Mantan Terindah

Mantan Terindah
46. Dibuktikan


__ADS_3

Nomor tidak dikenal


Buruam ke rumah Rival,  dia lagi sakit.


Franda baru saja membuka layar ponselnya yang tiba-tiba saja bergetar, ia langsung saja terkejut dan terbangun dari tidurnya. "Rival sakit?" Gumamnya. Jam masih menunjukkan pukul 16.00 sore mungkin toko buah masih buka. Pikirannya langsung saja kearah sana, ya kearah sana.


Franda mengambil jaket, dompet dan ponselnya ia bergegas ke luar kamar untuk menjenguk Rival. Pikirannya merasa tidak enak mungkin Rival butuh teman untuk ada yang menjenguknya.


"Mah, Franda boleh ke rumah temen gak buat jenguk dia?"


"Ya udah hati-hati ya."


...•••...


Akhirnya sampailah Franda di rumah Rival, ia takut sekali untuk masuk kedalam dan grogi kalau bakalan diusir dari rumahnya. Ia mengurungkannya tapi tiba-tiba saja ada suara yang memanggilnya "Fran, itu lo kan?" Ucapnya. Franda terhenti dan memejamkan matanya karna takut untuk melangkah maju ia hanya dia saja ditempat. Langkah itu semakin nyata dan membuat hentakan itu semakin dekat.


"Loh kok malah balik? mau ketemu Rival ya?" Albert melihat Franda yang membawa keranjang buah yang masih terbungkus rapi. Awalnya Franda ingin menggeleng tapi Albert malah menariknya masuk kedalam rumah tambahlah jantung yang berdebar begitu saja. Matanya tidak hentinya terpejam.


"Kenapa ada Albert segala sih?" Gumamnya.


Loh benar kan, Rival sedang asik didepan tv dan ada Rudy dan Bima juga paket komplit. Franda dipersilahkan duduk oleh Albert seakan itu rumahnya sendiri. Kebingungan pun dimulai mereka saling tatap satu sama lain. "Loh kok ada Franda?"


"Bert lo ajak Franda kesini?"


Rival tidak ikut berbicara tapi matanya tersorot oleh benda yang dipegang oleh Franda. "Apa itu?" Celetuk Bima melihat makanan yang sudah empuk untuk ia santap.


"Buah lah lo kira apa?"


"Buat Rival?" Tanyanya Rudy kembali. Pertanyaan yang bertubi-tubi yang membuat Franda diam saja apalagi ekspresi Rival yang biasa sja menatapnya seperti itu.


"Emang gue sakit? Kok di kasih buah?" Albert malah menggelengkan kepala dan memberi kode ke Rival kalau ia harus segera meralatnya.


"Tapi ya udah deh, sini buahnya." Melihat Rival yang baik-baik saja, kenapa Rival tidak terlihat sakit sama sekali seperti pesan misterius itu?


"Nih buat lo pada supaya lebih sehat." Rival membukanya dan memberikan ke teman-temannya. Franda hanya tersenyum ternyata diluar ekspetasinya.


"Ehem, udah gak marah lagi sama Franda val? Makin mesra aja?"


"Gue serba salah deh baik salah jelek salah."


"Semua gak ada yang salah val, lo salah karna lo harus memperbaikinya dan lo bener jadi kembali ke titik yang salah." Franda menyahut seakan membela Rival tapi dengan kata-kata. Entah apa, Rival menatap kedua bola mata Franda dengan fokus terkesima dengan ucapannya barusan.


Diam-diam Albert mengambil gambar langka mereka dan menyimpan di ponselnya diam-diam.


"Lo gak sakit?"


"Enggak kok. Lo doain gue ya? Ya udah balik lo."


Mendengar hal itu Franda beranjak berdiri dan ingin meninggalkan Rival tapi ia menahannya dengan erat. "Disini aja." Lembutnya, jarang-jarang Rival mengucap kalimat selembut itu.


"Ehem. Disini masih ada orang kali natapnya gitu banget. gitu val kalau gak suka? Itu namanya apa ya?"


"Tau lo val kasih kita traktiran ya?"


Rival berdiri dan menarik lengan Franda dan membawanya ke suatu tempat yang hanya untuk mereka berdua saja. "Mau kemana val?"


Rival memegang bahu Franda menatapnya tajam, "Apa yang lo rasakan saat ini?"


Diam,


"Apa yang lo rasakan saat ini? Lo jadi berdebar kan?"


Oh tuhan,  benar itu benar.


"Jadi lo percaya gak sama gue?"


"Percaya apa?"


"Percaya kalau gue orang yang baik dan bisa buat lo bahagia. Percaya gak?"

__ADS_1


"Jangan coba menggeleng kalau lo ragu karna lo bakalan menyesal. Gue yakin." Sepercaya itu kah?


"Tujuan lo ngajak gue kesini apa?"


"Dan tujuan lo buat ke rumah gue apa? Kasih buah segala?" Tanyanya balik. Benar juga karna bingung Franda pun mencoba untuk memalingkan tubuhnya dan ingin cepat keluar dari rumah Rival.


"Karna lo sakit kan?"


"Sakit? Gue gak sakit? Lo lihat gue sedsng sakit?"


"Ya udah gue balik aja kalau gitu berarti gak akan gunanya lagi disini." Sahut Franda yang bergetar.


"Karna lo perduli sama gue, dan lo suka sama gue kan? Tunggu di rumah tamu gue bakalan anterin lo balik. Sebagai terima kasih doang."


Rudy, Bima dan Albert melihat Franda yang ingin berpamitan pulang. "Kenapa?"


"Gue pamit balik, bilang sama Rival."


...•••...


"Lo gak sakit kan?" Tanya Franda lagi, ia tidak yakin kalau Rival benar-benar tidak sakit.


"Lo khawatir sama gue?"


"Gak usah dibahas lagi,. Gak penting pula."


"Gue suka bingung sama lo ya, suka aneh gitu orangnya tenang aja gue suka kok kalau ada yang perhatian sama gue. Tapi kalau boleh tau lo suka sama gue atas dasar apa lo perduli sama gue?"


"Eeeee." Tangannya memainkan jemari kanan dan kiri.


"Gue janji bakalan jadi orang yang jauh lebih bisa menghargai. Lo mau rubah gue?"


"Rubah apa?"


"Jadi lebih baik lagi."


"Dan itu lo kan? Orang yang merubah hidup gue?" Rival tersenyum sambil melihat wajah Franda yang sudah merah merona.


"Gue? Tapi lo mau gue rubah? Lusi gimana?"


"Jangan bahas siapapun disini, gue cuma pengen bahas antara lo sama gue doang! Gak akan ada orang yang ganggu kalau gak bahas tentang orang lain terus." Tegasnya dengan santai tapi menusuk.


***


"Buruan ah lama banget lo fran, gue capek nih." Ucap Rival yang terburu-buru membawa buku yang banyak. Kenapa harus Franda yang membawa buku sebanyak itu padahal yang disuruh adalah Rudy entah apa yang membuat Rival yang lebih memilih Franda untuk menemaninya ke perpus.


"Iya bentar eeeee."


Brukkkkkk..


Buku itu tiba-tiba saja terjatuh ke lantai yang lantas membuat langkahnya terhenti begitu saja melihat Rival yang sudah tampak jauh disana. "Ish dasar." Kesal Franda dalam hati.


"Lo gak papa?" Aneh seakan orang yang dikirim oleh tuhan untuk membantu Franda yang menjatuhkan buku-buku.


"Kok bisa bawa buku sebanyak ini? Ibu siapa?"


"Bukannya biasanya cowok yang bawa?"


"Kok malah lo?" Ketiga pertanyaan tiba-tiba saja keluar dari mulut Chiko yang sambil membantu Franda.


"Makasih ya chik." Senyum Franda yang akhirnya ada juga orang baik yang dikirim oleh tuhan dengan kegaduhan Rival kali ini yang sering banget!.


Roy menyusun buku-buku yang ada di perpustakaan dengan rapi, tumpukan buku-buku selepas pengambilan setiap kelas yang tidak rapi ia susun kembali. "Roy, lo dipanggil ke ruang BK tuh." Ucap salah satu yang membuka pintu perpustakaan untuk memberitahukan kepada Roy.


"Oh ya udah." Sahutnya.


"Loh kenapa wajah lo gitu val? Emang kenapa?"


"Gak papa gue cuma naruh ini buku ke tempatnya." Rival menaruh buku-buku itu ke rak buku dengan wajah yang begitu kusam dan kesal. Karna penasaran dan nurani sebagai kakak pun beraksi "Lo kenapa?"

__ADS_1


"Eh disini ada chik makasih ya udah bantuin bawa kesini." Ooooh Roy baru tau ini penyebab Rival kesal dan mungkin ia cemburu melihat Franda dan Chiko berdua. Ia pun sekekali melihat aura Rival yang diam-diam melirik kearah Franda.


"Kalau gitu gue keluar dulu ya, gue gak mau ikut campur." Bisik Roy ditelinga Rival.


"Apa lo? malah sibuk pacaran sama Chiko kan lo kesini bareng gue kenapa jadi lo berduaan. Udah sana taruh."


"Fran, gue balik dulu ya." Senyum Franda yang membiarkan Chiko keluar dari perpustakaan.


"Chik." Panggil Franda dan menghentikan langkah Chiko lalu ia memalingkan.


"Makasih ya sekali." Chiko mengangguk saja dan tersenyum miring sambil melihat wajah Rival yang kesal diujung sana.


Dengan diam dan biasa saja ia pun menaruh buku-buku itu ke rak buku sesuai warnanya, Sedangkan Rival hanya melihatnya dengan sinis. Apa yang dipikirkan Rival tidak sesuai ekspetasinya setelah selesai Franda langsung saja melengos keluar dari perpustakaan tanpa mengajak Rival sama sekali.


Karna namanya Rival ia pun berjalan dan mengejar Franda karna tidak terima. "Eh gak sopan banget." Celotehnya.


"Woy diem aja lo."


"Woy." Rival tidak sabar lagi langsung saja mencegat lengan Franda dengan cepat hingga langkanya terhenti.


"Kenapa val?"


"Lo bilang kenapa? Kenapa lo malah minta sama tuh cowok lo pikir dia pahlawan kesiangan hah? Genit banget sih lo!"


"Cemburu?"


"Lo bilang gue cemburu? ngaca woy." Karna  sudah ke gap ia pun meninggalkan Franda dengan kesal, menaikkan rambutnya yang sudah lepek.


"Aneh lo val."


...•••...


"Ah gue kesel banget, sok banget jadi cowok tuh cewek juga sok banget genit banget kenapa sih?"


"Lo kenapa val?" Bima yang menyenderkan tubuhnya kebagian tempat duduk mobil Rival melihat dari cermin yang terlihat jelas kalau Rival sedang mengingat sesuatu.


"Lo cemburu sama Chiko val?"


Mendengar Chiko, Rival semakin naik darah "Au ah bert gue benci banget sama tuh anak ya, caper banget sama cewek!"


"Kalau lo cemburu dia mending bilang aja sama Franda kalau lo cemburu dan gak usah marah gak jelas gini kali." Tepuk Albert didepan Bima dan Rudy mereka pun tidak mengerti dengan percakapan Albert dan Rival.


"Au ah kalau sekali ketahuan awas aja tuh bocah dua."


"Emang mau ngapain val?"


...•••...


Seharian ini Rival dibikin ribet oleh perempuan hingga sampai saat ini aja ia lupa kalau Roy sedang berulang tahun. Tiffany masuk ke kamar Rival yang biasanya tidak sama sekali kalau gak ada yang penting biasanya mereka hanya bertemu di area bawah. "Val."


"Eh kenapa tif."


"Lo inget kan kalau kak Roy ulang tahun, gimana?"


"Hah gimana apanya?" Ia meneliti kalender yang ada diatas meja melihat kearah bulan dan tanggal.


"Masa lo lupa sih?"


"Kan gue gak tau lo kan yang ulang tahun juga secara lo anak kembar dia. Mending lo rayain berdua deh kan sama juga."


"Gue gak suka ulang tahun val, biarin aja kak Roy yang ulang tahun wkwk."


"Lo yakin tif kalau kak Roy ulang tahun? gue kok kayak lupa sih." Ucap Rival yang masih belum yakin dengan ucapan Tiffany.


"Gue lagi pusing gak bisa mikir jernih gue ambil beres aja deh tif lo atur deh berdua."


"Gue yakin lah, lo atur aja tif gue tinggal beresnya doang ya." Sahutnya yang keluar kamar, Tiffany terdiam apalagi disini yang merupakan adik kandung dari Roy adalah dirinya sebagai saudara kembar dan Rival yang merupakan adik mereka.


"Aneh deh, mikirnya kok gitu banget."  Tiffany berfikir kembali.

__ADS_1


__ADS_2