ini dengan Rival? Gumam Franda.
"Franda?" Rival langsung saja berdiri terkesima dengan Franda apalagi polesan make up yang tidak terlalu tebal.
"Jelek ya?" Seakan Rival dan mamanya Franda saling tatap sambil tersenyum ringan.
"Duh anak papah ganteng juga ya, kamu jagain anak om ya?" Bisiknya.
"Oh siap om pastinya. Ya udah saya bawa dulu perempuan cantik ini ya om tante."
"Sok banget caper."
"Mah, kalau gitu Franda berangkat dulu kali ya."
Rival membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Franda untuk masuk kedalam. Aroma dari dalam mobil Rival tercium sudah biasa kan anak orang kaya.
Jantung Franda merasa berdebar apalagi ketika berduaan dengan Rival. Tidak hanya satu kali ini saja tapi berulang kali.
"Kok diem aja?"
"Gak." Ia membuang wajahnya ke arah jalanan tak sanggup melihat Rival kalau sudah berpakaian seganteng ini.
...•••...
Acara sudah mulai ramai dan sudah dipenungi dari kalangan apapun.
"Sumpah kak Roy ganteng banget ya, kenapa sih kak Roy gak nembak gue aja."
"Eh, kak Roy itu cowok inceran gue tau gak. Eh kira-kira kak Roy udah punya cewek belum ya?"
Celentingan akan sekali ada dari keluarga Rival ya memang mereka terlahir dari keturunan yang ganteng dan cantik. Jadi begitulah resikonya.
"Gak kalah sama Rival ya."
Disisi lain.
Tiffany selalu saja begitu kalau suasana terlihat ramai."Duh gimana nih, aku takut sama mereka."
"Udah deh, mending kita cabut aja dari sini." Ketakutan Tiffany membuat kakinya gemetar dan ketakutan dengan keramaian rumah Rival.
Hito pun juga bingung kalau dari cowok-cowok yang datang kesini, "Eh tapi inikan acara dari keluarga kamu? Kalau kabur kan suka aneh gitu." Sahutnya yang sudah ancang-ancang untuk pergi dari sini. Emang aneh memang antara Tiffany dan Hito padahal hubungan mereka sudah sangat terbuka tapi gitu suka malu-malu kucing.
"Trus gimana dong?"
__ADS_1
"Kamu atur nafas kamu biar stabil ya udah ke tengah aja ikutin acaranya." Hito mengangkat tangannya membentuk segitiga dan menuntun Tiffany agar lebih santai.
Acara sepertinya akan dimulai.
Mereka bernostalgia kembali. Seperti masuk kedalam cerita-cerita masa lalu yang mereka lewati. Cerita mereka suatu saat nanti akan dirasakan oleh generasi seperti Rival bertemu dengan orang-orang lama yang memiliki kesibukan.
Risih.
Ya itu yang dirasakan oleh Franda tak ada satupun orang yang ia kenal tanpa terkecuali keluarga Rival ataupun Bima, Rudy dan Albert saja sisanya gak ada sama sekali.
"Hai." Suara itu pernah ia dengar dan ternyata itu Rubi mantan Rival. Ia menyipitkan mata sejenak untuk melihat perbedaan yang terjadi Rubi yang selalu saja cantik berbanding terbaik dengan Franda yang sederhana itupun dengan pakaian yang sudah disediakan mana mungkin ia sanggup dengan pakaian mahal seperti orang-orang yang ada disini. Dari ujung kaki hingga ujung kepala terlihat sekali kalau mereka memilih barang-barang yang tidak murah alias mahal.
Rival sibuk bersalaman dengan orang-orang penting orang tuanya, Apalagi Roy yang sibuk foto-foto dengan anak-anak muda anak dari teman sahabat-sahabat papah dan mamahnya. Tiffany juga yang lebih sibuk dengan Hito pacarnya sendiri.
"Gimana lo udah deketin Rival?" Boom, Kenapa bisa menanyakan hal itu ditempat ini?
"Eeeee."
"Hei, dansa bareng yuk fran, hei rub.. gue kesana dulu ya." Roy menggandeng Franda untuk berdansa bersama.
Ia menaikkan tangan Franda ke bahunya dan ia memegang pinggang Franda. Sedekat itu kah?
Kedua bola mata Roy yang begitu indah sekali, apalagi senyum yang manis juga. Aroma parfum pun juga sangat tercium. "Kenapa grogi gitu?" Ucapnya dengan halus. Suara - suara klasik tambah membuat suasana yang romantis.
"Ya udah gue bakalan ajarin lo buat dansa, kalau gue maju kaki lo mundur dan kalau gue ke kanan lo tinggal ikutin aja ya?"
"Ngerti kan?" Roy menanyakan kembali.
"Iya kak." Terpaksa. Karna ia juga tidak enak hati kalau menolak.
Oh tuhan, kenapa bisa seperti ini.
"Sedeket ini gue sama kak Roy." Gumamnya ia juga tidak menyangka sama sekali kalau ia bisa sedekat ini dengan Roy. Apalagi Franda hanya mengagumi Roy dalam diam. Bukan sekedar ganteng atau apa tapi sosok Roy sangat berkarisma dan bagi siapa saja yang dekat dengannya pasti selalu nyaman.
Berdansa adalah katagori gerakan yang pasti bernuansa romantis, dan apalagi dengan orang yang dikagumi.
Rubi menarik Rival yang celingak-celinguk gak jelas, Pasti cowok itu mencari Franda. "Hei."
"Eh rub, lo liat Franda gak? Kayaknya dia ada disini?"
Dengan santainya Rubi menunjuk Franda dan Roy yang telah berdansa terlebih dahulu. Mereka terlihat romantis sekali.
"Eits, gak usah mending kita juga dansa bareng val?" Rival menatap Rubi sebentar perempuan itu menahannya.
Ia menarik nafas, melepaskan tangan yang menempel di bahunya.
"Ayolah, kita dansa bareng."
"Ya udah tapi disana ya." Tidak terbendung lagi ketika Rival mengiyakan ajakan Rubi, tapi Rival punya strategi ia mendekat kearah Roy dan Franda. Menaikkan tangan Rubi keatas bahunya bahkan ia juga memegang langsung pinggang Rubi menatap Rubi dengan garis senyumnya.
Ini ia rasakan kembali oleh Rubi ketika Rival masih menjadi kekasihnya apalagi ketika Rival masih kurus sekali waktu itu. Ya, dengan perasaan yang sama ia masih mengharapkan Rival dan menyesal sekali dengan salah paham yang terjadi. Sifatnya emang cenderung egois dan kekanak-kanakkan namun didalam hatinya ia yakin Rival juga masih menyimpan rasa itu.
"Ehem."
"Ehem.."
"Kenapa val?"
"Gak kenapa-napa kok." Rival merapikan dasi kupu-kupu yang padahal sudah rapi.
Franda sengaja untuk tidak mengarah ke Rival karna ia tau sekali kalau Rival sedang memperhatikannya.
"Ya udah kita kesana aja yuk gue lapar nih." Rival meninggalkan tempat ini dan memilih untuk mencari menu makanan karna perutnya sudah merasa lapar.
__ADS_1
"Yes akhirnya Rival akhirnya udah mulai kode nih."