Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 12


__ADS_3


Hati hati, kedekatan dan intensitas pembicaraan yang terlalu sering bisa menimbulkan kesalah pahaman rasa! Apa Patrick mengingkari janji nya lagi? Bagaimana akhirnya Zhavia menanggapinya dan apa pihak lain yang merasa dirugikan atau diuntungkan?


...


Setelah semua romansa cinta penuh hasrat itu, Patrick dan Zhavia keluar dari kamar. Mereka sarapan di sana walau waktu sudah menunjukan pukul sepuluh. Zena sedang bermain di halaman bersama Dessy.


"Apa hari ini ada jadwal, Pat?" Tanya Sandra.


"No mom! Aku ingin mengajak Zhavia dan Zena ke Honoland Plaza, kau mau ikut?" ajak Patrick tersenyum.



Zhavia menoleh ke arah Patrick. Patrick benar benar menyempatkan waktunya untuknya bahkan untuk seluruh keluarganya. Honoland Plaza merupakan mall terbesar di Honolulu yang sudah berdiri selama dua tahun belakangan ini. Di sana terdapat lengkap fasilitas untuk menghibur diri. Pusat perbelanjaan, permainan game, arena bermain anak anak, pasar swalayan, pusat kuliner dan masih banyak lagi yang sangat menyenangkan. Namun, semua fasilitas itu sangat berkelas sehingga hanya dari kalangna atas yang pergi ke sana. Meski begitu tempatnya menjadi impian setiap orang di Honolulu.


Zhavia baru satu kali ke sana ketika baru baru menikah. Sedangkan Claudia dan Wilson yang sering ke sana karena memiliki cafe.


"Patrick, kita akan pergi sekeluarga?" selidik Zhavia memastikan.


Patrick meraih punggung tangan Zhavia dan tersenyum lalu mengangguk.


"Terimakasih sayang, aku akan mengatakan pada Zena dan Dessy, mereka akan senang," ucap Zhavia menghambur menuju ke halaman depan.


Alex duduk di samping Patrick dan menepuk pundak akan keduanya itu.


"Kau harus membahagiakannya Pat, dia sangat mencintaimu, jangan terlalu sibuk. Kau pemimpin, kau bisa mengatur segalanya. Dan, jaga kesetiaan mu, karena hal tersebut sangatlah berharga," kata Alex menasihati.


"Aku tahu dad, aku tidak macam macam, semalam hanya salah paham," ujar Patrick menjelaskan yang terjadi.


"Dia menunggumu sampai dia sendiri yang meniup lilin kue ulang tahunnya. Jangan buat dia bersedih lagi!" pinta Alex lagi.


"Yes, dad," balas Patrick semakin merasa bersalah. Dia berpikir sesuatu. Dia menuju ke kamarnya dan meraihnya ponsel. Patrick menghubungi Claudia.


"Aunty, apa hari ini membuat Lemon Cake berukuran sedang atau besar?" tanya Patrick pada sambungan telepon.


"Kau mendadak sekali, pasti untuk Zhavia. Mengapa baru sekarang memberinya? Kenapa tidak kemarin? Aku saja mengantarnya ke rumah mu, tapi memang kau tak ada," gumam Claudia di seberang sana.


"Aku ada pagelaran orkestra, aunty,"


"Oohh ,"


"Jadi, ada kah Aunty?" tanya Patrick lagi.


"Sebentar kubuatkan, butuh jam berapa?"


"Pukul 3 sore di Cafe WilWil?"


"Baiklah, kebetulan Wilson akan ke sana nanti," kata Claudia memutuskan.


"Oke, thankyou, Aunty,"


"Your welcome,"


Panggilan dimatikan. Patrick yakin kalau Zhavia akan kembali bahagia.


Setelah siap semua, mereka semua menuju ke Honoland Plaza. Di sana mereka melihat lihat toko pakaian, mencicipi kuliner, mengajak Zena bermain di playpark dan menonton live music. Ketika live music, Patrick memberanikan diri naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu yang menjadi kenangan mereka berdua dulu.


Sebuah lagu Just The Way You Are dari Bruno Mars. Semua orang terkesima karena Patrick bernyanyi sambil memainkan organ. Apalagi Zhavia yang benar benar tidak percaya. Bagaimana dia bisa kesal dengan semua perlakukan manis suaminya. Zena saja sangat antusias melihatnya.


"Daddy, Daddy love mommy," kata Zena menunjuk Patrick di atas sana masih bernyanyi. sontak Zhavia menoleh ke arah Zena. dia terkejut dengan penuturan anaknya.

__ADS_1


"Oh God Zena, siapa yang mengajarimu," pekik Zhavia takjub.


"Dessy, Dessy say Daddy love mommy," kata Zena lagi.


"Dessy ..." panggil Zhavia terharu.


Dessy hanya terkekeh begitu juga Sandra dan Alex.


Mereka pun terus bersenang senang di sana sampai malam hari setelah tiup lilin Zhavia makan malam, mereka kembali ke mansion.


"Thankyou for today, darling," ucap Zhavia ketika hendak tidur malam.


"Sama sama sayang, semua asal kau bahagia. Sekarang beristirahatlah. Besok kita kembali bekerja. Dan ajaklah Zena. Sudah lama gadis kecil itu tidak berjalan jalan di sekolah," kata Patrick mengelus pundak Zhavia.


"Haha, iya Pat, tidak apa jika dia di ruanganmu?" Zhavia meyakinkan.


"Tidak apa apa, karena besok ada satu kejutan lagi untukmu," ujar Patrick lagi.


"Banyak sekali, Pat,"


"Penebusan dosaku kemarin,"


Zhavia mengangguk tersenyum dan mengeratkan pelukannya ke Patrick. Patrick juga mendekapnya dan mereka tertidur.


Ternyata keesokannya Eden juga mengajak Adeline bersama kedua anak mereka. Zhavia tentu saja senang, dengan begini dia tidak khawatir meninggalkan Zena karena Zena akan bermain bersama Jocelyn dan Joshua yang usia mereka hanya berbeda satu bulan.


Semua kebahagiaan itu ternyata tidak menyenangkan hati seorang pria yang melintas di ruangan Patrick yang bergabung dengan ruangan Eden.


"Kuat sekali cinta kalian berdua. Heng, kita lihat saja, kau akan terus membuat Zhavia bahagia atau tidak, Pat!" Gumam nya dan kembali berjalan ke ruang kelas piano nya.


...


Zhavia juga sudah meminta tolong pada Eden untuk selalu bersamanya. Sementara Hoshi sudah diperintahkan Patrick dan Eden terus memantau di sekolah dan mengurusi pendapatan yang masuk. Hal ini lebih sulit dari yang dibayangkan.


Beberapa kali Patrick kembali tidak bisa makan siang bersama Zhavia. Setiap malam Patrick mencoba memberi pengertian pada Zhavia jika dia pulang Zhavia masih terjaga. Patrick juga masih terus berusaha menghubungi Zhavia melalui pesan dan video call. Hem, meski begitu tetap saja Zhavia kembali merindukannya. Namun, Zhavia mencoba tidak mah memperdebatkan. Selama Patrick masih memberi kabar padanya.


Hal ini ternyata malah dimanfaatkan Daniel yang terus mendekati Zhavia. Dia memang sangat tergila gila pada Zhavia. Zhavia yang sangat pintar, tidak terlalu banyak bicara dan terlebih dia sangat cantik bagi Daniel.


Daniel kembali selalu menemani Zhavia. Zhavia juga merasa terhibur dan melupakan kesibukan Patrick yang membuatnya terkadang bersedih. Daniel juga sering mengajak Zena bermain piano ketika Zhavia membawanya.


Zhavia menanggapi Daniel karena Daniel sering bergurau dan membicarakan beberapa ilmu yang juga berguna bagi Zhavia. Dari semua kebersamaan mereka, Zhavia benar banar hanya menganggap Daniel sebagai teman. Dia juga menceritakan pada Patrick kalau dirinya sering berbagi ilmu dan pengajaran untuk peserta didik mereka.


Sebenarnya Patrick agak cemburu karena Zhavia terlihat lebih dekat dengan Daniel ketimbang pengajar lainnya. Namun, Patrick juga tidak mau berlebihan men-judge Zhavia karena Zhavia masih layaknya istri yang begitu memanjakan juga melayani nya. Zhavia juga kini lebih pengertian padanya.


Bagaimana sudut pandang Daniel menanggapi kedekatan dirinya dengan Zhavia?



Suatu hari, Daniel sudah menunggu Zhavia di depan kelas vocal dengan memasukan tangan ke saku celananya.


"Zhavia!" Panggil Daniel. Zhavia tentu menoleh.


"Daniel, kau membuat ku terkejut,"


"Aku baru saja selesai mengajar. Em, apa kau mau makan siang?" tanya Daniel.


"Aku mau pulang, kepalaku pening. Semalam kurang tidur karena menunggu Patrick," kata Zhavia mengelus pelipisnya.


"Patrick pulang malam lagi?" selidik Daniel menaikan alisnya.


"Ya, dia harus mengedit sebuah lagu yang ia ciptakan untuk various artis Honolulu dalam campaign hari keluarga sedunia," jawab Zhavia.

__ADS_1


"Oh, jadi hari ini di mana dia? Aku tidak melihatnya seharian," tanya Daniel lagi berbasa basi.


"Di mansion. Dia ingin tidur seharian," jawab Zhavia dengan wajah sedikit suram.


"Oh begitu, tapi Zhavia aku ingin mengajakmu makan siang di sebuah restoran. Kau bisa ikut denganku sebentar?" ajak Daniel memohon.


"Hem, kalau aku tidak mau, kau akan memaksa kan?" gumam Zhavia menerka.


"Benar, haha!" saut Daniel menjentikan jarinya di depan wajah Zhavia.


"Baiklah! Setelah itu kau harus mengantar ku pulang," pinta Zhavia.


"Oke tuan putri," saut Daniel merangkul Zhavia pundak. Mereka memang sudah cukup dekat.


Sesampai di restoran, betapa Zhavia sangat terkejut karena di sana tidak ada siapapun. Namun, yang menjadi pusat perhatian Zhavia, Zhavia melihat di tengah tengah terdapat meja makan dengan berhiasakan Bunga mawar merah semua.


"Zhavia, ayo kita duduk di meja makan penuh mawar itu," ajak Daniel menggiring Zhavia.


Zhavia agak terpaku dan menolak ketika Daniel menyuruhnya duduk.


"Ada apa ini, Daniel?" tanya Zhavia tidak mengerti dengan semuanya.


"Duduklah dulu," kata Daniel memegang pundak Zhavia untuk duduk.


"Aku tidak mau, ini ada apa? Jelaskan dulu! Mengapa seperti seorang pria yang hendak menyatakan perasaannya terhadap seorang wanita? Apa kau akan menyatakan perasaanmu pada seorang wanita? Di mana dia?" kata Zhavia melihat ke kanan dan ke kiri.


"Kau Zhavia," jawab Daniel tersenyum seakan akan Zhavia adalah kekasihnya atau teman wanitanya yang masih single.


Seketika mata Zhavia membelalak . Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Daniel.


"Apa? Siapa? Aku tidak salah dengar?" selidik Zhavia makin melebarkan matanya.


"Tidak Zhavia. Aku minta maaf, minta maaf sekali tapi aku harus mengungkapkannya. Aku menyukaimu Zhavia. Aku mencintaimu. Hem, dan kurasa kau juga merasakan apa yang kurasa kan?" kata Daniel di depan wajah Zhavia. Zhavia malah menjadi geram pada Daniel.


Pak!


Zhavia langsung menampar Daniel.


"Apa apaan kau? Lelucon apa yang kau tunjukan padaku ini sangat tidak lucu, Daniel?!" bentak Zhavia.


"Zhavia, kau jangan membohongi dirimu, kau nyaman dekat denganku kan? Kau kesepian dan aku yang selalu menemanimu. Aku tahu kau milik Patrick tapi percuma kalau dia selalu membuatmu kecewa kan. Lebih baik kau bersamaku Zhavia. Aku akan membantumu terlepas dari Patrick. Aku juga tidak apa jika kau membawa Zena untuk hidup bersamaku," kata Daniel meraih tangan Zhavia.


Zhavia mengernyitkan dahinya. Ini benar benar sudah gila.


"Lepaskan tanganku! Kau yang membuatku kecewa Daniel, kau! Kau tidak menghargai persahabatan kita dan kau juga mengkhianati Patrick!" bentak Zhavia menunjuk nunjuk Daniel.


"Zhavia, kau jangan begini, atau kita bisa menjalin hubungan secara diam diam sehingga kau bisa menyadari siapa yang selalu kau butuhkan," saut Daniel memegang jari telunjuk Zhavia tapi Zhavia langsung menghempaskannya.


"Patrick! Aku akan selalu membutuhkan dan mencintai dia! Entah mengapa, sekarang aku jadi jijik denganmu! Kau sangat merendahkan martabat ku sebagai istri! Aku pikir kita bersahabat secara sehat, ternyata ada maksud dari semua ini. Kau salah Daniel, seharusnya kau tidak mencintaiku marena selamanya cinta itu tidak akan terbalaskan. Aku dan Patric akan terus bersama. Tidak akan ada orang ketiga termasuk dirimu! Aku benar benar tidak menyangka Daniel! Permisi!" Decak Zhavia memberi peringatan pada Daniel lalu pergi meninggalkan Daniel yang terus memandang Zhavia yang semakin lam menghilang dari restoran kecil dan elegan ini.


Sejatinya Zhavia memang tidak memiliki perasaan apa apa pada Daniel. Dia hanya menganggapnya teman biasa. Teman seperti dirinya dengan Molly, Sarah, Adeline, bahkan Amber. Tidak lebih sama sekali.


...


bersambung


next part 13


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thaanks for read and i love you 💕

__ADS_1


__ADS_2