
Prinsip merupakan pedoman untuk menjalankan hidup. Bukan hanya kehidupan tetapi juga hubungan yang dibina dengan cinta kasih. Prinsip Dior untuk menghargai dan menghormati Gracia terlihat sangat mudah namun pada kenyataan nya Dior hanya seorang pria yang tak luput dari hawa nafsu sebagaimana manusia. Walau begitu ia terus berusaha menjaga kehormatan Gracia sampai waktu yang ditentukan. Apakah Dior sanggup?
...
Bibir mereka berdua saling berpautan dan bergulat dengan sangat pelan. Merasakan setiap rasa manis yang dihasilkan dari saliva dua orang yang saling mengasihi itu. Tangan Gracia melingkar di kepala Dior sementara bibirnya terus menikmati setia kecupan lembut kekasihnya itu. Sampai akhirnya mereka berdua saling menarik diri. Mereka saling menatap. Dior memegang pinggang Gracia sementara satu tangan lainnya memegang hadiah pemberian kekasihnya itu.
"Thank you Gracia! Dasi ini akan selalu kugunakan. Aku akan selalu mengingat namamu di sini dan di sini bahkan di setiap hela napasku. Jadi kau akan membunuhku perlahan jika kau meninggalkan ku Gracie karna setiap napasku adalah ketika bertemu dan melihat dirimu." Ucap Dior kini memeluk kekasihnya itu. Gracia pun juga mendekap kekasihnya.
"Sama sama kak. Dasi ini tidak ada apa apanya kak tapi berhasil membuatku menabung haha!" Saut Gracia. Dior lalu menarik dirinya menatap kekasihnya itu. Dia tersenyum lalu mengelus pipi Gracia.
Gracia kembali mendekatkan dirinya lalu mengecup bibir kekasihnya lagi. Dia merindukan Dior karna memang sudah dua hari ini tidak bertemu. Dior pun tak bisa menolak kecupan Gracia yang sangat menginginkan. Sampai akhirnya Gracia pun memundurkan dirinya perlahan sampai pada sisi tempat tidur. Dior kembali menarik dirinya.
"Kau tidak tidur sayang?" Tanya Dior menyapukan bibir merah Gracia.
"Aku masih ingin bersamamu kak, aku begitu merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" Sungut Gracia sesaat mendongakan kepalanya menatap Dior tampak sendu.
Dior menghela napas dan harus mengangguk juga tersenyum. Ini di rumahnya, pasti dia bisa menahan diri. Hanya tidur bukan yang lainnya . Dior pun meletakan dasi nya di atas nakas. Dia menarik Gracia untuk tidur di atas tempat tidurnya. Dior menarik diri Gracia lagi untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Kak, sebenarnya malam ini aku sangat merindukan mommy ku. Kalau aku memelukmu aku merasa memeluk mommy. Jadi maafkan aku menganggumu malam malam." Kata Gracia sedikit melirik Dior .
"Tenang saja Gracia, mommy mu di surga selalu melihatmu bahkan mungkin dia ada di sini sekarang sedang melihatmu." Saut Dior mengecup pangkal kepala Gracia.
"Kau terlalu menghiburku kak." Balas Gracia mulai memejamkan matanya.
"Aku serius. Emm, kau masih memiliki mommy Viena. Aku dengan senang hati berbagi dia denganmu." Dior tersenyum mengeluskan pipinya pada rambut rambut lembut Gracia.
"Ya, aunty Vien memang seperti mommy, apalagi masakan aunty Vien sama seperti mommy ku. Tapi jika ingin aku merasakan pelukannya, aku lebih ingin memelukmu kak, mungkin karna dia memang sudah menitipkan diriku padamu. Sejak pertama kali kita bertemu dan berpelukan saat itu aku sudah menyadari kalau pelukanmu sama seperti mommy ku kak." kata Gracia lagi merasakan kehangat dada kekasihnya.
"Begitu ya? Kita memang sudah ditakdirkan bersama Gracia, jadi dimana pun kau berada, kau akan selalu mengingatku untuk membimbingmu dekat dengan ku. Kau percaya kan Gracie kalau di dalam hatiku juga hanya terdapat namamu?" Tutur Dior dengan semua kata kata cintanya.
Gracia mengangguk dengan telapak tangannya terus memegang dada Dior.
"Sekarang, tidurlah, besok kita bisa satu harian bersama melakukan sesuatu dengan Zefanya dan Zhavia. Sudah lama kita tidak pergi bersama. Mungkin ke mall? Sudah aku tidak ke sana." Kata Dior lagi. Gracia sudah tidak merespon. Dan ketika Dior menoleh ke bawah memastikan Gracia, Gracia sudah tertidur namun Dior melihat setetes air mata menghiasi salah satu mata Gracia. Dior menyekanya dan makin mendekap kekasihnya itu. Dia mengelusnya. Dior ikut tertidur sambil menyandarkan kepalanya pada kepala Gracia.
Hari sudah menjelang pagi namun langit masih gelap. Dior terbangun karna Gracia agak gelisah. Dia merintih seperti hendak menangis. Dior berusaha menarik diri Gracia lagi masuk dalam pelukannya karna posisi mereka telah berpisah. Dior sempat melirik jam di atas nakas nya sudah pukul empat pagi. Dior mengeratkan lagi pelukannya agar Gracia tenang. Namun setelah Gracia terdiam merasakan kehangatan tubuh Dior, Dior pun tidak bisa tidur.
Dia akhirnya memandangi wajah kekasihnya yang tampak nyenyak. Hem, sebenarnya di bawah sana sudah meronta ronta hendak keluar dari sangkarnya namun Dior memang ingin melatih diri. Dia hendak membentengi seluruh tubuhnya jika dia benar benar mencintai wanitanya dengan tulus dan seandainya jika dia meminta namun Gracia tidak bisa memberi, apakah dirinya akan kesal atau marah? Dior memandang ke arah lampu tidur di atas meja kerjanya. Lampur tidur berbentuk piramid dengan lava lava buatan sedang menari nari di sana berwarna merah dan berganti warna dengan biru begitu seterusnya.
Dior mencoba mengalihkan pemikirannya tentang tubuh Gracia yang beberapa kali dia melihatnya tanpa benang sedikitpun. Mudah saja baginya sekarang mengecup pundak Gracia, mengecup lehernya dan memainkan benda kenyal yang sepertinya akan menjadi benda favorit Dior. Namun kembali lagi bicara mengenai prinsip dan keinginannya membuat Gracia menjadi wanita paling sempurna. Bukan hanya janji pada ibunya melainkan juga Janji pada calon mertuannya. Oh tidak, Dior mau menganggapnya sekarang adalah mertuanya.
Menit menit waktu terus berjalan dan Dior benar benar tidak tidur tapi juga tidak bergeming. Masih pada kuasanya menjaga Gracia dalam pelukannya agar tidak ada lagi mimpi mimpi buruk yang menyerangnya. Namun sesekali Dior meraih perlahan dasinya dan memperhatikan serta mengingat lagi kata kata yang Gracia ucapkan mengenai pentingnya dasi ini bagi kehidupan dan masa depannya. Dan kini sudah pukul lima pagi. Sebentar lagi ibunya akan bangun dan mengumandakan puji pujian nyanyian rohabi di bawah. Dior tidak mau ada kesalahpahaman. Dia harus memindahkan Gracia ke tempat Zhavia.
Dengan sangat pelan, Dior menarik diri dari Gracia. Gracia sedikit terlonjak dan bergeliat namun karna Dior mengecup pipinya dia kembali diam. Dior berjalan ke pintu kamarnya dan membukanya. Dia melihat ke lantai bawah masih tampak gelap. Namun, dia sangat yakin sebentar lagi sekitar lima belas menit lagi mungkin ibunya akan keluar. Dior lalu menuju ke kamar Zhavia. Dia mengetuknya perlahan lalu mencoba membuka pintunya yang tidak terkunci. Adiknya sedang tidur di sana dengan sangat nyenyak. Dior membuka pintu kamar Zhavia lalu kembali ke kamar nya untuk memindahkan Gracia. Dia hendak mengangkat Gracia untuk naik ke atas gendongannya namun Gracia lagi lagi terkesiap. Dia agak terbangun dan membuka matanya.
"Eemm, kak? Mau kemana?" tanya Gracia masih setengah sadar.
"Kau harus pindah, ini sudah pukul lima pagi, sebentar lagi Aunty Vien mu akan doa pagi dan bermazmur bersama Amy. " Bisik Dior memegang wajah Gracia.
"Oohh iya aku lupa, aku tertidur. Pelukanmu sangat hangat kak." Kata Gracia sambil mengecucek matanya dan mengelus wajah Dior. Dior membalasnya dengan senyuman.
"Yasudah, aku akan kembali ke kamar Zhavia." Kata Gracia lagi masih dalam kantuknya. Dia hendak berdiri namun kembali duduk karna masih sangat lemas.
"Biar aku menggendongmu Gracie."
"Tidak usah kak, aku sudah merepotkan mu."
"Tidak apa, diamlah!" Kata Dior mulai menggendong Gracia. Dior mengangkat tubuh Gracia dan dari atas sana terlihat sudah benda yang akan menjadi favorit Dior karna baju yang Gracia kenakan agak longgar dan tertarik tangannya ke bawah. Dior meneguk salivanya. Mengapa cobaan ini datang terus bergantian pada waktu yang tidak tepat. Pekiknya dalam hati.
Dior harus menahannya. Dia pun sudah berhasil menggendong Gracia. Gracia malah kembali tertidur. Dior menggendongnya dengan semua pertahan diri yang menguji jiwa dan imannya. Ketika Dior berhasil keluar dari kamarnya, dari bawah sana terdengar suara bukaan pintu kamar ibunya. Ya, Viena keluar dari kamar. Di masa tuannya, wanita paruh baya itu memang selalu bangun subuh dan sudah tidak membutuhkan waktu tidur yang panjang.
Dior agak jalan meminggir dari perbatasan lantai dua agar Viena tidak melihat keatas. Dia berjalan pelan pelan namun tetap ada sedikit hentakan sehingga Gracia jadi memeluknya dan menempelah dua gundukan Gracia itu. Dior sedikit gugup namun di aterus meluruskan niatnya untuk memindahkan Gracia ke kamar Zhavia.
Dan sampailah Dior pada kamar Zhavia. Dia segera berjalan cepat ke arah berlawanan adiknya tidur. Dia lalu meletakan Gracia di samping Zhavia. Namun Gracia lagi lagi malah mengigau. Dia kembali terduduk lalu menarik leher Dior untuk didekatkan padanya.
"Dasinya terus digunakan y kak?" Kata Gracia dan Zhavia seperti mendengar. Dior jadi salah tingkah, dia hanya takut Zhavia melihatnya dan terkejut lalu berteriak.
"Iya Gracie, lepaskan dulu, biarkan aku kembali ke kamarku." Bisik Dior mencoba melepaskan kaitan tangan Gracia. Dan benar saja, Zhavia mulai bergeliat bersamaan Dior berhasil melepaskan tangan Gracia. Dia segera berjalan cepat menuju pintu dan ..
"Siapa itu?" Tanya Zhavia namun Dior sudah berhasil keluar.
Brak!
Dior menghela napas panjang panjang akhirnya bisa memindahkan Gracia namun dia tidak menyangka kalau ternyata ibunya menaiki lantai dua.
"Dior?" panggil Viena.
"Mom?" Dior agak terkejut dan langsung mencari alasan untuk menjelaskan pada ibunya. dia sangat yakin ibunya pasti bertanya.
"Sedang apa kau di depan kamar Zhavia?"
__ADS_1
benar kan?
"Em, aku baru saja bangun tidak bisa tidur dan hendak ke ruang home theatre tetapi Gracia juga bangun hendak mengambil minum ke bawah, kebetulan aku membawanya jadi aku memberikannya dan mengantarnya ke sini." jawab Dior dengan sedikit gugup namun berusaha berkata wajar.
"Oohh, yasudah kau mau kembali tidur atau ikut berdoa bersamaku di ruang home theatre?" tanya Viena yang berharap Dior mau mengikutinya berdoa. dulu ketika masih kuliah, Dior masih sering mengikuti ibunya berdoa pagi bersama.
"Ahh ide yang bagus mom, sepertinya aku butuh kehangatan rohani pagi hari agar pikiranku lebih jernih memikirkan semua tekanan ini." Dior terkekeh.
"Tekanan?" selidik Viena sedikit mendelikan alisnya.
"Emm, aku harus bicara padamu dan Dad. Ini masalah pernikahan ku dan Gracia mom. Aku rasa memang harus terselenggara." Dior hanya bergumam.
"Ohh, kau memikirkan Paman Marcel dan Bibi Pammy mu?" Viena menerka.
"Begitulah." Dior menaikan bahunya mengalihkan alasan dirinya yang ingin segera menikmati seluruh tubuh kekasihnya.
"Baiklah, mari kita berdoa dulu." Viena mengalungkan tangannya pada lengan Dior. Dia berjalan berdampingan dengan anak laki lakinya yang tingginya ternyata sudah melebihi dirinya.
"Kau anak satu satunya tertua dan laki laki jadi kau harus mempersiapkan semuanya baik. Apalagi Gracia sudah tidak memiliki seorang ibu. Kau harus memperlakukannya lebih lembut dan merasa pantas, kau mengerti anakku?" Kata Viena seperjalanan mereka menuju ruang home theatre.
"Sangat paham ibu ratuku!" Balas Dior tersenyum mengelus tangan ibunya yang melingkar di lengannya.
...
Seiring berjalanan waktu, Dior semakin menguatkan dirinya. Dia semakin meneguhkan hatinya untuk benar benar tidak melakukan hal hal di luar batas. Dia lebih sering mengajak Gracia berbicara atau melakukan kegiatan bersama sama dengan kedua saudara kembarnya atau berekreasi. Meskipun begitu tidak menutup kemungkinan dirinya lagi lagi terjebak dalam situasi yang bisa membuat dirinya menginginkan lebih dari Gracia. Sementara, Dior memaklumi kalau Gracia yang tidak berusaha karna Gracia sudah yakin akan Dior. Namun Gracia juga menghargai apa yang Dior lakukan padanya hanya mencium bibir dan memeluknya dengan cukup mesra.
Dan kini sudah hampir satu setengah tahun mereka menjalani hubungan dengan status pertunangan. Karna suatu hal di mana Dior tidak ingin kehilangan Gracia dan karna Dior juga harus menegaskan Gracia di hatinya.
"Pihak perguruan tinggi mengutusku dan kak Melinda ke Honolulu kak. Mereka memberikan beasiswa menari kepada kami melalui jalur akselerasi sehingga kami langsung meneruskan S2, setelah itu kami akan dibuatkan sekolah menari di sana. Ini, ini merupakan impian ku kak." Gracia memberitahu sambil sesenggukan sesekali dalam isak tangisnya.
Sesaat Dior tersentak mendengarnya. Bagaimana bisa dia berpisah lagi dengan wanitanya selama dua tahun bahkan lebih?! Dia tidak mau lagi tapi mengapa pilihan ini begitu sulit baginya.
"Aku, aku menunggu ijinmu kak, karna pasti daddy, paman Marcel, Bibi Pammy dan Kak Morgan sekalipun akan menyetujuinya. Memiliki sekolah menari merupakan impianku dan mommy. Tapi aku juga tidak ingin berpisah denganmu, aku juga tak ingin memaksamu untuk bisa ikut bersamaku, ini terlalu egois. Tapi, benar kak aku lebih memilih dirimu. Aku tidak sanggup harus jauh darimu lagi, apalagi keinginan mommy juga untukku bersatu denganmu. Jadi kak, apapun keputusanmu aku akan menerimanya." Kata Gracia lagi kini benar benar menangis dalam pelukan Dior.
Dia tidak bisa memilih. Semuanya berat baginya. Bukan hanya Gracia tapi juga Dior.
"Gracia, jangan menangis tenanglah, aku akan mencari cara agar kita bisa selalu bersama sekaligus mewujudkan impianmu, please jangan menangis. Aku pun tidak berhak untuk menahanmu dan menolak tawaran yang menunjang karirmu, aku .." ujar Dior namun Gracia sudah mendongakan kepalanya memotong perkataannya.
"Kak, aku menunggumu!" kata Gracia semakin menangis memeluk cinta sejatinya itu.
Dior berpikir. Dia harus melakukan sesuatu. Dia harus memiliki hak sepenuhnya akan Gracia. Akhirnya Dior merasa memang harus menikahi Gracia secepatnya.
Dior pun mengatakan keputusannya pada ayah dan ibunya bahwa enam bulan dari sekarang, dia akan menyiapkan segalanya mengenai pernikahan dirinya dengan Gracia.
"Tidak Dad, aku yakin tidak akan masalah. Dad, apa kau tahu mengapa aku ingin menikahinya secepatnya?" kata Dior dengan wajah yang sangat serius.
"Ya, ada apa denganmu tiba tiba kau ingin menemuiku dan mom mu lalu ingin menikah secepatnya??" Dion agak mengerutkan dahinya.
"Gracia di tawari sebuah beasiswa menari juga akan dibuatkan sekolah menari di Honolulu. Dia mengatakan padaku dengan menangis. Dia tidak ingin pergi namun dia memiliki impian membuat sekolah menari. Memang sebuah penawaran yang menggiurkan. Selagi dia belajar dia juga bisa menimba ilmu untuk sekolah menarinya. Aku juga tidak mengijinkan beasiswa itu. Aku, aku mampu membiayainya dad! Aku juga bisa membangunkan sekolah menari untuknya. Tapi, aku masih hanya tunangannya. aku tidak berhak dan sepertinya malah akan merendahkannya. Tetapi jika Gracia sudah resmi menjadi istriku, maka aku berhak melakukan apapun padanya!" kata Dior sambil berdiri dan tanpa sadar telah menolak pinggangnya.
Prok! Prok! Prok!
Tiba tiba terdengar suara tepukan tangan dari pintu ruangan home theatre itu.
"Kak Egnor? Kak Claudia?" Viena berdiri. Dia terkejut, kakak kandung dan kakak iparnya sudah datang saja dan menuju ke ruangan ini.
"Selamat sore Aunty Vien." Dan disusul suara ramah dengan senyuman khasnya, Wilson yang juga ikut dengan mereka.
"Masuk masuk, silahkan duduk." Kata Dion kemudian. Sementara Dior masih berdiri menatap mereka dengan keterkejutan. Mereka semua tidak menyangka saudara terdekat mereka datang. Egnor pun memeluk adiknya juga Dion dan berdiri di samping Dior. Begitu juga Claudia yang tidak ketinggalan memeluk Viena dan berjabat tangan dengan Dion. Wilson pun begitu.
"Mengapa kau tidak mengatakan akan berkunjung kak?" Tanya Viena pada Claudia.
"Surprise, aunty!" Wilson yang menjawab sambil duduk di samping Dion.
"Nah, sudah dijawab oleh Wilson ku!" jawab Claudia.
"Di mana Willy, aunty Clau?" Tanya Dior pelan.
"Tidak usah membahas anak itu, dia berkelana sesuka hati jika sudah memenangkan kasus yang ia pegang. Nanti bisa kembali dua Minggu kemudian dan membawa .." ujar Egnor.
"Wanita lain?" Sambung Dior.
"Kau sangat mengetahuinya sir!" Balas Egnor dan akhirnnya duduk di sofa.
"Jadi, apa Dior akan segera menikah?" Tanya Wilson yang sebenarnya tahu dari Lexa di bawah sana.
"Sedang kami bicarakan, permasalahannya Gracia masih sekolah." Jawab Viena.
"Aku setuju apa yang menjadi pemikiran Dior, Viena. Anakmu ini memang harus menikah! Mereka sudah berhubungan sangat lama dan mereka harus dipersatukan. Kau jangan terus membumbui anakmu ini dengan apa yang terbaik bagi dirimu. Nyatanya mungkin tidak baik bagi Dior dan Gracia bukan?" Egnor memberikan saran terbaiknya.
__ADS_1
Viena dan Dion sejenak berpikir. Sepertinya benar apa yang dikatakan Egnor, kalau mereka berdua sudah terlalu ikut campur apa yang menjadi keputusan Dior. Dan sampai detik ini Dior tidak pernah memberontak.
"Benar Viena, biarkan Dior menikah dan memiliki hak atas Gracia. Sekarang Gracia sudah tidak memiliki ibu dan kita tidak tahu usia Tuhan yang menentukan. Tuan Revo juga sudah menyerahkan anak gadisnya itu pada Dior jadi lebih baik di sah kan sehingga Dior bisa berkehendak apa pun pada Gracia tanpa ada hal hal yang tidak mengenakan. Ini jaman modern sayang. Kita saja sudah merasakannya." tambah Claudia setuju dengan suaminya.
"Aku juga setuju bi, biarkan Dior lebih dulu berkomitmen agar kami pada adik dan saudaranya bisa mengikuti jejaknya. Dan mana tahu, Willy dapat bertobat, hahaha!" tambah Wilson juga dengan sedikit gurauan karna juga memperhatikan Dior yang tampak muram dan tak berselera.
"Wil??" Claudia memberi peringatan. Wilson pun hanya tersenyum dan kembali bersandar pada sofa.
Sementara Dior hanya menunduk. Dia juga sudah duduk di samping Egnor dan merenggangkan dasinya. Pekerjaannya sudah sangat banyak dan masih memikirkan Gracia. Sejenak dia mengingat Gracia yang menangis kemarin sore di kantornya. Dior belum bisa bertindak apa apa. Dior juga ingin mendukung semua apa yang diinginkan kekasihnya .
"Dior, jika kau lelah, ke kamar lah atau berbicaralah dengan Wilson, nanti kita bicara lagi?" Kata Dion kemudian. Dior menatap ayahnya sendu dan akhirnya berdiri diikuti oleh Wilson.
"Kau jangan menyesal Viena, Dion! Dior sudah menanggung semua kesalahan kalian sejak dalam kandungan! Sudah saatnya dia menentukan pilihannya." Ujar Egnor lagi setelah memastikan Dior dan Wilson meninggalkan ruangan.
Dion sangat tersentak mendengar penuturan kakak iparnya. Viena apalagi. Dia menundukan kepalanya masih dalam pola pikirnya. Sangat benar dan tak salah sedikitpun apa yang dikatakan kakaknya. Dion lalu meraih tangan istrinya dan menepuk nepuk punggung tangannya.
"Ijinkan sayang, toh Gracia akan bersama kita. Kita pasti bisa membimbingnya supaya tidak menganggu pendidikannya sampai tamat." Kata Dion kemudian. Viena pun hanya mengangguk. Dia pun merasa bersalah atas pengajaran yang cukup menekan Dior.
Egnor mengangguk tersenyum juga Claudia yang bisa membantu dalam menyelesaikan masalah mereka. Biar bagaimanapun, Viena dan Dion merupakan adik mereka satu satunya dan kerabat terdekat yang mereka miliki.
...
Pagi menjelang, Dior mengerjapkan matanya menguasai sinar sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Viena, ibunya telah masuk sebelum Dior bangun dan membuka tirai tirai jendela kamarnya. Kepalanya agak pening. Semalam dia akhinya berbicara dengan Wilson dan Zefanya di kamar nya sampai malam dan menegak wine. Baru dua gelas Zefanya sudah menyerah dan kembali ke kamar tidurnya. Wilson tidur di sofa yang ada di dalam kamar Dior.
Dior mencoba duduk dan mengingat kalau hari ini bukan akhir Minggu, dia harus ke hotel meskipun ada Paman dan bibinya serta sepupunya berkunjung. Dia segera bergegas dan membiarkan Wilson yang tampak sangat nyenyak.
Dior menuruni anak tangga dan di sana, di meja makan sudah ada Viena dan Dion, ayah dan ibunya, paman dan bibinya, Egnor dan Claudia lalu Leon dan Lexa (tiga pasangan legendaris berkumpul haha, red!)
Juga ada Amy yang membantu Lexa menyiapkan makanan. Amy merupakan asisten rumah tangga yang membantu Viena dan Lexa. Tidak ada lagi pelayan mereka selain Amy.
"Morning all." Sapa Dior tidak begitu bersemangat. Di pikirannya terus terngiang Gracia dan untung saja pagi ini dia sudah mengatakan semalam tidak bisa menjemputnya. Gracia sempat curiga kalau kekasihnya menghindarinya namun Dior yang dibantu Zefanya dan Wilson meyakinkan wanitanya itu.
"Kau pasti akan menikah boy, tenang saja!" Saut Egnor yang duduk di sampingnya sambil merangkul pundak Dior. Dior diam saja dan menyesap coklat hangat buatan Lexa.
Viena tersenyum pilu. Dia tahu apa yang menjadi kekhawatiran anaknya. Dion pun menggetarkan lengan Viena untuk segara berbicara pada Dior. Viena menghela napas dan menghampiri ke belakang Dior.
"Dior, kata dad, kau tidak usah ke hotel karna Paman Leon dan Uncle Egnor mu akan ke sana melihat lihat juga bersama Wilson." Viena memegang pundak Dior.
Dior mendongakan kepalanya ke arah mom nya.
"Emm, sebaiknya kau mengajak Gracia ke toko berlian langganan Paman Leon di Big Plaza? Ajak calon istrimu memilih cincin pernikahan kalian." Kata Viena lagi sambil tersenyum dan matanya berkaca kaca. Dia agak tidak menyangka kalau anak laki lakinya yang dulu hanya sebesar lengannya anak segera melangsungkan pernikahan.
Dior langsung berdiri dan memeluk ibunya.
...
...
...
...
...
Nah, gitu kan enak Vien, kaku aja lau ah, ga di zhav ga di or wkwkwk 😅😅
.
Next part 29
Nikah gaes
Kondangan kondangan
Siapin baju, gaun kemeja atau apalah minta duitnya sama papi nor apa papi Dante juga kaya dia wkwkwk 😎😎
.
Rekomen Novel baper kisah seorang anak angkat yang berganti identitas dan kembali mencari cintanya dengan judul :
-- KU DISINI UNTUKMU --
mampir gaes baca dlu Sinop nya 😍😍
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤