Mantan Terindah

Mantan Terindah
13. Ulang Tahun


__ADS_3

...Kebahagian bisa tercipta dengan cara yang sederhana....


Franda merasa tidak enak dengan Rival yang sudah mengantarkannya ke supermarket. "Val ma-ka-sih ya udah anterin gue kesini." Gagap Franda.


"Ka---lau lo mau balik gue gak papa kok disini. Bisa beli disini sendiri dan pulang sendiri." Ucap Franda agar Rival pergi meninggalkannya.


"Lo ngusir gue?" Menaikkan alisnya sedikit.


"Gini aja lo pengen buat kue apaan?"


Ucapnya.


"Bolu." Ia menaikkan alisnya sedikit keatas, melihat Rival mengambil  bahan-bahan untuk membuat kue dari tepung terigu, margarin, telur, pengembang kue dan bahan lainnya dengan cepat diambil oleh Rival seolah ia mengetahui kue-kue yang akan dibuat nanti. Franda bingung cowok seperti Rival bisa juga membeli bahan sehafal itu.


"Buat kue bukan cuma buat cewek doang. Cowok juga bisa kali." Ucapnya sambil menemtengnya ke kasir. Semua pembeli yang ada disekitar mereka menatap Rival dengan heran dan berdecak kagum apalagi mereka sesekali berbisik satu sama lain. Franda juga berdiri disamping Rival sambil tersenyum kecil padahal dirinya yang disuruh malah Rival yang repot menawarkan diri untuk membeli bahan-bahan kue.


Rival menuju ke kasir lalu membayarnya "Barapa mba?"


"Semuanya dua ratus ribu." Rival mengeluarkan uang yang ada di dompet lalu membayarnya ke kasir. Ia memberikan kantungan plastik kepada Franda untuk membawanya kedalam mobil.


"Cepet masuk?" Suruhnya yang lebih dulu masuk kedalam mobil. Franda mengangguk pelan.


"Eee, tadi berapa semuanya?" Tanya Franda yang tidak enak hati. Ia padahal juga tidak membawa uang sebanyak itu. Rival menatap tajam "Emang lo bawa uang sebanyak itu?" Gelengan cepat dijawab oleh Franda lalu mobil berjalan tanpa ada obrolan sedikit pun.


Didalam hati Franda bingung apa yang akan ia katakan nanti kepada mamanya kalau Rival lah yang membayarnya. "Eee, entar gue bayar." Gugupnya.


"Hm." Menatap ke cermin yang berdiri tegak terpasang diatas menatap wajah Franda sekilas perempuan itu sedang gugup.


"Gue yakin lo emang bisa bikin kue?. Gue yakin sih gak bisa ya. Cewek ceroboh kayak lo sih emang gitu palingan cuma teori kan?" Seenaknya Rival berbicara seperti itu padahal walaupun ia sering membantu mamanya membuat kue di rumah tapi ia tidak mampu mengingat resep kue step by step secara keseluruhan.


"Udah, gue yakin dari wajah lo aja udah gak yakin gitu." Cengirnya dengan pede.


Franda menggeram pelan menatap wajah Rival dari tadi cowok ini suka sekali membuatnya emosi "Dasar cowok aneh. Selalu aja bikin emosi." Gerutunya.


Mobil terparkir didepan rumah Franda, mobil Rival tak kunjung pergi dan pulang. "Eh lo main masuk aja. Seenaknya banget ya mana tata krama lo? Udah dianterin pula." Omel Rival yang melihat Franda menyelonong begitu saja kedalam rumah kebetulan sekali sang ibu ada diruang tamu melihat di balik jendela ada mobil yang terparkir diluar.


"Hai tante."


"Ayo masuk dulu yuk." Ramah ibunya Franda. Franda berdoa dalam hati agar Rival tidak menerima ajakan ibunya. Tapi apa...


Rival mematikan mobilnya dan mengambil kunci lalu memasukkan kedalam celana sekolahnya.


Rival melepas begitu saja sepatu yang ia pasang, ia dipersilahkan masuk kedalam rumah Franda seperti tamu. Ibu Franda menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu beserta papahnya Franda yang menyambut dengan ramah.


"Hallo om, saya Rival temen sekelas Franda." Rival mencium papahnya Franda dengan ramah.


"Fran, buatin minum buat temen kamu." Suruhnya. Franda mengangguk pelan lalu ia menuju kedalam kamar sebentar untuk menaruh tasnya dan langsung ke dapur untuk membuatkan air.

__ADS_1


"Mah, kenapa sih malah disuruh masuk, kan gagal buat kuenya." Ucap Franda yang belum terima. Lantas ia hanya tersenyum melihat anaknya yang cemberut. "Gak boleh gitu kita rayain aja bareng-bareng biar seru kan?" Franda membulatkan matanya.


"Enggak mah enggak. Kenapa ada dia sih.." Tolak spontan Franda dengan menggeleng cepat. Tapi apa? Semua bertolak belakang dengan jalan pikiran Franda ia hanya bisa pasrah saja.


"Ini bahan kuenya? Kamu emang bawa uang?"


"Enggak."


"Trus siapa yang bayarin? Rival?" Franda mengangguk cepat. Ia tersenyum lalu memegang bahu Franda dengan santai. "Rival baik ya."


"Ah bi---sa aja." Ucapnya.


Franda membuatkan minuman untuk Rival kenapa bisa sekali Rival mengambil hati kedua orang tuanya.


"Nih di minum."


"Waduh jadi repot gini. Makasih ya." Senyumnya membuat Franda malah makin geram dan makin kesal.


"Oh iya katanya om hari ini ulang tahun ya kata Franda? Maaf ya om belum bisa kasih hadiah."


"Ah, gak papa kok. Lagian kan juga gak butuh hadiah udah tua juga."


Ia kembali ke dapur untuk membuat kue membantu ibunya. Bahan-bahan yang sudah ia beli tadi ia buat sekarang juga bersama ibunya.


Disela itu ada obrolan yang tidak mengenakkan hati Franda "Kamu lagi pede kate ya sama Rival?"


"Ayo jangan malu-malu mama restuin kok papah kayaknya juga."


"Hallo tante, lagi bikin kue ya? Pengen aku bantuin? Aku suka juga buat kue di rumah sama mamah walaupun suka gengsi sih hehehe." Rival mengambil tempat Franda berdiri dan menggesernya.


"Oh boleh, tolong kamu ambilin mangkuk yang ada di bawah itu ya trus masukkin gula sama telur."


"Siap tante." Rival membantu untuk membuat kue. Dengan piawainya ia meletakkan bahan-bahan kue kedalam wadah yang sudah ia ambil tadi lebih piawai ketimbang Franda yang notabennya seorang perempuan.


Franda tidak menyangka sama sekali kalau Rival cowok menyebalkan yang bisa juga membuat kue yang sering dilakukan oleh perempuan.


"Rival, kamu di rumah berapa bersaudara?"


"Dua tante. Yang pertama kak Roy yang satu sekolah sama Rival dan Franda juga dan satu lagi perempuan Tiffany yang kembaran kandung kak Roy. Jadi mama aku dua kali melahirkan aja. Kalau Franda berapa bersaudara?"


"Kalau Franda sekarang udah jadi anak tunggal. Dan kakak pertama Franda meninggal diusia kecil dulu dia cowok."


"Oh gitu tan, nih gimana lagi?" Tanya Rival yang sudah selesai menyelesaikan adonannya yang sudah di mixer itu.


"Val mending lo ke depan aja deh sama papah gue. Biar gue sama nyokap gue ya." Franda mengambil alih Rival lalu menyuruhnya untuk keruang tamu.


Setelah pergi sang ibu menasehati Franda untuk bersikap sopan. "Jangan gitu sama temen kamu."

__ADS_1


"Gak papa kok mah. Dia nyari muka aja."


"Seru banget om baca korannya."


"Eh udah selesai?"


"Belum sih om hehe. Gak enak juga urusan perempuan di dapur mending aku ke sini kan?"


Mereka berbincang-bincang di ruang tamu membahas tentang apapun apalagi mereka memiliki hobi yang sama yaitu games online. Walaupun usia mereka beda tapi mereka memiliki hobi yang sama karna usia melumpuhkan semuanya.


Satu jam kemudian kue bolu pun jadi walau masih panas. Ia menyajikan diatas meja dan berdoa supaya diusia yang bertambah ini menjadi usia yang berkah, bermanfaat dan hal lainnya.


Kali ini berbeda karna ada Rival diantara mereka dimoment spesial ini.


Setelah doa selesai ibu Franda mengambil potongan kue kecil diatas piring yang sudah dipotong kecil-kecil lalu menyuapkannya ke sang suami dengan memberikan ucapan agar selalu dipanjangkan umur, sehat selalu dan hal baik lainnya. Lalu menyuapkan ke Franda anak tunggal mereka yang selalu menjadi kebanggaan. Lalu ke Rival cowok yang ikut tersenyum sontak ia terkejut.


"Maaf ya Rival kalau perayaannya sederhana gini."


"Ah gak papa kok tan, lagian juga gak perlu yang mewah juga." Kebahagiaan berjalan begitu saja diantara orang baru. Tiba-tiba saja telefon Rival berdering didalam sakunya.


"Ha----lo?"


"Oh iya mah ben--tar lagi kok." Lalu ia menutupnya dan menaruhnya kembali ke saku.


"Nyokap?" Rival mengangguk.


"Ya udah kalau gitu Rival balik aja deh soalnya mamah udah nelfon nih." Ia berdiri dari duduknya diacara sederhana yang belum selesai ini tapi karna ada insiden tapi ya sudah lah.


"Tante, om Rival balik dulu ya. Boleh kan nanti kalau aku kesini lagi main."


"Hahaha boleh kok setiap hari juga boleh."


"Ya udah om balik dulu. Fran gue balik."


"Makasih ya, udah nganterin sampai ke rumah. Oh iya tunggu bentar." Franda masuk sebentar kedalam kamarnya mengambil uang untuk membayar bahan-bahan yang dibeli tadi ia tidak mau berhutang budi.


"Hm, tugas lo kerjain. Dan ngapain lo masih disini? Sana masuk jangan sok cantik." Rival menyalakan mobilnya lalu pergi begitu saja meninggalkan area rumah Franda tanpa menerima uang yang diberikan oleh Franda. Franda tersenyum kecil dengan sikap Rival yang terlihat sombong dan cuek diluar namun didalamnya ternyata cowok yang baik.


Rival tersenyum kecil, entah kenapa ia bisa sebahagia ini mengerjai Franda.


Sang ibu menyuruh Franda untuk duduk disampingnya yang ia tepuk-tepuk ketika Rival sudah pergi dari rumahnya. "Dia itu pacar kamu ya?" Ucapnya yang jail menatap mata Franda dengan menunggu.


"Hah? Bukan kok mah. Mamah kok bisa sekepo ini sih pah." Rengeknya yang meminta pembelaan. Lantas papahnya hanya diam lalu tersenyum kecil.


"Emang bener mah?" Godanya yang menyudutkan Franda.


"Ah mama sama papah suka gitu, enggak kok bukan. Dia juga udah lagi deket sama cewek dan lebih cantik dari Franda dia satu kelas juga sama Franda." Tepis Franda yang yakin kalau Rival menyukai Cerry sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Oh gitu, tapi dia anak yang baik kok." Pujinya.


Kalau ia bisa mengatakan apa yang sebenarnya mungkin kedua orang tua Franda akan juga membenci tapi bukan waktunya Franda mengungkit sisi buruk Rival ia hanya tersenyum tipis dan menuju kedalam rumah.


__ADS_2