
Gani dan beberapa orang yang datang menjemput Bima, langsung masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara.
Keadaan masih dinilai kondusif karena sejauh ini masihbelum ada sesuatu yang mencurigakan.
"Kita mau ke mana?" tanya Gani.
"Bos minta saya bawa Bapak ke Batam," jawab Gani, sesuai perintah yang Juan berikan kepadanya.
"Batam? Kamu tidak main-main kan? Aku dalam tugas loh ini?" tanya Bima, terheran-heran.
"Kami sudah mengurus semuanya, Pak. Anda tenang saja. Surat sudah sampai ke atasan anda dan beliau menyetujui kepulangan anda. Nanti kalo situasi sudah aman untuk anda, saya sendiri yang akan mengantar anda ke tempat ini," jawab Gani, serius.
"Tunggu, Gan. Dari tadi tamu bahas kondisi, kondisi, terus. Emang ada apa sih?" tanya Bima, penasaran.
"Orang suruhan mantan lawyer, non Vita sedang mengejar anda, Pak. Bahkan mereka sudah sampai sini. Beruntung ini tadi saya duluan yang sampai."
Bima menatap terkejut. Tentu saja tak percaya, bahwa pria jahat itu masih mengejarnya. Membuat Bima heran. "Apa motif pria itu mengincar ku?" tanya Bima.
"Mungkin dia sakit hati, karena cintanya pada nona ditolak," jawab Gani sesuai hasil investigasi anak buah Laskar.
"Astaga! Apakah dia menginginkan kematianku?"
"Ya, itu sebabnya saya dan tim datang ke sini. Saya mohon maaf jika kedatangan kami kali ini sangat menganggu anda. Saya secara pribadi juga minta maaf, karena tak mengabari anda terlebih dahulu. Tapi ponsel anda juga tidak aktif," ucap Gani.
"Ahhh, nggak. Nggak apa. Di sini memang susah signal. Apa lagi aku di pelosok begini. Kamu dan tim pasti kesusahan mencariku. Sudah nggak apa. Aku hanya tak habis pikir. Sebenarnya apa yang membuat pria itu senekat itu? Rasanya aneh, sebenarnya dia itu ada hubungan apa dengan keluarga mantan suami, istriku. Kamu merasa aneh nggak sih Gan, kalo cuma urusan asmara atau tamak harta, bukankah masuk penjara sudah cukup membuatnya jera?" jawab Bima, jadi penasaran dengan penyebab pengacara itu melakukan hal senekat ini.
"Saya juga sempat berpikir demikian, Pak Tapi saya belum sempat mengutarakan ini pada Pak Juan. Rasanya kurang pantas jika saya menyampaikan kecurigaan saya tanpa bukti," ucap Gani.
"Emmm, kamu benar, Gan. Tapi sebaiknya Kita memang mencari tahu, apa yang sebenarnya pria itu pikirkan. Mengapa dia sangat berani mengambil keputusan seperti ini," ucap Bima.
Tak ada perbincangan lagi, tapi mereka yang berada di dalam mobil itu seperti merasakan sesuatu yang aneh.
__ADS_1
Awalnya mobil memang melaju biasa-biasa saja. Tetapi ketika sampai di turunan, mobil seperti susah dikendalikan. Membuat Gani curiga.
"Ada apa, Pak. Kenapa nggak direm mobilnya?" tanya Gani pada pria yang membawa mobil tersebut.
"Maaf, Bos. Sepertinya remnya blong," jawab pria itu.
"Apa?" pekik semuanya.
Tak ada perbincangan lagi, suasana menjadi sangat mencekam. Mobil semakin oleng. Sang sopir tak bisa mengendalikan keadaan. Alhasil, mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan. Mobil memutar 180 derajat, hingga akhirnya menabrak tebing yang ada di sisi kanan, hingga mobil terbalik. Beberapa penumpang terpental. Gani ikut terpental. Sedangkan Bima tidak diketahui keberadaannya.
Mobil mengeluarkan asap, beberapa menit kemudian, mobil meledak. Gani pingsan.
***
Di sisi lain, Vita yang saat ini sedang terlelap karena kelelahan tiba-tiba menjerit mengejutkan. Membuat Zizi yang sedari tadi menemani sang sahabat jadi terkejut.
"Mas Bima!" teriak Vita.
"Iya, Kak. Astaghfirullah... tolong lindungi suamiku ya Allah," ucap Vita, sembari mengatur napasnya.
"Istighfar, Vit. Semua akan baik-baik saja. Tadi kata mas Zein, Orang-orang abangmu sudah bertemu suamimu dan mereka bilang, suami baik-baik saja. Sekarang mereka dalam perjalanan ke Bandara," ucap Zizi memberi tahu.
"Syukurlah, Aku bisa mati kalo terjadi sesuatu pada suamiku, Kak. Aku bisa gila!" ucap Vita takut. Apa lagi mimpi yang ia alami tampak nyata rasanya.
"Aku tahu kamu sangat mencintai Bima. Doakan terus dia. Insya Allah nggak akan ada hal buruk yang menimpanya. Karena doamu, oke!" ucap Zizi, berusaha membuat hati sang sahabat tenang.
"Vita nggak akan putus doa, Kak. Kami sudah berjanji akan menua bersama," ucap Vita, mencoba mengungkapkan kekhawatirannya selama berpisah dengan Bima.
"Kakak tahu, kalian memang pasangan yang unik. Kegedean gengsi, tapi saling mencintai. Percayalah, Bima pasti kembali," ucap Zizi lagi.
"Oiya, tadi Ste telpon di ponselmu. Terus aku angkat, karena aku nggak tega ngebangunin kamu. Suhu tubuhmu masih tinggi tadi. Aku takut ngeganggu istrirahatmu. Jadi aku putuskan untuk mengangkat panggilan dari kakakmu," ucap Zizi.
__ADS_1
"Oh, nggak pa-pa, Kak. Emang kak Ste bilang apa?"
"Nggak cuma nanya, kami jadi terbang ke Batam hari ini apa nggak? terus aku jawab nggak, soalnya kamu lagi kurang enak badan. Tapi dia ngerti kok!" ucap Zizi.
"Syukurlah kak, kalo kak Ste ngerti. Biasanya dia paling gugup kalo adeknya ini kenapa-napa. Padahal cuma pusing biasa. Nanti dia bisa tiba-tiba dateng, sebab sangking khawatirnya," jawab Vita, tersenyum senang.
"Syukurlah kamu masih ada kakak, masih ada yang peduli. Coba bayangin aku, nggak ada siapa-siapa lagi. Untung suami udah baik, mertua juga baik. Jadi berasa punya keluarga," ucap Zizi.
"Aku adikmu, Kak. Jangan lupakan itu!" canda Vita.
"Mana mungkin aku lupa padamu, kamu mantan virus dalam hidupku," balas Zizi, ikutan bercanda.
"Virus mana ada yang cantik begini kak?" Vita terkekeh.
"Ada ni. Eh... cerita dong? Kok bisa sih kamu sama Bima, itu. Menikah! terus gimana rasanya malam pertama sama dia?" Zizi jadi kepo.
"Emmm, awalnya dia tu benci banget sama aku, Kak. Kakak tahu kan aku janda, udah gitu kesan pertama kami kan jelek banget. Imej Vita depan dia kan ancur banget. Vita pelakor. Udah gitu laki sahabatnya lagi yang digodain. Ya, Vita sih nggak nyalahin dia, kalo dia kesal sama Vita," jawab Vita jujur.
"Terus? gimana tu?" Zizi semakin bersemangat mengorek kisah cinta Bima dan Vita.
"Ha? Terus apa gimana? Kita bisa saling jatuh cinta?" tanya Vita.
"He em, semuanya. Eh itu, yang kamu sama Bima aku undang ke sini, gimana tu. Dih aku jadi kepo? Maaf ya, mohon di maklumi! Sweet aja aku lihat kalian, seneng pokoknya jadi kepo gini deh!" Zizi tersipu malu.
"Nggak pa-pa, Kak. Vita sendiri aja ngerasa suprise dapat mas Bima. Vita juga pernah mabok, terus ketemu dia dan dibawa pulang ke rumahnya!" ucap Vita antusias.
"Oh, ya? Kapan? Kok dia nggak ada cerita?" Zizi semakin bersemangat.
"Ih, masak begituan diceritain. Kejadiannya sih udah lama. Jauh sebelum kami nikah. Pas Kakak masuk rumah sakit kalo nggak salah."
"Wahhh... kok bisa? Ah aku jadi pengen ngecengin dia kalo ketemu. Dasar kadal, bisa-bisaan dia. Benci tapi cinta. Gitu aja susah bener ngaku. Pantesan kalo aku curhat soal kamu, dia cuma diem aja. Paling senyam-senyum. Ehhh, ternyata sudah termehek-mehek duluan to," ucap Zizi geram sendiri. Sedangkan Vita hanya tersipu.
__ADS_1
Bersambung....