Mantan Terindah

Mantan Terindah
48. Hadiah Dari Franda


__ADS_3

Sore harinya ketika ia sedang sibuk duduk di ruang tamu memainkan games online tiba-tiba saja Rubi datang dan langsung duduk disampingnya mengambil es krim yang ada diatas meja persediaan cemilan Chiko. Chiko terheran dengan sikap Rubi kali ini "Chiko, kenapa Rival jahat banget sama gue."


"Maksud lo apaan sih gue enggak ngerti tau tak sih."


Cerry melepas pagutan dari Chiko, ia tidak menyangka kalau Rival akan bersikap seperti itu ada hal yang membuat Rival melakukam hal itu karna ia mengenal Rival buka waktu yang sebentar melainkan dalam beberapa tahunan. "Ya kenapa? Lama-lama itu orang bakalan gue bejek juga."


"Gue udah bosan banget, sama tuh orang songong banget."


"Tapi gue cinta sama dia chik gimana dong? Dia aja kemarin sama Franda lengket gitu, ah gue juga kepengen chik." Ucap Rubi yang tidak hentinya mendumel karna ingin sekali bersama kembali dengan Rival, bahkan ia ingin merubah itu semua dengan cara apapun.


"Udah lah mending lo buang jauh-jauh rasa sayang lo ke Rival gak akan ada guna juga sama itu semua sih ah."


"Tap-----"


"Gimana enak kan?" Karna banyak bacot Rival pun menyuapkan es krim ke mulut Rubi saat itu juga.


"Ah belepotan ih."


"Hahaha iya dong, rasain ngambek mulu deh."


"Tapi lo janji ya chik bakalan bantuin gue buat deket sama Rival, gue tuh cintttttta bangeeeet sama dia please tolongin gue dong! Dan satu hal lo kan satu sekolah juga sama Franda tolong deh bilang ke dia kalau ini dari gue ya."


"Emang ini apaan?"


"Eh jangan dibuka."


"Ya udah iya deh, besok gue kasih ke dia langsung." Chiko menaruh kado yang sudah terbungkus rapi yang diberikan oleh Rubi.


...•••...


Franda merebahkan kepalanya sambil menatap kearah langit-langit kamarnya ia memegangi jantung yang tidak henti berdetak dan ditambah pula senyum Roy yang menjadi ingatan saat ini. Ia pun tidak menyangka sama sekali kalau itu adalah Roy sendiri cowok yang ia taksir selama ini, tapi kenapa ketika bertemu dengan Rival ia juga merasakan hal yanga sama.


Apalagi waktu itu ketika Roy menyuapkan kue ke dirinya orang luar pertama.  "Huh perasaan apa ini, daei bola mata kak Roy ganteng banget, lo gue jahat banget ya gak kasih hadiah buat dia. Ih nyebelin banget dia kan baik banget." Franda melirik kearah celengan ayam merah yang masih ada diposisinya yaitu di pojokkan lemari.


Ia menggoyang-goyangkan celengan ayam itu terdengar suara recehan yang banyak, walaupun tidak banyak tapi kalau dikumpulkan bakalan terkumpul juga cukuplah buat beli hadiah untuk Roy.


Bismillah....


Franda memunguti uang-uang yang berserakan di lantai beserta pecahan uang ribuan, "Gue beli apaan ya buat kak Roy?"


"Kayaknya dia udah punya segalanya deh."


Ia menaruh uang itu keatas kasur dan merapikan celengan ayam itu padahal ia ingin sekali untuk menabung untuk keperluan nanti tapi masalah ia tidak enak dengan kebaikan Roy selama ini yang sudah baik. "Semoga aja kak Roy nanti suka."


...•••...


Karna pasar tidak terlalu jauh dari rumah Franda ia pun memutuskan untuk kesana dan disana juga menjual baju-baju pria ya cocok lah untuk ulang tahun Roy. "Ukuran buat cowok apa bang? soalnya saya gak tau juga ukuran dia, pokoknya kayak abang-abang itu deh yang berdiri dipojok sana ya."


"Buat hadiah ya neng atau buat calon suaminya?"

__ADS_1


"Hahaha enggak kok cuma buat temen doang."


"Emang gak bisa kurang  ya? Kurangin 10 ribu lagi deh kan biar laris manis bang, saya gak cuma beli ini doang beli sajadah ada gak?"


"Ada nih, yah tinggal warna merah doang sih marun."


"Ya udah bungkusin aja." Franda berfikir kembali dan uangnya tersisa 15 ribu rupiah dan uang tabungannya habis semua.


"Ini neng."


"Makasih ya bang, jual kado dimana ya bang?"


"Ada tuh belok aja entar ada diseberang."


"Makasih ya bang." Franda meninggalkan penjual perlengkapan sholat. Ia menuju ke penjual aksesoris karna biasanya ada penjual kado-kado gitu.


Walaupun sederhana dan gak mahal semoga bermanfaat buat kak Roy - pikir Franda sambil tersenyum.


Sampailah pada penjual aksesoris, "Mba ada kado gak? kalau bisa kadoin hadiah saya boleh gak?"


"Oh boleh."


Setelah membukanya penjual itu nyeletuk "Waduh buat suaminya ya mba, romantis banget."


"Bukan bu bukan, buat temen saya kok."


"Oh iya bu, tolong ini suratnya selipin didalam kado ya jangan sampai hilang."


...•••...


Rumah yang tertutup rapi dan pagar yang tinggi, ia takut dan ingin kembali saja ke rumah karna tidak pede buat masuk kedalam dan kasih kado ini ke Roy. "Loh kok malah pergi?" Waduhhh gimana nih.


"Eh pak satpam, kok bisa disini?"


"Kan saya yang jaga mba? mau ketemu den Rival ya?" Tanyanya karna Franda sering kesini bareng Rival makanya langsung ditanya seperti itu.


"Kak Roynya ada gak didalam?"


"Oh ada kok, ya udah masuk aja kedalam yuk." Sahutnya yang membukakan pintu gerbang. Rumah yang masih terkunci terlihat dari ia berdiri saat ini.


Langkah itu semakin berat karna bingung kalau Roy melihat apa yang ia bawa saat ini. Huh tangan pun gemetar untuk semakin dekat.


"Assalamualaikum..."


"Assalamualaikum."


"Eh, ada non Franda, den Rival kebetulan gak ada di rumah non."


"Bukan bi, ada kak Roynya gak?"

__ADS_1


"Oh ada kok, silahkan duduk dulu biar bibi panggilin ya." Franda diersilahkan duduk, pintu kamar Roy bersebelahan dengan pintu kamar Rival.


"Duh kenapa jantung gue jadi deg-deggan gini ya, kenapa jadi grogi gini ya. Huuhh." Ia memejamkan mata dan memegangi jantungnya agar lebih stabil lagi.


"Hei, lo kenapa?"


Dan booooooooommmmm....


"Kak Roy. Kok bisa ada disini sih?"


"Loh kok malah balik nanya? Kan ini rumah gue."


"Eh iya." Franda menaruh kadonya kebelakang tubuhnya.


"Ada apa? lo nyari gue? Tumben?" Dari senyum saja sudah membuat Franda tidak bisa berkata-kata beda banget sama sifat Rival yang jauh lebih kasar.


"Lo bawa apa?" Ternyata ia mengetahui benda asing dibelakang yang masih di plastik.


"Eeeee, itu kak. Aku mau kasih kado buat kakak maaf kalau kadonya gak mahal kayak orang-orang kasih ke kakak tapi aku belinya tulus kok sama celengan aku." Sambil menunduk dsn memberikan kado ke Roy.


"Apa ini? Buat gue?"


"Iya kak, kalau gak suka bilang sama aku ya, maaf kalau gak mahal ya."


"Wah enggak dong gue suka kok. Makasih ya udah repot kasih hadiah dan semoga bermanfaat buat gue. Tapi btw ini apa?"


"Eh jangan dibuka sekarang ya, aku malu."


"Oh gitu ya udah makasih ya. Lucu banget sih kadonya warna pink gini."


"Oh iya maaf ya lupa."


"Gak masalah kok yang penting kan isinya bukan bungkus kadonya." Roy mengacak-ngacak puncak kepala Franda dengan gemas sekali apalagi ditambah Franda grogi gitu.


"Mau minum dulu?"


"Gak deh kak makasih aku harus pulang kayaknya."


"Yah baru bentar."


"Kalau gitu aku pamit ya kak. Semoga suka."


"Iya makasih kalau gitu hati-hati ya di jalan."


"Assalamua'laikum."


"Waa'laimukumsalam."


Setelah Franda pergi Roy penasaran dengan kado didalamnya, ia mengguncang-nmguncang isi didalamnya tapi tidak terdengar apa-apa sama sekali seakan padat dan berisi.

__ADS_1


__ADS_2