Mantan Terindah

Mantan Terindah
Kecolongan


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Juan dan Stella memutuskan untuk terbang ke Papua. Ingin melihat langsung keadaan di sana. Namun sebelum itu, mereka meminta tolong pada Zein agar tetap menahan Vita untuk sementara waktu kalau bisa jangan sampai Vita mendengar musibah ini, selain dari mereka.


"Titip Vita dulu ya, Zein. Tolong jaga dia dari media. Jangan sampai ia mendengar berita ini sebelum aku dan Ste sampai di sana dan melihat sendiri kondisi yang sebenarnya," ucap Juan di pannggilan telepon yang ia lakukan bersama Zein.


"Baik, Jun. Aku dan Zi akan terus menjaga Vita dari berita yang tidak benar. Yang penting kamu dan Ste hati-hati. Ternyata musuh kita bukan orang biasa. Mereka bukan hanya mengincar perusahaan Luis, tetapi juga penerus perusahaan itu," jawab Zein, geram.


"Terima kasih banyak, Zein. Mama Sera sekarang on the way ke tempatmu. Maafkan keluargaku ya, Zein. Kami semua merepotkanmu," ucap Juan, sedih.


"Jangan ngomong gitu, Jun. AKu pun pernah membuatmu dan Ste berada di dalam tempat menyedihkan. Tapi kaian memaafkanku. Pokoknya selama aku sama Zi bisa bantu, kami pasti bantu Jun. Nggak usah sungkan."


"Makasih banya ya, Zein. Oke aku tutup dulu, pesawat kami sudah mau berangkat. Kalo ada apa-apa tolong kabari aku segera, oke," pinta Juan.


"Siap, Jun, Kamu hati-hati ya," jawab zein, kemudian mereka pun mengakhiri panggilan telepon tersebut.


***


Baru saja Zein menutup percakapannya dengan Juan, terdengar suara tangis seseorang. Seperti tangisan Vita.


"Suara tangis siapa itu, Mam?" tanya Zein pada sang istri.


"Vita, Pi!" pekik Zizi, tak ingin membuat kedua bayi mereka terbangun, Zizi dan Zein pun segera meminta pengasuh kedua bayi itu untuk menjaga mereka terlebih dahulu. Agar mereka bisa menemui Vita.

__ADS_1


"Vit, ada apa?" tanya Zein ketika membuka pintu kamar tamu dan melihat Vita sedang memangis menjadi-jadi di sisi ranjang.


Zein dan Zi langsung mendatangi Vita dan memeluk wanita itu. "Sstttt, tenangkan dirimu. Ada apa, Vit?" tanya Zizi, khawatir.


"Masku, Kak, masku," jawab Vita terbata.


"Iya, masmu kenapa? Ada apa dengan masmu? Coba cerita sama Kakak," pinta Zizi, sembari mencoba menenangkan Vita. Sedangkan Zein duduk di sebalh Vita, tak mampu berucap. Zein tak tega. Telebih ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Vita tak kuasa menceritakan apa yang ia ketahui, tapi ia memberikan ponselnya pada Zi. Agar wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu melihat sendiri apa yang membuatnya menangis.


"Astaghfirullah!" pekik Zizi terkejut.


Rencananya mereka mau menyembunyikan apa yang terjadi, sebelum Juan dan Ste datang, lalu apa ini. Mereka kecolongan. Ternyata seseorang telah terlebih dahulu mengirimkan kabar ini pada Vita. Bahkan detail, foto-foto yang Vita dapatkan malah lebih banyak di banding dengan apa yang Juan kirim pada Zein.


"Vit, kita nggak boleh percaya sebuah foto. Kamu harus tetap berpositif thinking. Percayalah kalo suamimu pasti selamat. Percayalah kalo dia pasti akan kembali," ucap Zein mencoba membangunkan kembali pikiran positif dalam diri Vita.


Bagaimana tidak?


Belum ada setahun ia kehilangan Luis, lalu sekarang ia harus kembali kehilangan Bima. Bagaimana jiwanya tidak terguncang? Bagaimana hatinya tidak hancur? Vita ngebleng, sangking dasyatnya goncangan ini, akhirnya Vita pun pingsan.


***


Tak ada bedanya dengan Vita, Nadia sendiri juga shock setelah mendengar kabar tentang musibah yang dialami sang calon suami.

__ADS_1


Cinta sedang merekah di antara dirinya dan Gani. Lalu sekarang Gani dikabarkan kecelakaan dan belum sadarkan diri.


Andai saat ini ia memiliki uang untuk pergi ke sana, Nadia tak akan menunggu waktu lagi. Ia pasti akan segera memesan tiket dan pergi ke tempat di mana sang pujaan hati berada.


"Sabar ya, Mbak. Mas pasti nggak akan kenapa-napa," ucap Nur, mencoba menghibur kakaknya.


"Bagaimana aku bisa sabar, Nur? Calon suamiku sedang melawan maut dan aku nggak bisa menenin dia. Kamu tahu nggak perjuangan dia bikin mbakmu ini sembuh. Tenaga, uang , waktu dan semuanya ia korbankan untuk mbak. Tapi, giliran dia yang sakit, mbakmu malah nggka bisa berbuat apa-apa untuknya," ucap Nadia sedih.


"Jangan ngomong begitu, Mbak. Mas pasti ngerti keadaaan kita. Oiya, Mbak, ini tabungan Nur, kalo mbak mau pakek, pakek aja, Mbak. Semoga bisa bantu," ucap Nur sembari menyerahkan buku tabungan yang ia punya pada sang kakak.


Nadia menatap terkejut pada sang asik, bagaimana tidak? Nominal yang tertera di buku tabungan sang adik, sungguh di luar dugaan.


"Uangmu banyak sekali, Nur. Dari mana kamu punya uang sebanyak ini?" tanya Nadia heran.


"Nur minta maaf, Mbak. Sebenernya setiap pulang sekolah Nur kerja, Mbak. Nur jajan pakek uang itu, sedangkan uang yang Mbak kasih Nur tabung, kalo yang sepuluh juta ini di kasih sama mas Gani beberapa hari yang lalu," jawab Nur jujur.


"Sepuluj juta? Dikasih mas Gani. Emang kamu kerja apa sama dia Nur?" tanya Nadia, sungguh kali ini Nadia kesal. Ia merasa kecolonghan mendidik sang adik.


"Nggak, Mbak. Nur nggak kerja apa-apa. Mas bilang hanya mau kasih uang jajan untuk, Nur, itu saja. Nur juga nggak ada minta, beneran deh," ucap Nur, sedikit jujur sedikit tak jujur. Gimana ngomongnya, hanya Nur yang tahu.


"Astaga, Nur! Kamu bikin mbakmu malu tahu nggak. Nanti kalo mnbak ketemu masmu, Mbak kembalikan uang ini, boleh?" tanya Nadia lembut, ia nggak bisa marah dengan adiknya ini. Karena ia memang tak bisa marah. Nadia juga tidak mau membuat sang adik tersinggung, lalu tertekan.


"Iya, Mbak. Kalo Mbak malu, balikin aja nggak pa-pa, Nur ikhlas kok, Mbak,' jawab Nurman.

__ADS_1


Nadia tersenyum bangga. Ternyata vadiknya tak seburuk yang ia pikirkan. Namun begitu, ia tak rela jika Nurman menjadi pribadi yang mudah dibeli.


Bersambung ....


__ADS_2