Mantan Terindah

Mantan Terindah
Lanjutkan


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Gani dan Nadia masih belum bisa memejamkan mata. Mereka malah asik mengobrol, membicarakan masalah yang saat ini mendera Gani. Sehingga membuat pria tampan itu galau setengah mati.


"Sudah, bobo. Besok kita bahas lagi. Ini udah malem loh, Mas!" ajak Nadia.


"Aku nggak ngantuk, Dek. Aku biasa seperti ini kok. Kamu bobo aja dulu," tolak Gani.


"Biasa seperti ini. Maksudnya?" tanya Nadia.


"Ya, aku kan dah biasa lembur, biasa meeting sampai malam, kadang sampai pagi malahan. Ya, gitulah," jawab Gani, dengan senyum tertampan lnya.


"Sekarang kan lain Mas. Sekarang kan lagi nggak kerja, lagi nggak meeting. Udah, waktunya dimanfaatin buat tidur. Biar balance, antara istirahat sama kerja." Nadia mengelus lengan kekar sang suami. Bahkan Nadia juga memeluk lengan itu setelah lelah mengelusnya.


"Sekarang sih emang nggak kerja, tapi aku pengen sesuatu yang lain," jawab Gani.


"Sesuatu yang lain? Apa itu?" tanya Nadia.


Gani tersenyum, lalu mencium harum pipi sang istri. Setelahnya, mereka pun melempar senyum malu-malu. Gani ingin meminta, namun terganjal janji yang ia buat sendiri.


"Ini, ini, ini dan ini," jawab Gani sambil menunjuk anggota tubuh sang istri yang ia inginkan.


"Memangnya harus ya, Mas, sekarang?" Nadia langsung terlihat tegang.


"Menurutmu? Haruskah nunggu lebaran semut?" Gani melirik gemas.


"Bukan! Tapi aku tegang." Nadia menyembunyikan wajahnya di lengan sang suami.


"Emmm, aku janji bakalan pelan-pelan."


Nadia tersenyum. Namun masih belum memberikan apa yang suaminya ingin. Ia malah mencengkram kerah bajunya. Agar mata Gani yang sering mencuri pandang ke arah dadanya itu tidak lagi nakal.


"Boleh nggak?" tanya Gani lagi.


"Emmm, sebenarnya boleh sih. Tapi, peluk dulu. Aku malu," jawab Nadia, lugu.

__ADS_1


Entah mengapa? jawaban yang di lontarkan sang istri malah membuat Gani gemas.


Bagaimana tidak? Yang hendak memangsanya adalah pria yang kini memeluknya. Lalu kenapa ia juga meminta perlindungan pria itu. Bukankah ini aneh?


"Sudah malunya?" tanya Gani.


Nadia menggeleng. Gani tersenyum. Masih berusaha sabar menunggu


"Dek!"


"Hemm," Nadia mengangkat wajahnya. Sedangkan Gani menundukkan kepala, lalu mendaratkan bibirnya di kening sang istri.


"Aku masih nggak nyangka, kalo bisa nikah sama kamu," ucap Gani.


"Sama. Aku juga. Tapi boleh jujur nggak?" Nadia menatap manja.


"Boleh. Kenapa emangnya?" tanya Gani.


"Sebenarnya, pas lihat mas pertama kali, aku langsung terpesona loh."


"Mas ganteng banget, kek oppa oppa Korea. Eh, ternyata, emang keturunan sana." Nadia terkekeh.


"Hilih, genit dasar!" Gani kembali mencuri kecupan di pipi sang istri dan Nadia sangat menyukai itu.


"Besok, kalo papa sama mama kamu datang lagi. Jangan ditolak ya," pinta Nadia.


Gani mengangguk. Namun, ia menatap nakal pada snag istri.


"Kamu ngajakin bahas itu terus, Dek! Lalu kapan kita itunya?" tanya Gani manja.


"Itunya apa? Udah bobo. Kan tadi udah lihat kalo aku lagi itu," jawab Nadia, malu-malu.


"Kamu ma nggak pro, Dek. Udah tahu hari ini waktunya aku buka kado. Masak pakek didatengin segala tamunya," gerutu Gani, cemberut.

__ADS_1


"Ih, mama ada begitu. Kalo soal tamu bulanan, aku mana bisa ngatur. Kan siklusnya udah dari sananya," jawab Nadia, lalu ia terkekeh.


"Besok pasti aku dicengin tiga pria menyebalkan itu, Dek, jika begini. Ahhh, nasib-nasib," jawab Gani, sedikit kesal, namun juga memelas.


Nadia tersenyum. Meski deg-degan, wanita cantik ini pun memberanikan diri mengelus pipi sang suami. Menatap mata tampan itu intens.


"Aku mencintaimu," ucap Nadia lirih.


"Aku juga mencintaimu, Istriku. Sangat," jawab Gani. Lalu mereka berciuman mesra. Sangat mesra. Dan di detik berikutnya, ciuman mereka semakin dalam dan dalam. Mengekspresikan apa yang ada di dalam hati mereka selama ini. Bukan hanya itu, meski belum boleh melakukan pelepasan, Gani tetap melanjutkan inginnya menjamah anggota tubuh sang istri. Sesukanya, semaunya. Sedangkan Nadia hanya pasrah. Pasrah dengan kenakalan sang suami. Tanpa protes sedikitpun.


***


Di lain pihak, Bima dan Vita tetap melanjutkan rencana mereka untuk membuat Rani dan juga Victor kembali bersatu. Sebab mereka yakin, kedua insan itu masih sangat saling mencintai. Terutama Victor. Vita yakin, jika mantan abang iparnya itu kini menyesal telah melepaskan wanita setulus Rani. Demi ego yang tak beralasan.


Bersambung...


Sambil nunggu emak update, kalian bisa kepoin karya bestie emak yes😍😍😍


"Hei, OB kau becus gak sih kerja, gara-gara lo, gue jatuh tahu gak!" hardik Sharon.


"Anda yang jatuh bukan salah saya, sepertinya anda tidak melihat peringatan itu, bahwa lantai ini sedang di bersihkan," bantah Meisie. Karena tak terima di salahkan Sharon pun melepas paksa masker yang Meisie gunakan untuk menutup codetnya. Sharon begitu terkejut ketika melihat wajah Meisie yang mengerikan, begitu pun dengan karyawan yang lain, mereka semua saling berbisik.


"Jadi, masker ini untuk menutupi wajah burukmu, dasar gadis buruk rupa." Ucap Sharon, yang tersenyum sinis. Meisie hanya diam, tapi Sharon terus menghinanya tanpa henti.


"Hey, lihatlah wajahnya begitu menyeramkan, untuk apa kau tutupi pakai masker ini, tetap saja wajahmu terlihat," ejek Sharon, seraya menginjak masker Meisie dengan kakinya.


"Ada apa ini?" ucapan seseorang mengejutkannya, dan mampu membuat diam semua orang yang saling berbisik. Siapa lagi kalau bukan Elo, pria dingin dan cuek yang di takuti semua orang.


Elo, melirik ke arah Meisie yang terus menunduk, namun Sharon dengan sengaja mencengkram dagunya, dan menariknya ke atas membuat Meisie mendongak, dan Elo, harus melihat codet di wajahnya.


"Elo, lihatlah wajahnya apa kau tidak malu memperkerjakan gadis cacat seperti dia," cibir Sharon, berharap Meisie dapat hinaan dari Elo.


"Siapapun boleh bekerja disini, fisik bagi saya tidak penting, yang penting adalah orang itu punya kemampuan dan bekerja dengan baik. Seharusnya kamu yang malu, kau orang terpelajar tapi tingkah mu seperti tidak berpendidikan," Telgas Elo, namun menusuk di hati Sharon. Sharon pun langsung melepaskan cengkraman tangannya, wajahnya begitu merah karena menahan malu, akhirnya Sharon pun pergi.

__ADS_1


"Bubar kalian semua, kembali bekerja." Tegas Elo pada semua karyawannya. Elo kembali menatap Meisie, Elo terus menatap luka codetnya, entah kenapa Elo, teringat seseorang di masa kecilnya. Meisie hanya menunduk hormat pada Elo. Elo pun akhirnya melangkah pergi.



__ADS_2