Mantan Terindah

Mantan Terindah
20. Kode Keras


__ADS_3

...Jangan pernah membenci sesuatu ke level tinggi karna mungkin kekhawatiranmu akan menjadi pemusnah itu sendiri...


Franda perlahan menaruh tas di bangku miliknya, ia kemarin benar-benar mereka kelelahan sekali hingga ia tidak sanggup untuk bangun sama sekali dan hari ini ia sudah merasa lebih mendingan ketimbang kemarin. Ada selentingan yang membuat telinganya bergerak untuk mendengar. "Gimana mau dapat nilai bagus sekolah aja gak masuk sakit dikit doang gak masuk dasar ya orang pemalas kan suka gitu." Suara itu terdengar sekali dari telinga Franda siapa lagi kalau bukan Rival cowok menyebalkan yang selalu saja mencari masalah yang seharusnya bukan untuk masalah.


"Udah fran, lo udah baikkan? Gimana masih gak enak badan? Lo sih pake hujan segala." Cerry mencoba untuk memindahkan kearah lain agar Franda tidak tersinggung dengan ucapan Rival yang sangat nyelekit sekali. Ia masih sangat lemas sekali ia sengaja masuk hari ini karna ia tak mau terlalu memanjakan tubuhnya itu.


"Iya, udah mendingan kok."


"Lo kenapa sih maksain buat masuk kan bisa istirahat di rumah fran? Gue bisa kasih tugas susulan buat lo kok."


"Enggak papa kok, enggak papa."


"Tuh wajahnya lo pucat banget, bibir lo kering gitu."


"Pulang nanti gue nebeng lo yah?" Lanjut Franda kembali.


"Iya oke soal itu tenang aja." Jawabnya.


...•••...


Langkah Rival terhenti ada perasaan yang membuatnya tidak enak hati, ia pun memutuskan untuk mengikuti firasatnya. "Buruan val katanya pengen main futsal? Tadi ngajak gue buru-buru?"


"Kalian duluan aja deh, gue nyusul entar. Ya udah gue balik duluan ya." Sahutnya yang tampak seperti terburu-buru sekali memutar balik kearah kiri padahal arah rumahnya malah sebaliknya.


"Loh bukannya kearah kanan ya? Kok si Rival malah balik kearah kiri? Itu kan arah ke sekolah kan?" Bingung Albert yang menggaruk kepalanya.


"Ya udah ah, serah dia yang penting kita duluan aja. Kan dia juga yang bayar kan?" Sahutnya yang tak mau pikir pusing. Sebelum itu ia sempat tidak sengaja mendengar percakapan antara Cerry dan Franda sehabis pulang sekolah inisiatif apa yang membuatnya seperti itu.


Rival dari tadi tak sabaran agar sampai dan berdiri dihadapannya. Mobil ia parkirkan di parkiran sekolah yang sudah mulai renggang. Ia berlari dan melihat ada seorang perempuan yang tidak asing lagi duduk disana memakai sebuah sweater hitam membalut tubuhnya.

__ADS_1


Ia mendongak ketika Rival berdiri dan hadir dihadapannya. Ia perlahan berdiri namun tangan Rival menahan lengan Franda dengan cepat menatap satu sama lain dan ini emang aneh sekali. "Kenapa?" Pertanyaan itu timbul begitu saja ia melirik tangan yang masih bertahan disana perlahan-lahan Rival melepaskannya.


"Lo ngapain disini?" Loh bukannya salah pertanyaan? Seharusnya Franda yang menanyakan hal itu yang ia tau dari tadi kalau misalnya Rivallah yang lebih dulu balik toh kenapa sekarang dia bisa ada disini?


"Lo se---diri kenapa disini?" Tanyanya balik ia menundurkan badannya kearah belakang, langkah kakinya menggeser untuk menjauh dari Rival yang semakin hari semakin aneh saja.


"Gu-----e, gue pengen ambil air barang didalam loker meja gue." Ia menyelonong masuk begitu saja.


Karna ini bukanlah urusan Franda ia perlahan berjalan dengan lemas. Kakinya yang masih belum pulih pun perlahan menarik kaki kirinya agar bisa menopang. Ia tetap saja memaksakan untuk tetap sekolah. Sekolah sudah tampak sepi, dari tadi ia sengaja untuk pulang lebih lambat karna ia tau kalau jalanan masih sangat ramai kalau dengan berbarengan dengan sekolah yang lain. Cuaca matahari pun masih begitu terik walaupun tidak seterik tadi.


"Sini." Seseorang merangkul tangan Franda di pundaknya tanpa senyum, tanpa ekspresi dan dengan pemaksaan penuh.


"Lo kenapa sih hidupnya lo nyusahin terus. Gue paling gak suka sama orang yang nyusahin. Kalau gak kuat bilang gak kuat gak usah maksa. Lo juga yang bakalan rugi dan berdampak sama orang lain." Franda geli sendiri dengan sikap aneh Rival yang kadang menyebalkan dan kadang dia adalah sosok yang paling misterius dibalik sikap perdulinya.


"Kenapa lo malah ketawa gitu? Ada yang lucu?"


"Ngambil apaan tadi?"


"Eeee, gak ada. Kayaknya udah gue masukkin kedalam tas. Lo sakit apaan sih kayak renta gini? Lo mau mati?"


"Gue kemarin keserempet mobil, ini emang salah gue juga sih terlalu terburu-buru karna gue capek banget."


"Trus kenapa tangan lo panas, sebentar." Mereka berhenti, dan Rival berinisiatif untuk mengecek dahi Franda apakah panas atau stabil.


Ternyata setelah di cek badan Franda masih ditahap normal walaupun sedikit hangat. "Ya udah gue bawa lo ke warung deket sini, disini ada teh hangat biar lo berkeringat."


"Gak usah, gak usah ngerepotin doang."


"Gue paling benci yang namanya penolakan mending lo ikut, atau lo mau gue gendong disini?" Gendong? Disini? Franda bukan anak kecil lagi kalau lagi sakit harus digendong apalagi ditambah pula lingkungan sekitar cukup ada beberapa orang yang dari tadi memperhatikan mereka.

__ADS_1


Rival membukakan pintu mobil untuk dirinya masuk kedalam walau dengan kasar dan tidak sopan. "Apa sih mau ini anak?"


"Makasih ya udah ba--- ik sama gue."


"Gue bukan baik, tapi ini kebetulan dan satu hal lagi kalau ini adalah sebuah rasa kemanusiaan doang gak lebih. Jadi lo jangan geer deh. Ngerti!"


Telinganya mendongak dan terkejut sekali mendengar hal itu bisa-bisanya disaat seperti ini Rival kasar dan seenaknya sendiri. "Syukur deh gue bisa berbuat baik sama lo. Ya sekedar berbuat baik." Gumamnya dalam hati penuh yakin.


Rival menggandeng Franda untuk turun dari mobil yang padahal jarak warung dan mobil begitu dekat sekali.  Lebay? Yups lebay banget tapi itulah sosok Rival aneh tapi nyata menjengkelkan namun terkadang lebih sweet ketimbang cowok romantis yang kirim bunga setiap hari.


"Pesen tehnya satu aja."


"Loh kok satu doang?*


"Udah jangan ribet." Ia memainkan ponselnya mengirimkan sebuah pesan kepada salah satu sahabatnya yang dari tadi nelfon dan sms yang tidak dibaca sama sekali.


Gue kayaknya gak bisa deh ke futsal, sorry guys. Besok gue bakalan janji.


Lalu ia kirimkan ke semua kontak ketiga sahabatnya yang lebih dulu disana.


"Lo hati-hati sama Chiko, gue udah kenal sama dia dari lama. Dia bermuka dua, gue gak mau aja lo jadi salah satu korbannya dia berikutnya."


"Kenal dari lama?"


"Yups, kenal dari lama lo gak perlu tau gue kenal dimana, kenapa dan bagaimana."


"Apa karna seseorang?"


"Maksud lo?"

__ADS_1


"Bu---kan kok. Makasih ya pak." Untung saja segelas teh panas sampai disaat bersamaan Rival menatapnya tajam. Ia meniup agar teh panas itu lebih dingin dengan sendok yang tercelup didalam gelas. Kebetulan sekali tenggorokannya pas sekali dengan segelas teh panas dipinggiran jalan. Sampai saat ini pikirin Franda selalu berputar kenapa Rival bisa kembali ke sekolah dan membawanya untuk meminum segelas air teh panas padahal sangat terlihat sekali ia sudah pergi lebih dulu dengan ketiga sahabatnya.


__ADS_2