Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 19


__ADS_3

Jika bisa memilih, ingin rasanya kembali ke masa lalu dan menikmati saat saat menjadi anak kecil. Ketika tidak mengenal cinta dan mereka bermain bersama tanpa adanya sebuah ikatan yang mengharuskan mereka bersama. Ketika rasanya hanya dirinya sendiri yang bisa menerima kelemahan seseorang. Namun perasaan sederhana dan tulus ikhlas ini nyatanya harus berkembang menjadi sebuah ikatan cinta. Di mana harus bisa melawan segala ketidak mungkinkan sehingga mereka bisa terus bersama dan baik baik saja. Sebuah perjuangan yang tidak hanya mengatakan cinta tanpa adanya hati dan perasaan.


Dan, di sinilah Dior berjuangan meruntuhkan setiap keegoisannya untuk memiliki Gracia sepenuhnya walau harus tertatih dan bersabar. Sedangkan Gracia berusaha mencoba untuk terus menggenggam tangan Dior dengan hangat. Menjadikan dirinya adalah wanitanya dan Dior sebagai prianya maka Gracia yakin masa depannya hanya bersama Dior.


Gracia dan Dior terdiam di dalam mobil namun sesekali Gracia melirik ke arah kekasihnya itu. Dior tetap dalam pandangannya ke depan. Gracia merasa dirinya harus membuka kata kata. Dia sedikit merasa aura dingin yang terpancar di sekujur tubuh Dior. Gracia merasa kekasihnya memikirkan gerakan yang akan ia lakukan bersama Stanley. Ya, gerakan ini memang agak terlihat mesra dan tak ayal mereka harus bersentuhan.


"Kak?" Panggil Gracia agak takut sambil menggenggam erat kotak hadiah pemberian Stanley.


Dior hanya menoleh dan menunggu perkataan Gracia lagi .


"Apa hari ini kau tidak ada meeting atau pergi mengenai pekerjaanmu?" Tanya Gracia basa basi.


Dior menggeleng. Gracia lagi lagi mengernyitkan dahinya bingung.


"Kenapa kau diam saja kak? Apa kau tidak senang pergi bersamaku? Jika tidak lebih baik kita pulang saja. Aku hanya ingin merayakan ulang tahun ku bersamamu kak, tapi kalau kau tidak selera untuk apa?" Akhirnya Gracia mendengus meluapkan protes nya.


"Tidak apa apa Gracia. Aku hanya sedang memikirkan apa yang akan kita lakukan di kamar hotel dan berdua. " Jawab Dior tersenyum namun memang sedikit berdalih. Biarlah apa yang menjadi kecemasannya dia yang merasakan sendiri. Seketika Gracia menjadi salah tingkah dan tersipu, pasalnya dia yang mengajak kekasihnya ini ke hotel. Sungguh tidak tahu malu pikirnya.


"Oh itu aku, aku, aku hanya ingin suatu makan malam romantis saja kak. Bersamamu. Hanya itu." Jawab Gracia menunduk. Wajahnya telah memerah dan Dior tersenyum lagi memperhatikannya.


"Kalau kau tidak merayu dan terus memandangku kau akan aman Gracie!" Saut Dior lagi.


Gracia mendongakan kepalanya menatap Dior. Jantungnya berdebar. Apakah Dior akan melakukannya padanya? Namun kemungkinannya tidak sampai lima puluh persen karna Dior seorang pria yang begitu menghormati wanitanya. Gracia mengerti hal itu.


"Hem, kita lihat saja nanti kak. Aku tidak menjamin karna kau akan terlihat tampan tanpa jas mu!" Gracia membalas yang tidak kalah menggoda kekasihnya.


Dior mengangguk angguk tersenyum . Seketika dia melirik kotak hadiah dari Stanley yang Gracia dekap begitu erat.


"Apakah itu hadiah dari Stanley?" Tanya Dior kemudian.


"Iya kak, apa kau ingin melihatnya?"


"Pasti sesuatu yang unik bukan?" Selidik Dior sambil memegang sisi mulutnya dengan telunjuk.


"Ini kak!" Gracia lalu membuka kotak tersebut dan memainkan kotak musiknya. Dior melirik dan menikmati instrumental lagu nya.


"Menarik! Dia pasti sangat menyukaimu Gracie!" Gumam Dior dengan pandangannya terus ke depan. Entah mengapa perasaan Gracia menjadi kembali pilu. Apakah kekasihnya menyindirnya atau hanya bergumam.


"Kami hanya berteman kak! Aku tidak ada perasaan apa apa padanya. Aku mohon kak, jangan beranggapan macam macam. Hatiku hanya untukmu kak. Aku sudah tidak bisa mencintai siapapun selain dirimu sejak kecil ." Kata Gracia menundukan kepalanya. Dior sedikit menoleh.


"Aku percaya Gracie! Maksudku pertemanan kalian begitu menarik melalui gerakan dan lagu. Tenanglah!" Dior mengusap puncak kepala Gracia dengan cepat. Gracia segera meraih tangan itu.


"Aku merindukanmu kak! Aku mohon jangan ada pertengkaran di hari ulang tahun ku ini, aku ingin bersamamu dan akan memberikan apa yang kau inginkan jika bisa membuktikan rasa cinta dan setiaku padamu!" Tutur Gracia membuat tangan kekasihnya itu ke arah pipinya.


"Aku percaya sayang! Biarkan aku mengemudi dengan benar." Dior menarik perlahan tangannya. dia lalu tersenyum pada kekasihnya itu.


Akhirnya mereka sampai di basement parkiran hotel Prime. Dior segera membuka sabuk pengamannya dan juga membuka sabuk pengaman Gracia karna Gracia seperti sengaja membuatnya melakukannya.


"Jangan berpikir macam macam Gracia! Aku tidak apa apa." Kata Dior lagi mengingatkan Gracia.


"Benar ya kak."


Dior mengangguk tersenyum. Hari ini Dior selalu tersenyum dan berdiam diri. Gracia masih sangat bingung dengan semua ini. Mereka pun memasuki hotel dan menuju ke kamar yang sudah disiapkan. Hari masih sore. Mereka masih bisa membersihkan diri dan mengisi waktu dengan menonton atau mendengarkan lagu. Gracia cukup takjub dengan luas nya kamar hotel ini. Kamar hotel ini bahkan seperti kamar apartemen. Dior sudah memasuki kamar ini dan membuka jas nya. Dia pun duduk di sofa besar dan panjang itu.


"Apa aku bisa membersihkan diri terlebih dahulu kak?" Tanya Gracia sedikit agak gugup. Dia memang belum mengganti pakaian latihannya tadi.


"Ya tentu, bersihkanlah dirimu di ruang kamar besar itu Gracie!" Dior menunjukan sebuah kamar khusus untuk tidur.


"Ya kak!"


Gracia pun menuju ke kamar mandi yang berada di kamar besar ini. Namun, ketika dia memasuki kamar mandi mewah itu, dia agak bingung menyalakan showernya karna terlalu banyak putaran air sehingga tidak ada air yang keluar. Sepertinya Gracia keliru memutarnya sehingga semuanya jadi salah dikendalikan.


"Kak, apa kau bisa kemari dan membantuku?" Tanya Gracia agak berteriak. Dior segera datang memastikan keadaan Gracia.


"Ada apa?" Dior memasuki kamar mandi itu.


"Di mana putaran air yang benar? Aku tidak paham." Tanya Gracia polos.


Dior segera menuju ke depan puteran air kamar mandi tersebut. Dia melihatnya dan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Mengapa kau memutar putaran air penambah suhu Gracia? Apa kau tidak memutar putaran di sampingnya?" Dior kembali memastikan.


"Sudah kak! Tadi aku memutar putaran ini." Jawab Gracia sambil memutar putaran yang Dior berikan dan keluarlah air itu dari pancuran shower yang masih tergantung di atas kepala Dior. Air tersebut akhirnya mengenai seluruh tubuh Dior. Gracia terkejut menutup mulutnya karna Dior tampak diam dan memejamkan matanya menerima kucuran air tersebut. Air tersebut agak panas sehingga Gracia panik dan langsung memberhentikan putaran air tersebut.


"Kak, maafkan aku, aku tidak tahu. Kau basah dan panas?" Gracia memegang dada Dior yang tampak bidang. Gracia jadi meneguk saliva nya dan Dior membuka matanya. Dia juga melihat Gracia yang agak sedikit basah terkena cipratan dengan pakaiannya yang cukup ketat. Mengapa ini sangat memancing gairah nya. Namun Dior berusaha tenang dan menahan hasratnya.


"Kak, apa kau marah? Biarkan aku membelikanmu kemeja yang baru ya? Tunggu ya?" Kata Gracia lagi dan hendak pergi namun Dior menahannya dengan meraih pinggang Gracia yang di tempelkan ke tubuhnya.


"Kau yang membuatku basah Gracia! Maka kau juga harus basah!" Kata Dior sambil memutar putaran penurunan suhu air dan kembali memutar putaran turunnya air dari shower tersebut. Dan air pun turun kembali membasahi mereka berdua. Dior lalu meraih dagu Gracia dan memandangnya terlebih dahulu. Wajah Gracia tampak menegang dan gugup. Kekasihnya juga tampak menawan dan tampan menurut Gracia. Gracia akhirnya memejamkan matanya pasrah menerima apa yang akan dilakukan kekasihnya padanya. Namun Dior malah tidak menciumnya. dia hanya diam memperhatikan wajah kekasihnya yang sangat polos dan lembut. Tidak seharusnya dia berbuat macam macam sebelum pernikahan terjadi.


"Bersihkan dirimu dengan suhu air ini, aku akan menyuruh Rick menyiapkan pakaian kita." Begitulah kata Dior dan meninggalkan Gracia. Dia meraih handuk di rak rak samping bath up dan menutup pintu kamar mandi itu. Gracia mematung melihat sikap Dior yang tidak melakukan apa apa padanya. Dia sedikit kecewa namun Gracia mencoba berpikir kalau kekasihnya itu sedang menghormatinya.


"Di mana pakaian ku kak?" Tanya Gracia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah handuk. Dior lalu memberikan sebuah gaun pada Gracia.


"Mengapa kau memberikanku gaun kak?" Tanya Gracia sedikit tersentak dengan gaun biru Dongker yang cukup fashionable.


"Karna ini ulang tahunmu, kita akan candle light dinner." Jawab Dior masih dengan aura dinginnya. Dia berbalik kembali ke Sofanya. Sementara Dior sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang dibawa Rick tadi.


Gracia tersipu dan meraih gaun tersebut. dia segera mengenakannya dan ketika dia keluar dari kamar, seluruh penerangan ruang tengah sudah padam. Hanya penerangan lampu ruangan yang berdiri yang terdapat di dekat daun jendela besar yang terbuka itu. Di sana juga sudah terdapat meja dengan dua kursi berhadapan dan lilin serta sekuntum bunga mawar di atas meja tersebut. Dior juga sudah duduk di salah satu kursi tersebut dengan kemeja putih santainya. Dia tampak menawan bagi Gracia. Gracia menghampiri kekasihnya itu yang masih menunduk.


"Kak?" Panggil Gracia dan Dior menengok. Dior sedikit terpukau dengan penampilan Gracia yang sudah bukan gadis kecil yang dulu ia lindungi. Kini Gracia tampak seperti wanita dewasa dengan balutan gaun elegan berwarna biru Dongker itu. Dior tersenyum dan Gracia menempati kursi makannya.


"Gracia, selamat ulang tahun." Dior memberikan sekuntum bunga mawar tersebut. Gracia meraihnya dan merasa tersanjung dengan semua hal romantis ini. Kekasihnya melakukannya dengan sangat sempurna.


"Semoga di tahun berikutnya kita masih bersama dan kembali merayakan ulang tahunmu." Gumam Dior.


Gracia mengernyitkan dahinya terheran dengan kata kata kekasihnya


"Apa maksudmu kak? Mengapa kau berkata seperti itu? Apa kau tidak ingin bersama ku selamanya? Sudah pasti tahun depan kita juga akan bersama bukan?!" Gracia membuat nya dengan sangat yakin.


"Ya, kau benar." Kata Dior tersenyum kecil. Tak lama kemudian datang pelayan yang sudah Dior perintahkan untuk menyiapkan dua porsi bistik Wellington, dua gelas air putih dan dua gelas red wine.


Gracia terkesima dengan sajian yang benar benar sesuai dengan benaknya sementara Dior masih memikirkan kekasihnya itu. Sejujurnya, dia mengatakan apa yang menjadi ketakutannya . Dior menjadi cemas dan masih mengingat adegan tarian itu. Tak menutup kemungkinan jika Gracia mungkin saja akan terlibat sebuah cinta lokasi dengan lawan jenis pasangan menarinya. Dior memikirkan hal ini. Dia takut kehilangan Gracia namun jika memang itulah takdir dia harus bagaimana? Dia harus berbuat apa? Dia pun tidak bisa memaksakan kehendak Gracia. Kalaupun Gracia benar benar tidak mencintainya lagi dia bisa apa. Mengapa pikiran ini terus berkecamuk dalam hatinya sementara Gracia ada di hadapannya. Dia bisa melakukan apapun pada kekasihnya ini namun dia hanya diam menatap kagum cantik paras Gracia.


Hem, sebaiknya dia kesampingkan terlebih dahulu . Dia harus menikmati pemandangan indah ini di mana ia senang melihat Gracia sungguh kagum dengan apa yang ia perbuat hari ini untuknya.


"Kak ini sangat lezat! Kau sangat mengerti menciptakan ini semua!" Kata Gracia terus memotong dagingnya dan menyantapnya. Sesekali dia menyesap red wine itu. Sungguh nikmat memakan daging dengan wine karna dapat mengimbangi cita rasa dari daging itu sendiri.


Hanya ada suara dentingan pisau, garpu dan piring. Gracia sesekali memperhatikan Dior yang makan dalam diam. Gracia sangat mengerti dan paham, kekasihnya pasti masih memikirkan adegan tariannya. Tidak biasanya Dior menjadi diam seperti ini. Karna tidak ada kata kata romantis atau perlakuan yang mesra. Gracia merasa kekasihnya sedang berjaga jarak dengannya . Dia agak frustasi melihat ini sampai tak sadar sudah menghabiskan satu gelas red wine nya.


Gracia akhirnya memutar otak. Dia harus melakukan sesuatu karna Dior pun sudah menuruti seluruh kemauannya. Gracia lalu menuju ke sofa. Dia meraih ponsel yang ada di tas nya lalu kembali ke meja makan nya. Dia mencari sebuah lagu pada aplikasi musik ponselnya yang menurutnya cocok menggambarkan tentang kekasihnya.


Gracia menyalakannya. Dior meliriknya sesaat. Lagu berjudul Perfect versi Ed Sheeran ft. Beyonce itu mengalun mendukung malam romantis ini. Gracia lalu kembali beranjak setelah meletakan ponselnya di atas meja makan itu. Dia lalu menarik tangan Dior menuju ke balkon luar.


"Mari kita berdansa kak. Lagu ini cocok sekali untuk perjalanan cinta kita." Kata Gracia mengalungkan tangannya ke leher Dior setelah dia juga yang mengarahkan tangan Dior untuk memegang pinggangnya.


"Well, I found a man,


stronger than anyone I know


He shares my dreams,


I hope that someday


we'll share a home


I found a love,


to carry more than just my secrets


To carry love, to carry children of our own"


Ya, aku menemukan seorang pria


Lebih kuat dari siapapun


yang pernah ku kenal


Dia berbagi mimpi mimpiku

__ADS_1


Aku berharap, suatu saat nanti aku akan berbagi rumah bersamanya.


Aku menemukan sebuah cinta


Untuk membawa lebih dari sekedar rahasiaku


Untuk membawa cinta dan anak anak kita nanti."


Gracia malah ikut bernyanyi ketika bagian Beyonce dan dia mencurahkannya di depan Dior sambil menyunggingkan senyumnya. Dior cukup terkesima di tengah dansa ringan mereka.


"Good voice!" Gumam Dior menatap sendu wajah kekasihnya yang mengungkapkan dengan ketulusan. Dior menyadarinya.


"Zhavia yang mengajariku ketika kita sering berlatih kolaborasi bersama. Lagu ini sangat cocok untuk kita kak, khususnya diriku padamu." Saut Gracia dan seketika dia merasa kepalanya agak pening. Mungkin karna wine yang sudah ia tegak habis sebelum menghabiskan dagingnya.


"Ya, terimakasih Gracia. Aku tidak bisa bernyanyi maupun menari, aku tidak bisa melakukan hal seni ini dengan benar. Aku minta maaf." Balas Dior kini menempelkan dahinya pada dahi Gracia.


"Kau sudah merupakan bagian dari kehidupan seni ku kak. Perasaan cintaku padamu dan kasih sayangmu padaku adalah bentuk seni terindah yang pernah kurasakan." Kini Gracia mengelus wajah Dior.


"Kau selalu membuat semua nya sesuai Gracia!" Kata Dior lagi dengan pelan dan cukup mesra.


"Aku mencintaimu kak. Sangat dan sangat dan aku ingin memiliki anak darimu kak. Aku ingin tinggal bersamamu. Membangunkanmu ketika pagi hari dan menyiapkan sarapan mu. Menyambutmu ketika pulang dari pencarian nafkahmu dan melayani mu selamanya." Tutur Gracia yang sepertinya sudah sangat melantur kemana mana. Mungkin karna efek dari Wine dalam tubuhnya.


"Hem, aku masih sangat takut itu tidak akan terjadi. Aku yang takut kehilangan mu Gracie. Jangan memberiku harapan. Aku terlalu rapuh tanpamu." Dior semakin mendekatkan dirinya pada Gracia. Seakan akan ingin selalu seperti ini dan tak ingin lepas.


"Kak, sekarang pun aku rela memberikan apapun yang kuinginkan dariku." Gracia sudah berbicara macam macam dan Dior sangat menyadarinya .


"Hem, semuanya?" Dior pada akhirnya ikut menikmati setiap suara pelan nan mesr yang keluar dari mulut kekasihnya itu.


"Ya, semuanya, hanya untukmu! Heemm.." Gracia agak mendesah dan memejamkan matanya merasakan dada bidang Dior.


Mengapa Dior menjadi sangat terhanyut. Dia menatap wajah cantik Gracia yang sangat membuat jantungnya makin berdebar. Dengan semua kata katanya Dior menjadi sedikit tenang dengan ketakutannya. Dior pun mencium bibir Gracia. Mereka berciuman dengan tangan Gracia berada di depan dada Dior. Gracia ikut menikmati setiap decak lembut dari perseteruan bibir mereka sampai tanpa sadar Gracia membuka kancing kancing kemeja Dior.


Dior merasakan tangan Gracia yang sudah menjalar ke sekujur dadanya. Wanitanya ini memang sangat menyukai dadanya. Dior sempat menahan tangan Gracia tapi dia malah menghempaskan nya.


"Kak, biarkan hari ini kau untukku dan aku untukmu." Tutur Gracia mengelus lembut dada Dior yang telah setengah terlihat. Dior tersenyum dan akhirnya kembali mengecup bibir Gracia menuju ke dalam kamar. Mereka kembali bergelut dalam permainan bibir dan indera perasa mereka.


Namun ketika baru saja Dior membaringkan Gracia di atas tempat tidur, Dior merasa Gracia sudah tidak sadar. Matanya benar benar sudah terpejam.


"Wanita ku yang ingin seperti wanita berpengalaman. Baiklah, mungkin aku bisa mengajarimu, Gracia .." gumam Dior tersenyum dan kembali mencium bibir Gracia turun ke leher dan membuka gaun itu.


...


...


...


...


...


Rayuanmu Gracia .. diajarin sapa? Wong mas Dior nya baru mo mulai kok wkwk 😂😂


.


Next part 20


Hayooo Dior dan Gracia maen ga? 😁😁


Maen apaan Vi?


Entah 😅😅


Dann masih seputar Stanley, Gracia dan Zefanya .. ayo ayo jadi apa tuh drama musikal? 😁😁


.


Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha


Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍

__ADS_1


.


Thanks for read n i love youu 💕


__ADS_2