Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 11


__ADS_3

Gracia memegang tangannya yang agak memerah dan sedikit bengkak. Hari ini sepertinya dia harus pulang sendiri. Zhavia masih ada kelas alat musik, sedangkan Zefanya sudah pulang kelas pagi dan ke perusahaan iklan ibunya. Dia tidak mau menganggu Morgan karna Morgan sedang mempersiapkan iklan besar besaran untuk perusahaannya. Sedangkan tunangannya, Dior? Pagi tadi dia ijin tidak bisa menjemput karna ada rapat laporan akhir bulan. Malamnya mungkin Dior akan makan malam di rumahnya, di rumah Marcel.


Gracia menghela napas, ada apa dengan dirinya sampai membuat senior itu membencinya. Dia hanya menari seturut dengan kemampuannya, dia pun tidak berharap di pilih. Apapun peran yang diberikan padanya dia sudah sangat bangga karna bisa berpartisipasi dalam drama musikal yang sudah ia nantikan.


Dia melihat jari jari tangannya yang agak perih. Bagaimana tidak perih kalau diinjak dengan sepatu yang keras alasnya. Gracia mendengus dan berjalan keluar kampus. Sampai ponselnya berbunyi. Dia agak terkejut kalau ternyata kekasihnya Dior yang menghubunginya. Gracia segera mengangkatnya.


"Kak?"


"Kau di mana?" Tanya Dior di sebrang sana.


"Masih di kampus." Jawab Gracia datar.


"Tunggu aku, aku akan menjemputmu!" Kata Dior dengan nada suara menegang. Gracia agak curiga.


"Bukankah kau rapat kak?" Selidik Gracia.


"Kau lebih penting!" Dior langsung mematikan panggilan membuat Gracia terheran. Akhirnya dia memustuskan menunggu di kantin universitas.


Gracia menduduki meja agak di belakang dan memojok. Dalam hatinya dia takut kalau Melinda kembali mendatanginya. Dia hanya tidak ingin membuat suatu masalah. Dia bukan seperti Zhavia dan Zefanya. Gracia adalah gadis yang hatinya selembut kapas dan jiwanya murni sebening air. Dia tidak pernah merasa dendam sedikitpun. Selalu ramah dengan sesamanya dan hanya diam jika disakiti. Hal ini yang sejak dulu membuat Dior selalu ingin menjaganya.


Sesekali Gracia membalas namun dengan kebaikan yang malah dianggap orang seperti munafik. Terkadang Gracia juta jadi serba salah harus seperti apa. Dia bisa marah, tapi setelahnya dia menyesal mengapa dia melakukannya. Begitulah yang ibunya ajarkan padanya. Ibunya hanya berpesan harus menjadi wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Oleh sebab itu, terkadang ia iri dengan Zefanya dan Zhavia yang memiliki hati sekeran dan sekuat baja. Terkadang Gracia ingin seperti itu namun ia tak mampu.


Gracia menunduk sambil memegang dahinya. Sepertinya dia memang harus mengalah dan memberikan posisi itu pada senior nya. Dia tidak mau terus terusan terusik. Di universitas ini dia ingin mengemban ilmu bukannya mencari musuh.


Sambil menunggu Dior, dia melihat kooreo kooreografi di situs video pada ponselnya. Namun, entah mengapa dia malah terus memikirkan peran itu. Hem, suatu kebanggaan memang bisa memerankan peran itu. Pertunjukan itu hanya akan diadakan satu kali dalam satu tahun. Tahun depan entah dia mendapatkannya atau tidak.


"Lama menungguku?" Suara itu menyadarkan kesedihan Gracia.


Gracia mendongakan kepalanya dan terkejut kalau Dior sudah menjemput dan mengetahui dirinya ada di sini.


"Kakak? Kau tahu aku di sini?" Tanya Gracia dengan wajah yang mulai bersinar kembali.


Dior mengangguk dan duduk bersebrangan dengan Gracia. Dia lalu meraih tangan Gracia yang tadi diinjak oleh Melinda.


"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya?" Tanya Dior to the point.


Gracia benar benar bingung dan heran, mengapa dengan sigapnya Dior meraih tangannya dan menanyakan semuanya. Apa Zhavia atau Zefanya melihatnya dan memberitahukan pada kakaknya? Tapi sepertinya tidak mungkin. Kelas Zhavia baru saja dimulai sedangkan Zefanya sudah pulang. Gracia dengan cepat memutar otak untuk menjawab pertanyaan kekasihnya itu.


"Emm, ini terjepit pintu." Akhirnya itulah jawaban yang keluar dari mulut Gracia.


Dior menaikan satu alisnya ragu.


"Benar kak! Aku tidak tahu kalau temanku ingin menutup pintu tapi aku masih memegang sisi pintu." Tambah Gracia meyakinkan.


Dior menarik napas dan mencoba mempercayainya, padahal dia mengetahui yang sebenarnya.


"Baiklah, aku harap lain kali kau jangan ceroboh seperti ini!" Saut Dior.


"Iya kak." Jawab Gracia menundukan kepalanya. Dia bersalah telah membohongi tunangannya. Tapi, jika dia memberitahu, Dior pasti akan membuat perhitungan pada pihak sekolah atau malah langsung mendatangi Melinda. Dan setelah itu, Gracia akan menjadi incaran nya lagi.


Dior lalu mengecupi jari jari Gracia yang kemerahan itu. Tak lama dia merogoh sesuatu pada saku jasnya. Sebuah jel untuk luka lebam maupun bengkak. Lagi lagi Gracia dia buat terkejut mengapa Dior membeli jel ini. Jel ini tampak baru dan bukan sekedar memang Dior selalu menyediakannya. Dior membuka tutup nya dan mengoleskan pada jari jari Gracia yang tampak membengkak itu.


"Kak, kenapa kau membeli jel itu?" Selidik Gracia hanya memastikan.


"Ya, tadi tangan Rick terinjak Mom yang datang ke hotel. Dia tidak melihat Rick sedang mencari sesuatu di dekat meja kerjanya dan Mom harus melewatinya. Tangannya terinjak dan aku sekalian keluar membeli obat ini!" Jawab Dior sangat tenang.


Gracia kembali bingung dan semakin merasa bersalah. Tapi dia diam saja dan kembali menunduk sedih. Dalam hatinya dia meminta maaf pada Dior. Dior sedikit melirik dan tersenyum tipis.


"Kita tidak seharusnya saling berbohong bukan?" Dior mencoba memancing Gracia untuk mengatakan yang sebenarnya, namun rasanya bukan Gracia yang langsung memberitahu kesedihannya jika tidak dipaksa.


"Aku tidak berbohong kak. Tanganku memang terjepit." Nah, inilah yang dikatakan Gracia lagi.


"Ya, aku mengerti! Baiklah sudah. Sekarang temani aku makan setelah itu kita pulang!" Saut Dior memandangi kekasihnya dan tersenyum tipis.


Dior merasa tidak seharusnya Gracia mengetahuinya. Kalau Gracia juga mengetahuinya, dia akan risih. Gracia juga akan merasa dikekang olehnya. Biarkan dirinya yang tahu kejadiannya lalu berusaha melindungi Gracia. Dior akan menunggunya. Kalau sampai dia mengetahui hal ini lagi barulah dia akan membuat perhitungan.


Setelah makan, Dior langsung mengantar Gracia pulang.


"Istirahat yang cukup sayang!" Pesan Dior mengelus puncak kepala Gracia sebelum menuruni mobil.


"Tentu sayang. Em kak? Apakah kau juga akan pulang atau kembali ke hotel?" Tanya Gracia.


"Ke hotel Gracie, aku masih harus menghadiri satu rapat lagi." Jawab Dior tersenyum.


"Rapay siang ini kenapa kau tidak ikut?"


"Rick bisa mengurusnya. Aku terlalu merindukanmu dan sepertinya kau membutuhkanku." Dior terus tersenyum.


"Aku selalu membutuhkanmu dan ingin di dekatmu kak! Andai saja kau seangkatan dengan ku." Gumam Gracia meraih tangan Dior dan mengenggamnya erat.


"Mulai besok, usahakan dirimu dekat dengan Zhavia dan Zefanya ya?" Pinta Dior mencemaskan keselamatan kekasihnya.


"Terkadang kami berbeda kelas kakak apalagi Zefanya. Kau kan tahu kita berbeda jurusan." Jawab Gracia.

__ADS_1


"Ya, usahakan saja agar tidak ada yang menganggumu!" Dior memastikan.


"Iya kak. Terimakasih untuk hari ini." Ucap Gracia tersenyum pada Dior.


"Ya, katakan saja jika kau membutuhkanku, aku akan selalu ada." Balas Dior.


Gracia mengangguk dan memandang Dior dengan penuh harap. Dior menarik napas tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Gracia hendak menciumnya. Dior meraih leher Gracia dan hanya mengecup ujung bibir Gracia karna sebuah mobil membunyikan klarkson ke arah mobil Dior. Morgan sudah pulang. Dior terkekeh, begitu juga Gracia.


"Masuklah, nanti malam ku hubungi!" Kata Dior lagi menyudahi pertemuan mereka.


Gracia mengangguk dan keluar dari mobil. Dior segera melajukan mobilnya setelah memastikan Gracia menyebrang dengan aman. Tidak lupa dia membunyikan klarkson mobilnya juga untuk pamit pada Morgan.


"Dia tidak mampir, Grac?" Tanya Morgan.


"Tidak kak, dia masih rapat." Jawab Gracia.


"Oh!"


Morgan pun merangkul Gracia memasuki rumah mereka.


Sesampainya Dior di kantor hotelnya,


"Rick, katakan pada Robert untuk selalu mengawasi Gracia jika ada yang menganggunya dan segera laporkan padaku!" Perintah Dior pada Rick.


"Tapi Tuan, jika Robert sedang tidak satu kelas dengan Gracia bagaimana?" Tanya Rick.


"Awasi saja semampunya, sebisa mungkin aku akan terus menjemputnya setelah kelas selesai." Kata Dior.


"Baik Tuan."


Dior memasuki ruangannya. Dia duduk di kursi putarnya dan memijat pelan dahinya.


~Mengapa kau tidak meminta bantuan padaku Gracia? Kau selalu seperti ini sejak kecil!~ Dior memikirkan Gracia lagi dan lagi.


...


Keesokannya pada kelas Perkembangan Seni dan Musik, dosen yang mengajar mengenalkan Mahasiswa baru yang sebelumnya sudah di singgung pada kelas tari kemarin. Pada kelas kali ini, Gracia memang harus satu kelas dengan Zhavia karna satu jurusan kesenian. Dan mahasiswa baru itu juga harus mengikuti mata kuliah ini sebelum nanti akan ada mata kuliah khusus seni tari.


"Kau mengetahui mahasiswa baru itu Gracie?" Selidik Zhavia yang tidak tak menau.


"Ya, katanya dia masuk seni tari bersamaku." Jawab Gracia sambil melukis sebuah sketsa penari balet.


"Oh ya? Seorang pria tampan kah?" Selidik Zhavia agak centil.


Tak berapa lama mahasiswa baru itu memasuki ruang kelas.


"Silahkan perkenalkan dirimu!" Perintah sang dosen.


Mata Zhavia sudah hampir keluar, karna dia sangat tahu siapa mahasiswa itu.


"Gracia, lihat! Itu si pria paling percaya diri di dunia! Stan, Stan.." Zhavia menyenggol nyenggol Gracia namun Gracia masih berkutat sampai mahasiswa baru itulah yang mengenalkan diri.


"Selamat pagi. Perkenalkan namaku Stanley Naraya. Mungkin kalian mengenalku? Aku adik dari Jacklyn Naraya." Kata mahasiswa baru itu mulai mengenalkan diri dengan awalan membawa bawa nama kakaknya yang cukup terkenal di kalangan penari Honolulu.


Hanya mereka dari kelas seni tari yang mengetahuinya saling berbisik bisik, sementara yang lainnya tampak biasa saja.


"Baiklah aku hanya intermeso, haha! Tapi benar aku Stanley Naraya adiknya Jacklyn Naraya. Kalian pasti mengenal dia pink flaminggo. Oke lanjut, Aku pindahan dari Art and Dance of Honol, aku dari Honolulu. Apa kalian pernah mendengar Belleza Hotel? Direkturnya adalah ayahku, kalau kalian pergi ke Honolulu, aku akan mentraktir kalian. Oke baiklah sekian perkenalanku dan aku akan menjuru pada kelas seni tari. Terimakasih dan apa aku bisa duduk sekarang, sir?" Kata Stanley mengakhir perkenalannya.


"Perkenalan yang luar biasa. Pasti kau sangat merindukan mereka ya?" Gumam sang dosen basa basi karna baru kali ini ada sebuah perkenalan yang melibatkan semua anggota keluarga nya.


"Begitulah, tapi sudahlah, aku disini karna harus menyelesaikan gelar ku!" Jawab Stanley menaikan pundaknya.


"Oke Stanley silahkan cari kursi yang kosong!"


Stanley mulai melihat kursi yang kosong dan dia sangat terkejut karna melihat Zhavia dan di sampingnya ada gadis yang belum ia ketahui namanya. Yang kemarin tertabrak olehnya. Stanley begitu antusias. Kebetulan sekali kursi di belakang Gracia tidak berpenghuni.


"Zhavia! Kita bertemu lagi dan aku sudah memastikan akan bertemu denganmu, haha!" Sapa Stanley.


"Sangat sangat percaya diri! Ckckck, kau sudah berbicara dengan Patrick lagi kan?" Zhavia menerka dan benar.


"Tentu! Tapi aku lupa menanyakan nama gadis yang di sampingmu!" Stanley menaik turunkan alisnya penasaran dan sedikit menggoda


"Dia .." Zhavia ingin mengenalkannya.


"Tidak perlu, aku bisa bertanya padanya! Whats your name, lady?" Stanley memotong Zhavia dan langsung berdiri sedikit membungkuk di depan Gracia.


"Haiz!!!" Zhavia menggeleng gelengkan kepalanya.


"Gracia! Sebaiknya kau duduk karna Mr. Gustav menunggumu duduk untuk memulai mata kuliah!" Jawab Gracia sedikit acuh.


"Wow Gracia! Nama yang sangat merdu di dengar seperti suaramu, pasti kau ikut kelas tarik suara bersama Zhavia ya?" Stanley yang tadinya agak membungkuk kembali menegakan tubuhnya.


"Tuan Muda Naraya, aku mohon nanti saja berkenalannya, kita harus mulai sekarang!" Kata Mr. Gustav memohon.

__ADS_1


"Santai saja Mr. Gustav yang terhormat!"


Stanley pun menempati kursi di belakang Gracia. Sepanjang mata kuliah, nampaknya Stanley tidak memperhatikan Mr. Gustav yang terus mengajar seperti mendongeng. Stanley lebih tertarik memperhatikan Gracia dan sesekali Stanley memainkan rambut belakang Gracia dengan penanya.


"Diamlah Stanley! Kau sangat mengangguku!" Bisik Gracia ketika dia merasa sangat risih dan Zhavia pun menyadarinya.


"Akan ku potong tanganmu jika kau terus menganggu Gracia atau kuadukan pada kakakku!" Ancam Zhavia kemudian sambil menunjuk Stanley dengan pena nya.


Stanley langsung terkejut mendengar perkataan menyeramkan Zhavia. Stanley mengalah dan hanya melihat Gracia meski hanya dari belakang dia sudah sangat senang. Akhirnya dia bisa mengetahui nama gadis ini.


Setelah kelas selesai, lagi lagi Stanley mendekati Gracia yang keluar kelas bersama Zhavia pastinya. Namun, saat itu juga Patrick datang hendak bertemu Zhavia dan dia terkejut melihat Stanley sudah masuk di kampus yang sama dengannya.


"Stanley!" Panggil Patrick.


"Hay Pat! Aku tidak menyangka akan satu kelas dengan Zhavia dan gadis penuh kelembutan ini." Stanley memuji Gracia.


Gracia menoleh ke arah Stanley dan menatapnya tajam.


"Hadeeh! Patrick! Kenapa kau mempunyai teman yang banyak omong seperti ini sih?" Decak Zhavia risih.


"Haha, dia memang seperti ini, Zhavia!" Patrick terkekeh dengan salah satu temannya yang unik ini.


"Zhavia, aku berkata apa adanya. Apa kau cemburu karna aku tidak memujimu ya?" Sela Stanley dan menggoda Zhavia.


"Cih aku tidak mau dipuji olehmu! Sudahlah Pat, kau urus temanmu! Aku harus pulang, kak Dior sudah menjemput!"


"Kak Dior menjemput Zhavia?" Gracia memastikan dengan sumringah.


"Ya, apa yang terjadi padamu sehingga dia begitu seposesif ini lagi Gracia?" Zhavia sudah menarik pundak Gracia untuk pulang.


"Tidak apa apa, ayo pulang!" Gracia menggandeng lengan Zhavia dan pergi meninggalkan Stanley dan Patrick.


"Hey hey, Gracia, tunggu dulu, arghh kenapa si Zhavia itu selalu menghalangiku Pat?!" Dengus Stanley yang sejak tadi selalu gagal mendekati Gracia.


"Stanley, Gracia sudah memiliki tunangan, kau jangan begini!" Patrick memperingati.


"Are you kidding me?! Dia masih sangat muda Pat! Pria tua mana yang sudah meminangnya? Hem, sungguh tak bermoral!" Decak Stanley asal.


"Vincent Edior Prime!" Patrick memberitahu dengan sangat jelas.


Stanley terdiam mendengar nama itu. Dia pernah mendengar nama itu. Entah ayah atau ibunya yang pernah menyebutnya.


"Apa dia pria yang kemarin bersamanya Pat?" Stanley meyakinkan.


"Hehem!" Patrick mengangguk angguk.


Seketika wajah Stanley menjadi sayu. Alisnya menaik dan mengangguk angguk juga. Dia masih memandang bahu Gracia yang kian menjauh bersama Zhavia.


...


...


...


...


...


Hem Stan! Ayah dan ibumu bawahannya ayah dan ibunya Dior 😔😔


.


Next part 12


Apakah Stanley masih akan mendekati Gracia?


Bagaimana tanggapan Dior ketika mengetahui Stanley akan satu jurusan dengan Gracia?


Dan bagaimana Gracia bersama keahlian Stanley dalam menari?


Apa Melinda masih akan terus mengancam Gracia?


Nantikan semuanya hanya di Dior dan Gracia season 2 haha 😁😁


.


Jangan lupa LIKE DAN KOMENNYA DONGG KAKAKK NYAA 😍😍


KASIH RATE DAN VOTE JUGA DI DEPAN PROFILE NOVEL YAA 😘😘


.


THnks for read and i love youu 💕💕

__ADS_1


__ADS_2