
Waktu itu dekat tetapi dengan segala peristiwa yang dilalui di dalamnya ternyata dapat mengubah prilaku, sifat bahkan takdir. Jadi, lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang, jangan menunda dan tetap berjaga jaga. Lalu, bagaimana Ezekhiel dan Zefanya mengikapi masalah waktu? Sudah hampir 3 tahun mereka menikah dan belum dianugrahi setidaknya tanda tanda kehamilan yang sesungguhnya. Apa yang akan mereka lakukan? Ujian apa yang selalu memaksakan mereka mengikutinya?
...
Zefanya telah mempersiapkan kepergiannya ke Japanis bersama Ezekhiel. Dia hanya membawa beberapa pasang pakaian dengan koper medium karena bersama pakaian sang suami. Zefanya juga sudah menghubungi ibunya dan Rosie. Ibunya sangat memaklumi tapi Zefanya lupa membicarakan tentang bibinya Ezekhiel yang hendak tinggal bersamanya. Sedangkan, Rosie, seperti biasa Rosie hanya mengiyakan apa yang diperintahkan atasannya. Mudah saja baginya untuk membatalkan semuanya. Dia hanya menyuruh kliennya menunggu nyonya nya kembali dari Japanis.
"Lakukan apa yang bisa kau kerjakan, Rosie! Jangan terlalu mengandalkan ku! Kau sudah bersamaku hampir 3 tahun juga kan? Jangan lupakan itu!" Perintah Zefanya sekaligus mengarahkan sekretarisnya.
"Iya aku mengerti! Kau memang dewa penyelamatku dari sales girl itu! Bisa bisanya dia membohongiku akan bekerja di kantoran ternyata hanya menyebar brosur!" dengus Rosie sesaat di seberang sana.
"Ya, kau berterimakasih lah pada MomXa ku! Dia yang membawamu padaku!" Zefanya mengoreksi.
"Baiklah! Hati hati selama penerbangan. Ingat semua pesan dokter, Nyonya! Jangan makan masakan yang mentah dan perhatikan jam minum obatnya!" pesan Rosie pada atasannya. Meskipun usia Rosie seumuran dengan Dior, tapi Rosie merasa Zefanya juga tampak dewasa. Apalagi sejak menikah.
"Iya Dokter Rosie!"
"Aku hanya pengingat!"
"Terimakasih, Rosie! Dua atau tiga hari lagi aku akan kembali," kata Zefanya memberitahu.
"Oke! Sampai jumpa, jaga dirimu, Tuhan memberkati,"
"God bless you too,"
Panggilan dimatikan. Zefanya tersenyum dan dia kembali memastikan semuanya sudah tersusun dengan rapi. Ezekhiel keluar dari kamar mandi dan meminta pakaiannya. Zefanya melirik seluruh tubuh suaminya yang sepertinya agak membesar.
"Tubuhmu agak membesar, sayang," ujar Zefanya tersenyum kecil.
"Ya, belakangan aku tidak sempat berolahraga. Proyek apartemen harus selalu kupantau dan pertemuan antar pemegang saham, dengan kakakmu, masalah promosi juga pemantauan kinerja pegawai, aku harus mengikutinya, kalau tidak aku tidak tahu apa yang terjadi di dalamnya. Kau tahu kan bagaimana orang orang baru bekerja tidak selalu memuaskan. Jangankan orang baru, orang lama saja masih sering melakukan kesalahan. Aku tidak akan membiarkan Carlos yang mengerjakan semua itu. Dia semakin menua, Zefanya," tutur Ezekhiel meraih pakaian yang diberikan oleh istrinya. Celana jeans dan kemeja casual agar lebih santai.
"Ya kau benar sayang. Kau memang pemimpin yang baik. Apakah ayahmu juga sepertimu?" tanya Zefanya menghampiri suaminya. dia melingkarkan tangannya pada pinggang Ezekhiel.
"Tentu, dia bahkan melebihi ku, Zefanya! Dia bisa dua tiga kali dalam seminggu ke luar negri. Maka itu dia bertemu Delmonta! Hem, sudahlah semua sudah berakhir. Kita ingat kebaikan ayahku saja. Dia sudah tenang di sana bersama ibuku," jawab Ezekhiel tersenyum tipis dan sudah siap berpakaian. Zefanya hanya memberikan pelukan pada suaminya.
"Apa semua sudah siap? Kita berangkat sekarang agar tidak terkena traffic jam, penduduk Legacy semakin meningkat, Anya!" kata Ezekhiel memegang wajah istrinya.
"Kau benar suamiku! Sudah, kita hanya membutuhkan satu koper ini,"
"Memang tidak usah banyak banyak," balas Ezekhiel tersenyum menarik koper tersebut dan keluar rumah dan Zefanya mengikutinya dengan menjinjing satu tas tangan berukuran medium.
Ezekhiel dan Zefanya menuju ke bandara diantar oleh Theo. Theo akan ke Kantor pusat Dimitri Group.
"Aku sudah memesan mobil untukmu di sana, Tuan. Akan ada seseorang yang menjemputmu nanti," kata Theo sudah menjalankan tugasnya.
"Oke Theo, terimakasih! jangan lupa tetap dampingi apa yang dikerjakan Carlos. aku hanya pergi selama dua hari," balas Ezekhiel berpesan.
"Sama sama, baik Tuan, kau tenang saja. jaga dirimu Tuan, Nyonya," ucap Theo.
Ezekhiel dan Zefanya mengangguk tersenyum. Merekapun memasuki bandara dengan bergandengan tanga. Setelah melakukan check in dan migrasi, mereka berdua menuju ke ruang tunggu VIP. Namun, ketika mereka hendak memasuki ruangan tersebut. Mereka melihat seorang anak menjatuhkan permen permen coklatnya dan hendak mengambilnya.
"No, no, no, jangan di ambil lagi, sayang!" Kata sebuah suara yang sepertinya adalah ibunya. Zefanya melihat ibu itu yang tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda. Sepantaran dirinya tapi memang agak lebih dewasa. Ibu itu sedang mengandung dan cukup sudah memasuki trimester kedua. Ibu itu menghampiri anaknya yang masih mau memunguti permen coklat itu.
Seketika hati Zefanya tergerak. Dia lalu menghampiri anak itu. Ezekhiel diam saja dan ingin melihat apa yang dilakukan istrinya.
"No sayang! Dengarkan kata ibumu, permen ini sudah kotor. Jangan mengambilnya lagi. Biar aku yang akan membelikannya lagi," kata Zefanya memegang tangan anak tersebut.
Ibu itu nyatanya tidak bisa meraih tangan putranya karena perutnya cukup besar dan sulit untuk membungkuk.
"Kau siapa? Aku tidak boleh berbicara pada orang yang tidak kukenal!" decak anak tersebut dengan tegas.
"Aku Zefanya, dan ini ada ibumu. Kau tidak mendengarkan ibumu maka dari itu aku mendatangimu," balas Zefanya memperkenalkan dirinya.
"Terimakasih Nona, kau sudah membantuku memperingati anak ini," ucap sang ibu sudah ada di belakang Zefanya.
"Sama sama, Nyonya. Di mana suamimu? Seharusnya kau tidak pergi sendiri hanya dengan anakmu dan dalam keadaanmu yang seperti ini. Kau sedang mengandung cukup besar, Nyonya," tanya Zefanya seraya berdiri memperhatikan sekitar wanita itu. Wanita itu malah tampak bersedih.
"Tidak, aku tidak punya suami," katanya kemudian dengan nada kecewa.
"Daddy ku pergi dengan seorang aunty dan mereka tidak kembali lagi," sela anaknya kemudian.
__ADS_1
"Hey, tidak boleh berkata dengan orang asing! Baiklah Nona terimakasih telah membantuku. aku sudah bisa memegang tangan anak nakal ini. Permisi!" bentak wanita itu pada anaknya lalu menarik tangannya menjauh dari Zefanya dan Ezekhiel.
"Eh, nyonya tunggu!" teriak Zefanya yang masih penasaran dengan wanita itu. entah mengapa dia jadi ingin tahu saja.
"Sweetheart! Sudahlah, mereka memiliki masalah mereka sendiri. Kau jangan memikirkannya!" kata Ezekhiel menahan istrinya.
"Hem, baiklah, tapi wanita itu kasihan sekali, sayang. Dia mengandung tapi tidak ada pria di sampingnya," ujar Zefanya merasa prihatin.
"Ya itulah yang ku katakan, kita semua memiliki masalah masing masing," ujar Ezekhiel mengingatkan.
Zefanya mengangguk. Mereka pun memasuki ruang VIP itu. Selagi menunggu, Ezekhiel memeriksa beberapa email yang masuk dari Dior dan Carlos. Dia tidak begitu memperhatikan Zefanya yang ternyata malah memikirkan wanita tadi. Dia berpikir betapa beruntungnya wanita itu sudah punya anak dan mengandung lagi. Namun, di sisi lain wanita itu tidak memiliki pria yang seharusnya bertanggung jawab akan anak anak itu. Hem, pikiran Zefanya jadi ikut bersedih. Sesuatu yang sudah terlihat indah nyatanya hanya sampul semata. Di dalamnya masih ada sekelumit kesedihan yang melingkupi.
Ketika mereka menaiki pesawat juga Zefanya tampak diam saja. Dia kembali memikirkan dirinya. Mengapa dirinya dengan status pernikahan yang sah, juga jabatan suaminya yang memukau, Tuhan belum mengaruniakan dirinya seorang anak saja. Tidak perlu banyak banyak. Sementara wanita tadi bahkan memiliki dua. Tak berapa lama, akhirnya Ezekhiel menyadarinya. Dia juga sudah curiga kalau istrinya pasti memikirkan kejadian tadi.
"Zefanya? Kau memikirkan apa?" Tanya Ezekhiel meraih tangan istrinya. Zefanya pun tersentak. Dia menoleh ke arah Ezekhiel dengan tatapan yang linglung.
"Kau kenapa?" Tanya Ezekhiel lagi.
"Em, tidak, aku hanya berpikir, apa ketika aku mengandung nanti, kau akan tetap berada di sisiku?" Zefanya kembali bertanya dan sedikit cemas
Ezekhiel terkekeh sesaat. Dia kembali mengeratkan rangkulannya pada istrinya.
"Kau tidak mengandung saja, aku ada di sisimu, bagaimana kalau kau mengandung? Aku berjanji aku tidak akan ke luar negri, aku akan terus menungguimu, apa kau percaya dengan pernyataanku?" kata Ezekhiel dengan lembut dan mesra.
"Ya, aku percaya padamu!" jawab Zefanya tersenyum.
"Jangan memikirkan apapun! Ingat kata dokter Lilian, sweetheart!" Kata Ezekhiel mengingatkan istrinya dengan mencubit kecil hidung Zefanya. Zefanya tersenyum walau dirinya masih mencemaskan wanita itu. Dia pun menyandarkan dirinya pada dada suaminya sampai tertidur dan tiba di Japanis.
Sesampai di Japanis, mereka langsung ke rumah kediaman keluarga Aunty dan Uncle Ezekhiel. Rumahnya masih cukup ramai karena anak pertamanya masih di sana dan karena suami Salma juga merupakan orang penting di Japanis, masih banyak yang mengunjungi Salma untuk belasungkawa.
"Selamat sore Aunty Salma, maafkan aku baru datang," kata Ezekhiel memberi salam pada Salma. Salma berbalik melihat siapa yang datang.
"Oohh, Ezekhiel? Akhirnya kau datang, nak," ujar Salma memeluk keponakannya. Dia menarik diri dan melihat Zefanya.
"Zefanya, kau juga ikut, nak?" Kata Salma lagi juga memeluk Zefanya.
"Terimakasih sayang, besok aku dan Tanya akan mengantar kalian ke makam suamiku," ujar Salma menarik dirinya. Sekilas dia melihat perut Zefanya yang masih terlihat rata.
"Tentu, aunty tenang saja, kami memiliki dua hari di sini," saut Ezekhiel.
"Wah, aku senang sekali. Jadi, apa kau sudah hamil, Zefanya?" Tanya Salma memegang lengan Zefanya. Zefanya tersenyum dan menggeleng. Menurutnya ini pertanyaan yang sangat wajar untuk mereka yang sudah menikah.
"Belum aunty, kami masih menjalankan program hamil," jawab Zefanya mencoba ramah.
"Oohh iya? Baguslah kalau begitu. Jangan pernah menyerah! Hem, Ezekhiel kau tidak mau bertemu Tanya? Kau tahu, dia mengandung lagi, anaknya sudah dua tapi masih saja Hami, haha!" kata Salma lagi pada keponakannya.
Seketika entah mengapa Zefanya merasa kurang beruntung atas kata kata Salma. Namun, dia tidak mau berpikir secara berlebihan. Salma hanya bangga anaknya kembali memberikannya cucu.
Salma lalu menarik lengan Ezekhiel untuk mengikutinya, tentu saja Ezekhiel menggandeng tangan Zefanya untuk mengikutinya.
"Tanya, lihat siapa yang datang?" Kata Salma sudah mengarahkan Ezekhiel dan Zefanya ke taman belakang. Tampak Tanya dan satu baby sitter sedang memberi makan dan cemilan untuk anak anaknya.
Tanya pun menoleh dan terkejut melihat sepupunya datang. Usia Tanya satu tahun di bawah Ezekhiel dan dia hendak memiliki 3 anak.
"Khiel? Kau akhirnya datang, aku sangat merindukanmu!" Pekik Tanya meninggalkan anaknya untuk memeluk Ezekhiel.
"Halo Tanya, apa kabar?" tanya Ezekhiel.
"I'm pregnant," ujar Tanya menarik diri dari pelukan dan menunjukan perut buncitnya.
"Waahh, selamat ya? Oiya, kau belum mengenal istriku, ini Zefanya Prime," saut Ezekhiel memperkenalkan Zefanya. Waktu Ezekhiel dan Zefanya merayakan resepsi sederhananya hanya Salma, suaminya dan anak keduanya yang datang. Tanya baru saja melahirkan tidak bisa kemana mana.
Tanya pun menoleh ke arah Zefanya. Tanya sedikit memperhatikan Zefanya dan senyumnya pun melebar.
"Halo Zefanya, aku Tanya Serafin, senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Ternyata yang dikatakan Ezekhiel dan Tasya adikku benar, kau wanita yang sangat cantik tapi sedikit dingin, selamat datang di keluarga kami," ucap Tanya memeluk Zefanya. Zefanya juga membalasnya.
"Halo Tanya, salam kenal, tapi kami hampir 3 tahun menikah," saut Zefanya mengingatkan karena dirinya sudah lama bergabung dengan keluarga Ezekhiel.
"Ahahaha iya, maafkan aku, aku belum sempat mengunjungi kalian ke Legacy. Nanti kalau aku sudah lahira, aku akan ke sana. Jadi, bagaimana apakah kalian sudah memiliki anak atau sedang mengandung?" kata Tanya lagi bertanya dan lagi lagi Zefanya tidak mau terlalu memusingkannya. dia hanya menjawab dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Belum sama sekali Tanya, kami masih terus berusaha,"
"Oohh begitu, tidak apa apa, adikku Tasya baru saya hamil setelah menunggu 1 tahun. Semua urusan yang di atas, jangan menyerah dan tetap percaya cara kerja Tuhan berbeda beda," balas Tanya menyemangati Zefanya yang sepertinya tidak akan berpengaruh. ujung ujungnya pasti akan seperti ini.
"Sebaiknya kau bertanya pada Tanya apa yang seharusnya dilakukan agar kau cepat hamil, Zefanya," sela Salma tiba tiba merangkul Zefanya.
"Ah iya aunty, nanti kita akan bercakap cakap," balas Zefanya dengan senyumnya yang cukup terpaksa.
"Mommy! Kau ini, mereka pasti sudah melakukannya, jangan menjadikan hal ini berlebihan. Sebaiknya kau dan Khiel makan dulu. Kalian baru saja tiba kan?" Balas Tanya membela Zefanya karena wajah Zefanya seperti tidak enak.
"Baiklah, ayo kita makan di dalam, Anya," ajak Ezekhiel ke dalam ruangan. Sejujurnya Ezekhiel merasa kalau Zefanya agak sensitif. Untung saja Tanya mengalihkan ibunya. Salma juga tidak membahasnya lagi. Dia pun menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk Zefanya dan Ezekhiel. Mereka berdua menunggu dan tak lama Tanya juga masuk ke dalam bersama dua anaknya dan baby sitter.
"Naina, kau bisa membawa anak anak ke lantai dua, nyalakan pendingin ruangan dan tv. Biarkan jika mereka hendak tidur, oke? Besok kita harus terbang pagi pagi sekali," perintah Tanya pada baby sitter nya sementara dirinya bergabung dengan Zefanya dan Ezekhiel.
Mereka pun berbincang bincang membicarakan apapaun. Zefanya merasa nyaman berbicara pada Tanya karena Tanya tidak pernah membahas tentang kehamilan sedikitpun. Dan, ternyata Tanya juga merupakan wanita karir membantu usaha suaminya sebagai pengusaha furniture. Dia yang memantau beberapa cabang suaminya di Nederland. Sedangkan adiknya seorang sekretaris di perusahaan elektronik terkenal di Oriental. Zefanya cukup senang mengenal mengenal wanita wanita muda yang sudah menikah dan hendak memiliki anak.
Zefanya terus bercakap cakap dengan Tanya di ruang tamu setelah makan malam selesai. Sedangkan Ezekhiel sedang menemani Salma keluar membeli obat Salma untuk persiapan tinggal di Legacy. Dan, sampai akhirnya, Tanya memperingati sesuatu pada Zefanya.
"Anya, kau akan tinggal bersama mommyku?" Bisik Tanya.
"Ya, Tanya, ada apa? mengapa berbisik? ibumu sedang pergi dengan Ezekhiel," balas Zefanya tersenyum tak enak.
"Dia sangat menyayangi suamimu karena kami berdua perempuan dan dia hanya memiliki bibi Clara dan bibi Clara mempunyai anak laki laki. Kau juga tahu kan bagaimana kedekatan mereka?" Tanya mulai memberitahu.
"Ya aku mengerti, jadi?" selidik Zefanya sedikit menyipitkan matanya.
"Ya, aku minta maaf dari sekarang jika nanti dia suka mengekang suamimu atau harus menuruti dirinya. Semoga kau bisa cocok dengannya," ujar Tanya menaikan bahunya.
"Tenang saja, Tanya, aku dan Mommymu cukup dekat. Kami pernah membuat steak salmond bersama," sela Zefanya berdalih untuk menenangkan dirinya untuk tetap berpikir positif.
"Aku hanya memperingatimu, karena dia adalah ibuku! Dulu, setelah aku menikah, aku tinggal di sini bersama suamiku tapi entah mengapa mommy jadi suka mengekang kami agar tidak terus berpergian. Sementara suamiku sangat menyukai traveler. Ya, jadi kau mengerti kan mengapa kami kurang cocok. Selain itu, Mommy juga suka berbicara yang tidak tidak pada keluarga suamiku, jadi kami memutuskan pindah. bukan hanya denganku, dengan Tasya juga. Sebelum Tasya menikah, dia bahkan menyuruh Tasya dan kekasihnya di rumah saja ketika berkencan. Bagaimana bisa?" kata Tanya lagi akhirnya menceritakan sebuah pengalaman dirinya.
"Mungkin untuk kebaikan kalian saja," saut Zefanya terkekeh.
"Ah, kau jangan naif, Zefanya, pokoknya kau sabar sabar saja jika hal itu terjadi. Aku sudah memperingatimu. Oiya, satu lagi, mommy ku mudah sekali terhasut, jadi kau harus bisa terus meyakinkan dia. Semoga kau juga bisa seperti kami anak anaknya di matanya, kau mengerti kan, Zefanya?" Tambah Tanya lagi memperingatkan. Zefanya mengangguk angguk. Zefanya jadi agak ragu untuk mengajak tinggal bersama. Namun, kembali lagi dia malah membayangkan Salma seperti ibunya. Kalau ibunya sendiri juga dia akan bersedih. Bukan hanya itu, suaminya juga pasti sedih jika dirinya menolak Salma untuk tinggal bersama mereka.
Zefanya menghela napas mencoba tenang. Dia tidak boleh berpikir negatif. Lagipula dia bekerja, dia tidak harus bertemu Salma terus kecuali malam. Begitu juga dengan Ezekhiel. Akhirnya Zefanya merasa juga perlu mengucapkan terimakasih pada Tanya. Setidaknya dia tahu beberapa sifat bibi mertuanya.
...
...
...
...
...
Babak baru dimulai monya, smoga baik baik aja ya 😊
Semoga Salma ga neko neko yes, bawel bawel dikit biasa itu, kalo uda bertingkah lapor MomXa aja 😝😝
.
Next part 4
Kita masuk ke konflik ya ges 😁
Harap tenang ini ujian #stayathome and #stayhealthy ges 😍😍
.
pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1