
Rival mengikuti Franda kesana dan kemari bahkan sampai didepan toilet pun juga ia ikuti. Ia hanya menarik nafas sebentar dan melihat Rival ada didepan kelas.
Dari kejauhan Bima, Rudy dan Albert pun tertawa sambil memantau sikap Rival yang aneh. "Dulu aja ogah sekarang jadi bucin hahaha."
"Kemakan sama omongan sendiri bert, bener ya kata lo."
"Tunggu aja pasti Rival kayak orang aneh gitu, apalagi diputusin sama Franda ya. Mati berdiri tuh anak hahaha."
Dan ketika Franda keluar dari toilet Rival pun tersenyum tipis dan masih diposisi yang sama.
"Ngapain masih disini?"
"Nungguin kamu, ya udah yuk ke kelas?" Franda hanya mengangguk saja dan mereka pun menuju kelas dengan orang-orang yang memperhatikan mereka yang melihat sambil tertawa kecil ada juga yang mengabadikan moment di ponsel mereka.
Aneh!
"Gak usah kayak gitu juga kali val aku malu, kan ini toilet cewek tau."
"Gak perduli siapa mereka kan?" Sahutnya dengan gampang.
"Hai fran. Cowok lo posesif juga ya." Ucapnya membuat Rival emosi dan apalagi kalau berhubungan dengan Chiko. Cowok yang bikin Rival selalu kesal.
"Apa lo?"
"Udah kita kelas aja, Chik duluan ya." Franda menarik tangan Rival dengan cepat bisa-bisa Rival marah dan mereka berdua berantem bahkan semua diluar dugaan nantinya.
"Lus lo yang tegar ya, lo harus kuat." Ucap Milka yang melihat Franda dan Rival yang begitu dekat sekali. Mereka melintas begitu saja didepannya, "Sok cantik banget!" Kesal Franda yang menginjakkan kakinya ke Milka.
"Aw, sakit gila!" Kerutan terlihat sekali dari dahi Milka.
Ketika Franda duduk dan mengobrol dengan Cerry, Rival malah menyuruh Cerry untuk minggir terlebih dahulu. "Loh."
"Gak boleh?"
"Kenapa lagi sih val?"
"Gue gak boleh duduk disini?"
"Lo hari ini aneh deh jadi orang."
"Gue berubah."
"Berubah lo gak wajar, dan bikin risih!. Udah mending duduk disana bentar lagi bel bunyi. Udah sana pulang sekolah bareng juga kan?" Usir Franda dengan mendorong Rival dan menarik Cerry untuk duduk.
Cerry hanya bisa mencengir ringan, melihat mereka berdua seperti tom and Jerry.
"Jangan ketawa deh cer, gak lucu!."
"Bagi dong ilmu peletnya, manjur juga."
"Ih ini satu gak lucu!"
"Lo bucin val?"
"Iye Kayaknya hahaha."
"Ngaku ya! Sekarang udah gak gengsi wkwkwk."
"Iye gue bucin, tapi tunggu dulu bukan budak cinta. Tapi kebutuhan cinta. Kebutuhan supaya langgeng!"
"Lah.."
***
"Rubi?" Ucapnya yang terkejut sekali melihat Rubi sudah ada didepan rumah.
"Kenapa rub?"
"Gimana Rival udah jatuh cinta sama lo belum?" Disaat pertemuan mereka seperti ini saja Rubi sudah langsung to the point. Lantas Franda bingung dengan jawaban yang tidak ia pikirkan sebelumnya.
"Duduk dulu ya, mau gue buatin apa?" Sahutnya yang juga bingung harus seperti apa.
"Terserah aja." Franda pun masuk kedalam dan membuatkan minuman untuk Rubi tamu yang tidak ia sangka-sangka sama sekali.
Rubi tidak sabar lagi untuk mengetahui jawaban dan perkembangan tentang Rival. Ia selama ini masih berharap sekali atas Rival walaupun ia sangat tau sekali kemungkinan itu pasti ada. Makanya ia meminta untuk segalanya.
"Nih rub." Ia menaruh segelas teh hangat diatas meja.
"Gimana?"
"Udah kok kayaknya, tapi harus diputusin dan nyuruh dia bukan deket sama lo?"
"Iya dong! Kira-kira kapan?" Ketawa Rubi semakin yakin Franda kalau tujuannya memang itu. Tapi..
Tapi ia tidak tega dengan Rival, cowok yang memang menyebalkan tapi sebenarnya dia orang yang baik dan gak pantas untuk dikhianati.
__ADS_1
"Eeee gimana ya?"
"Lo jatuh cinta sama cowok gue?" Bahkan disaat seperti ini saja Rubi masih mengatakan kalau Rival adalah pacarnya.
"Enggak kok.."
"Bagus deh, tapi kapan fran? gue gak sabar banget nih buat deket sama dia lagi. Duh senengnya!"
"Iya sebentar lagi ya!" Jawab Franda ragu. Ia melihat Rubi mengambil sesuatu didalam tasnya dan memberikan langsung ke tangan Franda.
"Uang?"
"Buat apa?"
"Ini uang buat lo, anggap aja gue ngasih gue ikhlas kok seriusan diambil ya." Senyumnya sambil mengelus bahu Franda dengan lembut.
"Maaf gak usah rub, terima kasih banyak gue gak bisa terima. Gue melakukan karna atas dasar kita sama-sama perempuan."
"Serius lo gak mau?" Tanyanya dengan kedua matanya. Menyorot langsung.
"Serius, ambil aja kasih ke yang lebih membutuhkan."
"Oh oke kalau gitu, gue ambil padahal gue ikhlas banget. Gue minum ya." Sahutnya yang langsung meminum minuman yang disuguhkan tadi.
"Em kalau gitu kayaknya gue balik aja deh, gue cuma pengen memastikan itu doang kok, ya udah gue balik dulu ya."
"I----iya."
Andai saja tidak menerima dari awal tidak akan berlanjut seperti ini, Sungguh akan menyakiti seseorang nantinya, akan merasa bersalah yang mendalam. Dibenci adalah kata yang siap diterima,
Kebohongan yang menjadi pusat permasalahan, tega adalah kata yang harus diterima.
Ya, konsekuensi yang harus Franda terima.
"Maaf val gue gak bermaksud jatuh terlalu dalam seperti ini."
Nomor tak dikenal
Lakukan yang terbaik, karna terbaik akan menjadi baik biarkan itu pahit tapi akan tertelan manis.
Siapa ini?
Ia langsung saja masuk kedalam rumah dan menguncinya tidak ada siapa-siapa disekitarnya.
***
Selama di motor, Franda hanya diam dan melamun ia ingin sekali mengatakan kalau ia sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Rival. Sudah cukup beban yang berpura-pura yang ia tahan selama ini, percuma saja. Dari kaca spion motor ia hanya bisa tersenyum dengan gadisnya yang satu ini. "Kenapa pagi gini harus sedih?"
"Jangan melamun apalagi masih pagi?"
"Enggak kok pah lagi mikirin buat UAS nanti."
"Oh ya udah semoga kamu jangan melakukan kebohongan di pagi ini ya, jangan terlalu banyak berpura-pura bahagia tapi ada beban diantara itu." Ucapan langsung menusuk tepat ditengah-tengah dada. Hantaman sekaligus tamparan melesat. Tapi tidak mungkin juga Franda mengatakan hal ini, terlalu pagi untuk galau dengan permasalahan anak muda.
"Belajar yang bener!"
"Papah hati-hati ya assalamua'laikum."
"Waa'laikumsalam."
Malu gak? Dengan sepeda motor butut? Gak sama sekali. Di sekolah tujuannya belajar bukan untuk memamerkan apapun itu.
Ketika kabar yang beredar kalau Franda dan Rival pacaran semua hampir tidak percaya sama sekali. Karna berbeda sekali dari tahta, status dan ketenaran yang terlihat nyata.
Selama hampir setahun ini banyak sekali yang tidak suka dengan hubungan mereka berdua pro dan kontra yang selalu akan ada. Tapi Franda tidak mempermasalahkan sama sekali itu adalah hak mereka untuk terus dan terus tidak Menyukainya.
"Hai, nona selamat pagi." Sapa Rival.
"Pagi."
"Uhuyyy uhuyuyy."
"Pulang gue tunggu di depan parkiran."
Franda mengangguk, Senyum Rival membuat Franda ragu!
***
"Habis ini mau kemana?"
"Gue laper mampir bentar ya!" Lanjut Rival.
"Val."
"Ayo buruan!!!"
__ADS_1
"Val, kita putus!" Dengan lantang Franda mengucapkan hal itu dengan lantang dengan tatapan yang sejajar dan datar. Ia pergi begitu saja, dan meninggalkan Rival yang sudah membukakan pintu mobil.
Jahat? Memang jahat, tapi ini saatnya untuk mengakhiri kebodohan ini, menjalin hubungan yang tidak seharusnya dengan paksaan.
Ada rasa cinta? Menang ada, tepatnya rasa simpatik yang Franda rasakan ia pun sempat menaruh hati kepada Rival tapi sudahi saja ketika kita sudah tidak tahan.
Rival bingung. Dan ia pun menarik tangan Franda dengan cepat, ia tidak terima sama sekali. Memintanya untuk menjelaskan sejelas-jelasnya apa maksud ucapan putus dengan gampangnya itu.
"Bercanda ya? Ayo ah gue laper!" Ia masih berharap Franda sedang bercanda.
"Val aku serius!"
"Bercanda kan? Udah ah masuk!"
"Enggak val." Jeda beberapa detik menahan ludah. "kita tuh udah gak ada kata cocok. Selama ini pacaran kita tuh gak serius ngapain harus diteruskan nantinya bakalan menyakiti satu sama lain." Ia menarik tangannya dan meninggalkan dengan cepat.
Rival tidak tinggal diam, ia mengejar Franda dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil dengan paksa. Mendorong dengan kasar, menyuruhnya tanpa persetujuan Rival, Ia sudah merasa berubah tapi diperlakukan seperti ini. Pengorbanan macam apa? yang tidak dihargai?
"Val, gue mau turun."
"Lo bisa diam gak?"
"Val gue mau turun! Hubungan kita udah selesai gak ada yang harus dipertanyaan dan gak ada yang harus dipaksakan apalagi soal rasa val. Udah deh val gak usah dibikin ribet. Gue udah ngerasa kita gak cocok, kita tuh dari awal emang gak ada sama sekali rasa buat pacaran apalagi hubungan yang aneh ini,. Percuma val!"
"Lo bisa diem gak? Seenaknya lo bilang seperti itu, kita hampir satu tahun loh. Lo lupa?"
Hah? Franda pun merasa heran dengan sikap Rival, Sudah biasa tapi itulah yang ia takuti selama ini. Sikap frontal yang diluar dugaan tepatnya Rival sosok yang nekat.
Tiba-tiba saja Rival menginjak rem mobilnya mendadak. "Banyak yang gak suka sama hubungan kita val, banyak juga yang kontra, lo bisa dapatin orang yang jauh lebih baik, jauh lebih segalanya bukan gue val, bukan gue! Please val kita bisa berteman baik."
"Seenaknya lo bisa ngomong kayaknya gitu? gue udah mulai berubah untuk lebih baik, tapi apa? lo balas dengan air tuba?"
"Bodoh! Bodoh lo!!!" Lanjutnya yang kesal membuka kaca mobil agar udara masuk karna didalam sudah mencekam.
"Gue emang bodoh, makanya gue berakhir diwaktu ini dari pada berlarut dan bikin lo tambah sakit hati!"
"Sakit hati lo bilang? Sekarang gue udah sakit hati. Puas lo?"
"Tapi apa lo mau melakukan apa pun yang gue mau?" Ralatnya Franda.
"Maksud lo?"
"Ada satu syarat val. Tapi ya sudah kalau lo gak mau! Kalau lo benar cinta sama gue lo pasti mau melakukan hal ini."
"Apa? Gue bakalan melakukan kemauan lo!" Tegas Rival cepat.
"Balik sama Rubi. Bahagiain dia. Karna dia butuh lo!"
"Hahahaha bercanda lo! Rubi?" Seakan itu lucu hingga ia tertawa terbahak-bahak.
Dan dalam satu menit kemudian.
Ia menatap Franda tajam. Menggenggam tangan Franda erat hingga ia kesakitan.
"Aw sakit val, sakit lepasin."
"Sama sakitnya kayak hati gue!. Lo pikir hati gue batu? Lo pikir apa?"
"Gue manusia juga! AKH...." Teriaknya menacak rambut kasarnya.
"Lo pikirin kembali kalau lo beneran cinta sama gue, gue harap ada jawaban terbaik. Gue sayang sama lo val!"
Sesak sekali mendengar jawaban Franda ia keluar dari mobil Rival perlahan semakin menjauh.
Lalu ia kembali.
"Val jangan ngebut, hati-hati di jalan." Senyum Franda simpul.
Matanya lurus kedepan tanpa menengok Franda disamping. Ia masih tidak terima dengan pernyataan Franda.
Terkejut. Kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini.
...•••...
Kata putus terngiang-ngiang dipikiran Rival, ia masih tidak menyangka sama sekali. Rasa sakit ini sama seperti putus dengan rubi. Rasa ini jauh lebih dominan dan melebihi segalanya.
Sempat mengatakan dan berfikir kalau Franda orang yang tepat dari sabar, tidak mudah marah, jadi diri sendiri bahkan menjadi orang yang sempurna dimata Rival. Semua seakan mimpi disiang bolong!
Tapi ia masih penasaran. Terbersit kata untuk jenjang serius. Melanjutkan ke sisi yang jauh dan jauh lebih membaik. Ia kesampingkan rasa itu, dan membiarkan agar luka akan sembuh lebih cepat. Ia masih mau memperbaiki itu semua, tanpa ada keadaan yang sama seperti sebelumnya.
Franda,
Di kamar yang sederhana ia menatap keatas langit-langit, ia tau sekali kalau ucapan tadi itu adalah paksaan dari pikirannya yang tidak tahan lagi akan kedustaan dan kepura-puraannya itu. Disisi lain ia tau itu salah, dan disisi lain ada orang yang menahan sakit. Ia tidak bermaksud tapi apa? ia sudah melakukan hal itu.
"Val maaf." Biasanya Rival sudah chat di malam entah pembahasan tidak penting, dan hal aneh lainnya itu. Kini kosong dan tanpa notifikasi. Memandang ke layar ponsel yang redup hanya notifikasi sms dari operator kalau pulsa dalam masa tenggang.
__ADS_1