
Assalamua'laikum wr wb.
Dengan segala kerendahan hati, Saya dan keluarga "Mantan Terindah" mengucapkan :
*Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H.*
ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻣِﻨَّﺎ ﻭَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﻤَﻨَﺎ ﻭَ ﺻِﻴَﻤَﻜُﻢْ ﻛُﻞُّ ﻋَﺎﻡٍ ﻭَ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺑِﺨَﻴْﺮ *Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa siyamakum, kullu 'aamin wa antum bi khair..*
*Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir & Batin*
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. آمــــــــــــــين.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
Salam Sayang dan Cinta penulis novel ini🥰🥰🥰
Rini Sya 😘😘😘
****
Di sebuah rumah sederhana, terlihat beberapa orang modar mandir memasang tenda berwarna biru tua kombinasi putih tulang. Beberapa bunga juga menjadi hiasan di setiap sudut ruangan. Sangat manis dan kontras, sesuai keinginan mempelai wanita.
"Gimana? Sudah siap semua?" tanya seorang pria yang di ketahui adalah salah satu keluarga calon mempelai wanita.
"Sampun Pakde, tinggal masang lampunya saja. Tempat untuk sikum (tempat untuk ijab qabul) juga sudah ready," jawab salah seorang pria yang dipercaya untuk mendekor tempat pelaksanaan ijab qabul antara Gani dan Nadia.
"Oke oke, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun ya. Soalnya yang dateng ke pernikahan ini kebanyakan orang besar. Nanti kita bisa malu. Pokoknya saya percayakan semua sama kalian." Pria paruh baya itu tersenyum.
"Siap, Pakde. Aman!" jawab Petugas itu lagi.
"Oke, bagus. Ini tukang rias nya kapan datang?" tanya pria itu lagi.
"Sudah datang Pakde, sudah masuk tempat rias. Semua keperluan juga sudah siap. Termasuk katering!" jawab petugas itu lagi.
"Bagus! Ya sudah kalo begitu. Aku lihat persiapan yang lain. Semoga ngga ada yang kurang."
Mereka berdua saling melempar senyum. Lalu, pria yang diketahui sebagai keluarga Nadia itu pun kembali berkeliling. Memastikan bahwa persiapan sudah sesuai prosedur. Sebab ini adalah tanggung jawabnya, karena Nadia telah kepercayaan semua kepadanya. Sebagai wakil keluarga inti tentunya.
***
Tepat pukul setengah empat sore, seluruh tamu sudah berdatangan. Temasuk Gani, sebagai mempelai pria.
Di samping Gani ada kedua orang tuanya. Lalu tepat di belakang pria tampan itu ada Bima, Zein dan juga Juan.
__ADS_1
Dari daftar keempat pria yang ada di dalam cerita ini, rasanya hanya Gani yang pernikahannya sempurna. Real tanpa rahasia. Apa lagi paksaan. Sehingga aura kebahagiaan juga terpancar dari wajah mempelai, pihak keluarga, dan juga para tamu yang datang.
"Jangan gugup, Gan. Kan ntar malem udah boleh buka segel," canda Zein. Bima dan Juan pun terkekeh.
"Aduh, jangan gitu, Pak. Rasanya jantungku mau lepas ini," jawab Gani.
"Enak, Gan. Tenang aja. Joss pokoke." Bima tak mau kalah.
Wajah Gani bersemu merah, karena malu.
"Rasanya nggak bisa diungkapin pakek kata-kata, Gan. Sangking enaknya," tambah Juan.
"Astaghfirullah ya Allah! Ampuni saya," ucap Gani seraya mengelus dadanya. Sebab ketiga pria itu terus saja membombardir dirinya dengan candaan-candaan mesum yang mendebarkan hati
"Hilih, sekarang sok alim. Nanti udah tahu rasanya juga bakalan ngeres kek kita," ucap Zein.
"Yang jelas, and udah pasti, dia bakalan minta nambah cuti, Bang. Males keluar kamar pastinya," tambah Bima.
"Jangan, Gan. Bisa dicekik ibu bosmu aku. Kamu kan udah tahu, aku suruh santai-santai," larang Juan.
Gani hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya ketiga pria yang akan menjadi saksi pernikahan mereka ini memang sengaja ingin membuat harga dirinya melambung tinggi.
"Aduh, Bos. Doakan aku nggak salah ngucap ijab qabul nya, ini malah di bikin tambah grogi. Ya Allah, gimana ini?" canda Gani, gugup.
Tepat pukul empat sore, sesuai waktu yang telah dijadwalkan, Gani pun bersiap duduk di depan penghulu dan juga Nurman, yang bertugas menjadi wali nikah untuk Nadia.
Beberapa menit kemudian, Nadia diapit oleh Zizi dan juga bude dari gadis tersebut. Membawanya melangkah menuju pria yang sebentar lagi akan menjadi imamnya.
Baik Gani maupun Nadia, mereka terlihat sangat gugup. Bahkan lebih gugup dari ketika mereka belum bertemu.
Gani tersenyum malu, begitupun Nadia.
"Assalamu'alaikum.. hay," sapa Nadia, lirih.
"Waalaikum salam, kamu cantik," balas Gani, melirik manja pada calon istrinya itu. Namun, tak dipungkiri bahwa saat ini senyum itu tetap mengisyaratkan rasa malu yang kini menderanya.
Semua persyaratan pernikahan sudah lengkap. Kini tinggalah Nurman melaksanakan kewajibannya sebagai wali nikah kakak kandungnya itu. Gani menjabat tangan Nurman. Lalu, proses ijab qobul itu pun dimulai.
Tepuk tangan meriah dan teriakan kata 'sah' mengiringi prosesi akad nikah tersebut. Doa tulus dan senyuman terikhlas untuk kedua mempelai juga mengembangkan sempurna.
Gani tersenyum begitupun Nadia. Meski masih malu-malu, mereka tetap melanjutkan segala prosesi yang telah di dusun untuk mereka.
"Alhamdulillah, akhirnya sah juga," canda Zein ketika memberikan selamat pada kedua mempelai.
__ADS_1
"Makasih, Pak. Makasih untuk kehadiran dan doanya," jawab Gani.
"Siap, yang penting dijagain, dia udah di amanah kan sama kamu. Pokoknya susah senang jalani berdua. Samawa til jannah ya," ucap Zein lagi. Lalu mereka pun berpelukan.
Giliran Juan, diikuti keluarga besarnya. Ia dan juga keluarga besarnya juga melantunkan doa yang sama untuk Gani dan juga Nadia. Tetap rukun sampai kakek nenek. Hingga maut memisahkan.
Happy wedding Nadia dan Gani. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai ke Jannah-Nya Allah. Aamiin..
Bersambung...
Sambil nunggu emak update, kalian bisa kepoin karya bestie emak yes🥰🥰🥰
Judul: perjalanan mistis si kembar
penulis: Meidina
Eps14 (mengenali bau).
dari sebrang jalan rumah mereka, ada mahluk yang menyeringai karena panggilan dari Faraz.
sosoknya yang begitu seram dengan wajah penuh berbelatung, dan begitu banyak borok di lengan, tubuh dan wajahnya.
bahkan rambut hitam panjang yang acak-acakan, panjangnya sampai menyentuh tanah.
pay*d*r* yang menggelantung sampai sepaha, mahluk itu adalah Wewe gombel yang sering menculik anak-anak.
"errg..." suara mahluk itu yang tak bisa mendekat.
sedang dari dalam rumah, Arkan berdiri di depan pintu dan bisa melihat sosok seram itu sedang melihatnya.
Aryan meminta semua mengambil air wudhu untuk sholat dan Arkan akan berjaga terlebih dahulu.
"idih... Nini Wewe, ngapain di situ masih Magrib woi, mending minggir we," kata pocong yang selalu mengikuti Raka.
"diam..." suara Geraman itu terdengar menakutkan.
"jadi hantu jangan goblok ya, kamu gak akan bisa masuk, orang itu ada pagar ghaib, dan di dalam rumah itu bukan anak yang bisa kamu ganggu, jika tak ingin mati konyol, ha-ha-ha-ha," ledek pocong gosong itu.
"kamu saja yang pergi, aku ingin membawa mereka," kata Wewe gombel itu dengan marah.
tapi baru juga menabrak pagar gaib tangan mahluk itu terbakar, pocong itu pun tertawa melihat tingkah wewe gombel bodoh itu.
__ADS_1