
"Lo terpesona sama kegantengan gue ya? Gue udah tau kalau lo suka sama gue kan?"
Aduh apaan ini.
"Tapi jangan kesenengan ya, gue ngelakuin ini buat caper doang dari Ruby gue pengen balas dendam sama dia. Gue terlanjut sakit hati sama dia."
"Gue benci banget sama cowok yang sok pahlawan itu."
"Siapa?"
"Chiko, gue benci banget sama dia. Dan cuma lo yang bisa bantu gue untuk rencana gue."
"Ke---napa harus gue?"
"Karna cuma lo yang cuma bisa gue andalkan. Terserah lo mau minta apa dari gue setelahnya."
Dalam hatinya ia benar-benar kesal tapi Franda masih bingung dengan sikap Rival.
"Bisa juga ya si cewek cupu cantik." Batin Rival.
"Kak Roy ikut juga?"
"Iya dia duluan. Lo kenapa nanya kak Roy?"
"Eng---gak kok cuma tanya aja."
"Oh. Tipe kakak gue bukan kayak lo jadi lo gak usah berharap lebih. Dia suka sama Cerry sahabat lo dan lo jangan geer juga kalau gue jemput lo. Ngerti?"
"Hm."
Acara sudah terdengar dari kejauhan, mobil-mobil sudah terjejer disana hanya ada beberapa sepeda motor disana. Berarti Rubi dari kalangan yang cukup berada. Rival merapikan jasnya yang kucel menjadi lebih rapi membukakan cepat pintu mobil untuk Franda. Ia menjulurkan tangan dan menggandeng tangan Franda untuk menuntunnya untuk masuk kedalam pesta ulang tahun.
Perempuan yang tepat berdiri ditengah-tengah sana begitu cantik sekali memakai baju pink dam mahkota di kepala kecilnya. Kue yang begitu besar pun sangat terlihat jelas dari jarak yang lumayan jauh. Apalagi dari kalangan teman-teman Rubi yang notabennya lebih banyak dari cewek-cewek yang juga menggunakan gaun Franda tersenyum dari hati ternyata Cerry tidak salah memberikan gaun yang sekarang ia pakai ini. Ia mengangkat gaun yang sedikit menjuntai kebelakang karna memang model baju yang ia pakai kali ini memang seperti itu kebanyakan. Chiko pun ada disana dengan begitu sangat rapi dan berkarisma. Jantung Franda berdebar begitu kencang sekali ketika melihat para tamu datang disana. Apalagi Roy juga ada disana sebagian wajah ada yang Franda kenali.
"Rival?" Suara itu pertama kali Franda dengar tepat dihadapannya. Perempuan yang benar-benar cantik dan begitu elegan sekali layak untuk para cowok yang mengejar-ngejarnya.
Rival menjulurkan tangannya mengucapkan selamat ulang tahun dengan rahang yang terlihat sekali ada rasa canggungnya. "Selamat ulang tahun ya rub, semoga diulang tahun kali ini jadi ulang tahun yang menjadikan diri kamu lebih baik dalam segala hal, dan panjang umur."
"I---ya makasih ya val. Ini siapa?" Rival melirik kearah Franda yang hanya bengong dan senyum-senyum gak jelas sama sekali. Ditambah pula sorotan mata mereka yang mengarah.
"Eh, ada Franda. Sumpah gue gak nyangka banget lo secantik ini." Chiko ternyata baru sadar atas kehadiran Franda yang tepat disamping Rival tapi karna jarak yang lumayan tidak terjangkau karna saking banyaknya Franda hanya membalasnya dengan senyum tipis yang terukir dari kedua bibir atas dan bawah.
"Dia, gebetan aku. Gimana cantik gak Rubi?" Gebetan? Sontak semua melihat kearah Franda dan seolah membandingkan Franda dengan Rubi antara langit dan bumi yang sangat berbeda jauh sekali.
Rubi tersenyum kecil ada hal yang menutupi senyum palsunya itu. "Oh, kenalin aku Rubi."
"Franda."
"Oh iya nih, nih kado dari aku sekali lagi selamat ulang tahun ya." Dua orang yang pernah dekat dan ketika mereka bertemu kembali mereka sangat terlihat sekali ada rasa canggung dan rasa aneh yang mereka rasakan. Ada ruang diantara mereka yang masih kokoh tapi kegengsian kedua belah pihak yang menjadi sebuah dominan diantaranya. Rival begitu romantis sekali menggandem Franda padahal sangat berbeda jauh dengan kehidupan mereka sehari-hari.
"Ini bukan apa yang lo bayangkan gue cuma pengen liat reaksi Rubi doang." Bisiknya begitu menohok. Ternyata benar Rival tidak benar-benar bersikap baik melainkan hanya menutupi sebuah topeng.
"Cie, val udah berani terang-teranggan nih?" Albert cowok kutu buku ternyata bisa juga secakep dan semodis malam ini hingga Franda tidak mengenali siapa yang sedang berbicara dengan Rival.
"Bima sama Rudy mana?"
__ADS_1
"Ada tuh bareng kak Roy lagi ngobrol." Tunjuk Albert dengan telunjuknya karna tangannya masih memegang segelas minuman yang ada disini.
"Eh, cer." Untungnya ada Cerry yang tiba-tiba datang dengan gaun yang begitu cantik sekali memang Cerry salah satu cewek cantik yang ada di kelas.
"Waduh cantik banget sahabat gue, gak nyesel kan?"
"Hus." Franda harus lebih cool.
"Lo udah lama disini?"
"Ya lumayan sih, temenin gue kesana yuk?" Percuma saja Franda disini apalagi bareng Rival yang mungkin akan menjadi canggung yang berkelanjutan.
"Hai, kak Roy." Oh ternyata pengen deket sama kak Roy. Pikir Franda dalam hati.
"Fran, lo cantik banget malam ini beda banget."
"Ma--kasih kak." Franda malu kalau di puji sama orang yang ia kagumi dari dulu. Ramah dan baik hati yang menjadi salah satu daya tarik yang dimiliki oleh seorang Roy dan itu mampu memikat cewek-cewek yang ada di kelas maupun satu sekolah.
"Bentar ya gue kebelet dulu."
"Eh gue ikut."
"Udah lo disini aja ngobrol dulu sama kak Roy."
"Ta----"
"Udah disini aja fran." Roy pun ikut berbicara agar Franda tetap disini. Dua suara yang membuat Franda hanya bisa mengikuti.
"Eeem, bareng Rival ya tadi?"
"Enggak boleh emang kak?" Franda merasa kalau dari kalangan yang sama saja yang harus berangkat bareng.
"Hahaha, enggak gitu. Maksud gue kok bisa cowok bad boy gitu yang ngajak cewek baik kayak lo." Walaupun Franda tidak memahami apa maksud Roy sebenarnya tapi ia mencoba untuk menampilkan ekspresi wajahnya menjadi paham.
"Hei, boleh gabung?" Chiko, suara itu terdengar langsung dari kejauhan dan Rival langsung memperhatikan gerak-gerik itu apalagi kalau berhubungan dengan Chiko.
"Fran, boleh gak kalau misalnya kita dansa bareng nanti?"
Dengan langkah yang cepat Rival menahan jawaban yang ingin keluar dari mulut Franda. "Franda gue yang ngajak jadi gue yang bakalan dansa bareng dia. Mending lo sama yang lain sama rub---"
"Loh kenapa val? Emang Franda mau?" Roy pun menengahinya.
"Tanya aja sama orangnya val." Chiko melirik kearah Franda yang hanya diam.
"Eeeeee.."
"Ya dia mau sama gue lah secara kita deket. Lo siapa emang?"
"Eh main dorong aja. Lo yang siapanya Franda?" Chiko pun membalas dorongan kecil dari Rival. Dari kejauhan Rubi melihat Rival orang yang dulu ada didekatnya kini sudah mendapatkan orang yang benar-benar bisa merubah perasaan.
Dari kejauhan Rubi ternyata memperhatikan Rival yang masih beradu cekcok. "Sabar rub, gue yakin Rival masih ada rasa sedikit ke lo kok."
"Udah beda sekarang, Rival kayaknya udah bahagia sama cewek yang ada disampingnya sekarang." Rubi memanyunkan kedua bibirnya perasaannya benar-benar hancur kali ini ternyata di pesta yang seharusnya mendapatkan hari bahagia dan orang yang ia harapkan kali ini ternyata semua diluar ekspetasi.
"Ya udah kalau gitu, kita tanya langsung aja sama Franda."
__ADS_1
"Jadi lo milih siapa diantara kita bertiga?"
"Loh?"
"Ayo buruan cewek cupu." Rival sudah melotot dan menunggu agar Franda memilihnya.
"Ri--- rival." Dengan nada yang terpaksa akhirnya Rival yang akan menemaninya berdansa.
"Lo dengerkan kalau Franda bakalan milih gue." Secara tiba-tiba Rival merangkul begitu saja memang benar kalau Rival melakukan misi ini untuk memanas-manasi Rubi. Chiko menatap mata Franda dan ia sangat yakin kalau Franda tertekan lalu ia mengaitkan tentang Rubi yang merupakan masa lalu Rival yang sampai saat ini berefek kepadanya. Dan mungkin saja Rival menjadikan alat agar Rubi cemburu.
Ya cemburu.
Chiko tersenyum miring dan pergi begitu saja karna feeling ia kali ini bisa saja benar.
Gue tau kalai lo cuma memperalat Franda doang val.
"Rubi." Panggilan Chiko membuat pandangan Rubi merubah.
"Lo kenapa?"
"Gak papa kok. Ya udah bentar lagi bakalan pemotongan kue kan?" Ia memindah pandangan kepada pembawa acara.
"Iya sebentar lagi, bokap nyokap udah siap kan?" Tanyanya dan hanya anggukan saja sebagai jawabannya.
"Oke kita bakalan masuk ke sesi pemotongan kue." Kedua orang tua Rubi mengapit anak semata wayangnya. Perlahan papahnya yang paling dekat menggenggam tangan Rubi untuk memotong kue secara bersamaan.
1
2
3
Rubi menaruh kue ke piring kertas kecil lalu menyuapkan kepada mamanya yang telah melahirkan, mendidik dan memberikan kasih sayang yang tulus, lalu potongan kedua ia berikan kepada papahnya yang selalu memanjakannya walau sekarang ia sudah beranjak dewasa. Ia mencium kedua orang tuanya dengan kasih sayang dengan dia yang sudah besar seperti ini tapi ia masih saja ia dianggap anak kecil terus yang harus dimanja. Keharuan terjadi di gemuruh acara ini ada yang berkaca-kaca karna terharu ada juga yang memasukkan ke media sosial mereka sebagai update anak jaman sekarang atau lebih dikenal zaman now. Lalu suapan ketiga ia berikan kepada Chiko sahabat sejak kecilnya yang membuat Rival tersenyum miring kalau misalnya Rubi memang ada main dengan Chiko musuh bebuyutannya.
Setelah pemotongan kue yang mengharukan sekarang tiba saatnya berdansa yang menjadi moment romantis anak muda. Suara musik dinyalakan dengan alunan yang sungguh indah. Mereka membentuk barisan dengan pasangan mereka masing-masing sedangkan Franda yang belum siap sudah Rival genggam keras dari tadi. Ia menarik tangan Franda untuk naik diatas bahunya dengan kedua tangan dan tangannya yang memegang pinggang Franda. Ini adalah dansa pertama kali Franda makanya ada kecanggungan. Tapi Rival menuntunnya untuk mengikuti irama musik kekanan kekiri kedepan dan kebelakang walau jantung yang berdebar kencang kedekatan mereka yang sangat dekat sekali.
Sedangkan Cerry ada disamping mereka berdua berpasangan dengan Roy yang merupakan kakak kandung Rival.
...•••...
Selama didalam mobil tak ada yang bersuara satu sama lain, yang Franda hanya ingat ketika Rival tersenyum dan itu memang senyuman terindah pertama kali yang Franda rasakan. Tapi ia tetap tidak boleh baper karna ini semua sebuah sandiwara yang hanya direncanakan oleh Rival dan Franda harus menjaga hatinya agar tidak mudah masuk kedalam lubang yang namanya 'Cinta'.
"Makasih ya dah anterin balik."
"Eh." Rival menahan bahu Franda yang sudah ingin turun dari dalam mobil.
"Kenapa?"
"Makasih sudah bantuin gue tadi disana. Oh iya sebagai tanda terima kasih lo mau apa dari gue?"
"Maksudnya mau minta apa soalnya kan lo udah bantuin gue? Lo tau kan kenapa gue ngelakuin kayak tadi?" Rival langsung saja meralat apa yang ia ucapkan kali ini.
Franda menggeleng dan tersenyum "Gak usah, iya gue tau kok apa maksud dan tujuannya lo, makasih ya udah anterin balik." Sahut Franda yang mengangguk paham.
Rival dengan canggung mengangguk paham dengan jawaban Franda. Ia menjalankan mobilnya sampai Franda benar-benar masuk kedalam rumah.
__ADS_1