
"Rival?" Gumam Franda dalam hati melihat Rival sudah berada didepan rumah. Kenapa cowok ini tiba-tiba saja sering datang ke rumahnya tanpa ada kabar sebelumnya.
"Ih kenapa sih."
"Assalamualaikum, assalamualaikum." Suara ketukan itu semakin terdengar jelas sekali. Franda agak sedikit ragu untuk membukakan pintu karna malas sekali karna kemarin sudah hampir seharian bersama.
Nomor tak dikenal
Coba lo buka pintunya, dan Rival lagi butuh lo karna dia anak broken home.
Ia manarik nafas sebentar dan terpaksa membukakan pintu utama sekalian memberikan senyum kecil. "Hai."
"Eeee,, ganti baju gue pengen ngajak lo jalan."
"Ke---mana?"
"Ya jalan-jalan aja, gue udah bilang sama nyokap lo kemarin buat jalan-jalan."
"Hah?"
"Ya udah buruan gih, gue lagi mood nih jadi jangan bikin gue bete." Aneh deh kenapa dia malah maksa. Gumam Franda dalam hati.
Masa iya? Rival pelakunya sedangkan ia sedang mengemudi mobil? Atau sahabat-sahabatnya? Roy? Tiffany? Lusi atau Milka?
Semua itu tiba-tiba masuk kedalam pikiran Franda, semenjak ia mulai dekat dengan Rival kenapa ia malah semakin dihantui oleh nomor misterius?
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?"
"Enggak papa."
"Kenapa sih lo kayak gini?"
"Maksud lo?" Rival bingung sikap egonya masih sangat kental sekali menatap Franda dengan serius sekali.
"Eee, gak kok. Gak jadi."
"Kalau ngomong tuh yang bener jangan bikin orang lain penasaran dong." Sahutnya yang memegang erat tangan Franda yang menepis, ia sempat meringis karna tangan Rival yang begitu kuat sekali.
"Apaan ih val sakit tau gak."
"Makanya ngomong!!"
"Gue takut lo marah."
"Ya gue pasti bakalan marah kalau misalnya lo kayak gini nyebelin banget."
"Kak Roy udah punya cewek gak sih?"
"Kenapa lo nanya kak Roy punya cewek atau gak? Lo kepo?" Baru seperti ini saja Rival sudah marah dan aneh gimana mau melanjutkan.
"Enggak, si Cerry suka gitu sama kak Roy dan pengen banget deket sama dia."
"Oh. Kirain."
__ADS_1
"Kirain apa?"
"Gak!!" Jawabnya tegasnya. Rival menarik nafas lega.
"Mau bantuin kan?"
"Hm." Hah? Semudah itu?"
Padahal didalam hati Franda ia juga ingin dekat dengan Roy, karna rasa kagum itu adalah hal yang selama ini ia pendam bahkan mengharapkan dia adalah orang yang bisa singgah dihatinya. Ya impian paling terbesar Franda selama ini. Bukan karna ganteng saja tapi ya karna memiliki sifat yang sama bahkan hal-hal yang aneh pun bisa sekilas sama sekali.
"Ya udah lo tenang aja gue bakalan bantu Cerry buat deket sama kak Roy soalnya kayaknya dia suka juga, tapi gue gak tau juga sih karna dia juga deket sama Amanda." Franda mengangguk saja dan paham sekali karna bukan cuma dirinya yang menyimpan rasa kagum karna banyak sekali yang menyukai Roy.
"Makasih ya val."
"Iya sama-sama." Semakin dekat kalau misalnya Franda mendekatkan diri ke Rival untuk Rubi nantinya.
...•••...
Chiko sengaja membawa Rubi kesuatu tempat yang sudah jarang sekali mereka kunjungi terakhir ketika mereka SD dulu setelah tempat ini sempat digusur karna masalah tempat yang tidak legal semenjak itulah mereka sangat jarang sekali kesini, dan beberapa waktu lalu Chiko mendengar kembali kalau tempat ini kembali dibangun dan ia berinisiatif untuk mengajak Rubi lagi dan sekaligus bernostalgia kembali. Chiko menarik kursi untuk mempersilahkan Rubi untuk duduk. Perlakuan seperti itu sering sekali disalah artikan oleh mereka yang baru melihatnya apalagi sampai saat ini orang terdekat mereka aja menganggap mereka sedang berpacaran padahal gak sama sekali, memang terdengar tabu dan aneh tapi begitulah Chiko dan Rubi dua kepribadian yang berbeda. Chiko pun memesan pesanan seperti biasa, ruangan yang sedikit tampak berbeda walaupun air mancur mini yang masih diposisi yang sama yang mengarah kearah jalanan. Setiap sebelum pesanan datang Rubi selalu mengecek foto-foto kebersamaan dengan Rival ketika mereka masih berpacaran, memang terkesan aneh dan susah move on tapi begitulah adanya. Terkadang Chiko juga merasa kasihan dengan sikap Rubi yang seperti itu, dia adalah sosok yang baik tapi karna obsesi yang begitu besar lah yang membuat semua seakan berubah dan sulit untuk diterima.
"Oh iya Chik, gimana Franda sama Rival udah deket belum?" Antusias Rubi agar ia bisa dekat kembali dengan Rival semakin menggebu sekali.
"Udah mulai rub, tapi kalau mereka terlalu dekat apakah mereka akan timbul rasa suka?."
"Eeee, bisa aja sih. Tapi gue yakin kalau misalnya Rival masih sayang sama gue, dan gak akan mungkin." Seyakin itu Rubi mengatakan dengan optimis padahal Chiko masih ragu dan sulit untuk mempercayai kalau ada cewek sama cowok lagi deket dan sering sama-sama mustahil banget kalau mereka gak ada saling suka minimal satu satu diantaranya.
Kalau melihat senyum Rubi yang semakin optimis Chiko semakin ragu kalau sebenarnya Rival sudah mulai menyukai atau sekedar kepo dengan Franda cewek yang ia sering bilang 'Cewek Cupu' itu. Tapi ia tidak mau juga merusak kebahagiaan Rubi kali ini, ia berharap apa yang dirasakan oleh Rubi memang benar adanya. Dua es krim pun sudah menemani mereka berdua, kebiasaan ini tidak pernah hilang dan hanya mereka berdua yang mengetahuinya. "Rub, lo yakin Rival baka---"
"Hahaha, Tuh mulut belepotan." Ketawa Rubi semakin membaik memang sosok Rivallah yang utama yang diharapkan oleh Rubi saat ini. Sebagai seorang sahabat yang baik Chiko selalu berusaha memberikan hal yang terbaik untuk kebahagiaan Rubi mereka bersahabat tidak hanya sebentar tapi sudah beberapa lamanya.
"Ah lo, Nih hahaha." Tidak tinggal diam Chiko pun menyuapkan es krim kemulut Rubi dengan santai.
"Ah lo sih. Kotor kan?" Inilah Rubi yang Chiko kenal ceria dan ngacol.
Rival menarik kursi yang kosong memesan makanan atau minuman yang ada disini karna pelayan sudah datang memberikan menunya. "Ya ini aja ya mba."
"Tempatnya bagus."
"Ya dong tempat mahal gue sering banget makan es krim disini banyak sih tempat-tempat yang sering gue kunjungi kalau lo mau boleh."
"Kalau diajak sih."
"Ya entar lah.''
Rival? "Eh mau kemana?" Chiko menahan tangan Rubi yang berdiri melihat kearah sisi kiri yang ada diseberangnya melihat seseorang yang mirip Rival dengan seseorang.
"Rival?" Gumam Chiko yang baru saja tersadar.
Rubi melangkah kearah Rival dan Franda ia tidak ada sama sekali urat malu. Menarik kursi kosong dan duduk disebelah Rival. "Hai val."
"Rubi?"
"Lo ngapain disini?"
__ADS_1
"Lo ngikutin gue?" Rival sambil melihat kearah sana eh ternyata ada Chiko yang juga menatapnya. Tangannya mengepal seketika.
"Eh ada Franda juga kalian kesini?. Eh inget gak val kita pernah ke sini kan du---"
"Iya gue inget."
"Mending lo kesana deh gue pengen makan es krim kan ada Chiko juga kan disana?"
"Emang gak boleh gabung?" Rubi terus saja mengganggu Rival yang mendadak moodnya turun.
"Udah deh."
"Nih mas, mba." Pesanan pun datang dan ditaruh diatas meja. Franda hanya diam memerhatikan mereka yang berdebat. Rubi menarik tangan Rival yang ada diatas meja menggenggamnya seketika.
"Lepasin."
"Beri waktu lima menit aja ya val." Karna tidak mau ribet Rival pun membiarkan kemauan Rubi. Rubi bahagia sekali, Rival menatap Franda yang ada disebelahnya yang dia saja.
"Lo gak cemburu?" Loh pertanyaan macam apa ini.
Ia menggeleng dengan cepat. "Lepasin rub, udah lima menit." Ia mengecek sesuai waktu yang sudah diucap.
"Rub lepas, gue pengen makan?" Bukannya melepas ia langsung saja mengambil dan menyuapkan es krim ke mulut Rival seperti dulu. Tapi sekarang sudah berbeda keadaan.
"Gue bisa makan sendiri."
"Buruan fran, gue udah gak mood lagi." Rival berdiri karna kesal sekali.
"Val." Rubi menatap kedua mata Rival biasanya dulu Rival membalas menatapnya dan tidak seperti ini tapi sekarang....
Berubah!
"Val, kenapa berubah? Gue bisa berubah."
"Lo berubah karna diri lo sendiri bukan karna siapa-siapa termasuk bukan karna gue. Jadi percuma rub. gue harap jangan ganggu gue karna gue udah punya kehidupan sendiri yang baru." Kata-kata itu seakan menyayat dan perih banget sakit disaat dia dulu gak pernah berkata kasar bahkan menyakitkan.
Rival menarik tangan Franda dan meninggalkan Rubi sendirian. Ia menunduk mengaitkan kedua tangannya.
Chiko pun menghampiri Rubi dan memeluk sahabatnya itu, yang sudah ia duga. "Udah ya, Rival kayak gitu cuma emosi doang kok, dia masih sayang sama lo kok. Percaya sama gue." Ia tau ucapannya ini bisa dipertanggung jawabkan atau tidak tapi paling tidak bisa membuat Rubi tidak terlalu bersedih.
...•••...
Didalam mobil Rival hanya diam karna masih tidak mood karna kejadian tadi. "Maaf ya tadi jadi gini."
"Iya gak papa kok." Sejak tadi Rubi dan Chiko memperhatikan mereka berdua yaitu Rival dan Franda. Rival kesal sekali ketika tiba-tiba gabung ke meja mereka ditempat yang sama sangat terkejut sekali.
"Akh." Rival memegang dahinya dan membenahi rambutnya dengan kesal sekali.
"Udah ya, gak usah dipermasalahkan lagi. Mungkin Rubi masih sa---"
"Gue sama dia gak ada hubungan lagi, jadi jangan bilang dia sayang atau gue yang sayang." Rival memperjelas itu semua sebelum Franda melanjutkan ucapannya.
"Next gue gak mau lagi ketemu sama tuh orang!!." Tegasnya dengan intonasi berbeda dari tadi.
__ADS_1