
Upacara pemakaman Martin telah selesai. Pria dengan kaca mata hitam dan pakaian serba hitam itu masih memegang nisan kakeknya. Dia sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya mengering karna semua kenaifan nya. Dengan kecemasannya dan kekhawatirannya akan kondisi kakeknya malah membawanya pada kejatuhan yang mendalam. Membawanya terperosok jauh pada sebuah penyesalan. Dia kehilangan kekasih hatinya yang sudah menjadi mantan kekasih terindahnya. Dia pastikan tidak ada lagi hati setulus dan semurni Viena. Wanita sederhana, apa adanya yang mampu membuat hatinya merasa luar biasa dan hidupnya menjadi bermakna.
Dia menempelkan dahinya di atas nisan itu sebelum pergi.
"Grandad, entah ini hanya ucapan ku atau takdir. Sebisa mungkin aku akan menemukan Viena dan menjadi pasangan hidupnya." Ujar pria itu lalu mendongakan kepalanya.
"Tuan Muda Dion, Tuan Besar Martin pasti mendengar tekad mu." Kata Rio menepuk bahu pria itu. Dia mengangguk lalu mendongakan kepalanya ke arah ibunya yang berlinang air mata. Beliau masih di kursi roda dan baru akan menjalani terapi. Dengan suaminya di belakang kursi rodanya.
Dion menghampiri ibunya. Dia menyeka air mata ibunya dan mengelus pipinya.
"Kau akan sembuh mam, dan kita akan bertemu dengan Viena. Aku akan terus mencarinya untukmu." Kata Dion tersenyum.
Dan mereka semua kembali ke rumah masih dalam suasana berduka.
Dion menuju ruang kerja ayahnya bersama Rio. Rio memberikan semua berkas warisan yang mengatas namakan. Semua dana yang Dion butuhkan sudah dicairkan ke rekening Dion. Dion mempelajari lebih dalam mengenai hotel kakeknya ini. Semua kendali dan kepemilikan sudah menjadi punya nya. Dion kini menjadi seorang presiden direktur termuda di Legacy. Martin sungguh mempercayakan padanya ketika dia berhubungan dengan Viena. Martin sangat yakin, Viena akan membawa aura positif pada Dion. Karna Dion semakin rajin dan bertanggung jawab dalam apa yang ia perbuat. Namun, Martin memang menyesalkan kondisinya yang membuat Dion salah langkah dan terjebak pada kepercayaan diri ayahnya.
Dion masih berkutat dengan segala jenis legalitas, kepemilikan, saham, pelayanan pelanggan dan seluruh hal hal yang diperlukan sebagai presiden direktur sebuah perusahaan. Setiap malam dia menyibukan dirinya karna terkadang ia masih terlarut dengan pesona Viena yang sudah tiada di sampingnya. Di sisinya lebih tepatnya. Terkadang Dion melamun memikirkan dimana keberadaan Viena. Dia hampir tak berdaya ketika setiap makan siang selesai, dia pergi terlebih dahulu ke kantor polisi, menanyakan keberadaan Viena. Mereka sudah mengatakan kalau Viena pindah namun kepolisian belum bisa mendapatkan data kepindahan Viena. Karna sebenarnya, Egnor menyembunyikannya. Egnor tidak mau Viena kembali terjerat dalam urusan cinta yang menjatuhkannya.
Dion memijit tulang hidungnya memandangi foto Viena yang sempat beberapa ia cetak. Dia memperhatikannya di atas tumpukan laporan keuangan yang semakin meningkat untuk ia baca. Sudah satu bulan ini Dion menggerakan hotel prime nya. Dia menggunakan nilai nilai yang pernah Viena jabarkan padanya. Dia tidak meminta bantuan pada ayahnya. Semua ia kerjakan sendiri bersama para anak buahnya dan Rio yang membantunya.
"Ada yang bisa kubantu Dion?" Tanya Jeremy memasuki ruang kerja Dion. Ruang kerja ayahnya kini menjadi miliknya.
"Tidak! Lebih baik kau jaga mama dan perhatikan kesehatannya. Temani dia terapi dan papa hanya perlu mengurusi yang sudah pernah kau urus. Tidak usah mengurus apa yang menjadi tugasku!" Begitu kata Dion dengan dingin nya.
"Kau belum bisa memaafkanku?" Tanya Jeremy lagi melemah.
"Entahlah, terlalu beban dan menjadi akar pahit pap. Kau yang menyebabkan ini semua namun seakan akan dunia pun beranggapan aku yang salah. Sudahlah, tidak perlu lagi membahasnya. Kita berdua tahu apa yang terjadi." Jawab Dion lalu menyimpan foto Viena ke dalam nakas dan kembali membaca laporan laporan.
"Baiklah, semoga kau beruntung. Minggu depan aku akan menetap di Springfield untuk beberapa bulan karna penyembuhan terapis tradisional di sana sangat mendukung perkembangan mamamu." Ijin Jeremya yang benar fokus dengan keadaan istrinya.
"Ya, lakukan saja yang terbaik. Aku akan mencarikan tempat tinggal untuk kalian." Respon Dion tanpa melihat ayahnya yang sudah berwajah sendu itu. Jeremy pun mengangguk dan menghela napas lalu meninggalkan Dion.
Ya, sejak semua kejadian nelangsa itu, entah mengapa dirinya sulit sekali berbaur dan memaafkan ayahnya. Dia menjadi berjaga jarak dengan ayahnya dan tidak pernah menanyainya. Jeremy yang selalu mengajak Dion bicara. Hal inilah yang harus Jeremy bayar karna terlalu memojokan anaknya. Jeremy menyadari hal itu dan kini ia berubah. Dia lebih merendah dan sangat memperhatikan kesehatan serta kesembuhan istrinya.
Jabatan Jeremy di perusahaan ayahnya itu tetap menjadi direktur hotel cabang di Legacy. Semantara Dion dengan sepak terjangnya dan tekad nya memajukan hotel Prime, menjadi presiden direktur memukau. Meskipun perawakannya dingin dan agak acuh, Dion tetap menjadi sorotan setiap media bisnis.
...
Hari itu tanggal 22, tanggal dimana Dion meminta Viena menjadi kekasihnya. Dion masih selalu mengingatnya. Sudah satu tahun lebih, pada akhirnya Dion tidak menemukan Viena di Legacy. Dia mau menyerah namun dia merasa akan bertemu kembali. Dan beberapa hari ini seorang wanita sedang mendekatinya. Sesekali Dion menanggapinya karna merasa ada bagian dari wanita itu yang seperti Viena. Perawakannya yang dewasa pun sedikit mencerminkan Viena. Namun, Dion masih mengharapkan Viena sampai Rio pun melapor kalau seorang polisi membicarakan Egnor Jovanca di lobby hotelnya. Egnor Jovanca lawyer yang beberapa bulan ini menjadi sorotan di Honolulu. Tanpa berpikir panjang, Dion memesan tiket dan pergi bersama Rio menuju ke Honolulu.
Rio pun kembali memberitahu Dion kalau Egnor menjalani pendidikan di Peguruan Tinggi Hukum Internasional Honolulu. Dion segera kesana untuk bertanya keberadaan Egnor. Namun, ketika Dion baru saja turun dari mobilnya, Egnor melihatnya yang masih di dalam mobil. Dia sangat tahu tujuan Dion. Egnor segera menghubungi rektor dan bagian informasi untuk merahasiakan semua data dirinya khususnya alamat dan keluarganya.
"Maaf Tuan, Egnor Jovanca tidak bersekolah di sini, mungkin anda salah informasi. Tidak ada yang bernama Egnor Jovanca. Kami memang mengetahui lawyer terkenal itu tapi maaf, dia tidak bersekolah disini." Kata sang informan di perguruan tinggi itu.
Dion sungguh kecewa. Rio pun yakin dia mendapat data dengan benar. Akhirnya Dion memutuskan mencari beberapa hari di kota besar itu. Namun, tetap tidak bertemu. Dia merasa agak kesal sehingga dia memutuskan melakukan fitness ringan di sebuah tempat gym yang ternyata tempat yang sama Viena sering kunjungi. Kebetulan, hari itu Viena dijemput oleh Egnor dan mengantarnya ke tempat gym. Ketika Viena hendak turun, Egnor kembali melihat sosok Dion memasuki tempat gym itu bersama Rio.
"Viena?" Panggil Egnor menghentikan Viena yang hendak keluar dari mobil.
__ADS_1
"Emmm, bisakah hari ini kau tidak usah fitness atau senam?" Tanya Egnor sedikit memohon.
"Kenapa kak?" Selidik Viena kembali menutup pintu mobil dan belum melihat ke arah pintu masuk tempat gym.
"Minggu besok mom and dad merayakan ulang tahun pernikahan. Apakah, tidak sebaiknya kita mencari hadiah untuk mereka? Atau memesan sebuah kue. Pasti mom akan senang, beberapa akhir ini dia juga sedang tidak enak badan. Kepalanya sakit terus menerus. Dengan kita membuat kejutan, beliau pasti suka. Bagaimana? Satu hari ini saja, karna kalau besok besok aku tidak bisa." Jawab Egnor dengan wajah memelas dan memohon.
"Begitu ya?" Viena agak mempertimbangkan. Namun, benar apa yang dikatakan kakaknya. Dia tidak memiliki waktu banyak untuk bersama kakaknya yang juga sangat sibuk.
"Hehem, ayolah, turuti permintaan ku satu kali ini saja." Egnor kembali memohon. Dia sudah bertekad tidak akan mempertemukan adiknya dengan mantan kekasihnya itu selagi ia bisa melakukannya.
Viena menghela napas. Viena menyetujui karna hari ini tidak ada jadwal senam.
Dan Viena dan Dion tidak bertemu karna Egnor sudah tidak ingin berhubungan. Selagi dirinya bisa menjaga dan menghalau, dia akan melakukannya. Dion pun menyerah dan kembali ke Legacy.
Karna kerjasama yang ia buat bersama perusahaan si wanita yang mendekati Dion itu, Dion pun menjadi dekat dengannya. Nama wanita itu Pevita Inggrid. Setiap pertemuan rapat, Pevi selalu membawakan bingkisan untuk Dion. Pevi menyukai lemon cake dan juga lava cake. Setiap siang dia membawakan salah satu kue itu dan memberikannya pada Dion. Sampai seiring berjalanannya waktu, entah mengapa Dion sungguh merasakan Viena di dalam diri Pevi meskipun tetap tidak seperti Viena. Pevi sangat gila bekerja dan jarang mempunyai waktu untuk Dion. Namun, Dion tetap menjalin hubungan dengannya, wanita yang menurutnya mandiri dan tidak terlalu manja seperti Viena.
...
Sekitar satu tahun kemudian, ibunya Rika kembali dari Springfield. Pengobatan Rika berjalan lancar dan sesuai harapan karna Jeremy selalu memperhatikannya dan seorang istri temannya yang merawat Rika dengan telaten. Ya, mereka adalah keluarga Larry Janson. Sebagai ucapan terimakasi Jeremy, Jeremy menghadiahkan sebidang tanah untuk sahabatnya itu dan menjanjikan pekerjaan untuk anaknya. Sangat kebetulan, Rio mengundurkan diri karna akan menikah dan berpindah tempat tinggal ke Japanis karna istrinya menetap di sana dan memiliki ibu yang harus diurus. Dion tidak bisa memaksakannya dan Jeremy merekomendasikan seorang asisten yang dapat dipercaya.
"Selamat Pagi Tuan Dionisius Eltima Prime, perkenalkan saya Danteleon Janson, siap menjadi orang kepercayaan anda. Panggil saja Leon." Tutur Leon dengan sopan, tegas dan berwibawa.
"Dion. panggil aku Dion saja. Oke Leon! Aku menyukai perawakanmu, minta job description mu pada Renzy di depan dan segera susun jadwalku untuk satu bulan ke depan!" Saut Dion menyetujui.
"Baik Tuan!"
...
Harapan dan ucapan adalah doa, apalagi ketika menyerahkan diri pada Tuhan.
Suatu ketika, Leon melaporkan kondisi pemasukan Hotel Prime yang agak menurun. Hal ini disebabkan karna banyak nya motel dan hostel yang menyediakan kamar dengan harga murah dan brosur brosur promo yang mereka sebarkan.
"Hemm, kita harus melakukan sesuatu Leon." Kata Dion memegang dagunya dan berpikir.
"Ya, kau benar Tuan. Kita juga sebaiknya menggunakan jasa iklan untuk mempromosikan hotel kita agar banyak yang lebih mengetahui, khususnya para pendatang baru. Menurut laporan yang kubaca, penduduk Legacy bertambah. Mereka terdiri dari kelas atas. Jadi, tidak menutup kemungkinan mereka akan memilih Hotel Prime sebagai tempat menginap atau menginginkan suasana baru Tuan." Tambah Leon membeberkan kondisi yang terjadi.
"Ya ya, sudah lama aku tidak menggunakan jasa iklan. Oke Leon, cari tahu perusahaan iklan terbaik saat ini!" Perintah Dion kemudian dengan menautkan tangannya dan menatap Leon.
"Sudah Tuan! Saya sudah memperkirakan ini, jadi saya sudah mendapatkan satu perusahaan iklan yang sedang naik daun saat ini. Saya rasa, perusahaan iklan ini akan membawa kita pada kesuksesan dan sekalian saja Tuan, mereka membuatkan iklan untuk proyek motel dan resort kita di Honolulu." Kata Leon lagi penuh inisiatif dini. Hal ini juga yang membuat Dion sangat setuju dengan Leon. Dulu juga kakeknya sudah mengatakan kepintaran Leon.
"Ah kau benar benar cerdas Leon. Jadi, perusahaan iklan apa yang sangat menggetarkan hatimu itu?" Tanya Dion lagi sedikit penasaran namun kini dia sembari memeriksa berkas berkas yang harus ia tanda tangani.
"Apa kau pernah mendengar Jovancy Advertising?" Kata Leon bertanya.
"Jovancy?" Dion mendelikan alisnya dan malah mengingat nama keluarga Viena. Jovanca.
"Hehem, beberapa minggu ini perusahaan iklan itu menduduki peringkat teratas karna mendapatkan banyak proyek. Dan semua proyek yang mereka tangani nyatanya dapat menembus angka penjualan klien nya. Sungguh sesuatu hal persuasif yang luar biasa Tuan!" Kata Leon agak bersemangat karna kesuksesan perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Siapa CEO nya?" Tanya Dion mengernyitkan alisnya. Dia menghentikan kegiatannya dan menunggu jawaban Leon.
"Seorang wanita yang sangat dingin dan misterius. Tidak ada fotonya hanya namanya saja Tuan. Aku juga bingung. Dia hanya menunjukan wajahnya dari samping atau dari belakang atau bibirnya saja. Satu lagi, dia tidak pernah menemui kliennya. Semua asisten pribadinya yang mengurusnya lalu disampaikan padanya. Agak aneh namun dia menjadi sorotan sama sepertimu, tapi bedanya kau terlalu narsis Tuan, haha!!" Leon bergurau sedikit.
"Siapa namanya??!" Tanya Dion lagi tanpa mempedulikan gurauan Leon. Tatapannya dingin dan perasaannya sedikit familiar.
"Dengar baik baik Tuan! Dia belum menikah, namun karna kedewasaannya dan banyak yang menghormatinya, semua orang memanggilnya Nyonya. Jadi, perkenankan saya juga memanggilnya Nyonya VIENA GLORIA JOVANCA."
Seketika Dion terbatuk. Dadanya sesak namun tertahan dan tidak menunjukannya pada Leon.
"Siapa Leon? Ulangi sekali lagi?" Dion memastikan.
"Nyonya Viena Gloria Jovanca. Kau mengenalnya?"
"Selidiki dia dan atur pertemuanku dengannya, harus dia yang menemuiku!!!!" Perintah Dion dengan rahang wajah menegang namun seperti menemukan harta karun berharga yang sudah ia cari kemana mana.
~Heng Viena, pada akhirnya kau yang menghampiriku, kau yang datang kepadaku, tapi kenapa sekarang? Kenapa ketika hatiku hampir dimiliki oleh Pevi? Oh Tuhan, apa maksud dari semua ini?!!!~ gumam Dion memegang dadanya.
...
Ya, pada akhirnya bukan Viena yang menghampiri mu Dion, ini semua masalah takdir. Oke tolong serius ya haha vii ga mau becanda dulu karna mau kasih pesan dari semua kisah pertemuan awal Dion dan Viena. Memang semestinya semua alur, pasangan, jodoh dan nasib ada di tangan ku haha tapi semua alur yang vii ambil benar benar dari kisah sehari hari yang tidak kita sadari. Sering terjadi di tengah masyarakat yang bukan vii yang buat tapi Tuhan, oke? Haha
Pesan pertama : jangan terlalu terbuai dengan rayuan yang rasanya dapat menterjerumuskanmu. Pastikan dan yakinkan diri sendiri kalau hal itu baik atau buruk bagi kita. Jika rasanya harus terjerat, ya kita harus menerimanya. Mencoba mengalah karna mengalah bukan berarti kalah tapi tetap harus berusaha keluar dari zona tersebut.
Pesan kedua : semua yang terjadi di dunia ini adalah kuasa Tuhan, bukan kita yang menentukan, jadi jangan pernah menyalahkan kodrat atau nasib, karna Tuhan memiliki hal indah untuk kita. Seperti kata kata manis : semua akan indah pada waktunya.
Pesan ketiga : Cinta sejati ketika kalian jauh tetap memiliki rasa dan rindu. Cinta tidak harus memiliki namun saling mendoakan dan menyerahkan semua pada Tuhan.
Tamat...
Oke gaes, untuk part selanjutnya SILAHKAN BACA DARI PART AWAL, PART 1, EPISODE 1 DI MANTAN TERINDAH SEASON 1 😁😁
.
.
.
.
ATAS PERHATIAN dan waktunya telah membaca karyaku ini, vii mengucapkan banyak terimakasih. Masih mohon komen dan like untuk ending mantan terindah season 2 bagian pertama ini yaa 😁😁
.
Masih ada bagian kedua, ketiga dan keempat ya?
Stay tune teruss..
jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE DI DEPAN PROFILE NOVEL YAA..
__ADS_1
.
Thanks for read and i love youu 😍😍