Mantan Terindah

Mantan Terindah
Akhirnya


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Semalam utuh Nadia dan Gani tak bisa tidur. Mereka saling berbagi kisah. Berbagi cerita mereka. Saling mendukung. Saling mendoakan yang terbaik untuk masing-masing.


"Ini udah hampir pagi, Gan. Tidurlah. Bukankah kamu mau ke Jakarta nanti," ucap Nadia, memperingatkan.


"Iya, Nad. Kamu juga. Makasih udah mau dengerin curahan hatiku. Aku harap kamu nggak bosen dengernya," ucap Gani sembari tersenyum manis.


"Nggak, Gan. Tenang aja. Kalo kamu butuh temen buat ngobrol, cari aja aku," ucap Nadia.


"Aku nggak salah kan, Nad. Kalo aku batalin pernikahan ini. Kelakuan dia kek gitu, Nad. Dia nggak jujur. Aku nggak bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang nggak jujur, Nad," ucap Gani lagi.


"Soal keputusan itu, aku nggak mau ikut campur. Itu adalah ranah pribadimu. Sebaiknya kamu pun harus berkomunikasi dengan ibu dan ayahmu dulu. Minta pendapat mereka. Jangan buru-buru. Belum lagi mereka juga happy banget kan, kamu mau merried. Yang artinya kekhawatiran untuk anak lajangnya ini udah berakhir. Pokoknya intinya kamu datang ke orang tuanmu dululah. Baru kamu ambil keputusan," jawab Nadia mengingatkan.


"Kamu bener, Nad. Kau mesti ngomongin ini ke mama papa dulu. Aku tahu mereka pasti kecewa. Tetapi, alangkah baiknya kalo mereka kecewa sekarang dari pada nanti, Nad. Makasih atas sarannya," ucap Gani.


Nadia mengangguk sembari tersenyum senang.


"Ya udah, kamu ke ranjang gi. Biar aku Yang tidur sofa," ucap Gani.


"Kamu aja yang ke ranjang. Aku nyaman di sini, Gan. Kalo bangun bisa langsung pegangan sisi sofa. Kalo di ranjang mesti ngguling dulu," jawab Nadia sembari terkekeh.


"Oh, ya udah kalo gitu. Aku tidur ya Nad."


"Yap! Semoga nyenyak, Gan!"


"Makasih, Nad. Untukmu pun!" balas Gani lagi. Lalu mereka pun berpisah tempat. Gani naik ke ranjang, sedangkan Nadia berbaring di sofa.


Nadia belum bisa memejamkan mata. Sungguh, ia tak tega melihat Gani menderita seperti itu.


Rasa kasihan mulai menjalar di dalam lubuk hatinya gadis ini. Sebenarnya ia tak rela, Gani diperlakukan seperti itu. Ia tak rela jika pria pemilik hatinya itu ternyata ditipu.


Namun, Nadia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan ranahnya untuk ikut campur.


Di pihak Gani, pria itu juga tak bisa memejamkan mata. Kali ini bukan karena penghianatan dan kebohongan yang dilakukan oleh Mariska. Melainkan cara Nadia menghadapi dirinya.


Gadis itu begitu pandai menghadapinya. Tak sedikitpun ia takut lalu meninggalkan. Justru ia malah tetap stay di tempat. Menenangkannya bahkan mendengarkannya tanpa protes sedikitpun.


Gani mengingat kembali apa yang mereka bicarakan. Ia tersenyum sendiri. Sebab ia belum pernah seterbuka ini dengan seseorang yang terhitung baru ia kenal.


Mereka terlihat saling bisa menerima kisah masing-masing.


Dari masa lalu hingga percintaan mereka juga tak luput dari pembahasan. Gani terlihat begitu bersemangat menceritakan perjalanan hidupnya sampai ketika ia bertemu dengan Juan dan dipercaya menjadi asisten pribadi pria itu.


Gani yang memiliki kejujuran dan sopan santun yang tinggi, membuat Juan jatuh cinta dan mempercayakan posisi itu kepadanya.


Kedua orang tua Gani pun tak luput dari perhatian Juan. Pria baik hati itu selalu mengingatkannya untuk menyisihkan sebagian rezekinya untuk kedua orang tuanya. Karena mau bagaimanapun, mereka sudah banyak berkorban untuknya.


Hari hampir pagi. Kantuk mulai menyerang keduanya. Tak lama berselang, akhirnya mereka pun terlelap.


***


Sesuai janjinya pada Zizi untuk datang ke acara perayaan kelahiran putra putrinya, Vita pun segera bersiap.

__ADS_1


Menyiapkan baju terbaik miliknya dan ia padu padan kan dengan apa yang akan di kenakan sang suami.


Vita yang belum lama selesai mandi, tentu saja aromanya memancing seorang predator cinta yang saat ini mulai menggeliat dia tas tempat tidur.


Pelan namun pasti predator tampan itu pun membuka matanya.


"Harum sekali... ini masih pagi, kenapa dia udah mandi? Mancing ni," gumam Bima.


Tak ingin ketinggalan kereta, Bima pun langsung meloncat dan masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan muka dan juga menggosok gigi.


Beberapa kali ia terlihat tersenyum licik. Seperti sedang merencanakan sesuatu. Dan benar saja, setelah selesai membersihkan diri. Ia pun langsung menyusul sang istri ke dalam ruang ganti yang ada di kamarnya.


Benar saja, sang istri memang habis mandi. Bahkan ia masih memakai kimono dan menggulung rambutnya yang basah dengan handuk.


"Lagi ngapain?" tanya Bima.


"Eh, Mas Bim. Morning," balas Vita, sedikit memberi sang suami senyum. Lalu ia pun memfokuskan dirinya dengan baju-baju yang ada di depannya.


Bima tersenyum licik, sebab apa yang ada di pikirannya pun tak kalah licik.


Tanpa aba-aba, ia pun langsung memeluk sang istri dari belakang dan memaksa wanita itu memberikan bibirnya.


"Morning juga, Honey. Kamu wangi sekali," ucap Bima, merayu.


"Makasih, Sayang. Kamu juga wangi. Hari ini kita mau bertamu ke rumah kak Zi. Mau pakek baju apa? Aku jadi bingung sama baju kamu, Yang. Masak putih semua. Nggak ada warna lain kah?" tanya Vita cemberut.


"Soal baju pikirkan nanti, yang penting kita tunaikan dulu tugas kita," bisik Bima mesra.


Tak ayal, mata Vita langsung terbelalak. Tak percaya dengan bisikan yang ia dengar barusan. Pelan namun sukses membuatnya merinding.


Malu tapi mau, Vita pun membalas ajakan mesra itu dengan senyum termanis nya.


Bahkan ketika Bima meminta bibirnya pun ia langsung memberikannya dengan suka rela.


Bima berhasil.


Pelan namun pasti, Bima pun mulai menuntun sang istri melangkah masuk ke dalam kamar mereka, tanpa melepas pangutan yang kini masih mereka nikmati.


Tangan Bima mulai nakal. Melepas satu persatu kain yang menutupi keinginan ga.


Makin lama aksi mereka semakin panas, menggairahkan dan tak ingin mereka sudahi.


Vita mencakar punggung sang suami, ketika Bima memaksa menyatukan raga mereka.


Terlihat setitik air mata keluar dari mata indah wanita cantik itu. Namun, Bima tak mau menyerah. Ia terus melanjutkan misinya. Menumpahkan benih ketampanannya di tempat yang seharusnya.


Tak lama kemudian, semuanya pun berakhir. Bima mengecup kening sang istri. Pertanda kemenangan telah ia dapatkan. Bima puas. Bima bahagia. Karena pada akhirnya dia menang.


Menang melawan ego dan membuktikan pada dunia bahwa dia bisa menjadikan seorang Vita menjadi istri lahir batinnya.


Bersambung...


Hay hay geng🥰🥰🥰 Terima kasih atas kesetiaan kalian pada novel emak satu ini.. Jangan lupa tinggalkan like komen n Vote kalian... maaciiw 🥰🥰🥰

__ADS_1


Cus sambil nunggu update, kalian bisa kepoin karya temen emak yang satu ini..


Stay tune😘😘


*SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI*


Cuplikan Di Bab : Ijab qobul.


"Ananda Muhammad Azzam Ramadhan bin Hendrawan Azram?" panggil Ayah Naisha.


"Iya pak!"


"Saya Nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Naisha Arizmah Azzifa dengan maskawin berupa Alat sholat serta cincin berlian di bayar tunai.."


Azzam langsung menyambutnya dan dengan satu tarikan napas


"Saya terima nikah dan kawinnya Naisah Arizmah Azzifa binti Faisal Basri dengan mas kawin tersebut tunai "


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulunya.


"Sah!"


"Sah!" sambut mereka serentak..


Dan langsung di lanjutkan dengan doa. yang di bacakan oleh penghulunya.


sementara di balik tirai.


Naisha yang duduk di dampingi bunda dan sahabatnya ikut mendengar Azzam berijab dan saat mendengar kata sah, membuat jantung berdetak kencang. mendengar penghulu berdoa ia pun ikut berdoa


"Selamat Nai Akhirnya status mu berubah Barakallahu lakum wabaraka Alaikum.." ujar Imah gendut.


" Aamiin Syukron imah" ucap Naisah tulus.


Yaa mulai sekarang ia sudah berstatus seorang istri dan ia hanya bisa berharap, semoga ia bisa menjalani kehidupannya yang baru dengan tulus dan ikhlas dan berharap keluarga barunya kelak menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.


Setelah sesi berdoa selesai, penghulu pun meminta agar pengatin Wanita dikeluarkan.


untuk menyaksikan pra janji pernikahan yang akan di bacakan oleh pengantin pria


karena pengatin Wanita sudah di panggil.


Imah gendut yang berpakaian senada dengan Naisha pun ikut menuntun Naisha, keluar untuk di pertemukan pada suaminya, mereka berjalan perlahan dengan Naisha yang menundukkan wajahnya, karena malu


Azzam langsung kaget saat melihat mereka berdua, begitu juga Frans.


"sudah ku duga bahwa dialah Imah si gendut itu" batin Azzam, saat melihat wanita gendut yang di sebelah Naisah.


Tak berapa lama mereka berdua sampai di hadapan Azzam namun belum sempat Naisah duduk tiba-tiba Azzam buka suara.


"Sesuai persyaratan Pah, pak.. saya akan langsung membawa istri saya!" ujar Azzam yang langsung menarik tangan Irma sahabat baik Naisha dan ia berjalan dengan cepat, menuju pintu mesjid.


Mereka yang menyaksikan Azzam menarik Irama hanya tercengang heran termasuk Naisha hanya diam terpaku. Saat melihat suaminya menarik sahabatnya gendutnya itu.

__ADS_1



__ADS_2