Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 9


__ADS_3

Hari panjang yang dilalui serasa tidak ada artinya jika satu hari saja bisa merasakan kebersamaan dengan orang yang kita cintai. Banyak waktu yang terjadi nyatanya hanya bisa menyimpan penantian yang entah kapan datangnya. Zhavia menganggap bahwa harinya akan terus bersama suaminya dengan menyetujui kembali mengajar. namun, apa yang didapatkan Zhavia? Patrick yang terlalu sibuk mengingat posisinya menjadi seorang pemimpin sekaligus pemilik. apa kah Patrick pada akhirnya dapat membagi waktu dengan baik?


...


Zhavia menerima tawaran Patrick untuk menjadi tenaga pekerja di gedung sekolahnya menjadi guru tarik suara di beberapa kelas solois dan kelas vocal group. Namun, Zhavia mulai mengajar ketika usia Zena menginjak satu tahun. Dia masih kerasan menemani dan memperhatikan perkembangan Zena yang cukup cepat. Zhavia tak henti hentinya mengajaknya bicara, bersenandung, bernyanyi dan memperlihatkan Zena bermain piano.


Ketika makan siang, Zena selalu melihat ibunya bermain piano sambil baby sitter atau Sandra memberinya makan. Zena begitu senang dan antusias jika melihat Zhavia bermain piano dengan lagu lagu Ballad bernada lembut dan ceria. Zena akan makan dengan cepat jika mendengar alunan alunan itu.


Sampai suatu kali Zhavia mengiringi makan malam keluarga itu karena Zena tidak mau makan. Karena Zhavia membawakan lagu skindimarink, Zena akhirnya mau makan dengan Patrick yang menyuapinya.


"Jarang jarang melihat Patrick menyuapi Zena, Alex," saut Sandra bergurau.


"Yes, his good Daddy," kata Alex melihat Patrick yang begitu sabar menyuapi Zena.


"Tapi jangan sering sering tidak makan, Zen, mommy sampai menunda makannya," saut Patrick tersenyum sambil terus menyuapi bubur alpukat itu.


Zhavia sesaat menoleh dan merasa kebahagiaan mulai menghampiri keluarga kecilnya. Dia pun melihat Alex dan Sandra seperti Viena dan Dion. Akhir akhir ini Patrick juga pulang sore dan langsung menghambur bersama Zena atau meluapkan kerinduan dengannya.


Seperti setelah makan malam ini. Zhavia baru kembali ke kamar setelah berhasil menidurkan Zena di kamar sebelah. Zhavia sudah membiasakan Zena untuk tidur sendiri di keranjang bayi yang cukup besar tapi tetap beberapa jam sekali Zhavia atau Patrick memeriksanya sekaligus membuatkan susu atau menggantikan Pampers. Patrick tidak begitu saja mengabaikan perannya menjadi seorang ayah.


"Hem, sepertinya Zena akan tumbuh gigi jadi dia sulit untuk makan, sayang. Kau jadi telat makan," gumam Patrick sudah merebahkan dirinya di tempat tidur.


"Tidak apa sayang, asal dia makan, apapun akan kulakukan," saut Zhavia dengan piyama dan hendak tidur di samping suaminya.


"Terimakasih Via, kau telah merawat Zena dengan sangat baik. Kau bahkan tahu apa kesukaan dan ketidak sukaannya," ujar Patrick kemudian menanti istrinya.


"Karena aku ibunya sayang, kau ini bagaimana?! Apa kau sudah mendengar dia memanggilku mom?" kata Zhavia menceritakan perkembangan Zena akhir akhir ini.


"Kau serius?" Patrick antusias hendak mengetahuinya.


"Ya, dia memanggilku mom, mom Sandra yang mengajarkannya," kata Zhavia menguncir rambut nya.


"Suruh juga mom Sandra untuk mengajarinya memanggil ku Daddy!" pinta Patrick tidak mau kalah.


"Tenang saja, aku yang akan mengajarkannya. Aku masih memiliki satu Minggu untuk bersamanya bukan?" saut Zhavia sudah berbaring di samping suaminya.


"Ah, kau benar sekali. Jadi di mana kita akan mengadakan first birthday party nya Zhavia?" tanya Patrick memeluk Zhavia dari samping.


"Hem, di mana menurutmu? Kata Aunty Clau di taman samping motel Prime. Tempatnya sangat indah dan sejuk. Bagaimana?" jawab Zhavia mengingat beberapa hari lalu Claudia menceritakan pengalamannya waktu Wilson dan Willy masih kecil.


"Tidak di labirin belakang mansion kita?" Patrick kembali memberi pilihan.


"Ah pilihan sulit sayang, jadi dimana?"


"Hahaha, aku terserah padamu," saut Patrick terkekeh dan menidurkan kepalanya di dada Zhavia.


"Aku tahu! Biarkan Zena yang memilih . Aku akan menunjukan dua gambar padanya besok. Terkadang dia sudah tahu apa yang ia suka sayang. Kau tidak tahu, kalau aku memainkan lagu dan aku salah menekan not, dia akan mengatakan noo!!" kata Zhavia lagi menceritakan kepintaran Zena lainnya.


"Apa jangan jangan dia memiliki bakat dariku, Zhavia?" selidik Patrick mendongakan kepalanya menatap istrinya.


"Ahhh bisa jadi sayang, hem mengapa semua mengikutimu? Aku jadi iri," keluh Zhavia memainkan rambut suaminya.


"Dia mengikutiku supaya tidak ada yang bisa menyaingi kau yang paling terbaik, cantik dan seksi," saut Patrick mulai membuka kancing piyama Zhavia dari bawah.


"Heemm, kita sudah melakukannya kemarin?" ujar Zhavia mengingatkan.


"Memang aku mau apa?" balas Patrick kini sudah berhasil mengelus perut Zhavia.


"Aku tahu kalau kau sudah memuji muji ku pasti mengarah pada sesutu ...."


"Yang akan membuatmu melenguh," saut Patrick sudah mulai mengecupi leher Zhavia dan terus turun ke bawah lalu memainkan bongkahan kenyal itu. Zhavia hanya bisa mengikuti permainan suaminya yang akan membuat dirinya kewalahan nantinya.


Akhirnya acara ulang tahun Zena yang diadakan di taman motel Prime. Ternyata, Zena memilih pekarangan sejuk dan luas milik kakeknya itu. Patrick mengundang semua keluarga tanpa terkecuali. Tidak peduli bisa datang atau tidak. Namun, memang Gracia, Zefanya tidak bisa datang karena anak anak Zefanya dan Gracia baru saja menginjak 2 bulan. Hanya Lexa dan Leon dan Dior yang datang sebagai perwakilan dengan mengajak Darren. Xelino dan Carolyn juga datang. Kebetulan Xelino hendak mengajak Carolyn baby moon. Carolyn tengah mengandung berusia 5 bulan.


Mereka tampak senang apalagi Zena yang melihat kue ulang tahunnya berbentuk round cake yang cukup lebar dengan hiasan kue lagi berbentuk harpa di atas kue tersebut. Zena terus memandangnya. Pandangannya teralihkan ketika ayah dan ibunya memainkan lagi selamat ulang tahun.


Mereka yang diundang mengucapkan selamat dan memberikan hadiah pada Zena.

__ADS_1


"Tengs," ucapnya ketika para tamu memberinya selamat. Semua sampai gemas karena sautan Zena yang singkat tetapi memang tepat.


"Zhavia, kau yang pasti mengajari Zena. Dia juga bisa bersenandung seperti sudah besar saja," puji Lexa sambil menggendong Zena yang memainkan sebuah Bonek hadiah dari Zefanya dan Gracia. Boneka itu bisa mengeluarkan musik dan nyala lampu ketika perutnya digoyangkan.


"Hanya aku dan Mom Sandra yang menemaninya, MomXa. Tapi dua hari lagi aku harus bisa meninggalkannya . Patrick membutuhkan ku di gedung sekolahnya," kata Zhavia bercerita pada Lexa.


"Hem, biar bagaimanapun kau juga tetap harus berkarya. Gedung sekolah itu untuk kalian berdua mecurahkan talenta kalian kan? Aku mendukungmu . Karena sekolah musik itu milikmu dan Patrick, sesekali kau bawa saja Zena. Seperti mommy mu dulu. Dia tetap bekerja ketika kakak dan kalian masih kecil," ujar Lexa memberitahu pengalaman Viena dulu.


"Aku juga berpikir Seperti itu MomXa, jika memungkinkan dan tidak banyak waktu mengajar, aku akan mengajak Zena dan Mom Sandra atau Dessy (baby Sitter Zena) ke gedung sekolah," saut Zhavia tersenyum pada Lexa.


"Semangat Zhavia, aku yakin kau bisa menjadi ibu super talenta seperti mommy mu.," balas Lexa menyetujui keputusan Zhavia.


"Terimakasih MomXa. Aku memang ingin seperti mommy. Semoga aku bisa kuat dan selalu sehat,"


Lexa mengangguk memperhatikan wajah Zena yang tampak tembam dan memerah. Selain itu Zena juga tampak serius memperhatikan Boneka musik itu.


...


Zhavia disibukan dengan memasak makanan Zena yang sudah bisa memakan apapun. Zena meminta untuk makan ayam suwir yang beberapa hari lalu juga pernah di berikan Zhavia.


Hari ini juga merupakan hari pertama Zhavia bekerja. Dia akan pergi bareng Patrick ke gedung sekolah musiknya itu. Patrick sudah menunggunya di ruang makan bersama ayahnya, Alex dan juga Zena yang sedang memakan roti dengan selai susu.


"Zena, aku sudah memasakan ayam suwir dengan lelehan kecap seperti yang kau pinta. Hari ini, hari pertama mommy bekerja, semoga mommy bekerja dengan benar dan akan kembali secepatnya," kata Zhavia berbicara pada Zena yang mungkin belum mengerti tapi Zhavia selalu yakin kalau Zena mendengar apa yang ia katakan.


"Mommy mommy, Chicken," saut Zena.


"Yes, mommy sudah membuatkanmu chicken. Jangan nakal bersama Grandmom Sandra dan Grandad Alex. Tidur bersama Dessy dan jangna sampai tidak makan. Oke?"


"Yes mommy, thanks!"


"Your welcome," saut Zhavia tersenyum.


Zhavia pun ikut makan bersama Patrick, Sandra, Alex dan Zena. Selesai semuanya Patrick dan Zhavia berangkat bersama ke gedung sekolah.


"Aku tidak sabar , Pat, tapi apa aku masih bisa mengajar seperti dulu?" kata Zhavia ketika perjalanan ke sekolah.


"Kau sudah mempelajarinya kan? Untuk perkenalan kau bisa saling berkenalan dulu dan mengetahui bentuk suara mereka masing masing," ujar Patrick mengarahkan.


"Hem, sepertinya gedung sekolah musik kita juga akan berkembang menjadi management artist, sayang. Namun, aku sudah mengatakan kalau aku hanya ingin menghasilkan penyanyi, penyanyi grup dan pemusik. Tidak menerima talenta lainnya," kata Patrick menjelaskan perkembangan terbaik dari perindustrian musiknya.


"Ya, aku juga setuju, pat! Dengan begitu gedung sekolah musik kita akan menjadi terkenal!" kata Zhavia juga menyetujui.


"Benar, oleh sebab itu aku membutuhkan bantuanmu. Aku juga sudah meminta bantuan pada Adeline agar sesekali menjadi guru tamu bagi kelas menjadi komposer dan komponis,"


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hebatnya gedung sekolah musik kita, Pat! Tapi sebenarnya bukan hanya aku ingin mengajar lagi, melainkan ..."


"Melainkan apa Zhavia?"


"Melainkan bisa bertemu dengan mu setiap saat. Aku bisa melihatmu pagi pagi seperti ini, lalu siang, sore dan pulang nanti aku bisa melihatmu," gumam Zhavia menatap Patrick dengan manja.


"Oh God! Zhavia, kau memikirkan sampai kesini. Dengan begitu, aku juga jadi bisa melihat istriku yang cantik ini terus berkarya. Sudah cukup memperlihatkannya pada Zena,"


"Jadi, sekarang kau yang iri?" celetuh Zhavia menggoda.


"Sebenarnya aku rindu melihatmu bermain piano. Aku terkejut pada waktu kau memainkan piano hanya agar Zena makan," saut Patrick tersenyum.


"Kau terlalu sibuk di sekolah dan mengurusi semuanya jadi kau tidak melihat kalau sebenarnya setiap hari aku bermain piano," keluh Zhavia masih menatap mata indah suaminya.


"Maka dari itu kau ikut denganku ke sekolah. Kita seperti masa sekolah aku mengantarmu Zhavia,"


"Hemm, ini di mobil Pat,"


"Aku paham, aku hanya ingin memelukmu saja sebelum kau mengajar," kata Patrick.


Zhavia tersenyum menerima pelukan suaminya. Patrick terus merangkul pinggang Zhavia sampai ke gedung sekolah musiknya. Mereka pun tiba setelah satu jam lamanya perjalanan.


Sesampainya di basement, mereka turun bersama dan memasuki lobby sebelum menuju ruangan Patrick. Namun, baru saja sampai, Zhavia begitu terkesima melihat kata sambutan untuknya.

__ADS_1


Di sana ada Eden, Hoshi, beberapa pegawai yang mengenal dan dekat dengan Zhavia , juga Molly dan Sarah memberi penyambutan yang luar biasa. Ada spanduk bertuliskan : *SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERGABUNG ZHAVIA KWAN! WE ARE SO HAPPY OF YOU!*


Bukan hanya itu, mereka juga meniupi terompet dan menyalakan party popper dan party string yang di arahkan ke Zhavia juga Patrick.


Zhavia menutup mulutnya tak percaya Patrick menyuruh anak buahnya melakukan ini.


"Pat, ini berlebihan, aku sudah senang bisa mengajar lagi, tidak perlu ada acara penyambutan seperti ini," kata Zhavia masih terkesima.


"Eng eng," Patrick menggeleng.


"Biar bagaimanapun kau istri CEO Industri musik ini. Jadi, kau juga merupakan CEO, Pendiri juga pemilik gedung sekolah musik ini. Milik kita berdua, jadi mereka harus menghormatimu." decak Patrick.


"Aaahhh, mengapa kau selalu membuat hatiku tumpah ruah, Patrick?"


"Tidak ada apa apanya, ini karena besar cintaku padamu, sayang,"


Mereka saling berpandangan dan masih merangkul satu sama lain.


"Sekarang, aku yang akan menunjukan ruang kelasmu juga ruang kerjamu,"


"Hem? Apa aku tidak bersamamu saja?" gumam Zhavia.


"Ruang kerja pribadi. Di mana kalau sewaktu waktu kau membutuhkan waktu sendiri untuk mencari inspirasi, selanjutnya kau tetap bisa ke ruanganku," kata Patrick menjelaskan maksudnya.


"Patrick memang ingin membuatmu nyaman dan tidak bosan, Zhavia," saut Eden yang sudah menghampiri mereka.


"Emm, baiklah kalau begitu," balas Zhavia menyetujui.


"Tapi Pat, sepertinya kau tidak bisa menemani Zhavia melihat ruangannya, biar ..."


"Biar aku saja," tiba tiba terdengar suara seorang pria berjalan ke arah mereka dengan membawa sebuket bunga mawar merah yang cukup banyak dan segar.


"Zhavia, selamat datang, aku senang bisa bersama sama mengajar bersamamu," ucap Daniel senang atas kehadiran Zhavia.


"Daniel?"


"Ya, bukanlah aku sudah bercerita kalau Daniel menjadi kepala pemusik di sini Zhavia," kata Patrick kembali menjelaskan.


"Oh iya, aku lupa Pat, maaf terlalu fokus pada Zena,"


"Ini untukmu Nyonya Kwan karena telah bergabung bersama kami. Dan Patrick, Eden, biar aku saja yang menunjukan ruang kelas Zhavia. Bukankah ruang kelasnya dekat dengan ruang kelas ku?"


"Ah iya, kau benar Daniel," saut Eden menyetujui kalau Daniel saja yang menemani Zhavia.


"Memang kita mau kemana Eden?" tanya Patrick agak lupa karena memikirkan Zhavia yang mulia bergabung. sebenarnya dia ingin menemani Zhavia melihat lihat gedung. Zhavia sudah lama tidak kemari.


"Hari ini kau harus menandatangani satu album yang sudah dihasilkan Amber, kau lupa?" jawab Eden.


"Oh God! Pukul 11 kan?" Patrick memastikan karena ini merupakan hal penting.


"Benar, ini sudah pukul 10, perjalanan satu jam ke rekaman studio," kata Eden memastikan.


"Ya ya, baiklah Daniel aku titip Zhavia. Jangan kau apa apakan!" kata Patrick mengingatkan.


"Memang aku monster!" decak Daniel merengut. Patrick pun menoleh dan berhadapan dengan Zhavia.


"Sayang, aku harus pergi, setelah itu kita bisa makan siang bersama," kata Patrick memegang wajah Zhavia.


"Apa sempat?" keluh Zhavia menunduk.


"Akan kuusahakan, kiss me!" pinta Patrick mendongakan kepala Zhavia untuk menatapnya.


Zhavia mengecup pipi kanan dan kiri Patrick. Patrick pun pergi bersama Eden ke studio rekaman untuk melihat hasil akhir album pertama yang diluncurkan Patrick dan seorang artis jebolan sekolah musiknya.


...


next part 10

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa


thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2