
"Kayaknya ini deh kampus Roy?" Pertemuan mereka sudah lama sekali sekitar 2 tahunan setelah lulus sekolah dan mereka masih berteman baik sampai sekarang walaupun sudah lost contact.
Tiffany menunggu di depan pintu gerbang kampus tak berapa lama orang yang ditunggu pun datang. Terkejut sekali ketika seseorang telah mencegatnya di depan kampus. "Moga aja Roy nggak pulang lebih dulu! Gue yakin dia bakalan bisa bantuin gue!" Ia yakin sekali kalau misalkan Roy belum pulang, ia terus menunggu sedari tadi walaupun tidak tahu menahu akan berhasil atau tidak.
Seorang sedang melambaikan tangan namun wajah seseorang itu tak asing seperti ya sudah lama kenal. "Loh kok bisa ada dia sini?"
"Tiffany? Apa kabar?"
"Gue boleh ngomong sesuatu nggak sama lo ini hal penting banget?"
"Soal apa tapi by the way apa kabar nih udah lama kita nggak ketemu ya terakhir pas kelulusan SMA."
"Baik alhamdulillah, lo sendiri apa kabar?" Mereka pun ke pinggir ke tepian pintu gerbang karena sepeda motor dan mobil berlalu-lalang di depan mereka.
"Iya nih udah lama banget kita nggak ketemu gue pengen ngomong sesuatu hal yang sangat penting banget yang udah lama banget gue nggak ngasih tahu ke lo!"
"Serius amat mukanya emang ada apaan sih?" Ia menaikkan alisnya sedikit naik ke atas.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" Mendengar hal demikian Roy langsung tertawa terbahak-bahak dengan ucapan Tiffany yang tiba-tiba malah mengajaknya untuk berpacaran.
"Hahaha ya ampun lo tuh aneh banget sih kenapa tiba-tiba ngajakin gue buat pacaran emang selama ini nggak punya pacar? Jadi ngajakin gue pacaran?" Seketika Tiffany langsung menggeleng ucapan dari Roy dan ia pun menatap kedua mata Roy dengan tatapan yang sangat tajam kalau misalkan apa yang ia ucapkan kali ini tidak sedang bercanda.
"Gue dijodohkan sama mama gue sama seseorang yang nggak sama sekali nggak besok kak. Lo tau sendiri kan dari SMA gue paling anti yang namanya dimaksud pelangi aku dijodohkan sama seseorang yang aku cinta, ya udah kalau misalkan sama lainnya aja gimana? Mau bantuin gue dong buat lepas dari cowok." Tiffany memohon sekali dengan Roy agar perjodohan itu batal.
"Ya ampun gue itu enggak bisa kayak gitu dipaksa-paksa mending lo tanya aja sama nyokap lo kenapa beliau nyuruh lo buat nikah atau dijodohkan sama orang. Ngejalanin semuanya itu lo bukannya nyokap lo jadi lo harus bisa menolaknya." Roy menasehati Tiffany agar tak salah langkah dalam memilih laki-laki yang menjadi pendampingnya nanti.
__ADS_1
"Oh iya BTW bisa tahu gue kuliah disini? Lo stalking instagram gue? Bukannya kita nggak saling follow follow-an kalau bisa tahu sih?"
"Ya gue cari informasi lah kalau kuliah dimana, gue hampir frustasi tahu nggak sih jujur gue itu pengen banget satu kampus sama lo. Tapi ternyata gue nggak masuk di sini masuknya di lain. Roy, lo mau kan buat terima jadi pacar pura-pura gue? Bantuin gue sekali aja gue janji deh setelah semuanya sudah berjalan dengan lancar seperti biasa gue bisa kok pergi gitu aja nggak usah kasih kabar ke gue." Mohon Tiffany menatap kedua mata Roy yang begitu tajam ya bener-bener tidak sedang bercanda melainkan ini adalah hal yang sangat serius.
"Gue boleh minta nomor kontak lo nggak?"
Roy pun memberikan nomor ponselnya kepada Tiffany dengan terpaksa. "Gue save ya. Makasih banyak ya Roy lo baik banget dari dulu!" Roy tersenyum dengan ucapan Tiffany.
***
"Lo kenapa kak? Kok kayak galau gitu kenapa?" Rival melihat wajah Roy yang tidak seperti biasanya.
"Enggak kok, gimana tugas kuliah lo udah selesai?" Ia mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Kalau misalkan lo dijodohin sama orang kira-kira lo mau?" Pertanyaan itu tercetus dari kedua bibir Roy.
"Ya Enggak tahu juga sih dijodohin sama siapa dulu kalau misalkan orang itu orang yang gue sayang dan gue cinta ya gue mau aja tapi kalau misalkan orang itu gue enggak kenal. Terus tiba-tiba disuruh buat nikah sama gue terus ngejalanin sama gue ya gue ogah lah. Kan cinta itu nggak bisa dipaksakan yang ngejalanin kita masa orang lain sih yang nyuruh kita buat suka sama orang yang dipilihin buat kita? Emang kenapa kok lo tiba-tiba ngomong kayak gitu emang ada yang nyuruh lo buat dijodohin sama orang lain?"
"Tiffany tiba-tiba ke kampus ketemu sama gue buat minta tolong supaya gue jadi pacar pura-pura dia soalnya dia disuruh untuk nikah sama orang yang enggak dia cinta sama sekali. Sebenarnya sih gue nggak masalah jadi pacar pura-pura tapi yang masalahnya adalah gue takut semua kan berkelanjutan nggak baik dan gue membohongi kedua orang tuanya juga kan?"
"Tiffany yang sekelas itu sama lo? Buset ya itu kan cantik banget kenapa lo tolak? Aneh lah kalau misalkan pengen jadi pacar pura-pura?"
"Diterima aja lah kalau misalkan dia pengen jadi pacar pura-pura." Rival lupa kalau misalkan kakaknya akan dijodohkan dengan Cerry.
"Ya terus gue harus gimana?"
__ADS_1
"Mendingan jangan deh soalnya susah nantinya. Ya udah deh gue ke kamar dulu ya gue pengen ngerjain tugas kampus nih. Sendiri kan kalau misalkan gue nggak sepinter lo kak yang bentar banget ngerjain tugasnya?"
"Apaan sih lo muji-muji gue mulu!"
"Lah emang berdasarkan fakta kok kalau gue ngomong emang lo enggak mau dibilang pintar jadi doa loh?"
"Haha aneh deh lo!"
"Nomor siapa ini kok enggak gue save ya?" Ia pun membuka pesan tersebut dan ternyata setelah dibaca pesan itu dari Tiffany yang yang diberikan nomor yang tadi ketika bertemu di kampus
+ 6289xx
"Hai Roy ini gue Tiffany jadi gimana lo mau nggak buat bantuin gue?"
Roy
"Aduh sayangnya gue nggak bisa nih. Gue simpan ya nomor lo!"
Langsung saja menghapus pesan tersebut dan tidak menyimpan nomor itu ke dalam kontak ponselnya.
---
Masuk ke dalam kamarnya lalu ia mengunci, ya duduk di kursi meja belajar dan menyalakan lampu meja belajar untuk belajar hari ini dengan tugas-tugas kampus yang sudah menumpuk. Teringat dengan ucapan kak Roy tadi di kamarnya. "Jadi kalau misalnya kak Roy sama Tiffany gimana ya? Bisa-bisa batal nih semuanya?"
"Gue yakin kalau enggak semudah itu jatuh cinta sama orang, gue kan udah nggak kenal lama sama kakak gue sendiri dan gue tahu gimana karakter dia buat suka sama orang tuh kayak gimana juga." Optimisnya adalah hati.
__ADS_1