Mantan Terindah

Mantan Terindah
Tersudut


__ADS_3

"Bude boleh minta tolong?" tanya Bu Lani.


"Minta tolong apa, Bude?"


"Maukah kamu nemenin Bude, ketika nanti Bude mau menceritakan apa yang terjadi pada Gani?"


"Siap Bude, nanti Nadia temenin." Nadia tersenyum sembari mengelus lengan wanita yang kini sedang dalam keadaan resah itu.


Tak disangka ucapan terakhir Nadia, didengar oleh Gani yang saat itu sengaja datang dan membawakan makanan untuk Nadia.


"Mau nemenin ke mana hayooo?" tanya Gani sembari tersenyum senang.


"Ada deh!" jawab Nadia, tak kalah ceria.


"Dih, gitu ya... main rahasia-rahasiaan segala ya. Eh... Ibu nangis? Ada apa, Bu? Kenapa Ibu nangis? Ini pasti gara-gara kamu ya? Kamu bikin ibuku nangis ya?"


"Ihhh... ya nggak lah. Kita tadi sedang bicara dari hati ke hati. Aku juga nangis tadi. Lihat, ni mataku juga merah!" jawab Nadia, mencoba menutupi apa yang sedang terjadi.


"Masak sih? Coba lihat! Oh iya, matanya merah. Emang cerita apa kok bisa nangis. Ibu sedang memikirkan sesuatu atau Ibu sedang merisaukan sesuatu?" tanya Gani.


"Nggak! Ibu bahagia punya anak tampan sepertimu. Tadi gimana? Sudah selesai urusan sama wanita itu?" tanya Bu Lani, mencoba mengalihkan perhatian Gani.


"Masih ngeyel sih, Bu. Tapi sudahlah, nggak penting juga mikirin dia. Semua bukti juga sudah Gani berikan. Biarkan kuasa hukum Gani yang bekerja. Yang penting Ibu jangan banyak pikiran. Do'ain Gani aja Bu, semoga Gani bisa melewati ini semua," ucap Gani, terlihat begitu manja dengan wanita paruh baya ini.


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Putraku!" jawab Bu Lani masih mencoba bertahan, meskipun tak di pungkiri bahwa hatinya serasa perih mengingat apa yang mungkin akan terjadi.


"Bu, gimana? Cewek di sebelah Ibu ini, Kira-kira masuk nggak jadi kriteria calon mantu Ibu?" tanya Gani, sedikit bercanda.


"Heeemmm, kumat. Udah Bude, jangan didengerin. Dia cuma modus doang. Mengambil kesempatan dalam kesempitan," saut Nadia, seraya melirik manja ke arah Gani.

__ADS_1


"Apapun momennya, asalkan ada kesempatan harus dimanfaatkan, Nad. Iya kan Bu?" Gani tak mau kalah.


"Dih! Bisa lah begitu?"


"Bisa, tanya saja sama Ibu!"


"Kamu selalu modus, aku malas."


"Bu, apakah aku seburuk itu? Apakah putra tampanmu ini tukang modus. Bukankah aku putra terbaik Ibu?" rayu Gani pada ibunya.


"Hilih... jangan terpengaruh sama rayuan dia Bude. Dia suka begitu, ngrayu-ngrayu nggak jelas."


"Sudah-sudah, Ibu pusing dengerin kalian berantem. Sebaiknya kalian makan. Ibu sama Bapak mau ngurus surat izin numpang nikah kalian di kampung Nadia. Bude sudah ditunggu sama Paklek nya Nadia sama si Nur. Iya adikmu namanya Nur, iya kan Nad?" ucap Bu Lani seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Ta-tapi Bude, Nadia kan belum bilang iya mau menikah sama dia. Kok tiba-tiba main izin numpah nikah? Harusnya kan Nadia mesti bilang iya dulu. Baru urus." Nadia menatap bingung pada Bu Lani dan Gani.


"Astaghfirullah hal azim, Bude. Kami bukan pasangan seperti itu. Demi Allah!" ucap Nadia, mencoba membela diri.


"Kamu pikir, Bude, Pakde sama keluargamu percaya. Ni ya, namanya laki-laki dan perempuan, tidur satu kamar, terus nggak ngapa-ngapain, sepertinya nggak mungkin. Meskipun kalian tidak sampai melakukan hal ... emm seperti hubungan suami istri, setidaknya bibir kalian pasti sudah silaturahmi. Iya kan?" sanggah Bu Lani, semangat.


"Bibir silaturahmi? Maksudnya Bude?" tanya Nadia, semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan ibu dari pria yang kini ia sukai itu.


"Itu loh, apa Gani namanya. Yang cup cup begitu?" tanya Bu Lani sambil mencolek lengan Gani yang sedari tadi hanya tersenyum, pertengkaran ibu dan kekasih hatinya ini ternyata begitu menggemaskan baginya.


"Ciuman maksud, Ibu?" balas Gani.


"Iya, ciuman. Ibu yakin kalian pasti sudah melakukan itu. Hayo ngaku, kalian udah ciuman kan? sudah berapa kali begituan, ha? " serang Bu Lani, tak ingin kalah.


"Ya Allah, Bude. Nadia sama Gani nggak sampai sejauh itu. Kami nggak melakukan itu, Bude. Demi Allah! duduk deketan saja nggak? Tanya saja sama Gani. Gan, kita nggak pernah ah begitu kan?" tolak Nadia, serius.

__ADS_1


"Mana ku tahu!" jawab Gani, sok mencuci tangan.


"Ya Allah, Gani. Kita lagi dijebak ini. Kenapa kamu nggak ada pembelaan? Kenapa malah terkesan pasrah? Kamu gimana sih, Gan?" Nadia mulai kesal.


"Orang aku nggak tahu loh, Nad. Sungguh aku nggak tahu!" jawab Gani lagi.


"Ya Allah, Gani. Kamu kenapa sih? Beneran Bude, Demi Tuhan, Nadia sama Gani belum pernah melakukan hal seperti itu," ucap Nadia, memelas.


"Heleh, Bude nggak percaya. Gani, kamu laki-laki, harus jujur sama Ibu, sejauh mana hubunganmu dengan gadis ini. Apakah kalian sudah pernah, apa tadi yang kamu bilang?"


"Ciuman maksud Ibu? Kalo soal itu sering, Bu. Hampir setiap kali ketemu!" jawab Gani, tanpa malu-malu.


Terang saja, jawaban yang Gani berikan serasa membawa Nadia masuk ke dalam jaring perangkap yang sengaja dipasang untuk menjebaknya.


"Kapan Gani kita pernah begituan? Kamu jahat, Gani. Sumpah!"


"Sudah-sudah, kalian nggak perlu drama depan Ibu. Yang penting sekarang kalian makan. Jangan bertengkar lagi. Calon pengantin nggak boleh bertengkar terus. Nggak baik untuk hubungan kalian kedepannya, mengerti!" ucap Bu Lani seraya mengambil tas tangannya dan berpamitan.


Gani tersenyum senang. Sedangkan Nadia menatap kesal pada pria sok polos itu.


***


Di lain pihak, kabar kurang sedap datang dari anak buah Laskar. Mereka mengabarkan bahwa mantan lawyer yang pernah bekerja pada Vita, ternyata masih menyimpan dendam dan berniat menghabisi kedua pasutri tersebut.


Bersambung...


Terima kasih atas like komen dan vote kalian.. jangan lupa tongkrongin karya terbaik emak yes😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2