Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 20


__ADS_3

Jatuh cinta itu rasanya bermacam macam. Tidak hanya dikatakan cinta itu indah. Tidak. Terkadang cinta itu menyakitkan bahkan membingungkan. Cinta juga bisa dikatakan tidak waras. Cinta membuat kita dapat berpikir dua kali apa itu benar atau salah. Cinta dapat membuat kita memberikan sesuatu yang tidak biasa kita lakukan.


Rasanya ingin selalu ada untuk orang orang yang kita cintai. Khusunya cinta terhadap lawan jenis. Ketika dia merasa kedinginan, ingin rasanya raga ini datang dan memeluknya dengan kehangatan. Cinta dapat membuat orang berlebihan. Ketika dia mengatakan haus saja, ingin rasanya kita memberikan air lautan yang luas. Bahkan jika bisa, orang yang sudah cinta akan mengatakan akan memberikan bulan, bintang, sampia matahari terbenam. Tidak masuk akal. Namun, begitulah cinta. Sebuah unsur yang cukup unik.


Sebelumnya, Dior dan Gracia tidak pernah merasakan cinta yang meluap luap seperti ini. Setiap malam mereka selalu saling memikirkan. Setiap malam mencoba mengungkapkan dalam hati mereka masing masing. Sebenarnya tidak ada jarak untuk mereka. Namun, karna waktu dan karir membuat mereka harus memperjuangkan cinta mereka. Dior yang sebenarnya hanya ingin membuat Gracia terlindungi dan Gracia yang meminta sedikit pengertian Dior. Namun mereka semua hanyalah manusia yang dapat mengeluarkan emosi mereka masing masing.


Gracia akhirnya ingin meyakinkan pada Dior bahwa perasaannya sama seperti yang Dior rasakan padanya. Gracia hanya mencintai Dior dan tak ada yang lain. Hubungannya dengan Stanley murni hanya pasangan menari. Gracia sampai sedikit frustasi dan hendak menyerahkan segalanya untuk Dior. Namun, apa yang Dior perbuat?


Sinar matahari pagi menggerayangi masuk memenuhi kamar hotel dari kaca jendela yang sudah terbuka lebar. Hawa sejuk akhir Minggu itu menambah suasana menjadi sangat menyenangkan untuk tetap tidur atau melakukan aktivitas pagi seperti sarapan. Gracia mencoba membuka matanya. Kepalanya agak berat dan seluruh tubuhnya agak pegal. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Semalam dia mengajak Dior berdansa setelah menegak habis red wine kesukaannya. Dia juga mengingat daging Wellington yang begitu lezat. Sampai matanya harus terpejam karna dia bukan peminum yang kuat.


Terdengar suara guyuran air dari kamar mandi di samping tempat tidurnya. Gracia mencoba beranjak dan duduk di tempat tidur itu. Dia masih memegang selimut yang menutupi tubuhnya. Dia sedikit membukanya dan hanya mengenakan penutup dadanya dan celana dalamnya. Ketika dia kembali menutupnya, dia terkesiap. Dia kembali memastikan apa yang tubuhnya kenakan.


"Oh God! Apa yang kulakukan? Mengapa aku hanya mengenakan pakaian dalam ini? Kemana gaun biruku?" Selidik Gracia memegang kepalanya dan melihat gaunnya tergantung di depan lari.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dior keluar hanya dengan lilitan handuk yang menutupi bawah perutnya. Gracia menyaksikannya dan sekejap wajahnya berubah seperti tomat karna malu melihat tubuh indah Dior. Dia dengan cepat menutup kepalanya dengan selimut tersebut sampai tak terlihat. Dior tersenyum sambil mengusap rambutnya dengan handuk yang lain. Dia gemas melihat tingkah kekasihnya.


"Tubuh Kak Dior benar benar seperti atlet! Sangat membuatku ingin menyentuhnya namun aku juga malu! Apa yang harus kulakukan? Mungkinkah semalam kita melakukannya?" Gumam Gracia di dalam selimut.


Dior menghampirinya. Dia dengan cepat membuka selimut tersebut dan ikut masuk di dalamnya. Gracia tanpa kesiapan membuat dirinya berbaring dan berada di bawah Dior yang menghimpitnya dari atas.


"Mengapa kau bersembunyi?" Tanya Dior sambil mengelus elus rambut Gracia.


"Kak, em, em, itu." Mata Gracia mencari cari celah agar tidak menatap netra coklat Dior.


"Itu apa?" Dior tersenyum menggoda.


"Apa, apa, apa kita sudah melakukannya?" Tanya Gracia terbata dan akhirnya malah mengalungkan tangannya ke leher Dior.


"Kau mau melakukannya?"


Wajah Gracia benar benar memerah. Akhirnya Dior membuka selimut yang masih menutupi kepala mereka.


"Kau senang sekali menutupi diri seperti ini!" Decak Dior.


"Aku malu kak!"


"Ya, kau harus bertanggung jawab padaku karna kau yang memaksaku melakukan ini!" Ancam Dior bergurau.


"Aku, aku minta maaf. Benarkah kita sudah melakukannya?" Gracia masih sangat pensaran.


"Hampir!" Jawab Dior dan kembali beranjak lalu berdiri. Dia menuju ke nakas untuk mengambil pakaiannya. Gracia jadi tidak enak dan masih bingung. Gracia juga masih memikirkan apa kah Dior masih marah atau tidak dengannya. Gracia akhirnya kembali berinisitif untuk menghampiri Dior dan memeluknya dari belakang.


"Kak?" Panggil Gracia mendekap erat tubuh kekar itu.


Dior sedikit tersentak. Dia merasakan dua gundukan kenyal Gracia menempel di punggungnya dan ini membuat dirinya sedikit tak nyaman karna memancing hasratnya.


"Ada apa? Biarkan aku mengenakan pakaianku, Gracia! Kau juga harus membersikan dirimu." Kata Dior mengelus tangan Gracia yang melingkar di perutnya.


"Apa kau masih marah padaku soal gerakan tarian itu?" Gracia hanya ingin memastikan .


"Tidak!"


"Jangan bohong! Katakan yang sebenarnya kak!" Gracia sedikit merengek.


"Maafkan aku Gracia, aku memang cemburu." Jawab Dior. Dia membalikan tubuhnya berhadapan dengan Gracia. Dia lalu meraih tangan tangan kecil Gracia.


"Aku hanya manusia biasa yang suatu saat akan kesal jika hatinya hendak dimiliki oleh orang lain." Tambah Dior.


"Stanley tidak .."


"Sstt!! Aku tahu, aku tahu dia mungkin tidak akan merebutmu dari ku tapi bagaimana perasaannya? Pria dapat melakukan apapun jika dia sudah memiliki kenyamanan dan kerinduan untuk bersama lawan jenisnya. Seperti diriku. Aku ingin selalu menjaga dan melindungi mu Gracia. Tapi, sepertinya aku sudah memastikan dan memutuskan sesuatu." Kata Dior lagi yang membuat Gracia sedikit takut mereka akan berakhir.


"Apa kak? Jangan berkata kata jika sedang marah kak! Kau akan menyesal dan aku tidak sanggup menerimanya." Mata Gracia berkaca kaca.


"Jadi kau tidak akan menerima jika aku akan tetap mempertahankanmu?" Gumam Dior.


Mata Gracia agak melebar.


"Aku minta maaf akan terus mendekapmu Gracia. Aku akan tetap mengawasimu dari hatiku. Kau harus tetap bersamaku, milikku dan menjadi kekasihku sampai aku benar benar menikahimu. Biarlah pria pria itu menyukaimu tapi kau tidak boleh menyukai mereka. Kau hanya boleh bersamaku karna Tuhan sudah mentakdirkan kita dan ibumu hanya memperbolehkan mu bersamaku! Kau mengerti?" Begitulah keputusan Dior yang akan mempertahankan Gracia apapun caranya.

__ADS_1


Gracia mengangguk angguk dan tersenyum . Dia lalu berjinjit hendak mencium bibir Dior namun Dior lebih dulu meraih bibir merah muda dan meraupnya dengan sedikit rakus. Tak lama dia menarik diri.


"Biarkan aku mengganti baju dan bersihkan dirimu Gracia, aku akan mengajak mu keliling hotel. Jangan terus berciuman tanpa pakaian seperti ini!" Kata Dior sambil mengelus bibir Gracia dengan ibu jarinya.


"Terimakasih kak." Ucap Gracia yang harus mengatakan ini Karna kesabaran Dior dan kini Dior benar benar menegaskan dirinya.


"Sudah tidak apa apa. Kau tenang saja." Dior mengelus lengan Gracia dan mengecup kening Gracia lagi.


Gracia pun segera membersihkan dirinya dan Dior mengenakan pakaiannya. Tidak ada yang terjadi diantara mereka. Dior masih bisa menahannya dan akan terus seperti ini sampai waktunya tepat. Dior tidak ingin terbuai oleh nafsu semata ketika sudah melakukannya nanti. Dia ingin benar benar mencintai dengan sangat tulus dan mendalam sampai tidak mau kehilangan Gracia.


...


Benar saja. Dior tampak sudah seperti biasanya. Dia menjemput Gracia ketika pagi hari. Dior lagi lagi harus berusaha menyampingkan semua hal yang membuat pikirannya malah menjauh dari Gracia. Percuma ayahnya mempercayainya menjadi direktur utama jika dia tidak memiliki ke profesional an. Dia harus bisa profesional di setiap kondisi.


Hari Senin begitu padat hampir di setiap sudut jalan. Namun, Dior sudah memperhitungkannya dan menyuruh kedua adiknya agar bangun lebih cepat. Viena dan Amy sudah sibuk setengah mati menyiapkan sarapan untuk anak anaknya. Dior tepat waktu pukul 6 pagi sudah bertandang di depan rumah dengan mobilnya. Tak berapa lama Zhavia keluar bersama Zefanya dan mereka siap menjemput Gracia. Gracia pun sudah siap bersama Morgan di depan rumahnya. Dan juga ada Revo yang kebetulan akan pergi bersama Morgan.


"Good morning Paman Revo, Morgan!" Dior nemberi salam pada calon ayah mertuanya dan calon kakak iparnya dengan berjabat tangan.


"Selamat pagi nak! Hari kau tampak bersemangat sekali menjemput Gracia


"Setelah bermalam di hotel bersama Gracia, paman!" Bisik Morgan terkekeh menyenggol pelan pamannya. Revo tersenyum. Sebelumnya Dior sudah meminta ijin dan memberitahukan kejadian kalau malam itu ketika Dior sedang menanggalkan gaun Gracia, Gracia malah terbangun dan memuntahkan semua yang ia makan malam itu. Dior mengurusnya dan akhirnya memang gagal semua niat yang tadinya hendak ia lakukan. Dior kembali berpikir dua kali melakukannya. Dior tersenyum sendiri mengingatnya. Dior pun mengambil Gracia yang tampak pucat dan mengabari ayahnya kalau biarkan mereka bermalam di hotel. Revo percaya kalau Dior pasti tahu batasan dan apa yang seharusnya ia lakukan.


"Kau tidak akan percaya Morgan kalau kami tidak melakukan apa apa." Balas Dior tersenyum sambil meninju pelan bahu Morgan.


"Who knowsss?!!!" Morgan mencibir puas. Gracia hanya menunduk malu.


"Oh iya Dior. Aku mempunyai rencana untuk membuat minuman jenis terbaru dengan menggunakan bahan bahan alami. Aku sudah membicarakannya dengan Paman Leon." Kata Morgan kemudian mengingat program kerjanya tahun ini.


"Paman Leon?" Dior menaikan satu alisnya masih belum bisa menerka apa yang dimaksud Morgan.


"Ya, aku ingin bekerjasama dengan perusahaan argo bisnis tempat anaknya paman Leon bekerja. Siapa namanya? Aku lupa! Pria yang bersama gadis singa itu." Jawab Morgan dan malah ikut mengingat Allegra.


"Ppsst!!" Gracia sedikit terkikik. Kakaknya mengingat Allegra.


"Kau ingin mengetahui si pria atau gadis singa itu?" Dior menambahkan bergurau pada Morgan karna Dior sedikit terkejut ketika bisa bisanya Morgan mengatakan saudaranya gadis singa. Dior saja sudah lupa bagaimana pertemuan mereka.


"Kak Morgan! Hati hati, hukum karma berlaku!!" Bisik Gracia melirik tajam Morgan sambil tersenyum kecil.


"Diamlah kau! Jadi, siapa nama anak Paman Leon, Dior?" Morgan menghentikan semua serangan karna Revo juga hanya tersenyum kecil melihat tingkah kekanak kanakan mereka.


"Marxelino Alexio Janson, Morgan!" Jawab Dior tersenyum.


"Nah itu dia."


"Kalau si gadis singa kau ingat kan?" Dior masih menambahkan.


"Tidak!"


"Allegra Yerika Atkinson kak!" Bisik Gracia juga terus menggoda.


"Diam kau Gracia! Satu nama nya saja aku tidak mau tahu, kenapa kau malah menyebutkan selengkap itu?!" Dengus Morgan membuat Gracia, Revo dan Dior tekikik.


"Sudah diam kau! Jadi nanti aku akan mencari waktu untuk meminta bantuanmu menemani ku bicara padanya, Dior." Kata Morgan lagi kembali membicarakan rencananya.


"Kau mau ke Springfield??" Dior memastikan.


"Kalau itu harus dilakukan kenapa tidak, bukan begitu Paman Revo?" Morgan mengangguk diikuti oleh Revo.


"Benar Dior! Di dalam bisnis ini kita harus ber inovasi." Tambah Revo.


"Kak, sebaiknya kita ke Springfield saja, aku kan belum pernah ke sana, ke Honolulu nya nanti nanti saja." Gracia merasa dirinya juga bisa ikut karna akan ada hari libur setelah akhir semester dan mengingat Dior berjanji akan mengajak nya bertamasya.


"Ide bagus Gracia! Baiklah Morgan, setelah akhir semester kuliah Gracia, aku akan mengantar mu ke Springfield. Sekarang kami harus berangkat." Ujar Dior menyetujui.


"Kita akan bertemu dengan gadis singamu kak!" Gracia masih menggoda Morgan dan berlalu setelah mengecup pipi ayahnya.


"Lihat paman, gadis besar itu sekarang sudah berani menggodaku!" Decak Morgan kesal.


Revo dan Dior ikut terkekeh. Dior pun memberi salam pada Revo dan menuju ke mobil sementara Revo dan Morgan pergi ke perusahaan minuman mereka.

__ADS_1


Zefanya tampaknya masih mendiami Gracia. Gracia tidak mau ambil pusing dan pasti akan kembali berdamai seiring berjalannya waktu. Sesampainya di kampus, Dior membukakan pintu mobil untuk Gracia dan mengantarkannya sampai ke depan gerbang.


"Terimakasih kak sudah mengantar ku! Selamat bekerja dan semangat!" Ucap Gracia sebelum memasuki kampus.


"Iya sayang! Kau belajar yang benar, ingat jangan tergoda dengan Stanley." Saut Dior sebenarnya hanya sebatas gurauan sambil mengusap pangkal kepala Gracia.


"Haha, tenang saja kak! I' m always love you sir! Cup!" Gracia mencuri satu kecupan pada pipi Dior.


Gracia pun berlalu menyusul Zhavia dan Zefanya yang sudah lebih dulu berjalan. Sementara ketika Dior berbalik, di sana dia berpapasan dengan Stanley dan Patrick.


"Morning kak Dior!" Sapa Patrick sementara Stanley hanya menunduk kecil dan tersenyum. Dior pun hanya menunduk kecil dan menuju ke mobilnya.


"Tidak usah kaku seperti itu Stan! Santai saja!" Patrick mencoba menghibur dengan merangkul pundak temannya dan memasuki kampus.


...


...


...


...


...


sabar oppa Dino, eh Stanley 😁😁


fokus Gracia Dior hayoo jangan ke cameo 😂😂


(padahal emang vii sengaja lagi mo belok kesana biar ga bocen hihi)


.


next part 21


ketegangan apa lagi yang akan terjadi?


apa drama musikalnya berjalan dengan lancar?


apa Dior akan hadir?


.


Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟


Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.


Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕


.


baca juga yukkss novel baper lainnya :


💌 Love & Hurt


💌 Deja Vu : Jasmie & Chest


💌 Tak Dianggap


💌 Tetaplah Bersamaku


💌 Ada Cinta Untuk Sahabat


💌 Hot Daddy


💌 Assistant Love Assistant


💌 Satu-satunya yang Kuinginkan

__ADS_1


__ADS_2