
Ketika sebuah hati tidak bisa berbagi, maka mereka yang terintimidasi akan mencari hati yang lain untuk dirinya bisa merasakan kasih sayang yang sama. Ada apa dengan hati yang terlalu berfokus pada satu jiwa sementara jiwa yang lain hanya bisa melihat dan menerima? Padahal semua adalah satu darah. Ada apa dengan Allegra? Atau dengan Morgan? Bertemu dengan sifat yang tolak belakang namun dapat mengerti perasaan yang dirasakan oleh kedua belah pihak. Merasa selalu dibeda bedakan malah menjadi pemersatu mereka. Namun, apakah semua berjalan dengan lancar?
...
"Kau mau kemana?" tanya Allegra menahan tubuh Morgan yang hendak ikut masuk ke dalam kamarnya.
"Mengantarmu ke dalam," jawab Morgan santai.
"Tidak perlu, di sini saja dan ini jasmu." Allegra hendak melepas jas yang kembali dikenakan Morgan di restoran tadi.
"Kembalikan dengan keadaan bersih, jangan penuh dengan virus seperti ini! Baiklah, kau beristirahatlah karna nanti siang kami akan mengantarmu pulang," ujar Morgan langsung meninggalkan Allegra karna dia tidak mau menerima jas yang sepertinya masih dibutuhkan Allegra.
Allegra menatap punggung tegap nan bidang itu. Muncul sedikit merona di sisi sisi pipinya dan jantungnya berdebar.
"Ada apa denganmu Allegra? Mana mungkin kau menyukai pria galak seperti dia? Sebaiknya aku secepatnya mengembalikan jas ini. Dan iya juga, mengapa aku tidak mencucinya terlebih dahulu? Bodoh sekali kau Allegra!" Dengus Allegra memasuki kamarnya.
Dia merebahkan dirinya dan memeriksa ponselnya. Ada satu pesan yang masuk dari ayahnya yang mengatakan kalau benar Dior dan Gracia akan berkunjung ke rumahnya pasti juga bersama Morgan.
"Semoga nanti siang dia tidak mencari masalah denganku! Hem!" Allegra membenamkan dirinya tengkurap dan tertidur. Sepertinya dia memang butuh tidur. Beberapa hari ini selain mengurusi panen bunga ibunya, dia juga membantu ibunya merangkai bunga karna kakaknya butuh istirahat untuk pendonoran matanya. Kakaknya Jessica Alena, biasa dipanggil Jessie, mengalami kebutaan sejak lahir dan sudah berkali kali mendapatkan donor mata tapi tidak sesuai dengan darah maupun bentuk matanya. Namun, dia memiliki sebuah keahlian yang menurut Allegra itu merupakan talenta yang luar biasa. Kakaknya dapat merasakan macam macam bunga dengan insting dan penciuman selain dengan rabaan. Dia bahkan dapat merangkai bunga bunga tersebut menjadi sebuah rangkaian yang sempurna. Bahkan lebih sempurna dari ibunya dan dirinya.
Namun, kakaknya tetap membutuhkan perhatian ekstra. Dia sangat pendiam karna merasa dirinya selalu kurang. Allegra yang berperan melindungi dan menemaninya. Dia merasa lebih beruntung dari kakaknya meskipun ibunya, Angel, adik dari Leon agak lebih menyayangi Jessie ketimbang dirinya. Allegra tidak pernah mempermasalahkan hal itu karna dia juga menyayangi kakaknya. Kakaknya hanya mau bicara dan tersenyum padanya dan orang orang rumah juga kerabat yang sudah kenal dekat dengannya termasuk juga Lexa. Namun, begitulah saudara sekandung dan sedarah, Jessie lebih terbuka dan sering berceloteh dengan Allegra. Dia sangat bersemangat menceritakan apapun pada Allegra oleh sebab itu Allegra juga ingin selalu menjaganya.
Pernah suatu kali Allegra memergoki pacarnya hendak melecehkan Jessie. Allegra kesal sekali dan langsung memutuskan pacarnya saat itu juga. Itulah sebabnya Allegra tidak terlalu percaya dengan setiap pria. Setiap pria yang mengencaninya berujung jadi menyukai kakaknya karna memang Allegra akui, kakaknya yang dewasa dan pendiam lebih cantik darinya. Meski kecewa dia tetap memilih kakaknya. Sesekali ada rasa iri menggandrungi hati Allegra mengenai kecantikan kakaknya, tetapi dia kembali melihat dirinya yang lebih beruntung ketimbang kakaknya.
Sangat wajar jika seorang Allegra menjadi wanita pembangkang dan sedikit cerewet seperti ibunya. Namun, dia tidak pernah berani membantah ayah dan ibunya, khususnya ibunya. Apapun yang Angel katakan, Allegra selalu menurutinya walau terkadang ibunya sering memarahinya. Kesalah kecil yang Allegra lakukan pasti akan menjadi sesuatu yang sangat besar bagi Angel. Terkadang Allegra bingung, mengapa ibunya seperti pilih kasih padanya. Jauh dari itu semua, berkat ayahnya yang selalu mengatakan ada maksud dari prilaku ibunya padanya, Allegra selalu melupakan dan terus merasa ibunya tetap menyayangi dirinya sama seperti menyayangi kakaknya.
Sementara Morgan di kamarnya menatap keluar kamarnya. Kamar dengan view taman resort yang begitu indah. Dia jadi memikirkan Allegra. Belum pernah memang dia bertemu dengan wanita seperti Allegra. Meski tidak begitu cantik baginya tetapi Allegra memiliki sosok yang sangat kuat serta percaya diri. Dia juga cukup cerdas seperti Xelino, sepupunya.
Morgan mengusap usap dagunya. Mengapa dia jadi memikirkannya? Perasan yang sebenarnya masih ia tetapkan pada mantan kekasihnya. Ibunya sangat menyukai mantan kekasihnya itu. Namun, tanpa kejelasan, gadis itu pergi meninggalkan Morgan ketika mereka masih berada di Indian. Morgan tidak menceritakannya pada Gracia. Hanya pada ibunya. Morgan termasuk pria yang tertutup. Morgan tidak mengumbar hubungannya dulu dengan kekasihnya itu. Mungkin karna hal ini kekasihnya meninggalkannya tetapi Morgan masih mencari tahu apa yang terjadi. Gadisnya pergi setelah Morgan menciumnya untuk yang pertama kalinya. Entah apa yang terjadi keesokannya, Morgan tidak menemukannya lagi di kampus. Banyak yang mengatakan ibunya sakit karena ayahnya masuk ke penjara.
Karna hal ini, Morgan jadi seenaknya bersama gadis atau wanita manapun. Dia hanya memberi harapan setelah itu Morgan pun meninggalkan mereka semua, apalagi dia merasa semua wanita sama saja. Mungkin sama seperti mantan kekasihnya yang ketika sudah diberikan kebaikan maka akan meremehkannya. Tidak ada cinta sejati baginya. Karena ketika dia sudah menetapkan hatinya, orang yang menjadi targetnya malah meremehkan kepercayaan yang ia torehkan padanya. Pammy, ibunya terus berusaha menyemangati Morgan meski dia tahu betapa keras hati Morgan. Bagi Morgan, belum ada wanita sebaik dan selembut mantan kekasihnya itu. Biasanya yang pertama adalah sesuatu yang indah, tetapi jika menyakitkan malah menjadi benalu untuk kehidupan berikutnya.
Allegra wanita berbeda baginya. Seperti mantan kekasihnya, dia sangat cerdas tetapi Allegra satu satunya wanita yang sangat berani padanya. Satu satunya wanita menolak setiap perhatian yang ia berikan sejak kemarin. Morgan menjadi penasaran, apa yang menyebabkan gadis singa itu seperti ini? Mungkin dengan dirinya ikut ke Springfield, dia menemukan jawabannya. Mengapa hatinya menjadi menghangat dan ingin kembali merajut sebuah hubungan?
...
"Allegra! Bangun Allegra!" Gracia mengetuk pintu kamar Allegra berulang ulang karna Allegra tidak memberi jawaban.
Tak berapa lama Morgan keluar dari kamar dan menarik kopernya. Dia melihat adik sepupunya yang tampak panik mengetuk pintu kamar Allegra.
"Ada apa Gracia?" tanya Morgan menghampiri Gracia.
"Allegra tidak memberi jawaban kak. Aku takut terjadi sesuatu padanya," jawab Gracia dengan wajah cemas.
"Kau serius?" Morgan memastikan dan siap mengetuk pintu kamar Allegra.
"Serius kak!"
Kini Morgan yang di depan pintu. Dia mengetuknya sekali dan benar kata Gracia tidak ada jawaban. Tak lama Dior pun datang karna Gracia lebih dulu hendak memanggil Allegra.
"Allegra belum juga bangun? Minta kunci cadangan pada resepsionis saja," kata Leon menyarankan dan dia langsung hendak ke resepsionis tapi Morgan menahannya.
"Tidak usah Dior, biar kudobrak saja. Tadi dia memang sedang demam," kata Morgan juga ikut sedikit cemas.
"Coba saja." Dior menyetujuinya.
Morgan memegang tuas pintu dan menghentakan lengannya agak kuat. Ketika dia menghentakannya, bersamaan dengan itu, Allegra sudah membuka pintu tersebut sehingga Morgan ikut masuk dengan sangat kencang dan terjatuh.
"Morgan?!" panggil Allegra terkejut.
Morgan tak bergeming. Dia sudah sangat malu dan menatap Allegra tajam. Allegra masih terkejut dan dia segera membantu Morgan
"Tidak usah!" Morgan menghempaskan tangan Allegra ketika Allegra hendak membangunkannya. Dia pun bangun dengan sendirinya.
"Kau ini tidur jangan seperti kerbau, semua panik dibuatmu! Menyusahkan!" Decak Morgan dan dia keluar kamar, menarik kopernya dan keluar lebih dulu dari hotel.
Gracia dan Dior menghampiri Allegra.
"Argh, Gracia! Ada apa dengan saudaramu?! Dia aneh sekali!" decak Allegra ikut mendengus.
"Kau yang membuatnya seperti ini," jawab Gracia masih dengan wajah panik.
"Ada apa denganku?" selidik Allegra sendiri.
"Mengapa kau lama sekali membuka pintu? Aku jadi cemas! Kak Morgan juga bilang kalau kau demam!" decak Gracia sedikit menaikan suaranya.
"Benar Allegra, Morgan hanya mencemaskanmu!" tambah Dior.
"Hemp! Untuk apa dia mencemaskanku? Tidak penting!" Allegra melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya.
'Kenapa dia tiba tiba mengkhawatirkan ku? Kurasa jaringan jaringan otaknya ada yang putus,' batin Allegra.
"Yasudah sudah, ini hanya salah paham, em ... apa kau sudah siap, Allegra? Kita harus segera berangkat ke ruamahmu agar tidak terlalu malam," kata Dior mengajak untuk pergi segera.
"Ah iya kak Dior, ayo! Aku ambil tasku dulu," jawab Allegra masuk ke dalam mengambil tas dan juga jas Morgan yang sudah ia lepas.
"Ayo kak, Gracie," kata Allegra menutup pintu kamarnya. Dia melingkarkan tangannya pada lengan Gracia berjalan menuju ke basement parkir.
"Kenapa tadi kau lama sekali?" Gracia masih penasaran.
"Aku sedang membersihkan diri tidak dengar! Saudaramu pemarah sekali!" umpat Allegra pada Gracia.
"Dia cemas padamu!" Gracia melirik tajam Allegra.
"Cemas cemas ... Apa dia menyukaiku?" Selidik Allegra merasa percaya diri dan sedikit tersenyum.
"Mungkin saja, haha!" Gracia terkekeh.
Mereka pun menggunakan mobil Allegra menuju ke Desa Serena, kampung halaman Allegra yang tak lain kampung halaman Leon. Dior yang mengemudikan mobil Allegra bersama Gracia di depan. Sedangkan Allegra dan Morgan di belakang. Morgan masih sedikit kesal dengan Allegra. Membuat dirinya malu, pikirnya. Allegra merasa hawa hawa dingin dari tubuh Morgan. Dia jadi bingung, dia harus meminta maaf atau membiarkannya. Lama lama Allegra malas memikirkannya jadi dia tidak melakukan apapun.
__ADS_1
Karena Gracia menyalakan lagu membuat Allegra jadi mengantuk. Gracia menyalakan lagu lagu instrumental yang sangat mengalun lembut. Allegra bersandar pada sisi kaca pintu mobilnya. Karena, jalanan yang agak rusak sehingga terkadang kepalanya terantuk. Morgan lalu menoleh ke arah Allegra. Dia meraih kepala Allegra untuk bersandar pada bahunya.
"Ehem!" Dior berdehem membuat Morgan sedikit terkejut.
"Dior, kau!" Morgan menatap tajam Dior melalui kaca depan mobil.
"Mengapa kau perhatian sekali dengannya?" selidik Dior. Dia bertanya karna melihat Allegra juga Gracia tertidur.
"Entahlah, wajahnya seperti memendam sebuah beban. Aku jadi kasihan padanya," kata Morgan menatap lembut Allegra selagi Allegra sedang tertidur.
"Ya begitulah. Aunty Angel terkadang sangat keras padanya dan terlihat lebih mengutamakan kakaknya. Kakaknya tidak bisa melihat, sir," ujar Dior memberitahu apa yang ia ketahui.
"Ah, kau serius, Dior?" selidik Morgan sedikit terkejut mendengar penuturan Dior.
"Ya, Jessie seorang tuna netra sejak lahir," jawab Dior lagi dan Morgan menjadi paham semuanya.
"Oohh, pantas saja Allegra sendiri yang terkadang mengurus perusahaan Tuan Atkinson?" Morgan memastikan pada Dior.
"Hehem." Dior mengangguk.
Kini Morgan sudah sedikit mengerti mengapa Allegra tampak kasar, arogan dan galak. Ternyata, dibalik itu semua, Allegra memiliki sebuah tekanan. Entah mengapa hati Morgan menjadi menghangat dan merasa harus berbuat sesuatu pada Allegra. Dia merasa harus memberitahukan pada gadis ini cara menikmati sebuah kehidupan agar kedepannya dia bisa menghargai sekitarnya.
Morgan menatap wajah Allegra dari atas. Menurut Morgan, Allegra terlihat menarik. Hidungnya runcing dan memerah pada ujungnya juga bibirnya. Begitu merona. Morgan bertaruh, meskipun tidak menggunakan lapisan atau semacamnya, bibir itu tetap memerah.
Sekitar dua jam kemudian, Dior merasa sudah hampir sampai. Dia melihat kekasihnya masih tertidur dan Morgan menatap keluar jalan. Morgan belum mengetahui daerah ini.
"Allegra, apa ini sudah mau sampai rumahmu?" Tanya Dior sekalian membuat Allegra untuk bangun. Allegra sedikit menggeliatkan kepalanya pada bahu Morgan.
Morgan menghentak pelan bahunya agar Allegra segera terbangun. Allegra akhirnya tersadar, sepertinya dia bersandar pada bahu seseorang. Dia mendongakan kepalanya dan saling bertatapan dengan Morgan.
"Kau?!" Panggil Allegra. Morgan hanya menatapnya tajam.
"Kau sengaja ya mendekatkan diri padaku?! Keterlaluan kau!" Allegra mendorong lengan Morgan. Morgan tak bergeming. Pada dasarnya dia sedang tidak selera menanggapi Allegra.
Morgan menghela napas dan kembali menatap jalan. Dior terkekeh dan Allegra menoleh ke arah Dior.
"Kak? Apa kita sudah sampai?" Allegra memastikan.
"Aku yang membangunkanmu dan kau sendiri yang bersandar pada bahu Morgan," jawab Dion.
Morgan sedikit tersenyum tipis mendengar perkataan Dior yang tidak sebenarnya. Morgan menatap keluar jalan.
"Ah itu, yang benar kau kak?" selidik Allegra memastikan.
"Benar, kau harus berterimakasih padanya," jawab Dior melihat ke Allegra dengan menaikan alisnya.
"Aku tidak menerimanya, Dior, tidak apa apa," sela Morgan tanpa mengalihkan perhatiannya keluar jalan.
"Ish! Terimakasih!" ucap Allegra tidak tulus.
Morgan diam saja dan tetap menatap jalanan.
"Setelah satu tanjakan lagi akan tiba kak dekat halte," jawab Allegra melihat ke depan jalan.
"Oh iya aku baru ingat, halte ya?"
"Iya kak," jawab Allegra dan dia menoleh ke arah Morgan. Seharusnya dia tidak beranggapan macam macam pada Morgan. Dari kemarin dia selalu merepotkan pria ini. Sudah seharusnya dia juga membuat Morgan nyaman. Apalagi Morgan sedang berkunjung ke desanya.
"Em Morgan?" panggil Allegra seketika.
"Hem ..." saut Morgan setengah menoleh ke samping.
"Kau pernah ke pedesaan?" tanya Allegra melihat Morgan.
Morgan menggeleng tanpa melihat ke Allegra. Allegra menjadi sebal. Tidak ada gunanya dia mengajaknya bicara.
"Ah, percuma aku mengajakmu berbicara, toh kau tidak mau bersahabat denganku!" Dengus Allegra kesal. Dia juga menatap jalan saja. Morgan sedikit menoleh tapi tidak memanggil Allegra.
Akhirnya mereka sampai di rumah Leon yang kini mungkin sudah menjadi rumah Angel dan Jerry, suaminya. Gracia pun sudah terbangun dan mereka keluar dari mobil memasuki rumah. Angel menyambutnya dengan sangat ramah. Angel senang kalau anak dari majikan kakaknya berkunjung ke rumahnya. Bukan hanya anak majikan kakaknya tetapi Dior merupakan anak dari kerabat suaminya. Mereka bahkan sudah seperti keluarga kandung atau sepupu.
Setelah Angel memberitahukan kamar untuk Dior dan Gracia serta di mana Morgan dapat tidur, Angel menyiapkan makan malam. Allegra mengantar Dior dan Gracia ke kamar sedangkan Morgan menunggu di sofa ruang tamu. Tidak lama kemudian Jerry datang. Morgan segera berdiri dan membungkukan tubuhnya.
"Selamat malam Tuan Atkinson. Beberapa kali aku pernah melihat anda. Apa kabar tuan?" Morgan memberi salam juga mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan pada Jerry. Jerry tersenyum juga mengulurkan tangannya.
"Selamat malam, Morgan. Kau pasti Morgan kan?" Saut Jerry juga memastikan. Morgan mengangguk.
Bersamaan itu juga Jessie keluar dari kamar namun tidak mengenakan kursi roda. Dia seperti sedang mencari sesuatu karna wajahnya agak bingung. Morgan memperhatikannya. Sejujurnya Morgan merasa kakaknya Allegra lebih cantik dan manis ketimbang Allegra tapi ada sesuatu dari Allegra yang membuatnya lebih penasaran dan tertarik ketika pertama kali bertemu.
Jerry menoleh ke arah anak pertamanya.
"Apa kau ingin ke ruang makan, anakku?" Tanya Jerry menghampiri anaknya.
"No dad! Aku mencari tongkatku," jawab Jessie meraba raba dinding.
Seketika Morgan merasa tadi dia melihat sebuah tongkat bersandar di sofa.
"Ah, tadi aku melihat tongkat. Di sana! Apa itu tongkatnya Tuan Atkinson?" Morgan melihat ke pinggir sofa dan langsung kesana untuk mengambil tongkat yang ia maksud. Morgan pun mengambilnya.
"Ini Tuan?" Morgan menunjukan tongkatnya.
"Ya benar, nak," jawab Jerry tersenyum membimbing Jessie mendekati Morgan untuk mengambil tongkatnya.
Jessie merasa ada orang baru di rumahnya. Dia mengulurkan tangannya ke arah suara Morgan.
"Halo Tuan, salam kenal, apa kau kerabat Kak Dior dan Gracia?" tanya Jessie menyapa dan memberi salam.
"Ya, aku Morgan. Salam kenal." Morgan juga mengulurkan tangannya dan berjabat tangan.
"Jessie," ucap Jessie tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oh, ini tongkatmu." Morgan memberikan tongkat Jessie. Jessie meraihnya namun mengenai punggung tangan Morgan dan Morgan tersenyum menatap Jessie. Hanya sekedar tersenyum tetapi sepertinya Allegra menganggapnya lain. Allegra melihat mereka ketika menuruni tangga. Dia memperhatikan wajah Morgan yang sumringah menatap kakaknya.
'Hem, pada akhirnya siapa saja yang melihat Kak Jessie, orang itu akan terkesima dengan kecantikannya,' gumam Allegra dalam hati menghela napasnya dan menuruni anak tangga menghampiri mereka.
"Selamat datang, dad," sapa Allegra pada ayahnya. Jessie sudah meraih tongkatnya dari Morgan.
"Malam, Allegra. Apakah ibumu sudah menyiapkan makan malam?" tanya Jerry pada anak keduanya.
"Sepertinya, dad. Aku mau mengganti baju dulu. Sebentar lagi kak Dior dan Gracia juga akan turun," kata Allegra sedikit menunduk.
"Ya, baiklah. Kami akan lebih dulu ke ruang makan," saut Jerry lagi menyetujui.
Allegra mengangguk menanggapi ayahnya dan melewati mereka semua dengan wajah masam. Morgan hanya melihat Allegra walau dia merasa ada yang aneh dengan Allegra. Jerry, Jessie dan Morgan pun menuju ke meja makan selagi menunggu Dior, Gracia dan Allegra sendiri.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Allegra datang dan di sana sudah ada Dior dan juga Gracia. Dia melihat ibunya tampak kerepotan menyajikan makanan ke meja makan. Dia pun berniat membantu ibunya.
"Biar aku yang menaruh sup ini ke meja, mom," Allegra menawarkan.
"Ya, tarulah, hati hati ya?" kata Angel memperingati.
"Tenang saja mom!" Allegra tersenyum. Dia meraih mangkuk yang cukup besar itu. Ternyata agak panas namun Allegra tetap membawanya sampai ketika dia hendak menaruhnya ke meja dia sudah tidak tahan. Allegra langsung meletakannya dengan agak kasar sehingga mangkuk sup itu miring dan kuahnya tumpah cukup banyak. Kuah tersebut mengenai tangan Jessie.
"Aww!!" Pekik Jessie menarik tangannya.
"Oh Lordness, Kak Jessie, i'm sorry! Aku tidak sengaja." Allegra meraih tangan Jessie dan meniupinya. Sementara semua di sana menganggap biasa saja karna Allegra juga tidak sengaja. Jerry hanya melihat karna Allegra sudah lebih dulu mendinginkan tangan anak pertamanya.
Angel mendengar suara Jessie dan menoleh. Dia terkejut. Dia langsung menghampiri kedua anaknya.
"Jessie? Tanganmu? Kau ini bagaimana Allegra? Sudah kubilang hati hati! Kau memang selalu ceroboh!" Angel mengambil alih tangan Jessie dari Allegra dan Allegra menutup mulutnya. Dia benar benar tidak enak.
"Maaf mom, supnya terlalu panas," kata Allegra berusaha menjelaskan.
"Mengapa tidak menggunakan serbet? Kau memang tidak pernah becus jika membantuku!" gertak Angel sedikit menoleh tajam ke arah Allegra.
"Sayang, sudahlah, Allegra tidak sengaja," kata Jerry menenangkan Angel. Dior dan Gracia sudah merasakan Allegra yang kembali terintimidasi hanya karna masalah kecil. Sementara Morgan yang sedang bermain ponsel akhirnya melihat ke arah Allegra bukannya melihat Jessie yang masih kesakitan karna kuah tersebut.
"Tidak sengaja bagaimana?! Jelas jelas dia yang mau membantuku! Kau selalu begini Allegra!" Bentak Angel lagi masih mengelusi tangan Jessie.
"Maaf mom, aku benar benar tidak sengaja!" Allegra sudah menunduk dan menautkan tangannya. Dia juga sedikit memijat tangannya karena juga terasa panas. Morgan jadi memperhatikan tangan Allegra.
"Sudah cepat ambil jel dingin untuk tangan kakakmu!" perintah Angel masih memegang tangan Jessie.
"Mom, aku baik baik saja. Allegra tidak sengaja. Sebaiknya kita makan terlebih dahulu," sela Jessie merasa semua ini hanya kecelakaan kecil.
"Lihat! Kakakmu masih memaafkanmu!" decak Angel lagi.
"Angel ..." panggil Jerry mengingatkan.
"Dan Daddy mu selalu membelamu! Kau duduk saja tidak usah membantuku!"
Jerry menghela napas. Angel masih tidak berubah dan dia tidak enak terhadap Dior, Gracia dan Morgan
"Allegra, duduklah, aku tidak apa apa," ujar Jessie yang mengetahui adiknya masih berdiri
"I, i iya kak," jawab Allegra menahan tangisnya. Dia tidak boleh menangis karena banyak kerabatnya. Jerry sudah berdiri dan membimbing Allegra duduk di samping Morgan. Hanya di sana kursi yang masih kosong. Allegra masih menunduk dan duduk di samping Morgan. Morgan menoleh menatapnya.
Morgan mengarahkan tangannya ke bawah meja dan meraih tangan Allegra. Dia mengelusnya dan membuat Allegra sangat terkejut tapi dia tida merespon. Dia hanya menoleh ke arah Morgan yang tangan satunya tetap memainkan ponsel.
...
...
...
...
...
Ga tau apa aku aja atau kalian yang baca juga, aku ngilu aja Allegra diomelin depan Gracior and Mor 😭😭
Angel dari jaman bahela dah ah cepet tua nanti ngel 😂😂
.
Next GraMor 2 yuks
Apa Morgan menyukai Jessie?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Stay tune ges 😍😍
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:
---- LOVE & HURT ----
karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1