
Perasaan gugup bercampur malu kini tengah menyerang dua sejoli itu. Nadia dan Gani.
Nadia begitu bahagia. Kebahagiaan itu terlihat jelas dari senyuman yang terus mengembang di bibir manisnya. Terlebih, impiannya merasakan bibir yang ia idam-idamkan telah tercapai.
Bibir Gani begitu manis ia rasakan. Entahlah, Nadia jatuh cinta dengan bibir tampan itu.
Gani sendiri masih fokus dengan ponselnya. Namun tangan satunya, masih menggenggam erat jari jemari sang calon istri.
Tak ubahnya seperti ada yang kini tengah melanda Nadia, Gani pun merasakan hal yang sama. Hal yang membahagiakan. Hal yang membuat hatinya seperti di penuhi rasa cinta.
Pria tampan ini begitu hati-hati memperlakukan sang kekasih. Beberapa kali, ia juga terlihat mencium jari jemari sang pujaan hati. Terkadang ia juga mengelus pipi Nadia. Pembicaraan yang ia lakukan di telepon, sama sekali tak mengubah perhatiannya pada sosok wanita yang kini setia menemaninya.
Selepas menerima telepon itu, Gani malah diam terpaku. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu oke?" tanya Nadia.
"Ya, Insya Allah," jawab Gani.
"Ada apa?"
"Mariska melakukan percobaan bunuh diri."
"Hah? Kok bisa? Astaghfirullah hal azim. Terus sekarang gimana?" tanya Nadia, khawatir.
"Entahlah, papanya memintaku untuk menemuinya. Tapi aku masih marah padanya," ucap Gani, jujur.
"Ih, nggak boleh gitu. Mau bagaimanapun kalian pernah saling menyayangi. Pernah saling membahagiakan. Seburuk apapun dia, dia pernah membuatmu bahagia, iya kan?" ucap Nadia.
Gani menatap heran ke arah sang calon istri. Bagi Gani, Nadia begitu unik. Aneh, kenapa cepat sekali dia memaafkan seseorang. Padahal belum tentu orang tersebut akan melakukan hal yang sama padanya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Nadia sembari menaruh dagunya di pundak Gani.
__ADS_1
"Nggak, aku heran aja sama kamu. Kenapa kamu begitu baik?"
"Aku tidak baik, kalo dia berani merebut kamu dari aku, aku juga akan marah," jawab Nadia, kali ini dia jujur.
Gani tersenyum sekilas. Bahagia saja rasanya. Ternyata Nadia bisa juga cemburu.
"Apakah itu artinya kamu cemburu?" tanya Gani.
"Mungkin." Nadia memeluk lengan Gani. Dengan posisi tetap, tak berubah.
"Sebenarnya aku tidak yakin kalo wanita itu melakukan hal bodoh seperti itu. Aneh saja kan? Mungkin ini hanya akal-akalan dia. Secara kita tahu, dia sangat licik!" jawab Gani, sedikit curiga.
"Emmm, bisa jadi. Tapi, apa motifnya?" balas Nadia.
"Astaga, Yang. Kamu ini lugu sekali."
"Ya aku kan nggak tahu." Nadia menggeser tubuhnya, menyenderkan tubuh ramping itu ke sandaran sofa. Menyamankan posisi duduk, agar Gani bisa berbaring di pangkuannya.
"Nyamannya," ucap Gani.
Nadia tersenyum.
"Ya Tuhan, kenapa liburku cepat sekali usai. Bentar lagi mesti pergi. Gimana kalo aku minta libur lagi?" tanya Gani, sembari menciutkan mata manja.
"Emmmm, gimana ya enaknya? Nanti kalo kamu dipecat gimana?" tanya Nadia.
"Bos mana berani mecat asisten tampan begini? Asisten model gini cuma ada satu di dunia," jawab Gani, dibarengi tawa renyah.
"Tadi belum jawab, Mariska kenapa kok bisa senekat itu?"
"Aku rasa dia hanya mau menghindar dari jerat hukum, Yang. Karena pasal yang ia hadapi cukup berat. Pencemaran nama baik plus penipuan," jawab Gani.
__ADS_1
"Menurutku, mungkin... dia nggak mau kehilangan kamu, Mas," ucap Nadia.
"Atas dasar apa dia nggak mau kehilangan aku? Aku nggak mau jadi mesin ATM percuma untuknya. Enakan aja," gerutu Gani.
"Ya, aku pun nggak rela, Mas. Semoga dia bisa mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu salah," balas Nadia.
"Emmm, Nad!"
"Ya," jawab Nadia. Menatap penuh cinta pada pria yang kini tengah berbaring di pangkuannya.
"Indah juga kamu manggil aku mas. Coba dari dulu-dulu, kan syahdu didengernya," canda Gani.
"Ish.. ya mana boleh, dulu kamu milik wanita lain. Sorry aku bukan pelakor," jawab Nadia, sedikit kesal.
"Aku tahu, makanya aku nggak mau kehilangan kamu. Aku salut sama kamu, Nad. Sebenarnya kamu memiliki begitu banyak kesempatan untuk menggodaku. Tapi kamu nggak nglakuin itu. Kamu memilih memendam sendiri rasa yang ada di hatimu untukku. Kamu nggak egois, Nad. Aku suka itu," ucap Gani lagi, kali ini ia juga membalas tatapan mata cantik itu.
"Aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya sesuatu yang kita cintai direbut oleh orang lain, Mas. Itu sebabnya aku nggak mau merebut milik orang lain. Aku nggak setega itu," jawab Nadia.
"Makasih ya, Nad. Kamu sudah mau menungguku tanpa merebutku dari wanita lain."
"Bener aku nggak ngrebut lo ya. Dia yang melepaskan kamu, lalu aku temu deh!" canda Nadia.
"Kamu pikir aku apaan, main temu aja. Aku bukan mainan Nadia, dasar!" balas Gani, sedikit tersinggung.
"Jangan cemberut begitu dong, Honey. Nanti tampannya hilang," ucap Nadia.
Gani tersenyum. Suasana hening sejenak. Gani menatap Nadia, lalu ia kembali bertanya. "Nad, apakah kamu tahu sesuatu tentangku?"
Nadia menatap Gani, terkejut. Wajah gadis ayu ini langsung berubah. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia takut. Takut kalau Gani mendengar pembicaraannya dengan Ibu Lani tempo hari.
Mungkinkah? batin Nadia.
__ADS_1
Bersambung...