
Katanya kalau jodoh itu tidak akan lari kemana pun. Sejauh mata memandang dan seluas laut membentang kalau sudah ditakdirkan akan kembali dengan sendirinya. Setelah memastikan hubungan Allegra dan ibunya akan membaik, Morgan harus kembali menjalani kehidupannya. Namun, apakah Morgan bisa kerasan dengan kehidupannya di Legacy setelah mendalami isi hati Allegra? Dan bagaimana Allegra menanggapi seorang Morgan?
...
Angel benar benar tersentak dengan apa yang dikatakan oleh anak keduanya. Seakan akan Angel menganggap Allegra adalah anak tiri dan dia tidak memberikan kasih sayangnya pada Allegra. Allegra masih menatapnya dengan tetesan air mata yang sudah terjatuh tetapi gadis itu masih berusaha menaikan alisnya juga tersenyum. Tanpa sadar, air mata Angel juga terjatuh dan rasanya dia ingin menangis. Saat ini memang tepat untuk dirinya meminta maaf atas kesalahan yang ia pupuk selama ini.
Tanpa bicara lagi, Angel langsung memeluk anak keduanya itu. Dia tidak peduli kalau sampai Allegra menghempaskannya.
"Percayakah kau kalau aku mengatakan aku sungguh mencintaimu?" Tutur Angel mencoba menahan tangisnya.
Allegra yang sudah menangis hanya mengangguk juga mendekap ibunya. Sementara Angel berpikir untuk terus memeuk anaknya, Allegra malah tidak peduli jika ibunya terpaksa memeluknya. Akhirnya di hari ulang tahunnya yang ke 22 tahun, Allegra bisa merasakan pelukan ibunya.
"Aku tidak tahu harus seperti apa, kesalahanku sudah banyak untukmu, aku terlalu takut dan mencemaskan kakakmu tanpa memikirkan dirimu. Aku tidak menyelami hatimu dan aku tidak peduli dengan perasaanmu. Aku tidak akan memaksa dirimu untuk memaafkanku atau tidak. Namun, aku tetap harus meminta maaf padamu. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, anakku!" Pinta Angel dengan sesenggukan. Sebenarnya sudah lama sekali Angel menunggu kesempatan seperti ini tetapi dia tidak pernah mempunyai keberanian.
Dia takut Allegra juga sudah membencinya. Dia takut Allegra menolaknya. Dia tahu kesalahannya. Bukan sesuatu yang mudah yang bisa diterima oleh Allegra.
"Aku memaafkanmu mom, biar bagaimanapun kau ibuku! Kau yang melahirkanmu, bagaimana bisa aku membencimu meskipun aku sedih dan terus bertanya mengapa kau melakukan ini padaku," tutur Allegra tersedu.
"Aku, aku, aku hanya ingin kau menjadi seseorang yang kuat kalau suatu saat nanti Jessie tidak bisa melihat. Aku hanya ingin kau melindunginya di saat diriku dan daddymu pergi meninggalkan dunia ini. Aku tahu, aku menghilangkan seluruh keindahan mu mengenai seorang ibu, hanya ingin kau terbiasa jika kau menghadapi sesuatu yang lebih menyakitkan dari padaku. Aku harap kau menerima alasanku, tapi jika tidak, aku hanya bisa meminta maaf dan aku akan membuktikan padamu," kata Angel lagi dalam tangis dan penyesalannya.
"Aku tidak bisa berkata kata lagi mom, intinya aku hanya ingin perhatian, pelukan dan kasih sayang kau berikan padaku sama seperti yang kau berikan pada Kak Jessie. Hanya itu," balas Allegra masih dalam pelukan ibunya.
Prok! Prok! Prok!
Tiba tiba Jerry bertepuk tangan menyatakan bangga pada istrinya, ibu dari anak anaknya. Jerry sangat mengenal tabiat Angel. Jika tidak dipancing atau merasakannya terlebih dulu, Angel tidak mau merendahkan dirinya.
"Allegra, aku membantu ibumu untuk meminta maaf padamu, aku juga tidak bisa membuat ibumu berubah. Ternyata hanya dirimu yang bisa," kata Jerry pada anak keduanya.
"Allegra, aku juga mohon kau memaafkan mommy," tambah Jessie.
"Jessie..." panggil Angel untuk tidak berkata kata lagi.
"Sebenarnya ..."
"Jessie ..."
"Diamlah mom! Semuanya harus tahu! Allegra, aku akan memberitahukanmu sesuatu, Setiap malam mommy meminta maaf pada Tuhan agar suatu saat nanti mommy bisa menjelaskan apa yang ia lakukan padamu. Mommy lebih mencintaimu ketimbang diriku. Mommy membuat mu tegar dan kuat agar kau bisa melakukan apapun. Dia ingin membuatmu lebih sempurna untuk menebus kekurangan yang kumiliki. Namun aku juga menyadari kalau mommy terlalu jahat dan keras padamu, tapi percayalah padaku kalau mommy selalu membicarakanmu setiap hari. Aku yang bersamanya setiap hari, Allegra. Bukan Daddy atau siapapun. Hem, kalau Grandma dan Grandpa masih ada, kau bisa bertanya pada mereka. Allegra, tolong maafkan mommy, beri mommy kesempatan. Sewaktu Morgan mengatakan dirimu demam, mommy menangis di kamar bersamaku, katanya dia tidak bisa memelukmu di saat kau kesakitan," kata Jessie juga meneteskan air matanya. Xelino sudah merangkul kakak sepupunya itu. Jerry juga sudah duduk di samping Angel yang menundukan kepalanya.
Angel sedikit malu dengan semua yang sudah ia tutupi dengan rapat. Dia pikir Jessie tidak akan mengatakannya pada Allegra. Namun, Jessie juga sangat mencintai adiknya. Karena hanya Allegra yang bisa memberikan dunia bagi Jessie. Walaupun Jessie dapat mengidentifikasi bunga bunga dan merangkainya, tapi tetap Allegra yang memberi tahu warna dan keindahan dari bunga itu sendiri sehingga Jessie semakin menjiwai ketika merangkai bunga. Jessie sudah muak dengan segala kesalah pahaman ini. Dan, semua ini tidak akan terjadi tanpa campur tangan Tuan Muda Andez.
"Mom, aku memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf atau kau tidak meminta maaf, aku sudah memaafkanmu. Terimakasih atas semua doa mu mam, aku bukan apa apa tanpamu," kata Allegra memegang lengan Angel dan memcari cari wajah ibunya.
Angel sedikit mendongak dengan menautkan tangannya.
"I love you mom!" Ujar Allegra tersenyum dan mereka kembali berpelukan.
"Sebenarnya, siapa yang menyuruh kalian semua kesini? Dan mengapa kau baru sekarang datang kak?" Tanya Allegra kemudian sudah menarik dirinya dari pelukan ibunya. Dia juga melirik ke arah Xelino.
"Sejak pagi aku ingin datang tapi kata Morgan biar dia saja yang menemanimu dan aku datang bersama Bibi," jawab Xelino.
Allegra menjadi mengingat sesuatu.
"Ah iya Morgan, di mana dia?" tanya Allegra kemudian.
"Morgan sudah pulang, nak. Dia terbang pukul 9 malam nanti," kata Jerry.
"Pulang? Mengapa dia pulang, dia bahkan belum ijin denganku?" sungut Allegra sedikit kecewa dengan dirinya sendiri.
"Dia ingin ijin denganmu, tapi kau sedang bicara dengan bibi tadi di dapur," ujar Xelino menjelaskan.
"Oh Godness! Mengapa dia tidak jelas sekali sih?!" Decak Allegra dan hendak beranjak dari duduknya.
"Hey, kau mau kemana?" Tanya Angel menahan lengan Allegra.
"Aku harus menjemputnya mom, aku harus mengucapkan terimakasih padanya. Aku tahu kalau semua ini rencananya kan sehingga aku bisa bicara padamu dan semuanya terungkap mom," tutur Allegra hendak menyusul Morgan ke bandara.
"Tidak perlu. Kalian bisa saling mengirim pesan. Jika dia menyukaimu, dia akan menghubungi terlebih dulu, nak," saut Angel memberi pengertian pada Allegra.
"Hah, suka? Dia tidak akan menyukaiku, mom, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih," jelas Allegra mengoreksi.
"Entah mengapa aku yakin kalau Morgan menyukaimu, Allegra," saut Jessie tersenyum.
"Aku pun begitu, Allegra," tambah Xelino.
"Sudah, kau di sini saja. Kita tunggu saja Morgan menghubungimu. Aku yakin, dia pria baik dan pantas untukmu, Allegra," saut Angel juga. Morgan sudah berjanji dengannya akan menghubungi anaknya, oleh sebab itu Angel begitu yakin kalau pria itu menyukai anaknya.
"Ah sudahlah, orang seperti dia tidak akan menyukai dan menghubungiku," gumam Allegra menundukan kepalanya. Dia memikirkan Morgan. Dia terus bertanya tanya mengapa Morgan sampai seperti ini padanya. Allegra merasa dirinya yang lebih dulu menyukai Morgan. Kalau sudah seperti ini, mengapa dirinya merindukan Morgan padahal sejak tadi ia memarahi Morgan yang menemaninya satu harian ini.
Sekarang, Allegra hanya menunggu waktu saja, seperti yang dikatakan ibunya. Morgan akan menghubunginya lebih dulu atau tidak. Sementara mereka berdua belum pernah bertukar nomor ponsel. Allegra juga tidak akan menghubungi Morgan terlebih dulu. Bisa saja dia meminta kontak Morgan dari Xelino atau Gracia tapi sepertinya akan merendahkan dirinya. Jadi sebaiknya dia menunggu. Kalau jodoh tidak akan kemana, apalagi ketika ayahnya menceritakan kisah cinta awalnya bersama ibunya. Allegra seperti berharap Morgan juga akan melakukan hal yang sama. Namun, mereka berdua saja tidak saling memiliki nomor ponsel.
Keesokan harinya, Allegra dipaksa Angel dan Jessie untuk kembali ke desa sampai hari dimana ia bisa kembali mengurusi berkas berkas untuk program akselerasi nya. Sebenarnya dia dapat lulus sebentar lagi. Namun, kata Xelino kalau diurus mulai sekarang jika Allegra mengikuti S2, Allegra tidak perlu repot lagi. Allegra menyetujuinya dan dia masih mengharapkan Morgan menghubunginya. Dia hanya bisa memberi kode dari Gracia dengan menanyakan Gracia sendiri sampai di Legacy. Gracia pikir, Allegra sudah saling mengirim pesan dengan Morgan, jadi Gracia tidak membicarakan Morgan.
Allegra terdiam di ruang makan, dia melamun dan kembali memikirkan Morgan. Sudah keesokannya tapi Morgan belum menghubunginya. Dia kembali menatap ponsel dan lagi lagi kosong tidak ada pesan dari nomor yang belum ia simpan.
Tak lama Angel menghampirinya. Dia bingung dengan anaknya yang biasanya selalu berceloteh meskipun kemarin kemarin Angel pura pura tidak mendengar, tapi kali ini dia diam saja.
"Allegra, ada apa?" tanya Angel hendak membersihkan piring piring di wastafel.
"Kau bilang Morgan akan menghubungiku? Tapi mana mom? Dia belum juga menghubungiku," keluh Allegra tidak selera.
"Mungkin karena tidak ada signal di desa ini, Allegra," kata Angel berusaha memenangkan.
"Hem, aku sangat tidak enak padanya. Kemarin dia terus mengajakku bicara tapi aku malah marah marah dengannya." Allegra sedikit menyesal.
"Kau merindukannya?" selidik Angel menghampiri Allegra.
"Iya, eh bukan mom, maksudku aku mau mengucapkan terimakasih padanya. Karena dia sekarang kita bisa bercakap cakap seperti ini," tutur Allegra tersipu dan menundukan kepalanya.
"Apa kau ingin ke Legacy?" Angel semakin menggodanya.
"Tidak mungkin mom!" Allegra menatap ibunya.
"Apa kau tidak memiliki nomor ponselnya?"
"Sekalinya ada, masa aku yang menghubunginya mom?"
"Hem, semua terserah padamu Allegra sayang, kau yang menjalani dan kau yang merasakan. Kalau kau merasa dia baik untukmu, hubungi dia, aku yakin dia tidak akan masalah, malah dia akan senang," ujar Angel beranjak dari duduknya.
"Begitu kah mom?"
"Coba saja. Hanya mengatakan terimakasih," bisik Angel tersenyum dan meninggalkan anaknya agar bisa menimbang nimbang.
Allegra mencoba berpikir sejenak dan akhirnya dia memutuskan meminta nomor Morgan dari Xelino. Xelino memberikannya dengan menggodanya sesekali.
"Dia pasti senang mendapat pesan darimu, Allegra," kata Xelino di seberang sana.
"Apa maksudmu kak!"
"Mungkin dia menyukaimu? Dia terus bertanya tanya tentangmu padaku," jawab Xelino apa adanya.
"Kau serius? Dia tidak menanyai Kak Jessie?" Allegra masih merasa Morgan menyukai kakaknya.
"Kak Jessie? Sepertinya dia bertanya tentang Allegra Yerika Atkinson. Itu kau kan?"
"Hahaha, iya iya. Baiklah sampai jumpa, terimakasih kak!" Tutur Allegra menutup panggilan karena wajahnya sudah memerah. Dia mengingat Morgan memeluknya dan bertanya mengapa wajahnya memerah setiap melihat Morgan.
__ADS_1
"Ohh noo!! Ada apa denganku?! Mengapa rasanya aku dulu yang menyukainya? Bagaimana jika dia tidak menyukaiku? Pria yang suka dengan ku terlebih dulu saja bisa menyakitiku apalagi pria yang lebih dulu kusukai. Ini tidak benar Allegra! Oh Dewa Neptune, berikan ku petunjukmu!" Gumam Allegra sedikit frustasi di teras luar rumahnya.
"Anak bodoh! Terus saja kau menonton film putri duyung itu kan jadi kau sangat mendewa dewakan si Neptune itu! Seharusnya kau berdoa pada Tuhan," tiba tiba Jessie juga keluar dan mendengar gumaman adiknya.
"Aduh kakak sakit!" Keluh Allegra mengusap puncak kepala nya karena mendapat pukulan kecil dari tongkat Jessie.
"Apa kau sudah menghubungi Morgan? Jadi, apa tanggapannya?" tanya Jessie yang mendengar cerita dari ibunya.
"Kakak! Aku tidak tahu, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih," decak Allegra mengeluarkan pipi merona nya.
"Sudah diucapkan?" selidik Jessie lagi.
"Belum,"
"Cepat kirim pesan sekarang! Aku sangat setuju kau bersamanya Allegra. Aku yakin, Morgan menyukaimu bukan aku dan tidak seperti pacar pacarmu yang dulu!" Jessie meyakinkan.
"Kau yakin kak?"
"Yakin! Morgan tidak pernah mengajakku bicara, tidak seperti pacar pacarmu yang dulu," tambah Jessie merasa pria ini benar benar berbeda pada adiknya.
"Sudahlah kak, aku masih berpikir," balas Allegra.
Jessie tersenyum dan akhirnya Allegra menggiring kakaknya duduk di sampingnya. Allegra melihat lihat nomor ponsel Morgan yang ternyata tersambung pada aplikasi i-chat nya. Allegra melihat foto profil picture Morgan yang diperbaruhi malam lalu tepat Morgan pulang.
Hati Allegra sedikit berdebar ketika melihat foto profil yang Morgan gunakan adalah foto Allegra sedang meniup lilin kue ulang tahunnya tampak dari atas. Allegra sangat tahu kalau ini adalah dirinya.
Allegra tidak ragu lagi. Dia pun mengirim pesan pada chat Morgan.
ALLE (username Allegra di i-chat)
Hay Morgan! Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih :)
Pesan hanya mendapatkan tanda pending belum tanda delivery. Allegra harus menunggu, mungkin benar kata ibunya kalau signal tidak memungkinkan tetapi Allegra masih bisa browsing.
Satu jam, dua jam, tiga jam sampai akhirnya mereka makan malam, pesan Allegra belum sampai. Allegra masih terdiam sampai Jerry cukup bingung. Padahal Angel dan anaknya sudah berbaikan. Angel hanya membisikan sesuatu pada Jerry dan Jerry akhirnya mengerti. Jerry hanya tersenyum dan membiarkan kegundahan Allegra yang tidak mau diketahui siapa siapa.
Allegra kembali ke kamar dan masih memandang ponselnya. Dia benar benar tidak berani bertanya pada Gracia. Akhirnya dia memberanikan diri menghubungi Morgan. Ketika melakukan panggilan, Allegra masih berharap agar tidak usah diangkat atau tersambung. Namun tak lama malah tersambung. Allegra semakin gugup. Satu nada, dua nada, tiga nada, dan ...
"Halo," suara wanita dewasa di seberang sana.
Allegra sedikit terkejut, mengapa bukan suara pria melainkan wanita. Allegra masih terdiam.
"Halo, siapa ini?" tanya wanita dewasa itu yang adalah Pammy.
"Ha, ha, halo, apa ini benar nomor Morgan Andez?" tanya Allegra sedikit gugup.
"Ya benar, ini siapa? Morgan sedang beristirahat," jawab Pammy mencoba berpura pura tegas.
"Apa? Ada apa dengan Morgan?"
"Maaf, bisa ku tahu ini siapa? Aku mommy nya Morgan," kata Pammy.
"Oh Nyonya Andez mohon maaf, aku Allegra, aku ingin bicara dengan Morgan," pinta Allegra menggaruk garuk pelipisnya.
"Allegra?"
"Benar Nyonya,"
"Mohon maaf Allegra, Morgan tidak bisa menerima panggilan. Sejak pulang dari Springfield dia agak demam. Satu harian ini dia hanya tertidur di kamarnya. Nanti aku akan menyampaikan pesanmu," kata Pammy.
"Oh iya Nyonya, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih. Semoga Morgan cepat sembuh. Selamat malam Nyonya," saut Allegra benar benar gugup dan sedikit takut pasalnya dia langsung bicara pada ibunya Morgan.
"Ya, selamat malam." Pammy menutup panggilan.
Pammy lalu memberikan ponselnya pada Morgan.
"Tidak mom, aku memang sedikit lelah," Morgan sedikit berdalih. Sebenarnya karena dia juga memikirkan Allegra.
"Kapan kau mempertemukan ku padanya?" tuntut Pammy karena dirinya juga ingin melihat anaknya cepat cepat bertunangan seperti Dior dan Gracia.
"Aku saja belum tahu dia menyukaiku atau tidak," keluh Morgan meringkukan tubuhnya.
"Aku sudah yakin dia menyukaimu!"
"Semoga saja mom, dia wanita yang berbeda,"
"Like Rosie?" Pammy menyangkut pautkan dengan mantan kekasih Morgan.
"Mengapa kau mengingatkan dia? Sudah keluar dari kamarku mom, aku ingin kembali tidur!" decak Morgan tidak mau mengingat mantan yang sudah meninggalkannya tanpa kejelasan. dia menutup dirinya dengan selimut.
"Kalau belum bisa move on bagaimana mendapatkan hati Allegra?" celetuk Pammy.
"Mom, keluar!!"
Pammy tersenyum dan akhirnya keluar dari kamar anaknya. Sepertinya Morgan sudah bisa menggantikan mantan kekasihnya dengan Allegra. Semoga saja Allegra juga membalas cinta anaknya itu. Sebenarnya, Morgan sudah memiliki nomor ponsel Allegra tetapi dia ingin melihat apakah Allegra akan menghubunginya atau setidaknya mereka bisa menjadi teman. Ketika melihat nama Allegra menghubunginya, dia menyuruh ibunya. Mungkin besok dia akan membuka aplikasi i-chat nya. Morgan memang terserang demam karena tidak terbiasa dengan keadaan dingin Springfield dan kembali lagi ke Legacy yang masih musim panas.
Dan benar, keesokan harinya, Morgan membalas chating dari Allegra. Morgan senang Allegra juga mempunyai akun dari aplikasi yang sama. Namun, Morgan segera mengganti profil picture nya dengan logo perusahaan minumannya. Allegra sedikit mengernyitkan alisnya tetapi tersenyum.
ALLE
kenapa mengganti foto profilnya?
MORGAN ANDEZ
terserahku.
ALLE
Pasti wajahmu sedang memerah.
MORGAN ANDEZ
Siapa bilang, aku sedang menandatangani berkas. Kau menggangguku. Nanti kuhubungi lagi.
ALLE
Aku jadi ingin melihat wajah merahmu ;)
Morgan tidak membalas tetapi dia tersenyum. Allegra pun juga tersenyum. Allegra merasa nyaman dengan hubungan ini. Walau hanya pertemanan saja.
Malamnya Morgan kembali menghubungi Allegra. Di meja makan dia tampak tersenyum senyum sampai Gracia bingung. Gracia bertanya tanya tapi Morgan tidak menjawab. Sambil makan dia terus melakukan chating dengan Allegra. Hampir setiap hari terhitung sudah satu Minggu kemudian setelah Morgan kembali, mereka saling menanyakan kabar dan terkadang saling menggoda.
MORGAN ANDEZ
Kau sedang dimana?
ALLE
Sedang menonton tv, kau?
MORGAN ANDEZ
Aku sedang di balkon luar
ALLE
__ADS_1
Sedang apa kau disana?
MORGAN ANDEZ
Tadinya ingin melihat cahaya bulan.
ALLE
Apa malam ini tidak ada bulan?
MORGAN ANDEZ
Ada
ALLE
lalu?
MORGAN ANDEZ
Ternyata cahayanya tidak terlalu menyilaukan
ALLE
Begitu ya? Kau kurang beruntung, sir
MORGAN ANDEZ
Ya begitulah, karena cahaya yang sebenarnya, yang sampai menyilaukan hatiku sedang menonton tv pantas saja dia tidak muncul di langit malam.
Deg deg deg!!
Rasanya Allegra ingin ke balkonny Adan terjun dari lantai apartemennya. Morgan benar benar menggodanya. Allegra bingung mau membalas apa. Ini benar benar kenyataan. Wajahnya bernar benar memerah dan belum ada mantan kekasihnya pun menggodanya seperti ini. Mereka langsung menyatakan kalau Allegra itu cantik, manis, rambutnya indah, manja, bla bla bla, tanpa memberikan pengandaian pengandaian yang membuatnya tersipu.
ALLE
Maksud cahaya hatimu? Siapa?
MORGAN
Pasti wajahmu sedang memerah kan?
ALLE
Tidak -.-
MORGAN
Selamat malam my Alle ❤️
Allegra benar benar tidak bisa berkata kata lagi. Morgan benar benar membawanya terbang ke langit menemui sang rembulan. Malam ini dia bermimpi, Morgan datang dan memberikan dirinya sebuket bunga mawar putih yang begitu besar lalu berkata,
'Allegra, mau kah menjadi kekasihku?'
ALLEGRA wake up Alle!
ALLEGRA wake up Alle!
Suara alarm Allegra dari ponselnya berbunyi. Suara alarm rekaman dari kakaknya yang selalu menghiasi bangun tidurnya setiap pagi. Hanya Jessie yang mampu membangunkannya ketimbang Angel, Jerry bahkan Jane, almarhum nenek mereka.
Allegra melihat ponselnya pukul 08.00, dia terlambat! Dia harus sampai di universitas pukul 9 karena ada test satu mata kuliah yang akan membuatnya bebas 6 bulan mata kuliah terakhir sehingga dia bisa langsung mengerjakan skripsi. Mata kuliah ini masuk dalam program akselerasi, tapi jika dia terlambat satu menit saja, dia akan gagal mengikutinya karena hal ini juga menguji kedisiplinan.
Untung saja jalanan yang Allegra lewati lancar sehingga muda baginya membawa mobilnya sampai ke kampus tepat pukul 08.45. Allegra berhasil mengikuti ujian itu tetapi ketika keluar ruangan dia merasa tidak enak badan. Dia ingat kalau dirinya belum menyantap atau meminum apapun. Allegra berjalan tampak gontai. Dia hendak menuju ke basement parkir. Ketika dia melewati lobby, dia menyenggol teman satu kelas yang selalu iri dengannya. Temannya itu seperti mahasiswi kebanyakan berteman bergerombol. Hampir saja minuman gadis yang Allegra senggol terjatuh tetapi dia sudah sangat kesal.
"Allegra! Kau lagi kau lagi!" decak gadis itu tak senang.
"Aku sedang tidak mau berdebat, kepalaku pusing!" Allegra hendak meninggalkan mereka tetapi gadis itu menahannya.
"Apa lagi Lindy?!" gertak Allegra.
"Kau menyenggol ku, seharusnya kau minta maaf," protes Lindy tidak terima.
"Maaf!"
"Kau ini sombong sekali, mentang mentang masuk dalam program akselerasi, kau pikir kampus ini milikmu? Rasakan ini!" Decak Lindy tidak terima juga dengan prilaku Allegra yang terkadang memang seenaknya terhadapnya. Selain itu, Lindy iri karena pria pria lebih menyukai Allegra ketimbang dirinya yang merasa diva di kampus tersebut.
Lindy menyiram Allegra dengan minuman yang dipegangnya tetapi seorang pria tiba tiba datang memeluk Allegra untuk menghalangi siraman Lindy sehingga minuman itu mengenai punggung pria itu.
Allegra sudah menunduk karena kedatangan pria tersebut. Dia lalu mendongakan kepalanya terkejut hendak mengetahui siapa pria yang menolongnya.
"Morgan?"
Jantung Allegra berdebar kencang sampai matanya melebar dan sepertinya rasa sakit kepalanya berangsur angsur menghilang.
...
...
...
...
...
babang mor tiba tiba disitu ajaaa 😝😝
.
next part 5 end yaa
bagaimana mereka akhirnya bisa bersama?
ada kejadian apa nich?
nanti aku lanjutin lagi di Zefanya ya soalnya Uda ngebet mau ke Zefanya dan lagi pula mereka berdua juga berhubungan di sana .. apa tuch vii?
stay tune lahh dan siap siap aku umumkan pemberi vote terbanyak yaa 😍😍
.
rekomendasi novel teen teen bau bau remaja yang menyegarkan mengingatkan masa masa sekolah antara Yoora dan Michael mampir gaes dengan judul:
-- LOYALTY IN LOVE --
by Bernadeth Sacitha
dijamin nostalgia abiiss 😍😍
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤