
"Roy udah lo cari siapa yang bakalan bantu kita nantinya?" Ucap salah satu anggota OSIS yang ternyata kebetulan lewat.
"Ee belum sih gue gak tau siapa." Sahut Roy yang menggaruk kepalanya yang tiba-tiba aja gatal.
"Wah buruan lo cari, kan waktunya mepet banget ini aja gue harus bikin strukturnya. Gue ke kelas dulu ya." Ucapnya yang pergi gitu aja.
"Duh siapa ya." Bingung Roy.
"Emang ada apa sih kak?"
"Gini, wakil gue sakit dan gue bingung cari penggantinya. Siapa ya yang bisa?"
"Emang kayak gimana?" Franda merasa penasaran.
"Oh lo aja deh mungkin, kayaknya bisa deh. Ya udah lo aja ya."
"Tapi kak---" Dan bel pun berbunyi tanpa tau Franda mengiyakan atau tidak. Roy langsung pergi gitu aja. Semua siswa ataupun siswi belajar kembali. Sementara itu Franda masih bingung bukan mengiyakan tapi ia hanya sekedar bertanya yang malah disalah artikan oleh Roy. Ia sengaja menggigit bibir bawahnya kalau lagi gugup atau lagi bingung. Dikala semua itu ia tidak fokus dalam belajar, walaupun Franda sudah fokus kearah depan tapi tetap saja tidak ada yang masuk kedalam pikirannya. Tapi disisi lain ia juga senang bisa berduaan dengan Roy.
"Dia lagi kenapa ya? Mikirin kak Roy?" Diam-diam Rival memperhatikan Franda yang bengong dan melamun walaupun ia tahu kedua bola mata Franda kearah papan tulis tapi setidaknya ia tau apa yang dirasakan Franda.
Kelas begitu ramai sekali dengan keributan, Roy dengan sibuknya mengecek sana sini yang ada di internet tentang proposal yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ia ingin HUT kali ini menarik, indah dan dapat menjadi moment berbeda dari sebelum-sebelumnya. "Roy lo lagi ngapain?"
"Oh gue lagi liat-liat ini nih, kira-kira ada ide gak buat bikin HUT nanti biar lebih beda." Ucap Roy yang masih sibuk, banyak referensi yang ada disana tinggal mencocok semua itu.
"Apa ya? Gue juga bingung sih. Eh bener ya wakil OSIS sakit trus penggantinya siapa?"
"Franda." Tuntas Roy dengan tegas.
"Franda? Yang pacar Rival itu?"
"Hm." Manda hanya mengangguk paham. Kenapa harus Franda? Pikirnya seperti itu.
***
Roy sengaja menunggu Rival dan Franda didepan kelas mereka berdua. Dan niat awalnya adalah ingin mengantarkan Rival terlebih dahulu ke rumah baru membawa Franda ke tempat yang sering ia kunjungi kalau ingin membeli sesuatu yang berkaitan dengan HUT intinya adalah sesuatu yang khusus menjual itu. "Eh kak Roy nunggu Rival?" Ucap Albert yang keluar duluan. Sedangkan Franda dan Rival asik mengobrol sambil merapikan buku-buku yang ada di meja guru yang ada didepan.
"Gue duluan ya kak." Lanjut Albert kembali tanpa menunggu jawaban dari Roy.
Setelah Albert pergi, Rival dan Franda keluar berbarengan dengan santainya. "Ya udah yuk."
"Tumben lo kesini, oh iya gue lupa." Sahut Rival dengan kedua tangan didalam kantung celana dan wajah yang masih pucat sekali. Ia melihat aura yang berbeda dari Roy bahkan semua itu seakan aneh dan tidak wajar dari tatapannya saja berbeda.
"Eh fran habis ini lo ikut gue ya beli peralatan buat HUT nanti soalnya harus buru-buru dibeli sih, val gue pinjam Franda bentar ya." Roy menepuk bahu Rival dengan santai sekali.
"Hah? trus gue pulangnya bareng siapa?"
"Ya gue anterin lo balik trus baru gue sama Franda beli itu semua. Gak kenapa-napa kan? Gue minta izin dulu nih sama lo." Sahutnya agak kurang enak ia tau sekali kalau Rival sosok yang suka salah paham dalam segala sesuatu bahkan kalau berkaitan tentang seseorang. Ia menatap kedua bola Franda dengan tegas, berharap kalau ia akan menolak. Dan Franda pun hanya diam dan menunduk kebawah ia juga bingung harus melakukan apa.
"Tapi kalau keberatan juga gak papa sih." Roy juga tidak mau memaksakan kehendak.
"Aku mau kok kak, val boleh kan?" Kecewa sih sedikit.
"Ya udah terserah, asal profesional aja sih gak ada yang baper, ya udah anterin gue balik." Ia melenggang pergi gitu aja menuju mobil.
Ia melirik kearah lain, Franda duduk disampingnya melihat seperti bingung sikap Rival. "Marah ya?" Bisik Rival dengan santai dan senyum-senyum sendiri.
"Apa sih val kayak anak kecil banget, ngambek segala." Ketawa Roy malah membuat Franda juga ingin ketawa tapi kalau suara itu terdengar jelas cowok ngambekkan itu suka tambah marah.
"Apa sih, Gue gak ngambek apaan sih."
"Tenang aja deh val gue yakin sama perasaan kalian gak akan ada dipisahkan. Lo sama Franda itu adalah pasangan yang gak bisa dipisahkan."
"Iya kak makasih, aku yakin kok sama Rival, dia bisa bahagiain aku, iya kan?"
"Eh." Kejut Rival yang kaget.
__ADS_1
"Jangan ngambek, jangan ngambek. Lo terbaik." Bisik Franda yang membuat Rival menggelitik.
...•••...
"Sorry ya jadi marahan deh sama Rival,. Sorry deh. Eh lo mau minum dulu?"
"Gak usah kak makasih, tempatnya jauh gak? emang banyak ya yang harus dibeli?"
"Gak juga sih, tapi ya gak papa kan?"
"Iya gak papa kok."
"Fran, hari ini kita cari kartonnya dulu kali ya buat itu semua kan biar gak kerepotan nantinya ya."
"Boleh kak, tapi uangnya emang udah ada?"
"Oh gak ada tapi gue rasa, gue bawa uang lebih sih." Franda hanya mengangguk sesuai dengan keinginan dan saran dari Roy.
Banyak beberapa versi warna yang tersedia bahkan pilihan disana, dan semua itu membingungkan. "Oh ini aja kali kak, ini bagus deh keknya. Emang konsep warnanya apa?"
"Gak ada sih tapi yang cocok buat semua kalangan apa ya."
"Eeem, biru aja gimana?" Sahutnya yang santai sambil memilih dan memilah.
"Iya kak jangan lama ya." Roy hanya tersenyum tipis.
Dan....
apa yang terjadi???
***
...Kagumimu adalah rasa, tatapan yang membuat bergejolak...
Banyak beberapa versi warna yang tersedia bahkan pilihan disana, dan semua itu membingungkan. "Oh ini aja kali kak, ini bagus deh keknya. Emang konsep warnanya apa?"
"Gak ada sih tapi yang cocok buat semua kalangan apa ya."
"Eeem, biru aja gimana?" Sahutnya yang santai sambil memilih dan memilah.
"Iya kak jangan lama ya." Roy hanya tersenyum tipis.
Dan...
Sebelumnya kedua pasang Franda tertegun dengan warna yang berbeda ini. Dan ia mengambilnya. "Kayaknya ini lucu deh."
Tapi...
Karna banyak tumpukan-tumpukan benda-benda kanan dan kiri membuat Franda tidak sengaja menjatuhkan kebawah dan membuatnya bingung karna itu memang terjadi dengan cepat dan entah yang membuat lengah. Ia berusaha merapikan kembali dan menyusunkan, sialnya banyak yang memperhatikan Franda seperti itu. Dan tiba-tiba saja ada salah satu karyawan yang melihat keadaan itu ia menghampiri dan menanyakan apa yang sedang terjadi. "Loh kok bisa seperti ini mba?"
"Maaf mba saya gak sengaja dan tiba-tiba jatuh gini. Maaf sekali lagi." Sahut Franda yang sambil gemetar.
"Gak bisa mba, mba harus ganti rugi barang-barang yang rusak kalau gak saya yang bakalan dipecat." Ucapnya yang membuat Franda semakin takut dan jantung yang tidak hentinya berdebar. Ia memainkan kedua jemarinya, matanya selalu tersorot kekanan dan kekiri tapi batang hidung Roy tidak tampak sama sekali.
"Duh kak Roy mana sih kok gak ada." Batinnya.
"Mba kok malah diam aja, ganti rugi atau saya panggilkan bos saya biar berurusan sama mba?"
Hampir pasang mata memerhatikan Franda seakan ia sedang di intimidasi oleh mereka, seakan ia bersalah. Didalam hati yang paling dalam tidak ada yang maksud untuk merusak apalagi bikin onar. Mana mungkin ia bisa mengganti itu semua apalagi barang-barang yang mahal.
"Ada apa ini?" Suara itu tampak tidak asing berharap itu Roy.
"Ini rusakin barang-barang disini." Ucap pegawai itu yang memberikan informasi yang terjadi.
"Lo rusakin ini semua fran?"
__ADS_1
Kak Roy?
"Enggak kak, aku gak sengaja narik trus tiba-tiba gini, mba saya gak sengaja kok maafin saya ya. Saya janji bakalan bertanggung jawab dan semua ini bakalan saya ganti tapi saya pulang sebentar ya buat am----" Dengan lirih membuat Franda takut dan berbicara yang gemetar.
"Udah, biar saya saja yang ganti rugi. Ya udah kita ke kasir aja yuk." Roy langsung menarik lengan Franda dan menggenggamnya erat. Tidak ada kata marah, memaki-maki bahkan seperti Rival lakukan sebelumnya. Roy memang pahlawan.
"Semua berapa?" Ucapnya, sementara tangan itu masih ia genggam. Ia tau Franda pasti takut dan malu. Dan Roy tidak perduli kan hal itu.
Setelah membayar, Roy masih tetap menggenggam lengan Franda dengan erat. Menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil. Rasa bersalah itu ada dan apalagi Roy tidak ada marahnya sama sekali. "Kak maaf ya, aku gak sengaja. Maaf bikin kakak malu."
"Udah gak papa kan kita gak tau bakalan terjadi jangan disesali semua itu gue yakin gak ada kata sengaja. Udah deh gak usah dibawa ribet gue percaya sama lo." Sambil menyetir pun Roy santai, tapi ya tetap aja gak enak hati.
Air mata pun tiba-tiba menetes begitu saja. Isakan seakan ia tutup-tutupi. "Udah jangan nangis, tempatnya gak disitu aja kok. Disana tuh emang kurang bagus agak kecilan juga tempatnya. Masih banyak tempat yang lain. Santai aja gue gak marah sama lo kok fran. Entar gue diomelin Rival lagi udah bikin ceweknya nangis."
"Senyum dong. Entar cantiknya hilang loh." Roy menghibur Franda terus menerus.
"Kakak baik banget gak marah sama aku, makasih ya kak. Entar aku bayar ya hutang dulu."
"Gak usah."
"Gak kak aku harus bayar."
"Ya udah it's Oke!."
...•••...
"Kak maaf ya jadi bikin repot kakak aku gak tau lagi mau berbuat apa tadi." Rasa bersalah itu terus saja menghantui dipikiran Franda apalagi ketika ia tau Roy lah yang sangat berjasa dibalik itu kalau enggak ia bakalan mati ditempat karna gak bisa mengganti itu semua.
"Udah deh gak usah dibawa kepikiran semua itu udah jalannya dan lo udah gak kenapa-napa kan?" Roy memegang bahu Franda dan meyakinkan kalau cerita tadi sudah lewat tapi ya yang namanya rasa bersalah akan selalu ada.
Ini bukan arah ke rumah Franda tapi ketempat lain, ada tempat yang hampir sama dari tempat sebelumnya namun yang mereka datangi ini salah satu tempat yang jauh lebih besar. "Ya udah kita beli disini aja deh ya. Gak kapok kan?" Sambil melempar senyum tipis.
"Hahaha jangan gitu mukanya, gue janji gak bakalan ninggalin lo kayak tadi. Lo aman sama gue fran kalau perlu gue gandeng deh." Candanya membuat Franda sedikit terhibur.
Dan benar saja ketika Roy lebih dulu turun dari mobil ia melihat Franda masih takut dan sedikit terkejut. "Ayo lah, mau gue gandeng hahaha." Ia hanya diam, mengikuti Roy masuk kedalam.
Ya,
Tempatnya jauh lebih luas dan rak-raknya tertata bagus lebih lebih pula. "Karton biru aja kali ya, trus kita beli pernak-perniknya gitu bagusnya warna warni atau kek gimana?"
"Terserah kakak aja deh." Udah gak banget sih suasana.
"Udah dong mata lo udah hampir sembang jangan nangis malu tau. Entar mereka pikir gue lagi yang bikin lo nangis." Roy menghapus air mata itu dengan tangannya, kelembutan sekali. Bagaimana tidak kedua jantung diantara mereka berdebar kencang sekali.
Sial!!
"Kak Roy jangan terlalu tampan, aku gugup kak! Gimana aku bisa move on sama sikap kakak yang kayak gini sih." Batin Franda yang butuh oksigen.
"Kayaknya lampion disana bagus deh buat ditempel. Oh iya harus ada angkanya gitu ya."
"Kak aku gak kuat!" Duh tangan itu masih saja menempel. Memang benar apa yang diucap Cerry kalau kak Roy memang memiliki sifat yang berbeda dengan sosok Rival pantesan aja Cerry belum bisa move on dengan kak Roy.
Banyak aneka warna yang tersedia karna yang dipilih adalah warna biru jadi harus biru utama dan warna putih sebagai pemanis. "Wah indah banget ini kak?"
"Lo mau?"
"Eh enggak kak, cuma ngomong doang kok."
"Haha gitu dong ceria, tapi gak papa kan gue gandeng tangan lo? Gue gak mau lo sedih lagi kayak tadi ketakutan kan? Gue keduluan aja sama adik gue, duh sayang banget padahal sih." Ngomong apaan sih Roy?
"Padahal gue udah yakin sama perasaan gue fran."
"Maksudnya kak?"
"Udah lupain lo gak bakalan ngerti apa yang gue ucapin. Sayangin adik gue ya, jangan bikin dia kecewa. Gue yakin kalian bahagia."
__ADS_1
Lah kenapa jadi ini jawabannya? Aneh memang.
"I---iya