Mantan Terindah

Mantan Terindah
52. Misterius


__ADS_3

"Gue kayak gak nyangka aja deh bert sepupu lo macam tu." Bima masih Bima yang sama yaitu makan makanan yang ada didepannya dengan sangat cepat melainkan ia penasaran dengan hubungan Rival dan Franda.


Albert tersenyum tipis sambil mengetik didepan layar laptopnya. "Yakin aja lah, gue udah nebak dari awal sih kalau Rival tuh suka sama Franda cuman dia gengsi aja. Tapi gue jadi penasaran sama mereka berdua kalau lagi berduaan hahaha."


"Iya juga sih tapi gue salut sih sama sosok Rival keliatannya doang kayak anak badung tapi dia kalau soal cewek paling the best deh.." Sahut Rudy yang mengakui sifat Rival yang sebenarnya ada sisi yang tidak diketahui oleh banyak orang.


"Eeee eeeh hussss Rival datang tuh. Jangan sampai dia ngamuk kalau kita ngomongin dia hahaha." Ekspresi mereka berubah menjadi datar dan tidak seperti tadi ia tahu sekali kalau tipe seperti Rival itu tipe yang mudah marah labil gitu deh.


"Woy." Rival menarik kursi yang kosong disebelahnya memandangi satu persatu wajah Rudy,  Albert dan Bima yang kaku kikuk.


"Kenapa lo bertiga ngomongin gue ya?"


Gelengan yang tanpa disuruh membuat Rival malah cecikikan tertawa apalagi disaat wajahnya Albert yang aneh.


"Hahahah, lo bertiga kenapa sih nahan kentut atau apa?" Nama juga cowok yang suka mengekspresikan apa yang mereka sembunyikan disatu sisi pula cowok lebih memainkan logika mereka dari pada perasaan.


"Traktiran mana nih."


"Oh iya ya, gue hampir aja lupa. Ya udah makanan yang ada di meja ini gue yang bayar kalau lo bertiga pengen beli lagi ya udah pesan."


"Seriusan val? Wah bim buruan lo pesan ini tiga lagi gue laper banget nih." Bima dengan cepat memesannya, hahaha gimana mau kurus kalau makanan udah obesitas gitu.


"Tumben bangen lo gak sama Franda, dia kemana?"


"Dia bentar lagi kesini kok, Gue ajakin bareng males."


"Lo jadi pacar gak ada romantis-romantisnya sama sekali ya val. Lo cinta gak sih sama di----"


"Hallo, maaf ya gue telat datangnya." Rival mengangguk saja dan menarik kursi kosong yang ada disampingnya tepatnya milik Bima.


"Ya udah duduk, kepanasan gak tadi? Nih tisu buat lo."


"Makasih."


"Kok gak dilapin val?" Ejek Albert yang sambil ketawa-ketawa gak jelas.


"Dia udah gede gak lah buat kayak gitu. Yang penting gue tulus gak munafik."


"Rud lo ngapain liatin kayak gitu ke Franda, lo centil banget sih jadi cowok."


"Udah deh gue gak bakalan naksir sama Franda kok, kan dia pacar lo." Sahut Rudy yang malah geli dengan sikap Rival.


Seperti itulah persahabatan mereka yang apa adanya kadang marah, kadang benci kadang bikin kesel dan hal yang lainnya.


Disaat seperti ini Franda masih

__ADS_1


ragu dan tidak nyaman dengan lingkungan yang sebenarnya sudah ia jalani sebelumnya, tapi karna ia masih takut makanya Franda hanya diam saja. "Eh kenapa kalian masih jaim aja sih berdua udah jadian juga."


Sejak tadi sebenarnya ponsel Franda tidak hentinya bergetar entar siapa lagi yang menerornya itu. "Bentar gue ke ke wc dulu. Permisi." Tangan Rival dengan refleks mencegatnya hinga mereka yang melihat hanya cengar-cengir gak jelas, biasa lagi kasmaran.


"Mau aku temenin?" Kerutan dari Franda seakan menaik dan bingung dengan ucapan Rival, mana mungkin ia harus ke wc bareng cowok.


"Duh posesif banget sih lo val, Franda cuma pengen ke wc dong lo kira mau di ospek apa?"


"Kali aja. Hahaha becanda doang kok, ya kali gue nemein dia. Cie wajahnya merah gitu lo pikir gue nemenin lo duluan ya?" Lah kenapa Rival malah tau apa yang Franda rasakan.


Ia bergegas begitu saja ke wc tidak sabaran lagi untuk membuka layar ponsel yang terus bergetar itu. Kebetulan banget wc perempuan kayar antrian belanja ramai sekali rupanya. Keluar masuk ke dalam.


Ia membuka layar ponselnya lalu ia geser kunci keatas. Ya benar nomor tidak dikenal.


Nomor tidak dikenal


Selamat lo udah bikin harinya Rival bahagia, tapi ingat sama janji kita.


"Janji kita?" Berfikir keras mengingat hal-hal yang telah lalu, apa ini ada hubungannya dengan Rubi?


"Mba buruan mba lama banget."


"Bentar." Teriaknya. Ia rasanya bertanya siapa pemilih nomor tersebut, tapi ia masih takut kalau ada hal yang tidak diinginkan.


"Ini makanan udah gue pesen buat lo, ya udah duduk sebelum Bima yang bakalan mangsa ini makanan." Suruh Rival ya walaupun dengan nada yang galak.


Ada seseorang yang memperhatikan Franda ia memakai baju kuning dan jaket cokelat dengan memakai kaca mata, dan memakai masker orang yanga ada disini tuh banyak tapi entah kenapa orang itu terus memerhatikannya. Jarak yang terpantul oleh sinar matahari, membuat Franda terdiam.


"Hei, malah bengong."


"Woy."


"Eh, iya. Kenapa?" Ia menyuapkan makanan langsung ke dalam mulutnya.


"Aaaah kok pedes banget."


"Hahaha itu cabe fran hahaha."


"Ya udah minum minum dulu, makanya kalau makan tuh rapi dong lo tuh cewek harus anggun dan bibir lo belepotan banget, diem gak? gue bersihin dulu." Perlahan Rival menyapu saos dengan tisu yang berantakan di bibir Franda, kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, tidak ada kedipan sama sekali.


"Ehem."


"Nyamuk banget nih disini."


"Lala lala." Berusaha untuk ganggu, liat aja wajah Rival kayak gitu yang merah banget dan salah tingkah.

__ADS_1


"Nih gue suapin buat lo berdua yang lagi jomblo hahahaha."


"Bimaaaaaa!!!"


"Hahahaha."


"Baru kali ini gue ngeliatin Rival ketawa lepas,. Apa gue harus buka hati gue aja ya sama dia" - Franda.


"Ini gue kasih lo, dibaca tapi di rumah aja jangan dibuka disini." Rival diam-diam menaruh langsung ketika Franda membuka resleting tasnya agar ketiga temannya tidak mengetahui sama sekali bisa-bisa dikecengin lagi.


Ia tersenyum dan mengangguk.


...•••...


Flashback on


Malamnya.. Ia terbangun dan menarik kursi dan merobek secarik kertas dan menuliskan apa yang tiba-tiba saja ingin ia tulis didalam sebuah kertas. Menarik nafas sebentar dan mencobanya.


Sebagaimana hati ini merasa,


Indahnya logika yang melalang buana di hati yang merasa,


Hidup terkadang akan lebih bermakna jika indah suatu ketika,


Ku bukan rasa jika memang tidak ada rasa,


Tapi ini berkaitan tentang, ya tentang seseorang yang ku mulai cinta,


Seseorang yang berbeda dari sebelumnya,


Tanpa ku tau dia sebagai pelengkap nyata,


Yang seharusnya tidak aku sia-siakan dalam cinta,


Terima kasih tuhan telah menciptakan dia,


Akan coba ku jaga dalam raga biar dia tau kalau dia sungguh bertahta,


Ya dia wanita yang aku cinta.


Lalu ia lipat, dan menaruhnya kedalam jaket miliknya, untuk ia kasih besok ke orang yang pengen ia berikan. Jantung yang bergetar hebat apalagi ketika ia tau tidak menyangka kalau Franda bisa sedekat itu dan bahkan bikin ia jatuh cinta diam-diam.


Flashback Off


Ia teringat tentang surat itu dan kini sudah tergeletak dibawah lantai karna tas yang tidak ditutup, mengambilnya dan siap untuk dibaca. Dan ketika dibaca lalu Franda langsung tersenyum ketika tulisan itu selesai membaca ulang kembali dan perasaan itu sama, sama-sama tersenyum ketika pertama membaca. Romantis memang, Rival orang baik dan pantas untuk dicintai. - Pikirnya..

__ADS_1


__ADS_2