
Gani masih belum sadarkan diri ketika Juan dan Stella sampai di sana. Sedangkan seseorang yang diidentifikasi sebagai Bima, wajahnya tidak bisa di kenali lagi. Tetapi, perawakan, baju, dompet sekaligus cincin nikah yang melingkar di jari manis jenazah itu, mengarah pada Bima.
Stella menangis histeris ketika melihat jenazah itu. Hatinya hancur berkeping-keping. Tak sanggup membayangkan perasaan sang adik jika seandainya tahu, bahwa sang suami telah berpulang.
"Sabar, Mam. Kita harus kuat. Vita akan semakin terpuruk kalau sampai kamu begini," ucap Juan mencoba membuat sang istri lebih tegar.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Pi? Mengapa Bima pergi secepat ini. Mami nggak sanggup memikirkan bagaimana reaksi Vita, ketika tahu suaminya sudah berpulang." Stella kembali menangis di depan ruang jenazah. Di mana jenazah yang diketahui adalah Bima itu sedang dirawat.
Juan sendiri tidak kuasa menahan tangis. , meskipun dia adalah pria.
Juan langsung teringat betapa Bima dan Vita ketika bersama. Mereka begitu saling mencintai satu sama lain.
Hubungan mereka begitu manis. Terakhir, ketika mereka bersama sedang mengawal kasus Vita, mereka melihat kedua sejoli itu sedang berciuman. Bukankah itu sudah suatu bukti, bahwa kedua sejoli itu memang saling mencintai.
"Papi nggak bisa berkata apa-apa lagi, Mam. Selain meminta Vita untuk sabar dan ikhlas. Mau bagaimanapun kita tidak bisa menolak ini. Sekarang bukan hanya Vita yang dipaksa ikhlas, Mam. Kita pun sama. Kita berdua juga dipaksa ikhlas. Belum lagi Gani yang masih belum sadarkan diri. Papi juga nggak bisa berpikir lagi, Mam. Entahalah!" Juan langsung terduduk lemas.
"Ya Tuhan! Mami sampai melupakan keadaan Gani dan asisten kita yang lain, Pi. Maafkan Mami. Mami terlalu fokus dengan Bima. Maafkan, Pi!" ucap Stella.
Juan mengangguk mengerti. Namun hatinya dan pikirannya tidak bisa mengsinkronkan apa yang sedang mereka hadapi saat ini. Antara ikhlas dan tidak. Antara menerima dan tidak. Entahlah, Juan seperti berada di antara dua jurang yang sama-sama membuat bimbang.
__ADS_1
Setelah jenazah itu siap, Juan dan Stella pun segera membawa jenazah itu ke Semarang untuk dikebumikan.
***
Semarang...
Jenazah Bima sampai di Semarang tepat jam 4 dini hari. Selepas disholatkan, mereka langsung mengantarkan jenazah dokter muda itu ketempat peristirahatan yang terakhir.
Beberapa kali telihat Vita pingsan di kamar pribadi Bima. Wanita cantik ini masih belum bisa menerima kepergian sang suami. Bahkan ia tak sanggup mengantarkan Bima di mana jenazah Bima disemayamkan atau lebih tepatnya Vita memang tak mau mengantarkan jenazah itu. Sebab hatinya mengatakan bahwa jenazah itu bukanlah suaminya. Entahlah, hati Vita berbisik demikian.
"Jangan begitu, Sayang! kasihan suamimu," ucap Sera memberi nasehat.
Selepas berucap demikian, lelehan air mata Vita kembali terjun bebas. Sungguh, dadanya serasa sesak mengadapi perang antar percaya dan tidak. Antara menerima dan menolak.
Sera sangat mengerti itu.
Sera sangat paham jika perasaan keponakannya ini pasty hancur.
Vita pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Sehingga tidak bisa langsung menerima.
__ADS_1
Pikiran Vita menang melayang entah ke mana. Namun, jika boleh jujur, hati kecil wanita ini mengatakan bahwa yang mereka kebumikan bukankah suaminya. Hati kecil Vita sangat kekeh dengan itu.
Sampai beberapa kali Sera bertanya. Jawabannya tetap sama.
Aku nggak mau nganterin jenazah itu, sebab jenazah itu bukan suamiku. Suamiku belum mati. Dia mau menua bersamaku. Itu janjinya.
Vita selalu menjawab demikian ketika Sera membujuknya agar dia ikut mengebumikan sang suami. Sera pun tak kuasa memaksa
Entahlah, ini halusinasi nya atau memang kenyataan. Nyatanya, semua keluarga percaya bahwa itu memang Bima.
Ia meringkuk menangis di ranjang sang suami sambil memeluk foto mendiang Bima.
Vita marah ketika ada yang mendekatinya. Ia sungguh tak siap kehilangan pria itu. Vita sangat terpukul.
"Biarkan dia tenang, jangan katakan apapun," pinta Sera kepada orang-orang yang ingin mendekati keponakan kesayangannya ini.
Sera paham betul dengan apa yang sedang dirasakan Vita saat ini. Sebab ja sendiri juga pernah merasakannya.
Stella, Zizi dan juga Safira hanya bisa duduk di samping wanita yang kini di rundung duka itu. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Sebab Vita masih belum mampu menerima ajakan apa lagi nasehat. Yang ia inginkan hanya memeluk foto itu. Tidur diranjang sang suami. Memelukan bantal dan guling milik Bima. Baju-baju bekas pakai Bima. Pokoknya semua yang berhubungan dengan Bima, Vita mau.
__ADS_1
Bersambung...