
...Maaf jika cinta ini harus dipaksa, tapi sudah ada cinta sebelumnya....
Dalam,
Dalam beberapa hari ini Franda mencoba untuk menjaga jarak dengan Rival, dengan status yang masih menjadi pacar. Sering kali tuh suka aneh sendiri ya, kalau misalnya ada rasa sakit atau patah ketika pasangan kita selingkuh dan marah, ini sedikit agak berbeda dengan Franda ia malah membiarkan Rival dekat dan bahkan akan kembali dengan Rubi.
"Cer buruan kita ke perpus." Soalnya ia melihat Rival ada dibelakang mereka untungnya Rival tidak melihat itu.
Dan setelah pintu perpustakaan dibuka, jeng-jeng.....
Ada kelas disana ternyata, yaitu kelas XII IPA 1 yaitu kelas Roy. "Yah emang ada kelas kak Roy disini cer?"
"Ya ada, gue belum selesai ngomong lo udah narik gue gitu aja, gini kan! Sahut Cerry yang sudah pasrah. Ditambah Roy senyum gak jelas lagi. Manis banget sumpah!
Mereka berdua langsung saja menutup kembali karna kelas XII IPA 1 memang cukup diakui karna merupakan kelas yang rapi dan pada pintar-pintar. "Lo kenapa sih?"
"Gak tau langsung masuk gitu aja, duh gue malu banget nih." Sahutnya yang masih teringat sekali dengan kejadian yang terjadi beberapa menit lalu itu. Cerry hanya bisa bengong dan kebingungan begitu saja.
Tapi bodo amat, namanya juga Cerry yang jauh lebih memilih untuk meninggalkan Franda yang masih diposisinya.
"Cer, tungguin gue!!!" Berlari seperti anak kecil mengejar Cerry.
Dimana muka gue? Pasti pas ketemu sama Roy bakalan malu dan pasti grogi banget dimana naruh muka hah?
Disaat di kelas ekspresi Franda berubah, dua pasang mata masing-masing yang beradu tatap satu sama lain. Ia memalingkan kearah lain senyum itu masih Rival lempar, sebagai orang yang pernah singgah pasti akan ada sebuah rasa yang membekas. Ya masih ada!
"Kenapa sih lo berdua? Bukannya udah putus?"
"Hus diem deh!" Itulah kekurangan sebuah kekurangan, jika ada satu kebohongan maka akan ada kebohongan yang akan berlanjut terus menerus. Dan Franda sudah terjerumus masuk kedalam lubang itu.
"Lo udah ngerjain tugas?"
"Udah dong pastinya."
"Eh fran, lo udah bayar belum sama Rival?" Franda langsung saja mengkerutkan dahinya karna pertanyaan yang ambigu.
"Gue gak ada hutang kok sama dia."
"Masa lo lupa sih, diakan yang pernah belain lo disaat Lusi fitnah lo. Masa lo lupa!"
Astaga! Bener banget. Bahkan dikala seperti ini malah dirinya yang seakan jadi jauh lebih jahat. Bukan Franda yang dulu lagi yang mempertahankan rasa jujur tapi apa setelah masuk kedalam perjanjian semua akan hancur! "Entar gue bakalan bilang makasih deh hari ini."
"Eh, tapi lo kok sekarang akhir-akhir ini jarang bareng Rival lagi?"
Diam aja.
__ADS_1
"Berantem ya?"
"Gak kok gak kenapa-napa. Bukannya lo mau nyontek punya gue nih, buruan! Ia mengalihkan sebuah pembicaraan langsung.
"Ya udah deh sini." Ia menarik dan mengambil pulpen untuk menyalin jawaban itu.
Syukur lah kalau semua itu bisa teratasi walaupun sebentar.
"Sampai kapan sih fran lo giniin gue, gue kayak orang gak punya pendirian tau gak kalau gue ikutin semua kemauan lo. Dulu aja gue benci banget sama lo bahkan ogah buat jadian sama lo dan sekarang gue gak mau kehilangan lo sama sekali fran. Rubi masa lalu gue yang akan selamanya jadi masa lalu gue dan gak akan pernah kembali." - Gerutu Rival. Ia sambil menatap Franda yang ada didepan.
"Sabar val, kalau lo cinta sama Franda tulus dan dia juga begitu. Maka seberat apapun itu lo berdua akan bertakdir bersama kok tenang aja." Bisik Albert dengan santai dan Rival hanya diam saja.
***
"Val." Panggil Franda dengan santai.
"Iya?" Auranya sudah berharap kalau masih ada kata sewajarnya.
"Makasih sekali lagi tentang lo bantuin gue, eh maksud gue lo udah belain gue disaat Lusi fitnah gue."
"Iya, sama-sama kan lo masih ce----"
"Fran." Panggil Roy yang tiba-tiba aja ada dihadapan mereka.
"Val gue boleh pinjam Franda bentar kan?"
Sebelum itu ia menepuk bahu Rival dengan santai. "Eee, ya udah gue duluan ya val makasih kalau gitu sekali lagi."
"Sorry ya jadi pisahin lo sama Rival deh." Roy tau diri kok.
Kali pertama jalan bareng sama Roy, impian yang ternyata kesampaian karna lebih lama. Walaupun ada Rival disana dan sahabat-sahabat Rival lainnya.
Karna Roy sudah memasuki kelas akhir yaitu kelas XII ia pun harus lebih konsen dengan ujian atau try out yang ia hadapi. "Iya kak, emang ada apaan sih?"
"Gue boleh pinjam buku-buku lo gak soalnya materi try out tuh dari kelas X."
Loh tunggu sebentar, bukannya Rival seangkatan sama gue? Kok malah sama gue? kan kalau Rival jauh lebih mudah karna satu rumah kan? Ada apa ini.
"Kak."
"Apa?"
"Aku suka sama kakak."
Jeng-jeng....
__ADS_1
Jeng-jeng...
"Lo kenapa fran?"
"Aku serius kak." Jawabnya dengan jelas. Mungkin dengan cara ini ia bisa menghindar dari Rival dan dengan tujuan agar Rival bisa kembali dengan Rubi bahkan sekaligus bisa meluapkan apa yang ia pendam selama ini.
"Gue gak salah denger nih?"
"Ya udah lo naik di motor gue aja kalau gitu ya."
"Oh ya gue pengen ke toko buku nih buat beli buku tentang persiapan try out gitu, mau kan? Soalnya gue harus belajar dari sekarang fran biar gak kepentok sama mikirin lo." Candanya.
Tapi bikin baper...
"I---iya kak."
"Lo tadi bilang apa ya? Lo suka sama gue gitu gue baru ngeh nih." Ternyata baru sadar dan baru ngeh.
"Iya kak, aku serius."
Jantung Roy berubah kencang dan detakan mungkin akan terdengar jika semuanya sunyi.
"Tapi gue takut dikecewain lo, lo bercanda kan?"
"Kalau gue sayang tuh bener-bener sayang, gak ada kata pura-pura. Dan gue tau kalau lo sekarang lagi bercanda hahaha Franda, Franda, Franda. Ya udah ah yuk."
***
"Rud, si Rival kok galau gitu ngaduk-ngaduk minuman diminum juga enggak." Bisik Bima si tukang makan.
"Lagi galau tingkat dewa hahaha." Sahut Albert.
Karna Rudy terkenal jahil ia pun mengabadikan keadaan yang langka dalam insta story akunnya.
***
"Hello guys Rival lagi galau nih, doain dia ya. hahaha."
15 likes
"Apaan sih alay tau gak." Rival tidak terima dan langsung mengambil ponsel Rudy ia menghapusnya tanpa izin.
"Yah gue kan---"
"Diem lo! Lo gak punya pacar makanya gitu, Lah gue!"
__ADS_1