Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 14


__ADS_3

Dan hanya berharap pada sebuah kepercayaan untuk mendapatkan hubungan yang bisa dikatakan 'GOAL RELATIONSHIP', jika tidak ada, hanya menuju pada pertikaian dan retaknya hubungan yang dibina lama sekalipun. Patrick mulai ragu pada Zhavia. namun, Zhavia tetap meyakinkan Patrick dan mungkin akan ada sebuah sinar yang akan kembali menerangi keluarga mereka. apakah sinar tersebut dapat menyelamatkan rumah tangga mereka atau malah akan membuat semuanya menjadi kacau?


...


"Mommy!" Panggil Zena lagi berusaha naik ke atas tempat tidur. Zhavia menoleh dan membantu nya setelah memberikan kembali gelas kosong ke Dessy.


"Sayangku, apa kabarmu hari ini?" Tanya Zhavia menggendong Zena masuk ke dalam pelukannya.


"Mommy, Daddy pergi again!" kata Zena.


"Dia harus bekerja sayang, kau mengerti kan?" saut Zhavia tersenyum.


"Yes, still working!" kata Zena lagi membuat Zhavia terkejut dengan kosa kata Zena yang semakin banyak.


"Oh my God my lady, kau semakin pintar," puji Zhavia mengecup pipi tebal Zena.


"Thanks Paman Eden," ucap Zena hendak memberitahu yang mengajari nya.


"Oohh, Paman Eden sekarang bersama Daddy mu yang mengajarimu kata kata baru?" selidik Zhavia memicingkan matanya dan tersenyum.


Zena mengangguk dengan wajah datarnya.


"I love you, Zena!" Ucap Zhavia memeluk Zena. Entah mengapa perasaannya agak berkecamuk tak menentu. Dia ingin secepatnya bertemu lagi dengan suaminya.


Namun, tak lama lagi lagi gejolak itu muncul lagi dari dalam perut nya. Dia segera meminggirkan Zena dan menuju ke kamar mandi. Zhavia memuntahkan cairan yang menyiksa perut dan tenggorokannya.


"Nyonya, apa aku perlu memanggil dokter pribadi tuan besar?" tanya Dessy memberi saran.


Zhavia melambaikan tangannya menyatakan dirinya baik baik saja.


"Aku hanya belum makan siang Dessy. Em, bisa kah kau membuatkan ku sup asparagus? Sepertinya sangat lezat," pinta Zhavia kemudian.


"Oh baiklah nyonya. Kau bisa menjaga Zena?"


"Apa dia sudah bermain piano?" selidik Zhavia.


"Not yet!" Zena yang menjawab.


"Baiklah, Dessy aku akan ke ruang kerjaku, kalau sudah jadi langsung antar ke ruanganku ya?" kata Zhavia lagi.


"Baik nyonya, permisi!"


Dessy pun menuju ke dapur sedangkan Zhavia menggendong Zena ke ruang musik. Di ruang musik, Zhavia malah tidak begitu konsentrasi. Dia merasa pernah merasakan ini. Namun, perbedaannya dia bisa memakan apapun. Dia harus membuktikannya.


Zhavia pun memegang perutnya lalu menatap Zena.


"Zena, apa kau menginginkan teman bermain di mansion ini?" tanya Zhavia iseng terhadap anaknya. Zena menoleh kepadanya.


"Hem aku punya Josh and Jocy," tutur Zena dan kembali menekan tuts tuts piano.


"No, seorang adik, kau mau seorang adik?" tanya Zhavia lagi.


"Brother?" selidik Zena menerka.


"Hahaha, anak pintar! Kita berdoa saja, mungkin saja aku dan Daddy akan memberikannya," saut Zhavia terkekeh.


"Thanks mom!" ucap Zena dan kembali memainkan pianonya.


"Kau terus mengucapkan terimakasih. Anakku sayang!" Kata Zhavia lagi.


Sekitar tiga puluh menit Dessy datang menyajikan sup asparagus dengan semangkuk nasi panas. Zhavia lebih menyukai memakan sup asparagus dengan nasi dan meminum lemon tea. Dessy dan seoramg peramu saji di dapur sudah tahu kesukaan nyonya nya itu.


"Dessy, kapan tuan kembali?" tanya Zhavia memastikan.


"Katanya secepatnya nyonya," jawab Dessy.


"Apa kau melihat mimiknya ketika membawaku pulang?" tanya Zhavia lagi memastikan.


"Ya, agak lelah dan sedikit kesal nyonya. Aku hanya bertanya kapan beliau kembali dan mengatakan secepatnya," kata Dessy.

__ADS_1


"Kesal?" Zhavia memicingkan matanya.


Dessy mengangguk.


'Ada apa dengannya? Bukankah dia sudah memecat Daniel? Semoga Patrick tidak memikirkan macam macam tentangku!' gumam Zhavia menerka nerka.


"Nyonya, kau baik baik saja?" Selidik Dessy memastikan keadaan majikannya yang agak kurang sehat beberapa hari ini.


"Ya ya, aku baik. Em, Dessy bisakah kau memesankanku satu slice lemon cake di toko kue Depan gerbang komplek cluster kita?" pinta Zhavia lagi.


"Kau menginginkannya nyonya?"


Zhavia mengangguk tersenyum kecil.


"Baik, aku akan memesankan nya. Makanlah nyonya, aku akan menemani Zena bermain piano," kata Dessy kemudian.


"Ya, terimakasih Dessy," ucap Zhavia tersenyum.


Dessy tersenyum dan mulai mendekati Zena yang menekan nekan tuts piano dengan lagu sederhana yang ia kuasai. Zhavia pun memakan sup asparagus itu dengan sangat lahap. Dia melirik jam dinding dan baru pukul 5 sore. Semoga Patrick memang pulang secepatnya dan tidak sampai larut malam. Zhavia ingin memastikan sesuatu.


Sekitar pukul 7 malam Patrick pulang bersama Eden. Wajahnya terlihat berbeda ketika memasuki mansion dan langsung menuju ke kamarnya. Dia tidak menemukan Zhavia. Dia pun kembali keluar dari kamar.


"Dessy, di mana nyonya?" Tanya Patrick.


"Di atas, di ruang tuan besar bersama Zena. Tuan besar kembali sakit, tuan," jawab Dessy.


"Dad?" Kata Patrick dan langsung menuju ke atas.


Di sana memang Patrick melihat ayahnya terbaring lemah tetapi masih bisa tersenyum dan bercanda dengan Zena.


"Ada apa ini? Dad, kau sakit lagi?" selidik Patrick.


"Patrick, aku harus bicara padamu," kata Sandra kemudian. Zhavia dan Zena melihat Patrick mendekati Sandra.


"Pat, aku dan Daddy mu harus kembali ke Legacy. Daddy mu harus menjalani terapi, seperti rawat jalan untuk jantungnya. Ada seorang dokter spesialis jantung yang sedang bertugas di sana. Dokter Elbert yang mengatakannya. Kau mengijinkannya kan?" kata Sandra menceritakan kondisi Alex.


"Kembali ke Legacy?" Patrick memastikan sambil menoleh ke arah Zhavia. Dia memikirkan Zhavia dan Zena yang pasti akan kesepian. Namun, Zhavia malah mengangguk mengiyakan keputusan ayah dan ibu mertuannya. Patrick juga mengangguk.


"Terimakasih Pat, kami akan selalu memberi kabar pada kalian," ucap Sandra.


Patrick pun melihat kondisi ayahnya yang memang agak mengkhawatirkan sementara dia belum sanggup kehilangan ayah nya. Dengan melihat ayahnya. Dia juga seperti melihat ibunya.


Patrick, Zena dan Zhavia kembali ke bawah setelah sedikit berbincang dan Alex beristirahat bersama Sandra. Zena juga ke kamarnya bersama Dessy sementara Zhavia menemani Patrick makan malam terlebih dulu.


Patrick makan dalam diam membuat Zhavia bertanya tanya


"Pat, ada apa denganmu? Apa kau masih memikirkan kejadian tadi siang?" selidik Zhavia sangat penasaran sejak tadi.


Patrick menarik napas dan menghentikan makannya. Dia meletakan alat makannya.


"Zhavia, jawab dengan jujur, benar kau tidak ada rasa dengan Daniel kan? Kau murni hanya berteman dengannya kan?" tanya Patrick seraya mengintrogasi.


"Tentu Patrick! Mengapa kau berpikir seperti itu?" jawab Zhavia mendelikan alisnya tidak percaya dengan pertanyaan pertanyaan suaminya.


"Apa tidak wajar aku cemburu melihatmu dekat dengan pria lain?" tanya Patrick .


"Ya aku mengerti, tapi dia yang selalu mendekatiku, aku tidak bisa mengusirnya karena dia menamaniku Pat. Sepertinya kau lupa akan janjimu untuk berusaha bisa makan siang denganku walau hanya sebentar," jawab Zhavia sedikit meninggi.


"Oh, jadi kau mencari penggantimu dengan bersama Daniel?" saut Patrick.


"Bukan Pat, maksudku dia menemani ku makan siang, apa masalahnya? Dia menyukaiku, mana aku tahu! Sementara aku sama sekali tidak menganggapnya lebih. Dia temanku sama seperti aku berteman dengan Eden, Hoshi bahkan dengan Adeline dan amber. Pat, jangan menjadikan ini bahan pertengkaran. Seharusnya kah sadar siapa yang membuat Daniel mendekatiku!" Decak Zhavia tidak berselera. Dia pun beranjak drai duduknya dan meninggalkan Patrick yang masih makan malam.


Patrick pun juga tidak berselera makan, dia juga beranjak dan menyusul istrinya. Di kamar dia menarik tangan Zhavia sebelum merebahkan dirinya ke tempat tidur. Dia menarik dan merengkuh pinggang Zhavia.


"Maafkan aku, aku yang salah. Maaf aku hanya cemburu, Zhavia. Maafkan aku, kau mengerti kan?" ucap Patrick memohon.


"Aku tidak menyukainya, kemarin dia memang menyatakan cintanya padaku tapi aku tidak menerimanya Patrick. Aku berusaha menghindar , dia meminta maaf tapi tadi malah menyerangku seperti itu. Kau harus percaya bahwa aku hanya mencintaimu Patrick. Percayalah," kata Zhavia kemudian.


"Ya, aku percaya, tapi Zhavia jangan seperti ini lagi. Kalau kau merindukanku dan membutuhkan aku, hubungi aku, katakan padaku, sebisa mungkin aku akan meninggalkan pekerjaanku untuk bersamamu. Kurasa hubungan kita memang semakin merenggang. Aku tidak mau kehilanganmu, aku sangat mencintaimu, Via," ucap Patrick .

__ADS_1


"Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk kepentingan pribadi Pat, aku tidak apa aku baik baik saja selama kau percaya padaku," tutur Zhavia memegang wajah suaminya itu.


"Tidak Zhavia. Katakan saja. Mulai sekarang hubungi aku jika kau membutuhkanku, oke? Janji via!" pinta Patrick dan menunjukan jari kelingkingnya di depan wajah Zhavia..


Zhavia pun mengangguk dan menautkan kelingking suaminya dengan kelingkingnya. Mereka kembali berpelukan. Zhavia ingin membicarakan tentang kehamilan yang ia kira kira tapi sepertinya dia ingin memastikan dulu sendiri lalu jika benar, dia ingin memberi kejutan pada suaminya itu. Zhavia tersenyum dalam pelukan Patrick membayangkan respon yang akan diberikan suaminya. Dia tidak sabar. Dia harus ke rumah sakit dan memeriksanya dengan testpack.


...


Dua hari kemudian, hari ini akhirnya pertama kali Patrick memiliki waktu lenggang di hari biasa. Dia tidak ada rapat, kelas, pengawasan, perbaikan teks lagu, maupun memeriksa laporan apapun sudah dikerjakan Eden, Hoshi dan Prita. Dia ingin mengajak Zhavia makan siang setelah kelasnya selesai dan mengajak Zhavia menonton bioskop. Ada Film action terbaru tentang percintaan antar asisten yang harus menghadapi mantan kekasihnya yang seorang konglomerat dan membutuhkan penjagaan si asisten pria.


Saban hari kemarin, Zhavia terus menceritakan film itu karena pemeran utamanya adalah Vernon Seventeen yang tayang perdana sebagai bintang film. Sebenarnya Patrick sebal karena Zhavia sangat memuji muji Ketampanan sang aktor dan tak lupa membandingkan dirinya mirip dengan aktor tersebut, tapi ada guratan bahagia yang terlintas di sisi sisi wajah istrinya. Dia mau memenuhi kebahagiaan itu menjadi lebih dan tampak nyata.


PATRICK


Apakah kau sudah selesai mengajar?


ZHAVIA


Sepuluh menit lagi, tapi aku aku harus memberi pelatihan bagi mereka yang menjadi nominasi solois untuk pagelaran paduan suara bulan depan, Pat . Ada apa? Kau ada di kantor?


PATRICK


Ya, aku tidak ada jadwal apa apa hari ini, aku ingin mengajakmu menonton sebelum pulang ke mansion, kau mau kan?


ZHAVIA


Wah, kesempatan yang langka, tapi kah harus menunggu sekita satu setengah jam lagi, bagaimana? Kau harus menurutinya


PATRICK


Oke tuan putri Zhavia. Aku akan menunggumu. Fighting .. i love you ❤️


Zhavia tersenyum dan melanjutkan kelasnya yang sebentar lagi. Dia tidak sabar akan menonton bersama Patrick. Sudah lama sekali mereka tidak menonton.


Namun, rencana manusia hanya manusia yang berucap, selanjutnya yang kuasa yang menentukan.


Ketika Zhavia menyelesaikan semua pekerjaannya, dia segera ke lantai 3, ruang kantor Patrick. Apa yang ia dapatkan?


Semua kantor berantakan. Semua berkas dan buku buku musik berserakan di bawah lantai di sekitar meja kerja Patrick. Gelas cangkir ginger tea Patrick pecah di pinggir pinggir pintu.


Eden dan Hoshi duduk di sofa. Eden menutup wajahnya sedangkan Hoshi masih melihat sebuah foto yang menjadi alasan berantakan ruang kantor ini. Prita berdiri di samping meja dan menundukan kepalanya.


Sementara Patrick kini sedang menatap tajam Zhavia. Di dalam tatapan itu tersembunyi kekecewaan, kesedihan, marah, heran dan sedikit kebencian.


"Patrick, ada apa ini?" tanya Zhavia terheran.


Hoshi dan Eden langsung menoleh ke arah Zhavia terkejut.


"Prita, berikan ini pada Zhavia dan keluar dulu, cepat!" Perintah Eden.


Patrick masih bergeming dengan wajahnya yang benar benar menyeramkan dan matanya sedikit melebar. Prita segera menjalankan perintah Eden.


"Ada apa Prita?" Tanya Zhavia?


Prita menggiring Zhavia kelur ke ruangannya.


"Nyonya Zhavia, lihat ini, seseorang mengirimkan lima foto ini yang tampak nyata. Aku, Tuan Eden dan Tuan Hoshi sudah menenangkan Tuan Pat, tapi Tuan Pat malah ingin membuat kantor hancur," kata Prita menyerahkan lima lembar foto itu.


Zhavia melihatnya. Kakinya lunglai. Ada apa ini? Dia tidak melakukannya, sama sekali tidak melakukannya!


Di foto tersebut terdapat gambar dirinya sedang tidur di sebuah kamar tanpa busana hanya selimut yang menutupinya. Dan seorang menemaninya tidur adalah Daniel.


...


😭


next part 15


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2