
Vita membantu sang suami bersiap. Sesekali ia tersenyum, bahkan hampir tertawa. Membuat Mas Bima semakin kesal.
"Nggak lucu, Dek, ahhh... " Bima menekuk wajahnya.
"Ih, sabar. Masak gitu aja mrengut. Biar keselnya ilang, ayuk Vita temenin," ucap wanita cantik ini.
"Bener?" tanya Bima langsung tersenyum senang.
"He em, ayuk jangan lama-lama. Kasihan pasiennya nungguin," ucap Vita lembut. Namun demikian, ucapan tersebut serasa memberikan amunisi tersendiri bagi dokter tampan ini.
Jiwa patriotismenya langsung bangkit seketika. Hatinya serasa berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Ia ingin seluruh dunia tahu bahwa kini dia telah memiliki belahan jiwa yang sangat cantik dan baik hati. Ia ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa ia baik-baik saja dan dalam keadaan bahagia.
Bima mengambil jaket kemudian ia pun berlari karena memang mengejar waktu.
Sedangkan Vita, ia sendiri pun ikutan berlari karena tak mau merepotkan sang suami.
Vita harus tetap menjaga mood sang suami. Agar ketika menangani pasiennya nanti, beliau bisa bekerja optimal.
***
Keesokan harinya ...
Semenjak menjalani pengobatan di Batam, Nadia jarang sekali memberi kabar pada sang sahabat. Sebenarnya bukan sombong, tetapi Nadia lebih kurang nyaman jika ingin berlama-lama ngobrol dengan Zizi, mengingat saat ini wanita itu lebih sibuk dari biasanya karena harus mengurus dua baby kecil sekaligus satu baby besar yang tak kalah manja.
Jenuh melanda, apa lagi sekarang hubungannya dengan Gani agak renggang. Sebab Gani menyadari bahwa ternyata dirinya menaruh harap lebih pada hubungan mereka.
Ingin menghindari titik memalukan ini, Nadia pun berniat pergi untuk menghindari perasaan yang nyatanya alah menghancurkan hubungannya dengan pria yang telah berbaik hati merawat dan menjaganya.
Dalam lamunan yang menghadirkan ingin yang sepi itu, Nadia di kejutkan dengan bunti dering ponsel yang ada di sampingnya.
Gadis cantik yang berprofesi sebagai perawat ini pun langsung tersenyum manis. Sebab yang menghubunginya adalah sang sahabat.
"Hay, Zi... senangnya. Aku ingin telpon tapi takut ngeganggu," ucap Nadia jujur.
__ADS_1
"Ngeganggu apa, nggaklah. Oiya, kamu lagi ngapain? Aku rindu sama kamu, Nad. Kirain kamu lupa sama aku," terdengar suara tawa lirih Zizi.
"Mana mungkin aku lupa sama kamu dan bang Zein, Zi. Kalian udah kasih aku makan selama aku nggak kerja. Aku sedang galau, Zi. Help me pleaseee...." pinta Nadia, kocak seperti biasa. Namun kali ini dia serius.
"Galau kenapa? Kamu ada masalah?" tanya Zizi, khawatir.
"Ya ... gimana ya, Zi, enaknya. Aku bingung ngomongnya."
"Emang ada apa sih, Neng. Coba cerita yang bener."
"Aku stres, Zi. Jika boleh aku ingin sembunyi. Ke dasar laut kalo boleh," ucap Nadia, sedikit tertahan. Karena saat ini ia memang sedang menahan air matanya, agar jangan sampai menetes keluar.
"Tunggu dulu, Nad. Kamu stres kenapa? Apakah ini menyangkut adik-adikmu?" tanya Zizi, bingung.
"Bukan. Ini bukan soal mereka, Zi."
"Terus!"
"Ini soal perasaanku. Aku sendiri nggak habis pikir. Kenapa aku bisa bodoh begini?" ucap Nadia sedih.
"Kamu tau aku kan, Zi. Selama ini aku selalu berhasil membentengi diriku agar tidak jatuh cinta pada lawan jenis selain sana mantan tunangan. Tetapi ... sekarang ... aku gagal, Zi. Aku jatuh cinta dan aku tersiksa," ucap Nadia, jujur. Namun, di tengah-tengah kejujurannya, tangisnya pun pecah karena cinta yang ia rasakan malah menjadi penghancur hubungannya dengan satu-satunya teman sekaligus sahabatnya di kota ini.
Di seberang sana, Zizi diam sesaat. Memberi kesempatan pada Nadia untuk meluapkan segala rasa sesak yang menderanya saat ini.
Zizi memang belum paham dengan maksud 'Jatuh Cinta' menurut versi sang sahabat. Tetapi, jika boleh menebak, Zizi yakin jika Nadia sedang jatuh cinta pada orang yang salah.
"Nad... kamu oke?" tanya Zizi, sesaat setelah tangis Nadia mereka.
"Ya... "
"Apakah si dia tahu kalo kamu suka sama dia?" pancing Zizi, Hati-hati.
"Ya... "
__ADS_1
"Apakah pria yang kamu cintai ini suami orang atau pacar orang, mungkin?"
"Ya, begitulah Zi. Makanya aku malu. Malu pada semuanya, Zi. Aku juga benci. Benci pada diriku sendiri. Kenapa begitu buta? Kenapa begitu bodoh?" ucapnya.
"Sabar, Zi. Ini adalah ujian. Yang penting kamu tetap ingat, bahwa sesuatu yang kita dapatkan dari merebut, tidak akan bertahan lama. Percayalah!" ucap Zizi menasehati.
"Ya, itu sebabnya aku ingin menghilang saja. Rasanya aku nggak sanggup ketemu dia lagi, Zi. Aku takut, semakin aku sering ketemu sama dia, rasa sukaku sama dia malah semakin dalam," ucap Nadia, jujur.
"Terus gimana keadaanmu sekarang, Nad. Apakah kamu udah bisa jalan?" tanya Zizi
"Udah bisa, Zi. Aku udah nggak pakek kirsi roda lagi. Udah mendingan lah. Udah bisa berangkat kontrol dan terapi sendiri," jawab Nadia.
"Syukurlah kalo begitu. Eh, kok berangkat terapi sendiri. Terus pria yang harusnya bertanggungjawab ke mana?" tanya Zizi.
Nadia diam sesaat. Seakan sedang menguatkan perasaannya untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi Zi sudah tak sabar. Lalu ia pun kembali melontarkan pertanyaannya.
"Nad! Apakah pria itu adalah dia?" tanya Zizi.
"Ya... "
"Tapi setahuku, bukankah pria itu belum menikah?" tanya Zizi heran.
"Memang belum, Zi, tapi sebentar lagi. Seminggu yang lalu dia lamaran. Makanya setelah tahu aku ada hati sama dia, dia pun menjauhiku. Aku tidak menyalahkannya, Zi. Tapi aku benci diriku sendiri," ucap Nadia, lagi-lagi dengan kejujurannya sebagai seorang wanita.
"Nad, bersabarlah sekali lagi. Aku tahu ini sakit. Tapi, mau gimana? Aku pun tak bisa menyarankanmu untuk meraihnya. Tetapi aku akan mendukungmu jika kamu berbesar hati untuk meninggalkan kota itu. Demi dia dan demi dirimu sendiri," ucap Zizi dewasa.
"Aku pun ingin demikian, Zi. Apa sebaiknya aku pulang kampung saja. Memulai hidup baru di sana?" tanya Nadia, meminta pendapat sang sahabat.
"Kamu yakin? Bagaimana jika Dika kembali datang dan mencarimu?" tanya Zizi.
"Lebih baik aku berdebat dengan pria itu dibanding harus menahan patah hati seperti ini, Zi. Rasanya jauh menyakitkan dibanding ditinggal nikah sama Dika. Padahal, aku sama dia kan nggak mengikat sebuah hubungan. Hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi cinta ini membuatku rapuh, Zi. Bukan hanya pertunangannya tetapi karena cinta tak berbalas." Suara Nadia melemah, seakan hatinya benar-benar rapuh.
"Sabar ya, Nad. Semoga ini adalah patah hatimu yang terakhir." Zizi ikut bersedih.
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Zizi bingung, tak tahu harus bagaimana ia menghibur sang sahabat. Sedangkan Nadia sendiri juga masih tenggelam dalam luka patah hati. Ia sendiri juga binggung bagaimana caranya membujuk hatinya agar jangan meminta pria itu untuk bersamanya.
Bersambung...