Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ALLEGRA & MORGAN PART 5


__ADS_3

Hati yang gembira adalah obat, ketika benih benih cinta membawa kebahagiaan rasanya ingin selalu bersama dan bertemu. Namun, nyatanya rasa cinta yang berlebihan dapat membuat bingung dan resah jika tidak melihat sang pujan hati. Dengan sedikit pengorbanan waktu untuk menciptakan sebuah pertemuan yang membawa hati tenang, apalah daya jarak yang cukup panjang melintang. Morgan masih harus datang ke Springfield tanpa sepengetahuan Allegra. Hari ini dia membuat kejutan kejutan kecil untuk gadis bermata tajam itu. Bagaimana tanggapan Allegra?


...



Allegra masih terkejut ketika melihat siapa yang menyelamatkannya dari guyuran minuman Lindy. Morgan mendongakan kepalanya menatap Allegra.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Morgan menyampingkan helai rambut Allegra.


Deg deg deg !!


Entah apa yang terjadi pada hati Allegra yang berdegup begitu kencang. Morgan begitu tampan dengan beberapa helai rambut menutupi dahinya. Dan tak lupa dia mengenakan jas seperti pemimpin muda yang sangat berkelas.


"Tidak apa apa, Morgan, sepertinya jasmu yang terkena siraman minuman, Morgan," kata Allegra mengingatkan.


"Tidak masalah, aku bisa menggantinya. Permasalahannya, ada apa dengan gadis ini?" Kata Morgan lalu berbalik menghadap ke arah Lindy.


Lindy membelalakan matanya. Begitu juga dengan Morgan. Mereka seperti pernah bertemu.


"Kak, kak, kak Morgan? Kau kak Morganino Andez kan? Iya kan?" Kata Lindy menghentak hentakan salah satu lengan Morgan. Morgan seperti bingung harus menjawab apa tapi dia tidak bisa berbohong. Wajahnya tidak akan berubah banyak hanya karena beberapa tahun silam ketika masih di bangku kuliah.


"Tidak salah lagi, mau pasti kak Morgan! Tidak disangka sangka kau ada di sini dan kau semakin tampan, oh Tuhan, jangan salahkan aku menyukaimu, Kak!" Lindy mendelikan alisnya menggoda.


"Mengapa kau di sini?" tanya Morgan dan berdiri di samping Allegra.


"Tentu saja aku bersekolah," jawab Lindy melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Di mana saudaramu?" tanya Morgan mengerutkan dahinya. Allegra juga mengerut, ternyata Morgan mengenal Lindy.


"Di Legacy! Dia sudah menjadi seorang wanita dan bekerja di sebuah perusahaan iklan terkenal. Aku lupa di mana, pastinya dia sekarang sudah beradap!" kata Lindy dengan gaya meremehkan.


"Kau?! Selalu menghinanya dengan semua hartamu!" decak Morgan sedikit kesal.


"Jelas, karena dia berhutang pada keluargaku!"


"Apa maksudmu?"


"Kau harus mentraktirku, saudara, Ting!" Lindy mendekat mengedipkan matanya dan menarik dasi Morgan.


"Apa apaan kau main dekat dekat saja! Dia kesini menemuiku!" Allegra menghempaskan Lindy yang menggoda Morgan.


"Woah! Penemuan terbaik! Ada apa hubungan apa kau dengan Kak Morganku?!"


"Morganku! Kau pikir kau siapa? Setiap ada lelaki kau bilang punyamu, tau tau lelaki itu menyukaiku, hahaha! Kasihan sekali kau Lindy! Cepat pergi ke toilet dan basuh wajahmu! Dan seenaknya sekali kau menyiramku!" Decak Allegra sudah menghempaskan pipi Lindy.


"ALLE! Kau benar benar kasar sekali! Kak Morgan, lihat lah wanita ini memukul pipiku," dengus Lindy kesal.


"Kau tidak pernah berubah, Lindy!" Morgan malah mengatai Lindy.


"Memangnya Allegra siapamu? Mengapa kau membelanya?" tanya Lindy tidak terima.


"Dia kekasihku!" Jawab Morgan sudah merangkul Allegra dengan erat. Allegra terhuyung juga melebarkan matanya. Dia lalu menoleh ke arah Morgan.


'Kapan kau memintaku menjadi kekasihmu, Tuan Neptunus?! Dia benar benar seperti Dewa Neptune, begitu memancarkan pesonanya jika seenaknya seperti ini!' gumam Allegra dalam hati.


Lindy pun sedikit menganga. Allegra benar benar selalu mendapatkan pria pria tampan. Lindy jadi benar benar kesal. Lindy juga tahu kalau Allegra memiliki kakak yang cantik juga sepupu yang tampan seperti Xelino dan Jordan.


"Tidak, tidak mungkin! Kak Morgan, mengapa kau selalu menyukai wanita wanita yang gila seperti Alle? Seharusnya kau lebih menyukai aku! Sejak dulu kau tidak pernah memperhatikanku! Kau malah terus membela Kak Rosie!" Dengus Lindy dan lama kelamaan Lindy jadi menangis. Beberapa temannya sudah menenangkannya. Karena tangisannya, Allegra tidak memperhatikan apa yang terjadi pada Rosie dan Morgan.

__ADS_1


"Haduhh, drama dimulai! Lindy, tidak usah menangis nangis! Kalau kau menyukai Morgan, ambil saja, permasalahannya dia mau atau tidak," decak Allegra sebal melihat tangisan Lindy yang seperti menjadi tamengnya.


"ALLE! Kau jahat!"


"Hemm, oleh sebab itu, kalau aku bilang tidak mau berdebat jangan menggangguku! Urus teman kalian ya?! Ayo kita pergi dari sini Morgan!" Ajak Allegra akhirnya tapi Morgan tetap diam menatap Lindy. Allegra jadi bingung sendiri.


"Ada apa?" selidik Allegra.


"Ikut aku sebentar, aku harus mengetahui sesuatu," kata Morgan menggandeng tangan Allegra. Lagi lagi Allegra gugup. Mereka bergandengan tangan seperti benar seorang kekasih.


"Lindy, katakan padaku apa yang terjadi? Aku hanya ingin tahu!" Pinta Morgan menghentikan tangis Lindy. Allegra menatap Morgan.


"Mengetahui apa, Morgan?" Tanya Allegra.


"Mantan kekasihmu lah! Siapa lagi?! Mantan Kak Morgan adalah kakak sepupuku!" Decak Lindy melotot pada Allegra. Seketika Allegra tersentak. Mengapa ia sedikit cemburu? Allegra mencoba menormalkan dirinya dan berusaha tenang kalau dirinya bukan siapa siapa Morgan. Morgan seperti ini hanya ingin menunjukan siapa dia tanpa mantan kekasihnya.



Akhirnya mereka menuju sebuah cafe di dekat lobby kampus Allegra dan Lindy. Morgan duduk berdampingan dengan Allegra sedangkan Lindy bersebrangan dengan mereka. Allegra berusaha mengalihkan pikiran dan perasaan cemburunya sambil membuka ponselnya. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau dirinya pasti akan mendengar.


"Cepat Lindy! Aku hanya ingin tahu hal yang sebenarnya saja agar aku tidak terus bertanya tanya!" pinta Morgan menjelaskan mengenai mantan kekasihnya.


"Sejatinya kau sudah tahu kan keluarganya menumpang tinggal bersamaku di Indian? Ternyata ayahnya terlibat penggelapan uang di kantornya. Ayahnya di penjara dan bibiku sakit! Asal kau tahu kak Morgan, mommyku sangat mencintai kakaknya itu, jadi dia membawa bibiku ke Legacy! Di obati di sana tapi nyatanya tetap tidak terselamatkan. Kak Rosie memutuskan untuk di sana saja! Cerita selesai!" tutur Lindy mengingat kejadian beberapa tahun silam.


Deg!


Kali ini Allegra mendengar nama gadis itu. Mantan kekasih Morgan. Rosie. Jadi Rosie adalah sepupu dari Lindy. Entahlah bagaimana perasaan Allegra kali ini.


"Lalu mengapa kau di sini?" tanya Morgan lagi.


"Sekolah bisnis like your girlfriend, aku akan meneruskan usaha Daddy," kata Lindy.


Seketika pertanyaan Morgan malah membuat hati Allegra sedikit meringis. Jika sudah berpisah, mengapa Morgan masih menanyakannya.


"Dia mendengarmu mengatakan pada semua teman teman basket mu kalau kau tidak berhubungan dengan siapapun, dia jadi tidak percaya diri dan menitip pesan padaku. Namun, aku tidak punya waktu mengurusi urusannya denganmu!" jawab Lindy yang waktu itu Rosie sempat bercerita padanya.


Deg!


Morgan ingat sesuatu. Waktu itu Morgan memang pernah mengatakannya. Itu semua karena Morgan ingin melindungi Rosie dari beberapa unit cheerleader yang tidak menyukai gadis gadis yang memiliki hubungan dengan team basket. Rosie seorang gadis penyendiri. Morgan hanya tidak mau Rosie terlibat dalam hal pembullyan hanya karna dirinya. Dan sebenarnya, Morgan berencana keluar dari team basket tersebut. Dia kurang bisa membagi waktu antara kegemarannya dan perkuliahannya sehingga Marcel memarahinya terus menerus.


Morgan menunduk dan memijat tulang hidungnya. Allegra lalu menoleh ke arahnya. Allegra merasa Morgan sedang menyesali sesuatu. Tak lama Morgan kembali menegakan wajahnya.


"Jadi, dimana dia sekarang?"


"Di Legacy, Kak Morgan! Bukankah kau juga di sana? Mungkin kau bisa bertemu dengannya," jawab Lindy dan rahang rahang wajah Morgan tampak mengeras.


Allegra lalu menyenggol tubuh Morgan. Morgan tersentak dan menatap Allegra.


"Hah, untuk apa lagi kau menanyai nya kalau kau sudah bersama Alle? Apa kalian berbohong kan?" Lindy memicingkan matanya.


"Tidak! Allegra memang kekasihku! Yasudah, aku sudah tahu dan mungkin kita tidak ditakdirkan bersama karena sudah hampir satu tahun aku di Legacy tidak bertemu dengannya!" decak Morgan hendak beranjak.


"Kau tinggal di mana? Mungkin aku bisa memberitahunya," tanya Lindy.


"Tidak perlu, seharusnya dia sudah tahu kalau aku ada di Legacy, ayo Allegra!" Kata Morgan beranjak sambil menggandeng tangan Allegra. Allegra pun mengikuti arah Morgan menarik dirinya meninggalkan Lindy.


Morgan menggandeng tangan Allegra dengan sangat kencang dan berjalan cepat menuju ke mobilnya. Allegra merasa Morgan sedang menahan sebuah kekesalan dalam dirinya sehingga dia seperti ini padanya. Allegra juga merasa tangannya agak sakit dalam genggaman pria yang berjalan di depannya. Sampai akhirnya Allegra tidak sabar lagi. Kepalanya juga semakin pening. Allegra menghempaskan tangan Morgan.


"Morgan! Kau kenapa hah?! Mengapa kau sangat kesal begini? Kau kesal dengan pengakuan yang Lindy katakan? Kau masih memikirkan mantanmu, iya? Sekarang juga kau bisa kembali ke Legacy dan mencari di seluruh perusahaan iklan di Legacy, dimana yang bernama Rosie itu, kau ini! Jangan menjadikan tanganku korban! Ugh, sakit sekali!!" Decak Allegra meledak dan benar benar berteriak di depan Morgan. Dia juga sudah memegang tangan yang Morgan pegang dengan erat dan memijat mijatnya.

__ADS_1


Morgan lalu berbalik melihat Allegra yang kesakitan karenanya. Dia mendalami isi hatinya. Mengapa semuanya terasa sangat kebetulan? Sejak ibunya menyebut nama Rosie, Morgan mulai berpikir apakah dia sudah siap mengganti Rosie dalam hatinya? Dan, ketika beberapa kali dia berhubungan dengan Allegra, dia merasa memiliki hidup yang lebih berwarna dan berbeda dari biasanya. Begitu juga dengan perawakan Allegra yang lebih cantik ketimbang Rosie. Namun, kenapa di saat Morgan ingin melupakan masa lalu, hal ini malah menjadi seakan akan ingin menghilangkan sesuatu yang mungkin akan menjadi masa depan Morgan.


Morgan menatap Allegra sangat tajam dan dia mendekati gadis itu yang masih meringis. Dengan cepat Morgan meraih wajah Allegra dan dia mencium bibir Allegra. Allegra sangat terkejut karna ini sangat tiba tiba. Allegra tak dapat menarik dirinya karena ketika dia hendak mendorong Morgan, satu tangan Morgan malah meraih pinggang Allegra untuk lebih dekat lagi dengannya.


"Kiss me, Allegra!" Pinta Morgan masih menempelkan bibirnya pada bibir tipis nan merona milik Allegra.


"Kau kenapa?" Allegra malah bertanya. Morgan lalu yang manarik dirinya. Dia membelai pipi Allegra dengan sangat lembut dan memandang seksama kedua mata Allegra.


"Allegra, aku menyukaimu, aku mencintaimu!" Ucap Morgan akhirnya dengan nada suara yang begitu tenang didengar oleh Allegra.


"Apa? Menyukaiku?" Allegra memastikan.


Morgan mengangguk menatap Allegra dengan ketulusan.


"Kenapa? Kenapa kau menyukaiku? Bukankah, bukankah tadi kau ingin mencari mantanmu?" tanya Allegra terbata.


"Allegra, apa kau tidak menyadari aku datang kemari memang ingin menemuimu?" kata Morgan mulai meyakinkan Allegra.


"Ah, iya, tapi, tapi ..." Allegra benar benar bingung harus bagaimana. Morgan malah kembali lagi mencium bibir Allegra. Akhirnya kini Allegra membalasnya. Mereka pun berciuman di area basement itu.


Tak berapa lama, mereka saling melepaskan kecupan bibir itu. Morgan masih memeluk Allegra dengan merengkuh pinggangnya dan Allegra memegang dada Morgan.


"How? Kau mau menerimaku kan?" Tanya Morgan memastikan. Allegra hanya mengangkat alisnya. Dia belum terlalu mengerti hati Morgan. Morgan bukan pria sembarangan. Hari ini saja dia baru saja mengetahui kenyataan bahwa Morgan memiliki mantan kekasih yang cukup membuatnya penasaran.


"Allegra, kau meragukan diriku?" tanya Morgan lagi.


"Entahlah, aku masih belum paham isi hatimu," jawab Allegra seturut kata hatinya.


Morgan mengangkat alisnya juga. Kini, dia bukan hanya yakin tetapi benar benar menyukai segala kehati hatian Allegra seperti Rosie. Dulu, Rosie juga agak ragu menerima Morgan. Namun, Morgan akui, Allegra melebihi Rosie yang agak tertutup sementara Allegra tidak pernah merasa malu mengungkapkan apa yang ia rasakan seperti ketika tadi dia kesal karena pengakuan Lindy.


"Baik, aku mengerti, satu Minggu ini, aku akan mendapatkan hatimu, Allegra," kata Morgan bertekad.


"Apa? Satu Minggu?"


"Ya, satu Minggu aku akan berada di sini. Memproduksi sebuah minuman bukan hanya meracik lalu menjualnya tetapi juga membutuhkan penelitian dan memastikan kualitasnya. Sama seperti hatimu yang ternyata tidak bisa langsung kumiliki, aku harus memberikan bubuk cinta dalam kadar yang banyak terlebih dahulu. Begitu kan?"


Allegra tersenyum mendengar penuturan Morgan. Hatinya sudah semakin berdebar tak karuan, tapi dia benar benar tidak boleh gegabah. Dia harus memperhatikannya lebih dalam.


"Kita makan siang, my Alle?" Ajak Morgan membelai pipi Allegra. Allegra hanya mengangguk. Dia masih tidak percaya seorang Morgan menyatakan cinta padanya. Dia berusaha menormalkan dirinya agar tidak terlalu terlihat pada Morgan.


...


...


...


...


...


bersambung dulu lanjut di bawah yaa 😁


.


tapi pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2