Mantan Terindah

Mantan Terindah
Serangan Mental


__ADS_3

"Nad!" sapa pria itu, yang tak lain adalah Randika, mantan tunangan Nadia. Ia terlihat bersedih dan khawatir.


"Stop! Diam di situ! Jangan mendekat!" ucap Nadia, tegas. Tatapan matanya begitu tajam. Penuh amarah dan kemarahan.


"Nad, aku minta maaf!" pinta Randika.


"Untuk apa? Aku sudah muak melihatmu! Sebaiknya kamu pergi!" balas Nadia sengit.


"Nggak! Aku udah bilang bakalan ngebuktiin kalo bayi itu bukan anakku!" ucap Randika.


"Kamu pikir aku peduli... Mau bayi itu, bayi kamu atau tidak, wanita sudah menunjukmu, yang itu artinya, kamu pernah bermain ranjang dengannya. Dan aku tidak bisa bersama pria seperti itu. Sekarang pergilah! Jangan dekati aku lagi," jawab Nadia. Masih dengan tatapan penuh amarah.


"Nggak Nad, aku mohon!" pinta Randika sembari melangkah mendekati Nadia.


"Stop aku bilang!" teriak Nadia.


Melihat suasana mulai tidak kondisif, Zein dan Gani pun langsung turun tangan. Zein mendekati Nadia dan Gani menghadang Randika.


"Sabar, Bro, sabar. Mari kita bicara baik-baik. Jangan paksa dia. Dia sadar belum lama. Tolong jaga emosinya!" pinta Gani baik-baik.


Randika yang terlanjur emosi, tentu saja tidak terima jika apa yang ia lakukan dihalangi oleh seseorang yang tidak ia kenal.

__ADS_1


"Siapa kamu berani menghalangiku? Apakah kamu punya hubungan khusus dengannya, hah? Jawab?" tanya Randika, sedikit membentak.


"Tidak, Bro. Jangan salah sangka! Jadi gini... " ucap Gani, sedikit melirik Nadia yang menatapnya sendu.


"Jadi gini apa? Katakan! Kamu punya hubungan khusus dengan dia.... oh, pantas saja dia berubah," tuduh Randika.


"Ya, aku memang memiliki hubungan khusus dengan beberapa pria, tapi tidak dengan pria itu. Lepaskan dia, dia nggak tahu apa-apa. Dan aku tegaskan sekali lagi, hubungan kita sudah berakhir. Tolong jangan temuai aku lagi. Jangan ganggu aku lagi. Aku muak denganmu! " jawab Nadia, masih dengan kemarahan yang sama.


"Lalu, kalau bukan dia, siapa pria itu Nad. Apa dia? Dia kah pria yang Kamu pacari. Kau gila, Nad. Kenapa memilih pria tua seperti itu?" tuduh Randika sembari menunjuk ke arah Zein.


"Aku... aku, kamu bilang tua. Wah... kurang ajar anak ini! Asal kamu tahu ya, anakku baru tiga dan aku masih mau nambah dua lagi, sialan! " saut Zein, kesal.


"Kamu memang tua dan tidak pantas pacaran dengan kekasihku. Dasar pedofil," serang Randika lagi.kn


"Abang dari mana? Kamu pikir aku nggak tahu siapa saja keluarga nya. Kamu mau bohong sama siapa? Kamu menantang ku! Awas!" ucap Randika mencoba menyerang Zein, namun dengan cepat Gani menghadang Randika.


"Sabar, Bro, sabar!" cegah Gani.


"Sabar, sabar, gimana aku bisa sabar. Dia nggak mau dengerin aku," jawab Randika mulai bisa merendahkan egonya.


"Sudah Dika, kamu jangan begini. Kamu punya istri dan calon bayi yang mesti kamu jaga. Aku nggak mau berurusan dengan istri barbarmu itu. Please Dika, pergilah! Kalau kamu sayang sama aku , aku mohon, pergilah. Aku nggak mau ketemu kamu lagi!" Sela Nadia. Jujur, perpisahan ini juga cukup berat untuk Nadia. Tetapi ini harus dilakukan. Nadia tak ingin menjadi orang ketiga di antara Randika dan Clara.

__ADS_1


"Kamu tunanganku, Nad. Aku nggak terima kalo kamu bersama pria lain. Sampai matipun aku nggak akan pernah nglepasin kamu," ancam Randika, lagi.


"Hubungan kita sudah berakhir, Dika. Maka pergilah! Jangan membuatku serba salah. Please... pergilah!" pinta Nadia lagi.


"Oke, kali ini aku pergi! Tapi besok, aku bakalan balik lagi, sebelum kamu benar-benar memaafkanku dan mau kembali padaku, aku tak akan menyerah! Camkan itu!" ancam Randika seraya mendorong dada Gani, emosi.


Gani dan Zein hanya bisa menghela napas dalam. Menatap wajah Nadia yang begitu ketakutan.


"Dia kah pria itu?" tanya Zein.


Nadia mengangguk, masih diselimuti rasa takut. Sebab ia tahu bagaimana seorang Randika.


"Astaga! Bagaimana bisa kamu pacaran dengan pria begitu, Nad?" tanya Zein, bingung.


"Nadia nggak pacaran, Bang. Kami dijodohkan," jawab Nadia jujur.


"Entahlah, aku jadi emosi melihat perangai tunanganmu itu. Eh, maksudku mantan tunanganmu itu," ucap Zein, kesal.


"Nadia pun kesal dengannya, Bang. Nadia membencinya, Bang. Selama berpisah, dia menggantung ku, lalu setelah ketemu dia menghianatiku," jawab Nadia, pelan, lirih, namun Zein dan Gani masih bisa mendengar dengan jelas ucapan itu.


"Oke, Abang paham. Sekarang tenangkan dirimu. Abang sama Gani coba cari jalan keluar buat kamu. Sekarang istirahat. Jangan mikir macam-macam. Selama ada Abang dan Gani di sini, dia nggak akan bermain macam-macam. Sekarang kamu tenangkan dirimu," pinta Zein.

__ADS_1


Kemudian, setelah melihat Nadia tenang dan tidak menangis lagi, Zein pun mengajak Gani keluar ruangan. Tentu saja untuk mendiskusikan masalah peluk ini.


Bersambung....


__ADS_2