
Apa Rubi butuh gue? Tapi kenapa harus gue?" Pikirnya disela-sela pelajaran berlangsung.
"Ngapain ya cewek cupu kok kayak banyak pikiran gitu? Kayaknya dia baper deh sama gue. Kan gue tau kalau gue emang ganteng." Gumam Rival dalam hati sambil tersenyum-senyum gak jelas.
"Fran, lo kenapa?" Bisik Cerry dari samping ia melihat Franda berfikir tentang sesuatu.
"Eh, Enggak gue gak papa." Lalu Cerry mengangguk paham dengan ucapan Franda.
...•••...
Dalam hatinya Rival ia merasa kalau Franda dan Chiko semakin dekat saja apalagi akhir-akhir ini mereka pulang bareng terus ada yang tidak beres. Perasaan Rival merasa kalau ada yang aneh ia sengaja mengikuti Chiko dan Franda dari belakang. Obrolan mereka pun terjadi ia mengintip dibalik pohon. Chiko menuntun Franda keujung taman Rival akan menyiapkan kuda-kuda kalau Chiko akan melakukan sesuatu. Entah apa yang membuat Rival kepo dengan kehidupan Franda. "Awas aja kalau lo macam-macam sama cewek cupu." Gumam Rival yang melihat dari kejauhan.
"Fran, gimana lo mau kan bantuin gue? Kasihan Rubi fran." Chiko langsung saja menatap Franda dengan seksana ia menatapnya penuh dengan arti dan membuat jarak mereka begitu dekat tangan Chiko masih begitu erat menggenggam lengan kanannya.
"Tapi gue-- tapi gue gak yakin."
"Gak yakin kenapa?"
"Gak yakin kalau misalnya gue bisa bantu, lo tau kan kalau Rival gak suka sama gue, apalagi kalau gue minta dia buat deket sama Rubi." Ia menunduk dan ia sangat pesimis sekali dengan permintaan Chiko kali ini.
"Maaf chik gue, gak bisa." Franda mencoba untuk melepaskan genggaman Chiko. Ia benar-benar belum bisa bahkan tidak bakalan bisa melakukan apa yang Chiko kehendaki.
"Lepasin." Teriakkan itu terdengar oleh mereka berdua yang terkejut begitu. Rival mengambil alih Chiko ia mengesampingkan egonya dan sebenarnya ini bukan urusan dirinya.
"Ngapain lo disini?"
"Gue paling gak suka ya sama sikap lo yang tiba-tiba kasar gini."
"Apah? Lo bilang gue kasar? Sadar diri woy lo sendiri apa kabar?"
"Ya..... ya udah ikut gue." Tarik Rival yang tak perduli lagi.
"Fran, gue harap lo mikir lagi ya. Gue mohon." Franda hanya diam dan bingung, kalau ia diposisi Chiko pasti ia akan berusaha untuk membantu sahabatnya apalagi mereka bersahabat dari mereka kecil. Sedangkan Rival dalam hati berfikir dan menerawang jauh.
"Apa tadi Chiko nembak Franda? Kok bisa? Atau mereka udah?"
"Bentar, lo tadi ditembak? Ee maksud gue lo ditembak Chiko? Trus lo terima?"
Franda dengan polosnya menggeleng pelan itu tandanya pikiran Rival salah.
"Bagus deh kalau lo gak terima, tapi beneran lo nolak kan?" Ia menekannya sekali lagi. Tanggapan macam apa ini yang membuat Rival sejauh itu.
"Duh gimana ini?"
"Loh kok diem? Atau lo suka sama dia?"
"Emm, enggak kok. Kok lo bisa tau dimana gue tadi?"
"Ya gue----" Ia langsung mengibaskan tangan diwajahnya.
"Ya udah kalau gitu gue balik."
"Val." Langkah Rival langsung terhenti dan sedikit tersenyum tipis.
"Kenbali Dengan coolnya Rival memasang wajah cuek dan jual mahal.
"Boleh nebeng gak?" Rival merasa tidak percaya ia langsung mendekat dan mendekatkan telinganya ke sumber suara itu.
"Apa? Gue gak salah denger nih?"
"Ya kalau gak mau juga gak papa." Franda perlahan memajukan langkahnya dan meninggalkan Rival tangan ada tangan yang menahan lengan Franda begitu saja.
"Eits main pergi gitu aja, belum juga gue jawab."
"Ya udah lo boleh nebeng sama gue karna lo udah bantuin gue kemarin." Franda mengangguk pelan itu mengingatkannya kembali dengan obrolan yang baru beberapa menit lalu berlalu dengan Chiko. Langkah mereka secanggung itu dan tak ada obrolan sama sekali mereka hanya sibuk dengan langkah kaki masing-masing. Rival lebih dulu masuk kedalam mobil dan Franda perlahan membuka pintu mobil yang sudah sedikit terbuka.
__ADS_1
"Tumben lo mau nebeng sama gue? Kenapa nih?"
"Eee, enggak kok."
"Val." Panggilan Franda membuat Rival penasaran.
"Apa?"
"Eh gak jadi deh." Ia masih ragu untuk menanyakan hal ini. Hal dimana pasti akan menjadi jawaban yang negatif.
"Kenapa? Kok gak jadi? Eh asal lo tau ya gue emang jutek tapi gue gak mau ada hal yang disembunyikan. Lo pikir gue sejahat itu?"
"Bukan gitu, gue gak pernah anggap lo jahat kok." Ia menunduk karna gugup melawan obrolan Rival yang ketus.
"Gue tau."
"Lo, lo kalau benci sam orang bakalan benci banget atau mau memaafkan?"
"Tergantung sih, tergantung apa masalahnya juga."
"Eem, kalau ada yang mau minta maaf, lo mau maafin gak?"
"Emng siapa? Kok berbelit-belit gitu ngomongnya"
"Eeeee, gak sih cuma nanya doang. Tapi------"
"Tapi apa?"
"Tapi boleh gak gue nuntut apapun yang gue mau? Soalnya kan lo pernah ngomong hal ini."
Rival tersenyum tipis tidak menyangka kalau Franda akan mengatakan hal ini didalam pikirannya ia sudah menyangka kalau Franda suka dengan dirinya.
"Emang apa?"
"Eeee, mau gak bantuin gue buat deket sama kak Roy.."
"Bu---- kan bukan gitu, gue pengen kalau Cerry deket sama kak Roy, dia udah suka dari lama sebagai sahabat gue mau bantuin dia di ulang tahun dia nanti apalagi kalau yang ada dihadapannya dia nanti kak Roy."
"Oh gitu, boleh aja sih. Jadi ini modus lo buat nebeng gue?"
"Hehehe maaf."
Rival tersenyum miring dengan jawaban Franda "Gak papa."
"Maaf val, gue jadiin lo alat buat bantuin Chiko. Maaf cer kalau gue salah." Isi hati ini seakan masih menolaknya.
"Makasih ya val udah anterin."
"Iya sama-sama." Ucap Rival yang hanya menyahut dari dalam mobil. Tas tergeletak masih disebelah tempat duduknya.
"Fran."
"Nih, tas lo ketinggalan."
"Oh iya, maaf merepotkan. Mau mampir dulu?"
"Hahaha aneh loh tas gitu aja repot gimana sih? Suka aneh deh lo. Ya udah gue balik dulu maaf gue gak mampir salam buat nyokap lo."
"Oh iya"
...••...
..."Lo pada kenapa sih berdua senyum-senyum gak jelas gitu? Tif lo kenapa lo main hpnya senyum-senyum gitu? Lo jadian ya sama Hito? Lo juga val kenapa sih jadi gini ikutan senyum-senyum gak jelas." Kedua adiknya membuat Roy seakan bingung sendiri Rival yang teringat dengan Franda tadi didalam mobil yang gak sengaja saling tatap bahkan senyum Franda yang mengalihkan pandangannya kearah lain. Apalagi Tiffany yang baru aja deket sama Hito cowok yang udah lama ia pendam perasaannya....
"Kenapa sih kak? Mending lo baca materi resep masak bukannya lo udah mau deket kan?"
__ADS_1
"Oh iya ya? Gue keatas dulu." Roy baru ingat kalau materi masak sebentar lagi akan ia presentasikan, lomba ini sedikit agak unik dan berbeda karna apa? Karna berkaitan tentang step by step cara pengolahan atau pembuatan masak itu sendiri dari bahan mentah yang bagus sampai penyajiannya bukan seperti kebanyakan yang langsung praktek.
Roy menarik bangku dan ia duduk di meja belajarnya mengambil materi yang masih tersusun rapi didalam laci. Beberapa hari lalu ia membacanya dan mungkin ia harus lebih sering mempelajari dan berbicara sendiri didepan kaca agar lebih lancar dan tidak terlalu grogi didepan juri nanti. Kali ini Roy lebih memilih masakan tradisional yang kental sekali dengan budaya Indonesia, Roy emang suka masak ketika ia duduk di bangku smp dan tau masak itu ketika ia duduk di kelas 3 SD yang berawal dari acara masak di TV.
"Ah apa gue telfon Franda aja ya? Buat minta dia datang nanti?" Ia mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja dan langsung menekan kontak yang sudah ada nama Franda.
"Hallo, hem..."
^^^"Iya kak, kenapa?"^^^
"Boleh minta permohonan gak?"
^^^"Apa tuh?"^^^
"Eeem, gue nanti bakalan ada lomba persentasi masak, boleh gak kalau lo datang kalau berkenan?"
^^^"Kapan tuh?"^^^
"Minggu sih, ada waktu?"
^^^"Eee, ada sih tapi kalau aku telat gak papa mama. Soalnya kayaknya naik angkot."^^^
"Eh, gak usah biar Rival aja yang jemput lo nanti. Gimana mama?"
^^^"Rival ya kak?"^^^
"Dia pasti mau kok, mau ya? Ya ya ya."
^^^"Oke kak."^^^
"Baiklah seperti itu. Makasih ya."
^^^"Oh iya kak sama-sama."^^^
Roy langsung menutupnya, ia sengaja untuk menyuruh Franda untuk menonton persentasinya karna Franda memberi pengaruh besar akan mimpi besarnya.
Ia menuruni anak tangga dan meminta terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi langsung ke Rival untuk menjemput Franda. "Val, nanti minggu lo sibuk gak?"
"Gue main sama sahabat gue."
"Oh gitu ya? Berarti gak bisa ya?"
"Gak bisa. Udah janji juga soalnya waktu itu gue udah gak jadi."
"Berarti Franda sama yang lain aja deh dijemput."
"Franda yang mana kak? Yang di supermarket itu ya?"
"Hah? Apa hubungannya sama Franda?" Rival langsung kepo mendengar nama Franda.
"Ya gue kan ada persentasi lomba masak, gue nyuruh Franda buat datang dan gue minta tolong lo buat jemput tapi karna lo gak bisa alias udah ada janji berarti gue nyuruh yang lain aja sahabat gue, bentar gue telfon dulu."
"Ya udah gue aja."
"Loh katanya gak bisa?"
"Bisa kok, lagian gue males juga main. Bisa kok jemput Franda, kita bakalan nonton lo nanti. Tif lo juga ikut kan?"
"Ya iya dong. Gue pengen liat kak Roy dilihat sama Franda yang bikin dia kayak kepiting rebus. Hahaha."
"Maksudnya?" Rival masih mencerna ucapan yang hanya Roy dan Tiffany yang mengerti.
"Udah ah, berarti lo bisa kan?"
"Iya entar gue jemput."
__ADS_1
"Thanks bro." Rival mengangguk paham.