Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - EZEKHIEL & ZEFANYA PART 4


__ADS_3

Menikah bukan hanya bersatu dengan pasangan tetapi juga bersatu dengan seluruh keluarga pasangan anda. Baik bebet, bobot, bibitnya kita harus menerima apapun yang terjadi. Jika tidak mampu bertahan, kita tidak bisa hengkang begitu saja. Kunci tetap kokoh pada rumah tangga kita adalah pada pasanganmu. Pandang dia dan uji sampai mana pasanganmu lebih menghargaimu ketimbang keluarganya, karena ada tertulis, siapa saja yang sudah menikah, hendaklah memilih pasangannya ketimbang keluarganya. Zefanya dan Ezekhiel sedang menghadapi sebuah kisah berumah tangga mengenai keluarga yang harus menjadi tolak ukur dalam membina sebuah hubungan yang kokoh. Bagaimana mereka berdua menanggapinya?


...


Keesokan harinya mereka pergi ke makan suami Salma atau ayah dari Tanya. Mereka pergi ber-empat dengan Ezekhiel yang mengemudi mobil. Ketika sudah berdoa dan memberikan rangkain bunga pada ayah Tanya, mereka pun kembali ke rumah Salma. Sebelumnya mereka mampir di sebuah toko kue yang menjual kue kue kering. Mereka berpindah tempat duduk. Zefanya duduk di belakang bersama Tanya karena Tanya terus bergelayutan padanya. Sementara Salma duduk di depan bersama keponakannya.


Sesampainya di rumah, Salma dan Ezekhiel lebih dulu masuk sedangkan Zefanya mengarahkan pelayan yang keluar untuk hati hati membawa parcel kue kering tersebut. Zefanya dan Tanya masih di luar. Sementara sesampainya di dalam ternyata ada kerabat Salma yang datang berkunjung. Kerabat Salma tersebut juga merupakan teman main dari ibu Ezekhiel sewaktu sekolah dulu. Kebetulan wanita itu sedang bertamasya kemari dan mengetahui kabar suami temannya meninggal.


"Daisy?!" Panggil Salma yang begitu terkejut atas kedatangannya. Salma menghampirinya dengan melingkarkan tangannya pada lengan Ezekhiel. Ezekhiel mengikutinya dan juga mengenal Daisy beberapa kali pernah bertemu di Honolulu.


"Halo Salma, maafkan aku baru saja datang ke kediaman mu ini. Nanti kau antarkan lagi aku ke makam suamimu ya?" Ucap Daisy kembali menyapa dan memeluk sahabatnya itu.


"Tentu sayang, jangan khawatir. Kau ingat dia Daisy?" Saut Salma mengarahkan Daisy melihat Ezekhiel.


"Halo Aunty Daisy, selamat siang," tutur Ezekhiel memberikan salam.


"Halo Ezekhiel, selamat siang. Kau semakin tampan saja dan usaha mu semakin berkembang dengan baik," balas Daisy berjabat tangan dengan Ezekhiel.


"Wah, ternyata kalian sudah cukup dekat?" saut Salma yang tidak menyangka dengan kedekatan ini.


"Ya, beberapa kali aku bertemu dengannya ketika dia ke Honolulu. Jadi, jangan bilang kau belum menikah. Sayang sekali jika pria muda juga sukses sepertimu belum menikah. Kau juga sangat tampan, nak," kata Daisy memperhatikan Ezekhiel dari bawah sampai atas. Ezekhiel pun terkekeh lalu menoleh ke belakang menunggu istrinya masuk hendak memperkenalkan.


"Haha, ada apa denganmu, Daisy? Jangan bilang kau mau mengenalkan anak gadismu pada keponakanku, kau sudah terlambat!" Saut Salma juga menoleh ke belakang.


"Terlambat bagaimana?" Daisy sedikit mengernyitkan keningnya.


"Aku sudah menikah Aunty, itu istriku!" Kata Ezekhiel menunjuk Zefanya dan Tanya yang sudah masuk ke rumah. Daisy tampak kecewa tapi juga memperhatikan Zefanya yang menurutnya cukup cantik walau tetap lebih muda anaknya. Daisy lalu mengarah pada perut Zefanya dan Daisy merasa masih harus memastikan sesuatu. Dirinya dekat dengan Salma juga Clara (ibunya Ezekhiel), akan sangat mudah jika dia menginginkan Ezekhiel dekat dengan anaknya.


Zefanya dan Tanya sudah mendekati mereka. Zefanya langsung berdiri di samping Ezekhiel.


"Sweetheart, kenalkan ini sahabat mommyku waktu sekolah, Aunty Daisy. Aunty Daisy, ini istriku Zefanya Prime," kata Ezekhiel memperkenalkan. Zefanya mengulurkan tangannya begitu juga dengan Daisy. Daisy tersenyum tipis.


"Siapa namamu?" Daisy kembali memastikan.


"Zafanya Prime, Aunty," jawab Zefanya tersenyum kecil.


"Oh, ada sebuah motel Prime di Honolulu," saut Daisy sedikit mengingat.


"Ya, itu punya mertuaku," saut Ezekhiel tersenyum bangga sementara Zefanya menampilkan wajah dinginnya. Entah mengapa perasaannya tidak enak dengan sosok seorang Daisy.


"Oh begitu? Ya ya ya, suamiku Engelbert, apa kau pernah mendengarnya, Zefanya?" tanya Daisy sedikit membanggakan dirinya.


"Engelbert Kim? Apakah setara dengan kebangsawanan Tuan Alexander Kwan?" seru Zefanya mengingat beberapa kali Zhavia menceritakan tentang eksistensi Patrick dan ayahnya.


Ezekhiel mengingat sesuatu. Dia melupakan latar belakang Daisy yang cukup baik di Honululu.


"Ya, kau benar sekali. Suamiku dan Tuan Besar Kwan pemilik perusahaan industri terkaya di Honolulu," balas Daisy menaikan alis dan bahunya.


Zefanya hanya mengangguk tersenyum. Entah apa tujuan Daisy.


"Jadi, apa kalian sudah memiliki anak? Apa kalian baru menikah?" tanya Daisy kemudian.


"Kami sudah hampir 3 tahun menikah, Aunty," kata Ezekhiel bangga sambil merangkul istrinya.


"Ya Tuhan, maafkan aku, aku tidak tahu. Selamat untuk kalian. Jadi, di mana anak kalian? Pasti sangat lucu lucu," tanya Daisy lagi seperti merasa belum puas dengan jawaban Ezekhiel.


"Belum! Aku belum mengandung dan kami belum memiliki anak, jadi apa ada masalah dengan mu, Aunty?" Jawab Zefanya sedikit menegangkan suasana. Tanya sudah berdehem merasakan apa yang dihayati oleh seorang sepupu iparnya sementara Salma merasa pertanyaan ini sangat wajar.


"Oh God! Ternyata kalian belum memiliki anak? Mohon maaf sebelumnya Zefanya Prime. Sebaiknya kalian cepat cepat memiliki momongan. Ezekhiel, kau anak satu satunya, kau juga penerus keluarga. Kalau kalian tidak memiliki anak bagaimana Dimitri Group akan terus berkembang. Nona Zefanya, apa kau tidak kasihan dengan suamimu? Kau tahu kan suamimu namanya ada di mana mana. Siapa yang tidak tahu Dimitri Group? Perusahaan Apartment tersohor. Bagaimana kalau publik mengetahui di usia pernikahan kalian yang sudah cukup lama tapi belum memiliki keturunan?" kata Daisy sedikit memekik. Tanya mendelikan matanya. Dia merasa ini sudah menjadi melenceng.


"Ehem, Aunty! Memangnya mereka mau selama ini tidak mengandung? Mereka sudah berusaha!" Decak Tanya yang rasanya perkataan Daisy sudah melantur kemana mana.


"Oh Tanya! Maafkan aku! Bukan begitu sayang, kau tahu sendiri kan bagaimana posisi sepupumu ini? Tampan, masih muda, memiliki jabatan terbaik. Sedangkan Zefanya? Hanya anak pemilik motel," desis Daisy kini memperhatikan Zefanya dari atas sampai bawah. Zefanya mengikuti arah mata itu. Dia mencoba untuk tetap sabar dan tidak mau membalas.

__ADS_1


"Aunty Daisy cukup! Apa maksudmu? Siapapun Zefanya aku tidak membutuhkan perbandinganmu! Saat ini kami terus melakukan program hamil!" bentak Ezekhiel yang juga sudah merasa kalau Daisy sedang memojokan istrinya.


"Ezekhiel, kalian sudah 3 tahun menikah! Ini sudah sangat lama, apa kau tidak mempercayai kemandulan?" Daisy terkekeh.


"Daisy, kau ini apa apaan? Mereka berdua sehat sehat saja," sela Salma. Salma sedikit tidak enak dengan keponakan dan menantunya.


"Salma, sekarang ini makanan macam macam. Bisa menyehatkan juga bisa berbahaya. Kalau Ezekhiel aku percaya dirinya segar bugar dan sehat, bagaimana dengan Zefanya? Kalau saja Ezekhiel disandingkan dengan wanita yang sepadan mungkin tidak masalah, tapi ..." sela Daisy lagi tapi terpotong oleh Zefanya yang tak bisa menahan lagi.


"Cukup! Aunty, oh maaf aku tidak bisa lagi memanggil anda Aunty, Nyonya Besar Kim yang terhormat! Jadi, menurutmu, suamiku ini tidak pantas bersanding denganku?" Kata Zefanya akhirnya membuka mulutnya. Dia bahkan sudah melipat tangan di depan dadanya.


"Bukan seperti itu Zefanya, aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana pandangan orang orang terhadap pernikahan kalian!" saut Daisy lagi masih sangat tenang dan meremehkan.


"Pandangan bagaimana? Itu urusan kami, kau tidak usah menjelek jelekanku secara tidak langsung! Sangat murahan!" bantah Zefanya tidak mau peduli lagi siapa Daisy.


"Apa kau bilang? Kau bilang mulutku murahan?" gertak Daisy tidak terima.


"Zefanya ..." Ezekhiel mencoba meredakan. Di hanya memikirkan emosi Zefanya.


"Diam! Aku sekarang yang bicara! Dengar Nyonya Besar Daisy Kim yang terhormat. Aku bisa jelaskan silsilah dan kehebatanku sampai anak sahabatmu ini menikahiku," kata Zefanya merasa sudah harusnya dia angkat bicara tentang siapa dia yang sebenarnya.


"Ya, kau anak seorang pemilik motel di pinggiran Honolulu, bahkan kudengar itu tanah buangan," Daisy terkekeh lagi.


"Heng! Aku Zefanya Adonia Prime, CEO sekaligus pewaris Jovancy Advertising! Jovancy, kau tahu dari mana? Dari nama JOVANCA! sampai sini ada yang terkagum?" tutur Zefanya ia mulai dari jabatannya.


Seketika Daisy mengerutkan dahinya. Dia tahu nama itu. Tanya sudah menunduk sementara Salma sedikit terkagum karena baru mengetahuinya. Ezekhiel juga hanya menunggu istrinya sendiri yang memberitahunya karena di sini sisi karismatik Zefanya yang sangat ia tunggu tunggu.


"Nyonya Daisy! Ibuku adalah Viena Gloria Jovanca, adik kandung dari Egnor Victor Jovanca. Mungkin suamimu mengenal Uncle ku itu atau malah menggunakan jasanya. Jadi dengan kata lain aku sepupu dengan Wilson Jovanca, pemilik Resort and Dessert co terbesar di Honolulu. Dan juga sepupu dari Willy Jovanca. Tidak usah kuberitahu bagaimana kehebatannya," tambah Zefanya lagi.


Daisy membelalakan matanya. Namun, Zefanya belum puas. Dia merasa sudah terpojoki dan sudah membuat dirinya terdiam dalam lubang yang jauh dari khalayak.


"Dan, tadi kau sebut siapa? Tuan Alexander Kwan? Kau tahu tidak kalau anaknya tergila gila pada kembaranku! Sebentar!" Zefanya meraih ponsel di tasnya. Dia menunjukan foto Zhavia Patrick bersama dirinya dan Ezekhiel.


"Lihat! Ini anaknya Alexander Kwan kan? Dan di sampingnya kembaranku! Mirip denganku kan?! Satu lagi biar ku katakan padamu baik baik. Jangan pernah meremehkan ayahku! Dia memang hanya pemilik motel kecil di Honolulu Karena tidak serakah. Dia takut menyaingi perusahaan apartment suamiku ini. Kami tinggal di Legacy. Kau bisa bertanya pada Ezekhiel perusahaan hotel terbesar dan bintang lima di sana. Dan lihat ini!" Decak Zefanya memperlihatkan artikel ayah dan kakaknya. Daisy semakin melotot dan dia hendak menghentikan Zefanya tapi Zefanya malah terus berbicara.


"Pemegang saham terbesar di Legacy merupakan pemilik Hotel Bintang Lima, Dionisius Prime dengan anaknya Dior Prime. Hotel Prime merupakan hotel bintang lima terbesar juga terkaya di Legacy! So, Nyonya Daisy, masih banyak kehebatan yang bisa kuperlihatkan padamu tapi aku tidak mau! Kau sangat sangat sok tahu. Ezekhiel mencintaiku apa adanya. Meskipun kami tidak memiliki anak. Hal itu tidak masalah! Permisi!" Kata Zefanya yang akhirnya berlalu ke atas. Ezekhiel tentu mengikutinya. Zefanya sudah tidak sanggup. Sebenarnya dia tidak mau berdebat dengan orang tua. Dia mengingat pesan ibunya tapi ini sudah keterlaluan. Lalu, kenapa juga kalau dirinya bukna siapa siapa dan Ezekhiel tetap menikahinya?


Sejatinya, Zefanya hanya wanita biasa yang meskipun memiliki seribu kata untuk melawan mereka yang hendak menjatuhkannya. Zefanya duduk di sisi tempt tidur dan menundukan kepalanya. Sejenak dia berpikir ternyata ada juga wanita paruh baya lain seperti Delmonta pikirnya. Padahal dia selalu melihat wanita paruh baya adalah sosok ibu kandungnya. Dia jadi mengingat Viena.


Ezekhiel mendekati Zefanya dan duduk di sampingnya.


"Sweetheart, kau butuh pelukan?" Kata Ezekhiel membuka tangannya dan Zefanya langsung bersandar pada dada suaminya itu.


"Don't be sad, sweetheart, kau tidak patut bersedih jika suamimu ini tidak pernah menghiraukan mereka. Aku percaya semua juga adalah kesalahanku, mengapa kau belum mengandung. Bukan hanya dirimu. Dengar, sekalipun kau bukan siapa siapa dengan semua kehebatan yang kau sebutkan, kalau kita bertemu, aku akan tetap menyukaimu," kata Ezekhiel lagi mengelus lengan Zefanya.


Zefanya menggeleng.


"Mengapa menggeleng?"


"Kalau kau tidak berteman dengan kak Dior, kau tidak akan mengenalku. Kalau kak Dior bukan seorang direktur maka kalian tidak akan bertemu," jawab Zefanya menjelaskan sesuatu yang logis.


"Dan, bagaimana jika pertama kali aku bertemu Zhavia, bukan dirimu? Apakah diriku akan langsung menyukai kembaranmu itu? Kurasa tidak ketimbang misalnya dirimu adalah karyawan di perusahaanku dan aku melihatmu lalu aku jatuh cinta padamu. Bagaimana menurutmu?" saut Ezekhiel dengan semua kemungkinan kemungkinan yang pasti bisa terjadi.


"Kau! Selalu bisa menjawab!" Zefanya sedikit menghentakan tubuh suaminya.


"Jangan seperti ini. Pertemuan kita sudah suratan takdir. Jangan menyesali dan jangan hiraukan omongan orang. Dia bukan siapa siapa. Yang menentukan pernikahan kita adalah kita," ujar Ezekhiel kembali memeluk Zefanya.


"Tapi dia teman ibumu," keluh Zefanya malah merasa tidak enak dengan ibu Ezekhiel yang sudah tiada.


"So what?"


Zefanya terdiam. Dia tetap harus tau status dirinya yang belum dikaruniai seorang anak sekalipun. Dia harus ingat pesan ibunya bahwa hal hal seperti ini akan terjadi. Dia hanya perlu membentengi diri dan bertahan. Menerima dan mencoba melawan jika diperlukan.


"Sudahlah, lebih baik kita di sini saja sampai wanita itu pergi. Aku jadi tidak selera dengannya," kata Ezekhiel memutuskan.

__ADS_1


"Kau tidak apa di sini?"


"Tidak apa apa. Kalau Aunty Salma keberatan, kita bisa segera pergi dari sini tanpa harus menunggu penerbangan kita besok. Kau tenang saja. Kita punya segalanya, Anya. Kita! Bukan hanya aku atau dirimu!" Kata Ezekhiel lagi meyakinkan. Dia pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Zefanya sedikit lega karena suaminya selalu mendukung juga membelanya.


Zefanya sempat berpikir Salma yang tidak begitu membelanya. Mungkin wanita tua itu juga sedikit kecewa dengannya. Zefanya menaikan bahunya dan menarik napas panjang. Hari baru akan dimulai. Dia harus siap kapanpun itu.


Sementara di bawah sana setelah Salma dan Daisy makan siang, Salma mengantarkan Daisy ke makam suaminya.


"Salma," panggil Daisy di mobil ketika perjalanan pulang dari makam.


Salma menoleh. Sebenarnya dia memikirkan Ezekhiel dan Zefanya yang tidak lagi turun ke bawah. Begitu juga dengan anaknya, Tanya. Dia kalau Ezekhiel tidak jadi mengajaknya.


"Salma, pikirkan baik baik jika kita bisa menjodohkan Margaretha dengan Ezekhiel," tutur Daisy menaikan alisnya. Margaretha adalah anak terakhir Daisy.


Seketika Salma membelalakan matanya.


"Kau jangan terkejut! Maksudku baik! Kalau saja Zefanya Prime itu tidak mengandung dan bagaimana keadaan nama besar keponakanmu? Kau juga akan menanggung malu," Daisy memperingati dengan nada kecewa.


"Argh Daisy! Kau jangan terlalu banyak berpikir! Keponakanku sudah sangat bahagia bersama Zefanya!"


"Tapi Salma..."


"Cukup! Aku mau tinggal bersamanya, jangan menghasut ku!" dengus Salma dan memandang keluar jalan.


Daisy malah menyeringai. Dia akan memiliki kesempatan jika Salma sudah terombang ambing seperti ini.


"Baiklah, kau harus memikirkannya. Ezekhiel merupakan keturunanmu satu satunya jangan sampai ada cacat yang tertinggal. Hanya memperingati! Aku sahabat kakakmu pasti juga ingin yang terbaik baginya. Dia sudah seperti anakku, menantuku juga tidak apa apa, haha!" tawa Daisy melirik tak enak Salma. Salma malah jadi tak menentu. Mungkin sekarang dia harus membantu Zefanya terlebih dahulu sebelum banyak kejadian yang mungkin terjadi untuk kebaikan keponakan dan nama besarnya.


...


...


...


...


...


Drama dimulai 😑😑


.


next part 5


bisakah Zefanya hamil dalam waktu dekat?


sanggupkah Zefanya menghadapi kemungkinan yang dimaksudkan Salma?


apa kah Daisy akan kembali berulah?


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2