Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ALLEGRA & MORGAN 3 EKSTRA


__ADS_3

Cinta dimulai dari sebuah perjuangan, sedikit pengorbanan dan serangkaian ujian untuk menciptakan hubungan yang penuh ketulusan. Sanggupkah Allegra dan Morgan menjalaninya? Bagaimana sikap Angel selanjutnya?


...


Sore hari sepertinya waktu yang tepat untuk Allegra menyiapkan barang barangnya untuk kembali ke kota bersama Dior, Gracia dan tentu saja Morgan. Allegra masih sedikit pening, mungkin karena darahnya masih belum berhenti dengan sempurna, tapi dia tidak berani mengatakan pada ibunya. Allegra memutuskan untuk ke kamar atas nya untuk menyiapkan keperluannya.


Morgan baru saja mencari signal di luar rumah dan kembali masuk. Mereka berpapasan di ruang tamu. Morgan memandang Allegra dan Allegra tampak salah tingkah. Morgan terlihat maskulin dengan sweater turtle neck nya dan tangan di saku lalu satunya lagi memegang ponsel. Belum lagi dadanya yang terlihat bidang juga gagah. Tampaklah wajah Allegra yang kembali memerah membuat Morgan tersenyum kecil.


"Kau mau kemana? Apa punggungmu sudah membaik?" Tanya Morgan semakin mendekati Allegra.


"Ah, aku, aku, aku ingin ke atas, apa Kak Dior dan Gracia di atas?" Allegra kembali bertanya.


"Sepertinya. Kau mau apa?" Morgan sudah ada di hadapan Allegra.


"Aku ingin ikut ke kota bersama kalian nanti malam. Aku mohon ijinkan aku ikut bersama kalian," pinta Allegra mengusahakan dirinya menatap Morgan.


"Wajahmu memerah lagi Allegra, apa kau kembali demam?" Morgan meletakan punggung tangannya pada dahi Allegra.


"Ah tidak Morgan! Mengapa kau sedekat ini? Aku mau ke atas!" Allegra berbalik dan hendak menaiki anak tangga tetapi Morgan menahannya. Dia memegang pergelangan tangan Allegra.


"Kau mau apa Morgan?!"


"Ikut denganku! Ada yang ingin kubicarakan padamu!" Morgan menarik Allegra keluar depan halaman.


Langit sore masih berwarna jingga. Allegra mengikuti Morgan dan menunggu apa yang hendak ia katakan. Entah mengapa rasanya Allegra merasakan sesuatu yang sangat nyaman ketika dekat dengan Morgan. Seperti ada seseorang yang memperhatikannya secara diam diam. Tak lama Morgan memberitahukan suatu hal yang sangat mengejutkan dirinya. Ternyata selama ini ibunya menyembunyikan hal penting itu. Allegra langsung berpikir dia memiliki cara untuk bisa mengembalikan kasih sayang ibunya untuknya.


"Jadi, apa kau masih ingin kembali ke kota malam ini juga?" Tanya Morgan. Morgan hanya ingin membantu memperbaiki hubungan antara ibu dan anak itu.


Allegra sejenak berpikir dan sepertinya dia harus melakukan sejumlah persiapan.


"Ya! Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk mendukung keputusanku," kata Allegra tersenyum.


"Kau mau apa Allegra? Kau jangan memutuskan sesuatu yang konyol! Bagaimana jika ibumu menyetujuinya?" Sebenarnya Morgan masih ragu dengan pernyataan Angel yang ia dengar pagi tadi.


"Kita bisa lihat semua dari apa yang harus kukorbankan, Morgan!" Jawab Allegra pasti.


"Allegra! Aku tidak suka kau begini! Seharusnya aku tidak mengatakannya padamu!" Morgan sedikit menyesal dan memegang kedua lengan Allegra.


"Terimakasih Morgan! Kau membuka seluruh pikiranku! Tenang saja, aku tahu apa yang harus kulakukan!" Kata Allegra lagi tersenyum tulus dan penuh kehangatan.


Morgan tak kuasa lagi untuk tidak memeluk Allegra. Wajah Allegra seketika seperti malaikat yang berbinar binar. Dia lalu memeluk Allegra dengan perlahan. Allegra tidak menolak karena dia sangat membutuhkan sebuah pelukan. Allegra meneteskan air matanya di dada Morgan yang begitu hangat baginya.


"Mengapa kau memelukku, Morgan?" Tanya Allegra memejamkan matanya merasakan aroma tubuh Morgan yang membuatnya seketika ingin tertidur.


"Aku hanya ingin memberi kehangatan yang hilang dari kehidupanmu, Allegra. Maafkan aku. Besok pagi aku harus kembali, tapi kalau kau masih membutuhkan seorang teman, aku bisa menetap," kata Morgan dengan sangat lembut. Allegra sedikit tersentak dengan kata kata Morgan yang begitu manis baginya. Mantan kekasihnya juga ada yang mengatakannya tapi tidak setulus ini.


Allegra menggeleng dan menarik dirinya.


"Pulanglah, masih banyak pekerjaanmu. Aku masih mempunyai kak Xelino. dia selalu menemaniku," Tutur Allegra.


"Kau yakin?"


Allegra mengangguk dan tersenyum. Morgan terkesima dengan apa yang Allegra putuskan. Entah mengapa Morgan yakin, Allegra dapat menyelesaikan masalahnya. Dan , sejak saat itu Morgan memendam perasaan untuk Allegra. Wanita idaman Morgan. Seorang yang kuat, percaya diri dan mandiri. Mungkin sosok seperti ini yang hendak Angel ciptakan bagi Allegra tapi sekali lagi, Morgan tetap menyatakan cara yang diambil ibu dari Allegra itu salah. Mungkin dia bisa mengatakan sesuatu pada Angel untuk membantu memperbaiki hubungan Allegra dengan ibunya.


Morgan pun menghubungi Xelino dan bertanya sedikit banyak tentang Allegra secara diam diam sebelum mereka kembali ke kota. Morgan mendapat informasi yang sangat luar biasa. Dia lalu mencoba berbicara pada Angel yang sedang menyiapkan makan malam. Morgan meminta waktu sebentar pada Dior dan Gracia selang Gracia juga mengganti perban luka Allegra. Morgan memberanikan diri mengingatkan sesuatu pada Angel.


"Morgan, apa kau menyukai Allegra?" Tanya Angel tersenyum tipis.


"Ah bibi, mengapa kau malah menanyakan hal itu?" Wajah Morgan sedikit merona.


"Jawab saja." Angel tersenyum.


"Mungkin. Aku hanya tidak bisa melihat Allegra bersedih. Dia sudah seperti Gracia bagiku," jawab Morgan sedikit gugup.


"Kau anak baik, nak! Jika kau benar menyukai Allegra, tolong, bahagiakan dia untukku! Aku sudah sangat bersalah padanya," Tutur Angel mempercayai Morgan. Dia yakin kali ini pria yang dekat dengan Allegra tepat.


"Bi, Allegra masih mengharapkan kasih sayangmu, jadi aku mohon lakukanlah sesuatu untuknya besok. Besok pasti dia sangat kesepian meskipun ada Xelino yang menemaninya," saut Morgan meyakinkan .


"Kau tenang saja. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Sekarang kalian kembalilah ke kota," kata Angel dengan penuh kehangatan.


"Baiklah. Aku sudah mengatakannya padamu. Aku masih harus bekerja di Legacy. Aku akan berusaha terus berhubungan dengan Allegra jika tidak mengganggu waktunya," kata Morgan lagi dan berbalik.

__ADS_1


"Morgan? Terimakasih," ucap Angel tersenyum . Morgan membungkukan tubuhnya menerima ucapan Angel.


Malam itupun Allegra kembali ke kota bersama Gracia , Dior dan Morgan. Dia memeluk ayah dan kakaknya. Jessie sekali lagi meminta maaf pada Allegra dan Allegra terus tersenyum padanya. Jessie meraba lengkungan mulut Allegra dan ikut tersenyum. Allegra juga menghampiri ibunya tetapi hanya mengatakan akan pergi. Angel pun hanya mengangguk. Sesuatu yang sudah biasa bagi Allegra. Mereka berempat pun akhirnya berangkat ke kota.


Sepanjang perjalanan Allegra terdiam. Perlahan Morgan mengulurkan tangannya dan memegang tangan Allegra. Allegra lagi lagi tersentak dan menoleh ke arah Morgan tetapi Morgan malah melihat keluar mobil. Allegra tersenyum dan memposisikan tangannya juga memegang tangan Morgan. Mereka saling bergandengan di dalam suasana perjalanan malam itu.


Sesampainya di kota, Dior mengarah pada apartemen Allegra yang sudah Allegra arahkan. Dior memutuskan untuk naik taxi ke hotel dekat bandara. Dior sudah memesan penerbangan paling pagi. Namun, Allegra menyuruh Dior membawa mobilnya dan letakan saja di bandara. Besok Allegra bisa mengambilnya bersama Xelino. Dior menyetujuinya. Mereka pun berpamitan pada Allegra. Allegra sekilas menatap Morgan dan mengucapkan terimakasih. Morgan hanya mengangguk dan tersenyum. Mereka tidak sempat bertukar nomor ponsel.


Pagi hari menjelang, Allegra terbangun dan menghela napas panjang. Dia bangkit dari tidurnya dan masih terduduk di di tempt tidurnya. Allegra melipat kedua kakinya dan menautkan kedua tangannya untuk berdoa. Dia mengucap syukur karna tepat berusia 22 tahun juga kembali melantunkan doa untuk ibunya agar mau membuka hati kembali memberikan kasih sayang seperti waktu dia kecil dulu.


Beberapa pesan chatting selamat ulang tahun dari teman temannya termasuk Zhavia dan Zefanya telah menghiasi ponselnya. Ayahnya juga sudah memberikan sebuah pesan yang sangat mengharu biru baginya. Ya, dia merasa hanya ayahnya yang menyayanginya tulus apa adanya. Tak lama kemudian bel apartemennya berbunyi. Allegra berani bertaruh ini adalah Xelino yang setiap tahun bersamanya dari awal hari sampai malam nanti. Xelino biasanya mengajaknya makan dan menonton di bioskop yang tentu saja Allegra yang mentraktirnya padahal Xelino yang mengajak.


"Maafkan aku, kalau hari ini aku tidak bisa mentraktirmu makan dan menonton kak karena punggung ku sedang sakit ..." Ucap Allegra membuka pintu apartemennya dan betapa terkejutnya karena bukan Xelino yang datang, melainkan Morgan. Morgan datang dengan membawa sebuah cupcake dan satu buah lilin kecil menancap di sana.


Allegra menutup mulutnya terkejut. Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan.


"Happy birthday, Allegra!" Ucap Morgan tersenyum.


"Morgan? Dari, dari mana kau mengetahui ulang tahunku?" Tanya Allegra masih terkejut. Jantungnya berdebar tak karuan dan benih benih cinta mulai bertaburan di sisi sisi hatinya. Dia masih ingin memastikan tapi semua kesempurnaan Morgan tidak bisa menahan dirinya.


"Intel. Kau tidak perlu tahu, ini kuemu!" Morgan menyodorkan cupcake kecil itu pada Allegra.


"Tapi, tapi mengapa kau di sini? Seharusnya kau sudah pulang ke Legacy kan?" Allegra meraih cupcake tersebut dan masih bertanya tanya.


"Xelino menghubungiku. Dia mengatakan masih ada yang harus dibicarakan mengenai kerja sama kita dan dia menyuruhku menunggu disini," jawab Morgan dengan lugas dan menaikan alisnya.


Allegra memicingkan matanya tidak percaya.


"Sudah, biarkan aku masuk ke dalam. Aku mau tidur, kalau Xelino sudah datang bangunkan aku!" Morgan memaksa diri masuk dan mencari sebuah sofa. Dia merebahkan tubuhnya. Allegra setengah menoleh memperhatikan gerak gerik mencurigai Morgan. Dia menghela napas dan menutup pintu apartemennya.


Allegra masih ingin bertanya tanya pada Morgan tapi Morgan telah memejamkan matanya. Allegra akhirnya mengalah dan membiarkannya. Dia menuju ke dapur dan membuat sarapan untuknya juga untuk Morgan.


Benar sudah dugaannya. Sepertinya Morgan berbohong karena Xelino tak kunjung kunjung datang tapi anehnya Xelino juga tidak mengangkat panggilannya. Allegra juga masih menunggu panggilan dari ibunya. Siapa tahu tahun ini Angel mengingat ulang tahunnya. Karena, tahun tahun yang lalu, Angel mengingat melalui Jerry dan Jessie.


Allegra sudah memberikan sejuta pertanyaan pada Morgan, mengapa sepupunya belum datang tetapi Morgan hanya mengatakan tidak tahu. Allegra jadi sebal sekali. Allegra tidak membersihkan diri hari ini. Sepertinya besok dia harus ke rumah sakit memeriksakan punggungnya, karena semakin nyeri. Lagipula dia tidak mungkin meminta tolong pada Morgan untuk membantunya mengganti perban.


"Allegra, kau tidak mengganti perbanmu?" tanya Morgan sekaligus membuka percakapan sore menjelang malam itu.


"Besok saja aku ke rumah sakit!" jawab Allegra santai dan terus menikmati televisi. Dia memang harus ke rumah sakit untuk memeriksa sesuatu.


"Tidak! Kau modus!" decak Allegra tidak mau menatap Morgan. dia takut akan terjerumus. dia curiga, Morgan akan menginap di sini. dia juga tidak bisa mengusirnya. selalu gagal karna Morgan membawa bawa Xelino.


"Aku tidak selera dengan tubuh kurusmu!" Morgan memalingkan dirinya menatap ke jendela apartemen.


"Yasudah, lebih baik kau pergi dari sini atau kau ke apartemen Kak Xelino saja, kalian ini benar benar ingin bertemu atau tidak sih?" decak Allegra lagi.


"Kakakmu memang tidak jelas, sama sepertimu!" umpat Morgan.


"Biar saja! Sudah sana cepat bersiap ke apartemen Kak Xelino!"


"Kau kan sedang berulang tahun, kau tidak kesepian hanya sendiri?"


"Sudah biasa!"


"Kau bilang kau biasa mentraktir makan dan menonton bioskop bersama Xelino, karna Xelino tidak datang datang, kau traktir aku saja!" saut Morgan terus berceloteh dan tak lama terdengar suara bel apartemennya.


"Nonton saja di tv itu, banyak sajian film menarik! Kau ini tamu tapi banyak maunya! Aku buka pintu dulu, itu pasti kak Xelino!"


Morgan tersenyum ketika Allegra menuju ke pintu apartemen. Sekali lagi Allegra terkejut melihat siapa yang datang. Xelino ternyata datang bersama ayahnya dan Jessie juga yang sangat mengejutkan. Ibunya datang ke apartemennya.


"Surpriseee!!!! Selamat ulang tahun Allegra!!" Teriak Xelino dan Jessie bersamaan. Morgan juga menuju ke pintu.


Entahlah apa yang Allegra rasakan. Dia hendak menangis haru. Mengapa tahun ini sangat berkesan baginya meskipun dia mendapat kecelakaan kemarin.


Jerry lalu memeluk Allegra dan Angel juga maju perlahan. Dia memberikan sekuntum bunga mawar putih yang sudah dikemas dengan rapi.


"Allegra, selamat ulang tahun, ingat mawar putih ini?" Angel mengulurkan bunga mawar itu.


Allegra terharu dan air matanya benar benar menderai. Ibunya masih ingat bunga kesukaannya. Allegra sangat menyukai mawar putih sejak pertama kali ibunya mengenalkan sebuah bunga padanya.


"Mom, kau mengingatnya? Terimakasih mom!" Ucap Allegra meraih bunga mawar tersebut dan dia hendak memeluk ibunya tetapi ragu. Angel merasakan kecanggungan ini. Dia juga hanya tersenyum dan menghapus air mata yang hendak terjatuh. Xelino merasa sebuah drama sedang terangkai dan tidak bisa dibiarkan.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita merayakan ulang tahun mu di dalam Allegra! Masa kau membiarkan orang dalam di luar sementara orang luar di belakangmu di dalam?" decak Xelino menyindir Morgan yang terus menghubunginya. Xelino sudah meminta bayaran pada Morgan karena semua informasi sepupu nya adalah informasi langka dan tidak gratis.


Allegra menoleh ke arah Morgan di belakangnya dan tersenyum riang. Mereka pun masuk ke dalam. Entah mengapa Allegra merasa ini semua ada hubungannya dengan Morgan. Mereka lalu makan malam bersama, tiup lilin, potong kue dan akhirnya berdoa bersama. Allegra begitu merasa terkesan. Sepertinya doa doa yang telah ia rangkai sendirian selama ini telah terkabul.


Mereka semua masih bercakap cakap termasuk Morgan dengan Xelino dan juga Jerry. Jessie juga bergabung dengan mendengarkan mereka sambil sesekali ikut tersenyum. Allegra menemukan ibunya di dapur sedang membersihkan semua peralatan dapur Allegra.


"Biar aku saja mom, kau bersama Daddy dan yang lainnya saja. Kalian adalah tamu berharga bagiku," kata Allegra dengan pandangan cukup dingin.


"Sekali sekali tidak apa kan?" Angel tersenyum tipis.


Dan sepertinya, ini saatnya Allegra mengatakan sesuatu pada ibunya.


"Em, mom ..."


Angel menoleh.


"Ada yang ingin kubicarakan," kata Allegra.


Deg! Seketika jantung Angel berdetak kencang. Dia merasa saat ini dia juga harus mengucapkan maaf pada anak keduanya ini. Dia sudah melakukan hal yang sangat fatal. Benar kata suaminya, dia tidak boleh semakin memperkeruh suasana yang berujung pada sebuah penyesalan yang tak ada habisnya.


Angel lalu mencuci tangannya dan dia menggiring Allegra masuk ke dalam kamar Allegra.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Angel .


"Begini, aku senang kau mau datang kesini dan merayakan ulang tahunku, aku tidak menyangka dengan ini semua. Aku harap sikapmu seperti ini selamanya kau berikan padaku mom." Allegra mulai berkata kata.


"Allegra? Apa maksudmu?" Angel mengerutkan keningnya.


"Mom, aku ingin bertanya," Allegra menatap Angel sesaat.


Angel terdiam menatap Allegra.


"Em ... Kalau aku tidak bisa melihat, apakah kau juga akan memberikan kasih sayang yang begitu besar padaku seperti yang kau berikan pada kak Jessie?" Begitulah pertanyaan menohok Allegra sambil menunduk. Dia tidak sanggup menatap ibunya.


Setetes air mata Angel tanpa sadar turun dari tempatnya. Suasana sangat hening.


"Maaf mam, sudah lama aku ingin menanyakan hal ini padamu,"


"Allegra ..." Panggil Angel memegang sisi bahu Allegra. Allegra masih menunduk dan menahan tangisnya.


"Mom, seandainya kedua mataku bisa membeli kasih sayangmu untukku, atau bisa membeli pelukan darimu, aku rela memberikannya pada siapapun, bukan hanya untuk kak Jessie, tetapi juga untuk mereka yang membutuhkan. Karena sepasang mata yang indah tidak ada artinya jika aku tidak bisa merasakan kasih sayang seorang mommy yang selalu menguatkan anak anaknya. Aku ingin seperti kak Jessie saja. Bagaimana?"


Kini Allegra menoleh ke arah Angel dengan tetesan air mata yang tidak bisa lagi ia bendung. Inilah cara satu satunya untuk memastikan kadar cinta kasih ibunya terhadapnya.


...


...


...


...


...


Uda ngelos 😭😭


.


next part 4


apakah hubungan ibu dan anak itu akan membaik?


apakah Allegra merasakan perjuangan Morgan dan kembali mempercayai seorang pria?


benarkah Morgan siap memulai cinta nya kembali?


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2