
lanjutan part 4,
"Pat, ada apa?" Selidik Stanley bingung melihat Patrick yang tampak diam memandang Zhavia.
"Oh iya Stan, ayo kita temui Zhavia," ajak Patrick menghampiri Zhavia dan Daniel.
"Dan? Kapan kau datang?" selidik Patrick menaikan alisnya.
"Sayang, Daniel baru saja datang dan mencarimu," sela Zhavia menghambur kepelukan Patrick sebelum Daniel menjawab.
"Pat, maaf aku terlambat, aku harus mengisi acara di sebuah acara pernikahan," kata Daniel kemudian mengulurkan tangannya. mereka saling berjabat tangan.
"It's oke, kau sendiri?" tanya Patrick basa basi.
"Begitulah, apa kau memiliki kenalan wanita seperti istrimu?" gumam Daniel bertanya agak menggoda.
"Hem, what do you mean, sir?" saut Patrick mendelikan alisnya.
"Hahaha, just kidding. Jadi siapa pria di sampingmu sepertinya tidak asing?" tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.
"Aku Stanley Naraya, apakah Kau Daniel Ohana si pianis terkenal di Nederland?" kata Stanley langsung mengenalkan diri.
"Dan kau adik Jacklyn Naraya?" tebak Daniel.
Stanley mengangguk tersenyum.
"Kalian memang orang orang terkenal, apa aku pantas menjadi istrimu, Pat?" Saut Zhavia bergurau
"Tentu saja pantas!" Jawab Patrick dan Daniel bersamaan. Stanley jadi bingung dan akhirnya tertawa. Mereka juga tertawa. Patrick menyampingkan rasa cemburunya karena hari ini merupakan hari bahagianya.
"Siapa nama anak kita nanti, Pat?" Tanya Zhavia di dalam pelukan Patrick ketika semua acara telah selesai.
"Apa yang ada di pikiranmu? Pasti kau sudah merangkainya. Aku sempat membaca di sebuah majalah yang kau corat coret. Katakan padaku siapa?" balas Patrick mengelus wajah istrinya.
"Zena! Dari pahlawan perang Xena, kau tahu kan, Pat?" jawab Zhavia sedikit mendongakan kepalanya.
"Nah, Z biarkan dari namamu kan?" gumam Patrick menerka hal yang benar.
"Yes, kau memang pintar! Tidak salah kau memiliki bakat, Pat!"
"Lalu?"
"Patricia? Begitu manis dan menjelaskan kalau dia adalah anakmu!" kata Zhavia memutuskan nama anaknya.
"Beautiful! Patricia Zena Lil Kwan, bagaimana?"
"Terimakasih Pat, kau menyetujui nama yang kuinginkan," ucap Zhavia kembali menyandarkan kepalanya di dada Patrick.
"Asal kau senang aku akan menyetujuinya Zhavia sayang," balas Patrick membelai lengan Zhavia.
Zhavia makin mengeratkan pelukannya pada Patrick. Patrick juga memeluknya. Mereka semakin mesra walau keesokannya Patrick kembali harus mengawasi proyek .
...
__ADS_1
Hari ini Patrick merasa harus beristirahat. Gedung sekolahnya sudah sembilan puluh persen jadi. Hanya tinggal atap dan beberapa dinding yang perlu di cat. Patrick juga sudah mencari beberapa guru yang harus ia sediakan untuk gedung sekolah musik nya.
"Sudah seharusnya kau beristirahat sayang," kata Zhavia membelai rambut rambut Patrick.
"Ya, kau benar Zhavia. Tidur di atas pahamu saja rasanya sudah membuatku tenang apalagi merasakan tendangan Zena yang terus menerus seperti ini," saut Patrick merasakan getaran pada perut Zhavia.
"Dia senang akhirnya kau memiliki waktu untuk mengajaknya bicara," gumam Zhavia.
"Setiap malam aku mengajaknya bicara, kau saja sudah tidur. Tapi, Zhavia apa dia tidak lapar? Biasanya dia menendang seperti ini karna kau atau dia lapar," selidik Patrick seperti yang sudah sudah.
"Aku ingin makan buah Pat," seru Zhavia.
"Aku akan memotongkan untukmu," kata Patrick hendak beranjak dari rebahan nya.
"No! Biar aku saja! Kau tidurlah. Aku baik baik saja," Zhavia menahan. dia harus memberikan waktu Patrick untuk beristirahat.
"Kau yakin?"
Zhavia mengangguk lalu beranjak dari tempat tidurnya. Patrick langsung tertidur sementara Zhavia menuju ke dapur. Dia mengambil beberapa buah pir, apel dan anggur di kulkas. Dia menuju ke pantry untuk mengupas pir dan apel menjadi potongan potongan kecil. Dia akan menikmatinya di depan tv. Namun, belum saja selesai Zhavia malah memakannya setiap memotongnya. Karena Sangkin semangat, jarinya sampai tergores pisau.
"Aw! Mengapa aku seceroboh ini? Seperti hendak terjadi sesuatu," gumam Zhavia membersihkan darah yang agak keluar walau tidak begitu banyak. Zhavia membalutnya dengan plester terlebih dulu setelah itu dia melanjutkan memotong buah apel.
Benar saja firasat Zhavia. Padahal dia sudah memastikan berkali kali pada Zefanya, apakah ada rencana ke Honolulu atau tidak. Tapi memang bodohnya Zhavia percaya begitu saja karena Zefanya hendak membuat kejutan.
"Zhavia! Ada apa dengan perutmu hah?" Teriak Zefanya membuka pintu apartemennya. Apartemen ini memang miliki Zefanya jadi dia bisa meminta kunci cadangan pada resepsionis.
"Karena aku hamil!" Saut Zhavia tidak sadar dan langsung terbatuk.
(Bisa di lihat di bagian Ezekhiel & Zefanya part 17 season 2 ya)
"Patrick! Kau sudah menghubungi Hoshi atau belum?" Kata Zhavia lagi yang sudah siap pergi dari apartemen tersebut. Dia tidak mau terlihat Zefanya masih berkeliaran di apartemennya karena kembarannya itu pasti akan mengejeknya.
"Biarkan aku tidur dulu sebentar, Via," saut Patrick yang memang tidak ingin pindah.
"Tidak! Aku tahu kau sengaja menunda agar kita tidak jadi pindah kan?!" decak Zhavia mengetahui sikap suaminya.
"Kita pindah bukan hanya membawa raga dan koper Via, banyak furniture yang harus dibawah. Lagipula apartemen ini sudah menjadi hakku!" ujar Patrick mengingatkan.
"Jual saja pada siapapun! Kita bisa tinggal di mansionmu! Aku mau asal tidak di sini!" balas Zhavia tetap pada keinginannya.
"Tidak bisa kah kau menjernihkan pikiranmu dulu Zhavia? Jangan lupa kau sedang mengandung!" kata Patrick lagi meraih pergelangan tangan istrinya.
"Aku tahu, kalau kau mengerti tolong kita pergi dari sini, Patrick!" rengek Zhavia lagi dan lagi.
Akhirnya Patrick tak kuat mendengar ocehan Zhavia. Dia mencoba beranjak tapi tak ketika dia hendak mencari ponselnya, pintu bel apartemennya berbunyi.
"Nah Zhavia, mungkin itu Zefanya dan Tuan Ezekhiel yang kembali hendak bicara pada kita. Biar aku membukanya ya?" kata Patrick menerka.
"Mustahil!"
Patrick segera menuju ke pintu dan membukanya. Patrick terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka kalau secara khusus Claudia dan Egnor datang.
"Aunty, Uncle?" panggil Patrick.
__ADS_1
"Ya kami? Ada apa dengan kalian? Apa kalian baru saj membuat sebuah prahara?" selidik Egnor menangkap kepanikan dalam wajah Patrick.
"Zhavia Uncle," Patrick membela dirinya.
"Memang kau belum menasihatinya?" terka Egnor yang merasa ini kesalahan mereka.
"Sampai berbusa Uncle," saut Patrick benar adanya.
"Sayang, bisakah kita membicarakannya di dalam?" Bisik Claudia yang merasa suaminya sudah agak emosi karena respon Zefanya pada mereka. Egnor seperti melimpahi semua kesalahan pada Patrick.
Egnor memutar bola matanya malas dan memasuki apartemen sebelum Patrick menyuruh masuk.
"Heeemm, maafkan Pat, permisi selamat malam," ucap Claudia yang merasa arogansi suaminya.
"Tidak apa apa aunty. Silahkan masuk," balas Patrick.
Egnor dan Claudia pun duduk di satu sofa menunggu Zhavia keluar dari kamar. Zhavia tampak rapi dan langsung duduk di hadapan paman dan bibinya dengan kepala menunduk. Sementara Patrick mengganti pakaiannya terlebih dulu. Agak kurang sopan dengan kaos putih dan celana piyama.
"Kau yang salah, Zhavia!"
"Sebenarnya tidak ada yang salah!"
Egnor dan Claudia berkata bersamaan. Dan mereka saling berpandangan.
"Aku tahu, aku yang salah, tapi dia tidak perlu semarah itu apalagi mengata ngataiku, Uncle, Aunty!" sungut Zhavia membela diri.
"Sekarang begini, kau bertukar peran di pihak Zefanya. Apa yang akan kau rasakan? Ketika semua orang mengetahuinya tapi saudara kembarmu sendiri tidak mengetahuinya!" tutur Egnor bicara hal yang rasional.
"Sayang, Zhavia sedang mengandung, tenanglah!" sela Claudia menyentuh punggung tangan istrinya.
Zhavia masih menunduk dan akhirnya Patrick datang menemani juga merangkul istrinya itu.
"Kau beri dia pengertian. Aku merasakan bagaimana menjadi Zefanya!" perintah Egnor.
"Clau, maksud uncle mu, bagaimana jika suatu saat Zefanya menyembunyikan hal yang sangat rahasia tetapi diketahui semua anggota keluargamu? Kalian ini bagaikan baju dan celana. Mungkin ada yang berkata padamu. Kami sedih Zhavia ketika kalian harus bertengkar. Apa kau tidak memikirkan perasaan Zefanya? Aku minta maaf mengatakan ini, sudah dia belum hamil dan mengetahui kalau saudara kembarnya sudah mendahuluinya walah kau tidak sengaja. Apa tidak nelangsa dirinya? Aku hanya mengajakmu bicara realistis," tambah Claudia menjelaskan maksud suaminya.
"Sudah berapa kali aku mengingatkan mu Via sayang? Apa saja yang dilandaskan dengan kebohongan akan menjadi pertentangan yang tiada akhir!" kata Egnor lagi mengingatkan.
"Maafkan aku Uncle, Aunty. Aku akan memikirkan untuk meminta maaf pada Anya," ujar Zhavia melemah.
"Jangan hanya dipikirkan tapi dijalankan!"
Zhavia mengangguk dan meneteskan air matanya. Di satu sisi dia sedih dan menyesal karena bertengkar dengan Zefanya. Di satu sisi dia jadi merindukan ayah dan ibunya. Dia tidak marah Egnor dan Claudia menasihati dan memarahinya. Dia malah merindukan ketika Viena memberinya nasihat. Dion memang tidak pernah memberinya nasihat karena Dion sangat menghargai setiap keputusan anak anak perempuannya. Namun, karena melihat perhatian paman dan bibinya dia semakin yakin kalau dia tidak sendiri dan masih banyak orang yang memperhatikannya. Dan juga mungkin Zefanya.
"Kau jangan berburuk sangka Zhavia, aku yakin Zefanya tidak akan bersedih seperti yang kau pikirkan. Mungkin dia akan kecewa, mungkin. Tapi bukan padamu, dia kecewa pada dirinya sendiri karena belum hamil. Setelah itu siapa tahu dia malah akan memberikanmu perhatian yang luar biasa karena anak yang kandung merupakan keponakannya. Hanya itu yang ingin kujelaskan! Aku memiliki anak kembar, jadi aku tahu bagaimana setiap pribadinya," kata Claudia lagi menjelaskan maksud pamannya.
"Ya aunty. Sekarang dia sudah mengetahuinya. Aku akan mencari cara meminta maaf padanya," kata Zhavia baru hanya berkata kata. Memang sebenarnya hatinya perih harus terjadi seperti ini. Dia mencoba mendalami dan meresapi apa yang dimaksud paman dan bibinya.
Setelah itu Egnor dan Claudia makan malam di sana. karena kedatangan Egnor dan Claudia, Zhavia pun mengurungkan niatnya untuk pindah dan akan memikirkannya lagi.
...
bersambung next part 5
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕💕