Mantan Terindah

Mantan Terindah
24. Dibikin Baper (1)


__ADS_3

Setelah sholat isya usai Franda keluar dari kamar untuk makan malam dengan wajah yang tampak lesu. Kedua orang tuanya sudah memakan sebagian lebih dulu di meja makan.


"Ayo sini, mama udah buatin makanan kesukaan kamu nih." Ia tersenyum tipis dan menarik kursi kosong ditengah-tengah mereka. Sepiring nasi sudah tersedia diatas meja. "Pah gimana kerjaan lancar aja?"


"Alhamdulillah mah lancar." Mereka mengobrol santai tentang kegiatan hari ini sedangkan Franda hanya diam dan diam saja mengaduk-ngaduk makanan yang ada dihadapannya kali ini.


"Loh fran, kamu mikirin apa sayang kok dari tadi gak dimakan?"


"Eh, papah." Sahut Franda yang terbangun dari lamunannya lalu perlahan ia menyuapkan makanan yang ada dihadapannya. Dari belakang terdengar langkah kaki sang mama yang menaruh segelas air teh untuk papah. "Ada apaan sih?"


"Enggak kok mah, si Franda lagi ngelamun doang biasa anak muda."


"Eh, papah bisa aja deh ngomongnya." Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. 


"Mah, pah Franda mau nanya deh kalau misalnya kita ada salah sama orang kita wajib buat minta maaf gak?"


"Emang kamu ada salah sama orang?" Franda hanya diam ia berfikir kembali apakah ia ada salah dengan seseorang?


"Ya sudah makan aja dulu ya sayang, kalau kamu ngerasa ada salah mending kamu minta maaf sama orang itu."


"Iya mah."


Makan malam adalah salah satu cara untuk mereka tetap dekat dan hangat dalam keluarga kecil mereka. Franda memang terlahir bukan dari kalangan yang berada tapi ia tetap bahagia ditakdirkan di keluarga yang harmonis seperti ini.


Franda membawa piring-piring kotor ke dapur sebelum itu ia merapikan meja terlebih dahulu.


Lo gak tau balas budi ya?


Kalimat itu selalu saja terngiang di telinganya sampai sekarang apa ia harus meminta maaf besok kepada Rival? Karna tidak enak atau ada hal yang mengganjal.


...•••...


"Apa gue harus minta maaf ya sama Rival? Toh bukan salah gue juga kan?" Gumam Franda dalam hati memeluk bantal kecil ditengah-tengah dadanya membayangkan kejadian kemarin di sekolah begitu marahnya Rival kepadanya cuma gara-gara hal sepele.


Disituasi yang berbeda mereka saling berfikir satu sama lain memikirkan sebuah kejadian tepat pas di pinggiran lapangan.

__ADS_1


"Apa gue udah keterlaluan ya ngomong sama si cewek cupu? Ah masa sih?" Gumam Rival didalam kamarnya menatap kearah lampu kamarnya sudah sudah redup. Suasana yang hening membuatnya kali ini benar-benar berfikir keras ditambah pula cewek itu adalah Franda. Apalagi ketika Roy menegurnya? Tenggorokannya terasa haus dan kering ditambah kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit Rival menuruni anak tangga.


Ruang tamu masih ramai, Roy yang dari tadi memainkan laptopnya apalagi kalau bukan tentang pelajaran kalau enggak tentang psikologi yang ia kejar sekali ketika lulus kuliah nanti. Beberapa soal-soal yang ada diinternet ia pelajari dan dari dulu emang sifat dan karakter Roy adalah ambisius untuk mendapatkan sesuatu hal yang ingin ia raih berbeda dengan Rival yang bodo amat yang padahal ia juga termasuk cowok yang cepat menangkap dalam pelajaran karna malaslah yang membentengi itu semua. "Tumben lo minum malam-malam gini?"


"Gak kok gue cuma haus. Lo ngapain sih belajar mulu gue yakin lo bakalan keterima kak, dan lo tif dari dulu emang suka banget ya baca sama nonton youtube buat belajar masak?"


"Ribet lu ah." Sahut Tiffany yang tidak hentinya menjawab jawaban dari Rival. Roy hanya bisa menggeleng-geleng sambil senyum-senyum gak jelas.


...•••...


Albert menyenggol Rival yang asik mengobrol dengan Rudy apalagi kalau bukan masalah games. "Val, kayaknya Franda pengen kesini deh buat nyamperin lo." Rival tak perduli dan malah mengibaskan tangan tepat didepan wajah Albert.


"Rival.." Setelah langkah itu berhenti dan ia memanggil nama Rival, dan membuat Rival memalingkan wajahnya terkejut sekali.


"Lo----"


"Lo ngapain disini?"


"Ngapain lo disini?" Franda memberanikan diri untuk meminta maaf secara langsung kepada Rival tentang kemarin.


"Maa----"


"Fran, ikut gue yuk." Kenapa disaat yang seperti ini Chiko malah datang dan menarik Franda untuk menjauh.


"Woy seenaknya lo main tarik anak orang aja." Teriak Rival yang langsung berdiri dari duduknya menghentikan langkah kaki Franda dan Chiko ia menarik tangan Franda dengan alasan ucapannya tadi belum selesai.


"Lo kalau ngomong sama gue harus sopan, lo harus jelas seenaknya banget dasar plimplan lo mau lo apaan sih? Dan chik, mau lo apa hah?" Rival mendorong kedua orang yang ada dihadapannya.


"Fran, ada hal penting yang harus lo tau. Ikut gue sekarang."


"Hal penting apa chik?" Chiko melepaskan tangan Rival yang masih menempel di tangan Franda.


"Chik gue pengen ngomong dulu bareng Rival sebentar ya."


Wajah Rival semakin pede dan tersenyum miring karna Franda lebih memilih Rival. "Jadi lo mau ngomong apa sama gue?" Rival memalingkan wajah Franda kembali dan mereka saling tatap satu sama lain.

__ADS_1


"Gue---"


"Kalau ngomong tatap mata tuh orang gak sopan banget nunduk,, lo kira gue sakit mata?"


"Hahaha.."


"Woy diem kalian. Jadi lo mau ngomong apa?"


"Gue mau minta maaf, soal yang kemarin yang bikin lo marah itu. Semua gak sesuai apa yang lo pikirin dan lagi pula gue bukannya gak mau balas budi tadi emang semuanya salah paham doang. Jadi lo mau maafin gue?"


"Maafin lo? Segitu doang?" Ia melihat Franda menjulurkan tangannya untuk meminta maaf tapi Rival malah diam dan sok jual mahal. Didalam hati Franda ia sangat kesal sekali dengan cowok yang satu ini cuma gara-gara hal sepele.


"Udah deh fran, cowok gengsi dan sombong kayak gini mending gak perlu minta maaf sama dia. Mending ikut gue sebentar ya?"


"Lo dari tadi nyolot banget ya? Lo suka sama Franda?"


"Lo sendiri juga suka kan sama dia? Tapi lo gengsi kan? Coba lo jawab."


"Apaan sih. Gue----" Ia melirik sebentar kearah Franda dalam hati kecilnya juga bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Gue gak bakalan suka sama cewek cupu kayak dia. Dan permintaan maaf lo gue terima." Walaupun terlihat tegas tapi Rival tetap saja menstabilkan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Franda mengangguk paham dan mengikuti Chiko yang ingin berbicara sesuatu.


"Chik jadi?"


"Entar aja pas pulang sekolah ya? Lo mau kan? Ada hal yang pengen gue kasih tau sama lo pasti lo bakalan kaget."


"Soal apa?"


"Entar aja ya? Lo pasti seneng."


"Ehem, disini kelas gue. Mending lo balik sebelum---" Sindir Rival yang melihat kedua tangannya diatas dada.


"Ya udah."


Pulang sekolah? Ngapain dia ngajak cewek cupu itu? Sok romantis banget ih geli gue." Batin Rival dalam hati.

__ADS_1


"Woy kenapa ngelamun? Cemburu ya? Cie..."


"GAK!!!"


__ADS_2