Mantan Terindah

Mantan Terindah
74. Ingin Kembali


__ADS_3

...Percobaan Terakhirkah...


Jalan akan terus berjalan. Tapi situasi akan bisa terubah selagi ia mau merubahnya. Berseberangan saling adu tatap tapi ia memalingkan itu semua. Rival tersenyum tipis kearah seberang, "Kenapa lo?"


"Liatin Franda ya?"


"Apa sih." Rival memilih untuk pergi dan mendekat kearah Bima mengambil cokelat yang ada ditangannya, emang suka begitu kalau lagi bosan atau malu.


"Sampai kapan sih bert si Rival bakalan gitu terus gue tuh bingung sama Rival kenapa sih berubah banget ya sekarang gak kayak dulu, semenjak kenal sama Franda trus pacaran."


"Itu namanya cinta rud, gue takut Rival kecewa dan terus menerus---"


"Tenang bert gue gak bakalan gila cuma gara-gara cinta, gue cabut dulu." Karna Rival adalah salah satu cowok idaman di sekolah ia pun terus saja jadi pusat perhatian mereka apalagi dari kaum wanita.


"Lo kenapa sih fran, narik gue. Gue kan masih liatin kelas kak Roy. Ah lo ganggu!!" Kesal Cerry ke Franda yang menariknya tiba-tiba begitu.


"Eee, gak papa kok cer. Gue---gue. Ah gue haus." Mengambil air minum yang ada diatas meja lalu meneguknya dengan satu tegukan.


"Oh my god!!"


"Duh kembung!"


"Hahaha ngakak gue fran, udah udah sabar aja ya. Rival bakalan kembali ke lo kok. Jangan pada berantem oke."


Kerutan hanya keluar dari garis wajah Franda. Cinta semakin rumit dan runyam sekali.


Dan ia berharap sekali agar tidak satu kelas dengan Rival karna semakin membuatnya rasa bersalah yang terus dan terus.


***


Diapit oleh dua orang yang sangat berat disatu sisi adalah orang yang paling ia suka tapi disatu sisi adalah orang yang paling dekat dengannya. Tangan yang sama-sama menggenggam satu sama lain, ia harus memilihnya.


"Val dia bukan pacar lo lagi, dan dia berhak buat sama gue!" Bela Roy yang tidak seperti biasanya.


"Gue tau kak, tapi gue yang jauh lebih kenal daripada lo!"


"Kata siapa? Gue yang jauh kenal sama Franda bahkan gue dan Franda udah saling kenal pas kalian kelas X dan lo baru kenal akhir-akhir ini kan?" Sombong Roy yang yakin sekali. Tapi memang benar banget.


"Kak Roy kenapa sih kak? Lo masih punya Manda kak, apa sih yang kurang dari manda. Dia cantik, baik, pintar dan nerima lo apa adanya Kenapa lo mau rebut kebahagiaan gue kak? Gue udah kehilangan Rubi, dan gue gak mau kehilangan Franda untuk kedua kalinya." Genggaman itu jauh lebih kuat dari sebelumnya merekatkan kedua jemari mereka menyatu.


Apa yang harus gue perbuat? - Franda.


"Lo mau tau gue kenapa?"


"Gue suka dari lama sama Franda, gue sayang sama dia. Dan gue cinta sama dia? Lo mau bully gue? Terserah val. Fran, gue suka sama lo. Gue kaget banget pas lo bilang suka sama gue." Rival mengkerutkan dahinya keatas dan tidak percaya kalau Roy itu adalah berkata benar.


"Kak?"


"Iya fran, gue suka sama lo." Lalu Rival menggenggam tangan Franda lalu disusul oleh Roy dan ia diapit oleh kedua orang bersaudara yang memperebutkannya.


Bingung banget! 


Tangisan itu adalah tangisan yang tidak seharusnya keluar tapi entah kenapa itu membuat rasa nyaman. Ya nyaman.


Franda hanya bisa menunduk dan gemetar sekali.


Rival hanya diam, Franda memutuskan untuk pergi.


Tapi...


Rival langsung saja memeluknya dengan erat, mengelus puncak kepala Franda. "Jangan tinggalin gue." Suara itu pelan dan lembut tapi mengecam kedalam perasaan.


"Jangan jawab enggak, karna gue sayang sama lo fran. Gue mohon!"


"Aku sayang kamu." Bisik Rival.


Disisi lain ia teringat tentang Cerry yang sudah menaruh rasa ke Roy, ia tidak mungkin mengkhianati itu semua. Dan Rival ia masih ingin Rival dan Rubi bersatu. Mengecewakan hati mereka disaat mereka yang berharap.


"Kak Roy lepasin kak, maaf."


Ada garis senyum tergambar dari lekukan Rival dan mulailah percaya diri. Ia yakin sekali kalau Roy bukan pilihan yang tepat.


"Maaf kak."


Ternyata Roy memilih pergi dan harus terima dengan keputusan Franda.


Roy kecewa banget dikecewakan oleh seseorang yang ia kagumi sejak lama.


"Fran jadi lo milih gue?"


"Makasih ya, gue seneng banget fran."


Ketika Rival ingin memeluk Franda mundur dua langkah kebelakang.


"Maaf val, aku gak bisa. Maaf aku jahat sama kamu selama ini, tapi gak ada maksud sama sekali. Aku pun terjebak diantara ini semua, aku nolak kak Roy bukan semata-mata aku milih kamu tapi ada alasan hal yang lain yang gak bisa aku bicarakan."


"Trus intinya?" Tanya Rival heran.

__ADS_1


"Kalau ada jalannya kita bareng dan kembali tanpa dipaksa pun ia akan kembali tapi jika bukan jalannya segimanapun bakalan pergi dan gak akan pernah menyatu." Jelasnya yang tertusuk tajam tapi tidak berdarah. Ia memutuskan untuk pergi.


Lalu Franda kembali dan berbisik ke telinga Rival "Tapi kalau ada jalan semua akan indah pada waktunya val. Gue janji jika kita ditakdirkan buat sama-sama gue bakalan terus menjadi yang terbaik." Senyum Franda sambil mengacak puncak kepala Rival.


Jika memang semua akan berjalan sesuai ekspetasi maka akan bertahan dan memperbaiki.


Tapi jika itu semua adalah takdir yang tidak bisa terubah maka segimanapun akan seperti itu saja. Sebuah prinsip Franda.


Mengecewakan adalah hal dibenci tapi berjalan. Berjalan dengan ada sesuatu yang dibenci.


***


...Jangan samakan rasa, hati dan sebuah paksaan. Karna semua itu berbeda dan jika dipaksakan itu bukan sebenarnya tapi sebuah keegoisan....


Rival akhirnya menerima pertunangan yang tempo hari itu, ia tau semua yang dipaksakan akan berakhir dengan tidak baik. Tapi apa boleh dikata hatinya sudah patah dan harapan berubah menjadi nol persen.


Ia berfikir dengan sesingkat-singkatnya, mengalah untuk segala pertentangan hatinya kali ini. Pertunangan yang membuat itu semua seakan harus benar-benar terjadi. Ia hanya bisa menatap Roy yang berada diatasnya, diatas penderitaan seorang adik.


Terkadang rasa sakit akan datang dikemudian hari, entah apa yang membuatnya jatuh cinta kepada Franda. Mungkin pertemuan mereka belum lama dan bahkan tidak ada sama sekali dengan masa-masa romantis mereka berdua tapi itulah yang membuatnya berbeda disituasi seperti ini.


Rubi, perempuan yang pernah ia cinta dan sayang, tapi rasa itu berpindah ke hati yang lain yaitu Franda. Cukup waktu untuk menemukan rasa dan cinta yang baru tak ada yang instan.


Cinta butuh dua hal:


Pertama, cinta butuh waktu,,


Kedua, cinta butuh penyesuaian,,


Dan kedua hal itu sudah Rival dapatkan. Perempuan yang membuatnya jatuh cinta.


Dan tentang pertunangan itu,


Rival harus menerimanya disaat yang galau seperti ini, karna apa? karna ia takut untuk terlalu larut dalam dilema ini. Keputusan memang berat dan seakan mudah tapi itulah keputusan Rival kali ini.


Dengan pakaian jas yang rapi dan siap untuk mempersunting Rubi sebagai tunangan. Masih SMA? Ini bukan pertunangan resmi seperti ingin menikah tapi semacam pengikat untuk mereka berdua bukan cincin tapi komitmen yang dilontarkan dari pihak laki-laki. Memang ini terkesan aneh dan runyam tapi begitulah yang Rival putuskan.


Ia sengaja menunggu diruang tamu, dari belakang Tiffany dan Roy bingung apa yang sedang terjadi. "Kak, Rival kenapa?"


"Mana gue tau tif, emang mau kemana dia pake jas begitu?"


"Emang kita ada acara ya?"


"Gak tau juga sih."


Sebenarnya rencana ini dari kemarin yang lalu, tapi Rival hanya bercerita dengan papah dan mamanya saja makanya Tiffany dan Roy bingung.


"Doain gue ya kak, Tif semoga lancar." Tanpa menengok kebelakang Rival mengucap hal itu, padahal ia tidak melihat kearah mereka berdua tapi ia tau sejak tadi mereka memperhatikan dan mengintip dirinya yang ada diruang tamu, rapi dan elegan.


Sebelum masuk kedalam mobil mama menanyakan ke Rival apa ini sesuatu yang serius?


"Kamu yakin val?"


Diam.


Lalu ia memegang tepat di dada Rival. Jantung yang berdebar kencang dan grogi banget. Ia hanya tersenyum dan memberikan semangat. "Yakin kalau keputusan kamu val."


Rival tersenyum tipis.


Langkah demi langkah akan menghantarkannya ke rumah Rubi, siap belum siap adalah sebuah frekuensi yang harus.


Ia hanya bisa melihat kearah kaca mobil, rumput seakan berjalan dan malam yang indah dengan lampu yang terang sekali.


"Andai aja rasa itu masih ada, gue bakalan bahagia banget rub. tapi entah sekarang gue merasa gue semakin sakit dan sakit ketika gue tau Franda bersikap seperti ini. Gue bukan orang baik tapi gue berusaha menjadi yang lebih baik. Rub gue rasa semoga kita bahagia." - Rival. Senyum tipis itu tergambar dengan ragu.


Bukan senyum yang biasanya, dan bukan senyum bahagia tapi senyum tertekan.


***


Akhirnya sampai juga...


Mobil masuk kedalam pekarangan Rubi, sejak tadi didalam mobil Rival tidak sama sekali berbicara atau berkomunikasi dengan kedua orang tua.


Apa yang ia lakukan kali ini membingungkan.


Pintu Rubi terbuka lebar kedua orang tua Rubi menyambut kedatangan Rival. Tamu spesial dan mungkin ini untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu lalu.


Rival keluar dari mobil dengan senyum yang lebar begitupun dari kedua orang tua.


Ritual bersalaman sebelum masuk kedalam rumah Rubi.


"Val." Sapa Rubi.


"Hai Rub. Masuk yuk." Canggung banget. Udah lama, berbeda. Biasanya dulu udah gak jaim lagi.


Ya....


Ya begitu lah rasa yang sudah perlahan memudar.

__ADS_1


Ketika itu juga rasa itu seakan tumpah. Ternyata Rubi dan kedua orang tuanya bingung maksud kedatangan Rival dan kedua orang tua. Bukan acara lamaran atau tunangan ya, tapi sejenis pengikat komitmen saja dikarenakan mereka juga masih sekolah dan belum lulus. Penampilan Rival memang rapi dan lebih ganteng apalagi Rubi tidak hentinya terharu karna ini sungguh mendadak, apakah ini doa yang ia temukan dan terkabul? Ia habis ini langsung berterima kasih dengan Franda seseorang yang membuatnya mimpinya menjadi sebuah nyata. Rival pun juga tersenyum dan seperti Rival yang dulu.


Agak kaku dan agak aneh.


"Pak gak kerasa ya anak kita udah besar dan sebentar lagi akan menikah." Ucap papahnya Rubi yang menyambut hangat kedatangan Rival beserta kedua orang tua.


"Menikah?" Kejut Rival. Ini bukan menikag yang ia harapan kalau tidak gara-gara Franda memutuskan hubungan dan pergi maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi.


"Iya menikah tapi tenang Rival, tidak terburu-buru dan santai saja tenang. Kalian masih panjang dan masih banyak masa depan yang harus dikejar sedangkan kalian masih SMA juga kan?"


"Oh iya tante." Sahut Rival.


Ia menarik nafas sebentar, menstabilkan udara yang keluar masuk.


Menatap kedua orang tua Rubi dan Rubi sendiri.


Ehem. "Jadi kedatangan saya kesini dan kedua orang tua saya. Saya pengen,  saya dan Rubi."


Huh belum siap kayaknya.


"Saya pengen...."


"Tenang val, tenang aja santai." Bisik papah.


Menarik nafas lagi.


"Saya pengen Rubi jadi sahabat terbaik saja."


Yang awalnya tersipu malu semua malah menatap tajam kedua bola mata Rival. Apa yang sedang ia ucapan kali ini?


"Sahabat terbaik? Maksud kamu apa val?" Bingung Rubi yang langsung menanggapi ucapan Rival.


Rival menatap kearah kanan dan kiri, apa yang baru saja ia katakan. Bahkan kedua orang tua Rubi juga ikut tegang. Kedua tangannya gemetar, hatinya dan pikiran yang entah kemana.


Beranjak pergi mungkin adalah sebuah pilihan yang tepat. Ternyata pikiran dan hati tidak konstan hingga pada waktunya akan menghantarkan kata-kata yang keluar akan berbeda.


"Maaf, saya harus pergi." Runyam.


"Val." Panggil Rubi.


Tapi ia tidak menoleh.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia malah mengatakan diluar ekspetasi. Sahabat terbaik?


Apa maksudnya?


Rival pergi meninggalkan rumah Rubi. Ia tau sesuatu yang dipaksakan akan berubah dan mendapatkan sesuatu hasil yang tidak baik.


Dan inilah hasilnya.


"Maaf, Rival sepertinya grogi. Rubi kamu gak papa kan?"


"Ah gak papa om." Cengir Rubi. Didalam hatinya ia tau kalau Rival hanya untuk Franda. Dan Franda untuk Rival. Itu saja.


"Rubi, Kalau Rival jodoh kamu maka ia akan kembali. Tapi kalau dia bukan jodoh kamu biarkan dia menjadi seseorang yang tepat untuknya." Ucap sang mama. Memang ini berat tapi perlahan Rubi mulai menerimanya.


"Ya sudah diminum dulu." Keadaan harus lebih santai dan seakan tidak terjadi apa-apa.


"Maaf ya kalau Rival----- suka grogi."


"Iya namanya juga anak muda."


Untungnya orang tua Rubi sangat menerima seakan dengan lapang dada.


"Mah, pah. Om, tante saya keluar dulu ya permisi."


Masih ada kata harap kalau ada Rival diluar memperbaiki sebuah kata yang akan membahagiakan tapi apa?


Senyum yang kecewa, tidak ada siapa-siapa dan pintu gerbang tertutup kembali.


"Rival baru keluar ya pak?"


"Iya non." Sahutnya yang mengiyakan pertanyaan Rubi.


Rubi hanya mengangguk saja, padahal ia sangat senang sekali pas Rival ke rumah dan membawa kedua orang tua. Ia sangat optimis kalau Rival bakalan jadi seseorang yang kembali seperti dulu lagi tapi Rival sudah berubah menjadi seperti sekarang yang mungkin tidak akan pernah kembali.


***


Kemana harus berlari, kemana harus berjalan tanpa arah dan tujuan.


Drama?


Itulah Rival, kehidupan yang seperti drama.


Masih teringat didalam pikirannya kalau ia salah mengatakan malah keluar kata sahabat terbaik. Sebuah kata apa coba yang terlontar.


Ada rasa komedi, dan ada rasa sedih pula.

__ADS_1


Stres?


Gak juga!


__ADS_2