Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ALLEGRA & MORGAN 2


__ADS_3

Berpikir positif disaat hati mengatakan hal yang sebaliknya. Ingin berteriak dan membantah tetapi kuasapun tak punya. Bagaikan telur di ujung tanduk yang akan salah melakukan perbuatan apapun pada akhirnya akan jatuh dan pecah. Apa yang harus diperbuat Allegra untuk menghadapi ibunya? Tidak semudah yang dipikirkan sekitarnya. Allegra hanya bertahan karena hanya itu ibunya akan kembali menghargainya. Lalu bagaimana sikap Morgan?


...


Akhirnya acara makan malam berlangsung dengan diam. Gracia dan Dior tidak enak jika mengajak bicara sementara kondisi nya masih tidak menyenangkan. Angel masih memperhatikan tangan Jessie tanpa melihat Allegra yang masih menunduk dan hanya memain-mainkan makanannya tanpa memakannya. Sampai Morgan yang memberitahu keadaan Allegra pagi tadi.


"Allegra, kenapa kau tidak makan? Nanti kau demam lagi, merepotkan ku saja!" Decak Morgan pelan namun semuanya mendengar.


Jerry dan Angel melihat ke Allegra, juga arah kepala Jessie yang mengarah pada Allegra. Allegra agak celingukan, pasalnya kini dia sudah baikan.


"Hah, iya aku akan makan! Kau ini, sudah kau lanjutkan makanmu!" Balas Allegra setengah menoleh ke arah Morgan.


"Ada apa denganmu, nak?" Tanya Jerry kemudian.


"Ya, tadi pagi dia tidak enak badan Tuan Atkinson sehingga dia meminjam jas ku, lihat saja sekarang aku tidak mengenakan jas," keluh Morgan dengan maksud memberitahu keadaan Allegra pagi tadi.


"Kau ini berisik sekali! Aku sudah mencucinya, mau kuambilkan?!" Allegra hendak berdiri.


"Tidak usah! Kau duduk saja dan makan makananmu jangan sampai merepotkan mommy dan Daddy mu!" Morgan menarik tangan Allegra untuk kembali duduk.


"Benar Allegra, makanlah, sup buatan mommy mu sangat lezat. Terimakasih bibi atas sajiannya. Zhavia dan Zefanya titip salam untukmu. Mereka merindukanmu," kata Gracia akhirnya ikut memecah ketegangan suasana makan malam.


"Oh iya Gracia, kembalikan salam rinduku pada mereka. Em, Nak Morgan, maafkan aku jika Allegra merepotkan mu," ucap Angel pada Gracie juga pada Morgan.


"Tidak apa bibi! Gadis seperti Allegra ini memang harus diberitahu terus menerus agar pikirannya dapat mencair!" Morgan merangkul pundak Allegra layaknya teman. Allegra sontak menoleh menatap tajam Morgan.


"Lepas! Aku tidak perlu pemberitahuanmu!" Decak Allegra tak senang dan melepaskan tangan Morgan yang berada di pundaknya.


"Allegra, kau tidak boleh tidak sopan begitu pada kerabat Kak Dior," kata Jessie memperingati.


"Dia saja tidak sopan padaku kak!" dengus Allegra.


Jessie tersenyum mendengar dengusan adiknya. Dia merasa ada sesuatu di antara pria bernama Morgan ini dengan adiknya. Angel pun akhirnya memperhatikan kedekatan anaknya dengan Morgan juga Jerry yang sudah tersenyum melihat mereka berdua. Rasanya Jerry mengingat pasangan beberapa tahun silam lamanya.


"Mereka selalu seperti itu bibi, paman sejak di hotel, oh tidak, sejak pertunangan ku dengan Gracia," tutur Dior memberi tahu.


"Ternyata Tuan Morgan yang berkelahi dengan adikku? Xelino yang menceritakannya. Katanya adikku bertengkar dengan seorang pria," kata Jessie mengingat Xelino bercerita sambil menggoda Allegra.


"Siapa suruh dia menabrak ku dan menumpahkan minumanku," dengus Allegra lagi.


"Aku terburu buru, lagipula aku sudah minta maaf, kau saja yang memarahiku!" balas Morgan tidak terima.


Allegra hanya menekuk wajahnya dan akhirnya memakan makanannya. Hatinya masih tidak enak dan sesekali dia memperhatikan ibunya yang juga terdiam, seperti tidak menyukai jika mendengar dirinya membuat masalah. Mereka akhirnya kembali melanjutkan makan dengan sedikit percakapan dan canda tawa.


Ketika semua sudah selesai, semua berhambur ke ruang tamu termasuk Jessie yang dipapah oleh Gracia. Gracia berbicara pada Jessie sedangkan Morgan, Dior bersama Jerry. Sementara Allegra memberanikan diri membantu ibunya karena memang setiap hari, selama dia di desa, dia yang merapikan meja makan.


Allegra menyusun semua piring yang kotor dan meletakannya di wadah wastafel. Dia tidak berani mengajak bicara ibunya yang menyiapkan minuman hangat untuk para tamu.


"Apa kau masih demam?" Tiba tiba Angel menyentuh dahi Allegra. Allegra sedikit tersentak. Matanya telah berkaca kaca. Sebenarnya ada rasa di dalam hatinya untuk mengucapkan maaf sekali lagi pada ibunya. Dia menoleh perlahan dan menggeleng. Tak lupa Allegra juga tersenyum.


"Jangan lupa minum Paracetamol di kotak obat agar besok tidak demam lagi dan minum lemon hangat sebelum tidur, kau mengerti?" Kata Angel kemudian. Allegra hanya bisa mengangguk tanpa merasakan pelukan ibunya karena ibunya langsung membawa minuman ke ruang tamu. Allegra menghela napas. Setidaknya, ibunya sudah memperhatikan dan mencemaskannya walau tidak berlebihan pada kakaknya. Dia melanjutkan mencuci piring.


Setelah berbincang bincang, mereka semua ijin tidur. Allegra masih di dapur. Dia memeriksa email yang masuk dari kampusnya. Dia harus mendaftar mata kuliah untuk mengikuti program akselerasi seeprti Xelino. Xelino yang menawarkannya. Minggu depan dia sudah harus ke kota dan kembali belajar. Setelah semua sudah ia pastikan, ia berjalan menuju kamar kakaknya. Dia tidak menemukan Morgan yang katanya tidur di sofa, ternyata Morgan masih bercakap cakap dengan ayahnya di teras luar.


Baru saja Allegra membuka pintu sedikit, Allegra melihat ibunya sedang membantu kakaknya berganti baju. Allegra memperhatikannya. Ibunya begitu penuh kelembutan mengurus kakaknya. Ya, dia tahu kakaknya tidak dapat melihat tetapi Jessie sudah bisa melakukannya. Haruskah ibunya terus membantunya. Angel juga membantu Jessie menaiki tempat tidur dan menyelimutinya. Tidak lupa Angel mengecup kening dan mata Jessie. Mereka lalu seperti berdoa bersama. Ritual yang biasa ibu dan anak itu lakukan sejak kecil untuk meminta keajaiban pada penglihatan Jessie.


Seketika hati Allegra meringis. Sudah sekitar satu Minggu sebelum ia kembali ke kota mengantar kakaknya ke rumah sakit, ibunya tidak pernah lagi mengecup keningnya. Hanya sebuah pelukan ketika pertama kali Allegra datang. Allegra juga ingin diperlakukan selayaknya seorang anak di masa masa remaja ini. Allegra sangat ingat terakhir kali ibunya memeluk dan mengecup keningnya ketika hari ulang tahunnya yang ke sepuluh. Sejak itu, ibunya beralasan Allegra sudah besar. Tapi nyatanya ibunya tetap memeluk kakaknya yang lebih tua darinya.


Dia juga ingin berdoa bersama ibunya, tetapi apa daya, Allegra tidak berani meminta pada ibunya. Dia hanya bisa merasakan doa sang ibu ketika hari hari raya di mana mereka, ayah, ibunya, Jessie juga Xelino yang berkunjung berdoa bersama.


Lagi lagi Allegra mengesampingkan semuanya. Allegra menganggap ibunya seperti ini karena kekurangan kakaknya. Meski hatinya perih, Allegra tetap menerima dan memperhatikan Jessie. Dia tidak pernah sekalipun marah terhadap Jessie atau ibunya sekalipun. Tanpa sadar, air matanya terjatuh. Dia segera menghapusnya dan kembali ke dapur untuk membuat lemon hangat sesuai pesan ibunya. Sepertinya dia kembali ketika Jessie sudah tidur saja.


Allegra membuat lemon hangat yang mana dia membayangkan ibunya yang membuatkannya dan memberikan padanya. Allegra tersenyum tipis. Sesuatu yang sangat mustahil. Allegra lagi menghela napas dan dia menuju ke balkon luar di belakang dapur. Sudah lama dia tidak menikmati bintang di desa ini.


Allegra keluar dengan membawa secangkir lemon hangatnya. Dia duduk di teras balkon tersebut. Udaranya cukup dingin tetapi sangat cocok untuk dirinya menikmati lemon hangat ini. Dia meniup niup sesaat sambil merasakan angin semilir yang membelai wajahnya.


"Sebaiknya, aku ikut kembali dengan kak Dior dan Gracia ke kota. Mom tidak menginginkan kehadiranku lama lama di sini. Lagipula pesanan rangkaian bunga sudah kuselesaikan. Mom sudah terbiasa hanya bertiga di sini. Aku hanya mengganggunya saja nanti. Hem, meskipun aku sangat merindukan pelukanmu mom," gumam Allegra pelan. Dia kembali menyesap lemon hangatnya.


"Hey, kau masih pemulihan, kenapa malah duduk di luar seperti ini?"


Tiba tiba Morgan datang bergabung dengannya dan duduk di samping Allegra. Allegra jelas tersentak. Bagaimana pria ini mengetahui dirinya di sini? Dia menoleh ke arah pintu belakang yang sepertinya lupa ia tutup.


"Aku sudah baikan. Kau tidur saja. Aku juga akan tidur sebentar lagi," kata Allegra menatap Morgan.


"Aku belum mengantuk. Kau juga mengapa di sini?" tanya Morgan.


"Meminum lemon hangat," jawab Allegra singkat.

__ADS_1


"Mengapa tidak di dalam?" Morgan kembali bertanya.


"Di dalam atau di luar terserahku, mengapa kau harus mengaturku?" decak Allegra yang merasa Morgan bertanya hal yang tidak penting.


"Ya ya baiklah. Bagaimana, tanganmu sudah membaik?" tanya Morgan lagi kini tidak mau menggoda Allegra.


Allegra mengangguk. Dia kembali menyeruput lemonnya dan sesekali memandang langit. Allegra mengalah membiarkan Morgan bergabung dengannya.


"Kau masih memikirkan mommy mu?" selidik Morgan setengah menoleh menatap Allegra.


"Dia selalu seperti itu padaku, aku tidak apa apa, sudah terbiasa," ujar Allegra menoleh tersenyum ke arah Morgan. Morgan sedikit terperangah dengan senyuman Allegra secara dekat seperti ini. Menurutnya, senyuman Allegra lebih manis ketimbang Jessie.


"Morgan? Kau kenapa?" Allegra menyadarkan.


"Hah? Kau minum yang benar, sampai menetes seperti ini!" Kata Morgan mengusap sisi bibir Allegra. Allegra sedikit canggung dan menarik kepalanya menjauh dari Morgan.


"Aku bisa membersihkannya," saut Allegra dengan wajahnya yang telah merona. Morgan menormalkan kembali tubuhnya dan ikut melihat bintang di langit.


"Kau tidak sendirian Allegra. Mungkin, ibumu memiliki alasan memperlakukanmu seperti itu," ujar Morgan kemudian hendak menghibur Allegra.


"Apa maksudmu?" selidik Allegra.


"Kau pikir hubunganku dengan Gracia baik baik saja? Ayah dan ibuku menginginkan seorang anak perempuan tetapi ibuku sudah tidak bisa memiliki anak, jadi mereka begitu menyayangi Gracia melebihi diriku," kata Morgan bercerita singkat.


"Kau jangan berbual untuk menghiburku! Aku tidak perlu!" Allegra mengangkat alisnya. Dia tidak percaya dengan cerita Morgan karena sangat terlihat jelas hubungan Morgan dan Gracia sangat baik dan Morgan tidak merasa keberatan jika Gracia menjadi adik kandungnya. Dan, pada kenyataannya memang Morgan tidak pernah peduli jika dulu, sewaktu kecil, kedua orang tuanya lebih membela Gracia ketika Gracia menganggu dirinya belajar.


"Aku serius! Kau tanyakan saja pada Gracia." Morgan meyakinkan.


"Ya ya, aku percaya padamu. Sudah sana tidur, aku tidak apa apa," saut Allegra yang tidak mau terlarut pada kesedihan. Dia paling tidak mau bercerita mengenai masalah tekanan batinnya pada siapapun. Pada akhirnya dia tetap akan kalah karna Jessie tidak sempurna sehingga dia lebih memerlukan banyak perhatian ketimbang dirinya. Daripada Allegra akan semakin sakit hati, lebih baik dia diam.


Allegra mengerti kalau Morgan hanya ingin menghiburnya.


"Allegra, kau wanita kuat, kau pasti bisa menghadapi semua ini. Aku percaya padamu!" Kata Morgan lagi sudah merangkul Allegra dan mendekatkan wajahnya di samping Allegra.


Allegra tersentak dan menoleh memandang wajah Morgan yang juga memandangnya. Mereka saling berpandangan dan Morgan merasa wajah Allegra begitu cantik juga merona. Allegra pun memperhatikan wajah Morgan yang tampak tenang seperti tidak memiliki beban. Allegra tidak percaya dengan apa yang dikatakan Morgan. Seketika jantungnya berdebar. Allegra mengakui kalau Morgan memang cukup tampan. Bukan cukup tetapi memang sangat tampan.


Morgan dan Allegra terhanyut dan mendekatkan wajah mereka. Mereka seperti hendak berciuman tapi Allegra tersadar, tidak mungkin seorang Morgan yang tampan dan sukses tidak memiliki kekasih. Ini tidak benar.


Lagipula, Allegra masih tidak tahu perasaanya. Allegra menarik dirinya.


Dia sudah gugup dan canggung. Morgan tidak menahannya karena menurutnya juga terlalu cepat. Dirinya juga tidak tahu benar menyukai Allegra atau hanya sekedar mau menghiburnya. Allegra segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamar kakaknya. Pasti kakaknya sudah tidur, pikirnya. Morgan hanya tersenyum memperhatikan kegugupan Allegra yang malah menggemaskan baginya.


Keesokan paginya, Jessie dan Allegra harus pergi ke sawah untuk mengambil pupuk dari sahabat Angel untuk bunga bunga mereka. Jessie dan Allegra melewati Morgan yang masih tertidur di sofa. Selimut Morgan terjatuh dan Allegra merasa harus membenarkannya.


"Tunggu sebentar kak," pinta Allegra dan dia langsung mendekati Morgan. Dia mengambil selimut itu dan hendak menyelimuti Morgan sampai ke lehernya. Namun, ketika Allegra sudah selesai dan hendak kembali ke kakaknya, Morgan malah menahan tangan Allegra.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Morgan membuka matanya. Allegra sangat terkejut.


"Aku, aku hanya mengambil selimutmu yang terjatuh," jawab Allegra terbata dan bingung apa lagi yang harus ia lakukan.


"Kau mau kemana pagi pagi begini?" tanya Morgan tidak percaya dengan jawaban Allegra..


"Ke ladang," jawab Allegra memperhatikan rahang rahang wajah Morgan yang begitu manly dan sangat tenang.


Akhirnya Morgan melepaskan pergelangan tangan Allegra tetapi Allegra malah hendak terjatuh. Morgan dengan cepat bangun dan menahan Allegra sehingga mereka berpelukan.


"Kenapa kau selalu ceroboh, Allegra?" selidik Morgan menatap Allegra cukup menikam.


"Tidak lagi, lepas Morgan!" Allegra berusah melepaskan dari tangan Morgan yang melingkar di pinggangnya.


Morgan merasa wajah Allegra kembali merona, mungkin karna tatapannya.


"Mengapa wajahmu selalu memerah ketika memandangku?" tanya Morgan sedikit menyunggingkan bibirnya.


"Hah? Kau baru bangun, kau pasti salah lihat, sudah lepas, ada kakakku!" Allegra masih berusaha melepasnya.


"Dia tidak bisa melihat!" Bisik Morgan yang membuat Allegra benar benar terkejut. Matanya membelalak, belum ada seorang pria yang seperti ini padanya. Yang ada pria tersebut malah menggoda kakaknya.


"Lepas nanti mommy atau Daddy ku melihat, lepas! Aku harus pergi!" Allegra memohon kini dengan nada yang cukup lembut.


Morgan akhirnya melepasnya dan kembali membaringkan dirinya di sofa. Dia menyeringai melihat kegugupan serta sudah merasakan jantung Allegra yang berdebar ketika mereka berhadapan.


Allegra dengan cepat meraih pergelangan lengan kakaknya dan keluar dari rumah.


"Apa yang kau lakukan, Allegra?" tanya Jessie yang sudah keluar dari rumah mereka.


"Tidak apa kak," jawab Allegra menunduk. Meskipun Jessie tidak melihat wajah merahnya tetapi dia malu dengan pertanyaan Morgan yang cukup menggelitik hatinya.

__ADS_1


"Kau menyukai Morgan?" selidik Jessie tersenyum.


"Apa? Apa? Tidak kak! Mana mungkin aku atau dia saling menyukai! A nightmare, sis!!" ujar Allegra terbata dan menggaruk garuk pelipisnya.


"Aku merasakannya, adikku!" Jessie sedikit mendekatkan tubuhnya pada lengan adiknya.


"Kau bisa saja kak, sebaiknya kita cepat ke ladang untuk meraih pupuk terbaik atau mommy akan memarahiku lagi!" Allegra mengalihkan pembahasan.


"Kau selalu saja mengalihkan pembicaraan, anak nakal!" Jessie tersenyum sambil terus berjalan.


Allegra ikut tersenyum meski kakaknya tidak bisa melihat tetapi kakaknya sangat mengerti suasana hatinya. Namun, biar bagaimana pun, Allegra tidak mau berharap. Dia masih trauma kalau sampai dia juga menyukai Morgan tetapi Morgan menyukai Jessie, ini hal yang tidak bisa lagi Allegra tolerir. Dia harus lebih berjaga jaga pada hatinya. Untuk saat ini dia harus fokus dengan sekolah juga pekerjaannya nanti. Jerry menjanjikan jabatan presiden direktur untuknya ketika lulus nanti. Jerry sudah sangat lanjut dan dia tidak bisa berharap pada Jessie yang lebih menyukai bunga seperti ibunya. Jadi, Jerry mempercayakan usahanya pada anak keduanya, Allegra.


Mereka akhirnya tiba di ladang, tapi Allegra dan Jessie memutuskan untuk tetap di ladang karena menunggu Angel yang juga akan kesana. Begitu juga Dior, Gracia dan Morgan yang hendak berjalan jalan. Jessie memutuskan ingin ke tengah ladang. Dia hendak merasakan bulir bulir padi dan Allegra menyetujuinya. Dia membimbing kakaknya ke tengah ladang tersebut. Ketika sampai, seseorang memanggil Allegra untuk membantunya mengangkat keranjang besar ke pundaknya. Allegra meninggalkan Jessie setelah meminta ijin.


Ketika Allegra sudah selesai membantu seorang wanita paruh paya tersebut, wanita tersebut baru memberitahu pada Allegra kalau hari ini jadwal sebuah traktor akan membajak tanah di samping lahan padi yang sudah panen. Allegra langsung melihat ke arah kakaknya yang masih menikmati padi padi itu. Allegra agak khawatir jika mereka agak berdekatan dengan proses traktor itu bekerja. Allegra harus segera memberitahu kakaknya. Dia pun kembali pada kakaknya.


Benar saja kekhawatiran Allegra, entah mengapa mesin traktor tersebut jadi berlainan haluan. Mesin traktor beroda empat itu malah mengarah pada Jessie. Jessie mendengarnya dan hendak menjauh tetapi dia malah terjatuh karena terlalu terburu buru. Allegra dengan cepat berlari pada jalan tanah kecil tersebut. Traktor tersebut semakin mendekat.


"Allegra, tolong aku! Allegra, ada traktor mengarah padaku!" Teriak Jessie yang sulit sekali untuk bangun.


Allegra akhirnya tiba dan membangunkan kakaknya tetapi traktor tersebut sudah sangat dekat. Karena masih sulit memapah kakaknya, akhirnya dia mendorong kakaknya menjauh sehingga dirinya tidak sempat ikut menjauh dan punggungnya terkena sisi roda besar traktor tersebut.


"JESSIE, ALLEGRA!!!" panggil Angel yang melihat kejadian tersebut.


Ternyata Angel, Dior, Gracia juga Morgan sudah datang. Mereka semua berlari ke arah Allegra dan Jessie. Jessie sudah tersungkur sementara Allegra terduduk lemas menahan sakit pada punggungnya yang sepertinya tersayat dan berdarah. Terlihat dari luar bajunya yang saat itu Allegra mengenakan pakaian putih.


Traktor tersebut telah berhenti dan para petani sudah mengerubungi traktor dan supir yang menaikinya. Sang supir ternyata sedang mengangkat panggilan sehingga tidak melihat arah tanah yang seharusnya ia bajak.


Angel terlebih dulu menghampiri Jessie sedangkan Allegra menunduk menahan punggungnya. Sepertinya Angel tidak melihat apa yang terjadi pada Allegra.


"Allegra! Mengapa kalian bisa ada di tengah ladang? Bagaimana kalau kakakmu tertabrak hah? Kau tidak tahu kalau ada traktor di dekat kalian? Kau pasti meninggalkan kakakmu kan?!" bentak Angel dengan serbuan pertanyaan pada anak keduanya.


Allegra mengangkat tangannya. Pandangannya sudah buram, darah yang keluar dari tubuhnya begitu menderai.


"Nyonya Atkinson, Nona Allegra mengeluarkan banyak darah di punggungnya," teriak seorang petani yang hendak menghampiri Jessie dan Allegra.


Allegra lalu berusaha berdiri dan ingin menjelaskan pada ibunya. Morgan sudah berjalan menghampiri Allegra tapi tak lama Allegra malah kembali terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Allegra ..." Panggil Gracia panik juga menghampiri Allegra bersama Dior. Morgan langsung menggendong Allegra dan membawanya pergi dari sana.


"Allegra! Kau baik baik saja, aku yakin kau baik baik saja!" Kata Morgan panik. Dia berusaha menyadarkan Allegra dalam gendongannya yang begitu erat.


...


...


...


...


...


Haiz, ngilu lagi coy!


Ngel, anak lu dua bukan atu! 😭😭


Gemays!!


.


Next part 3


Bagaimana perasaan Morgan yang sebenarnya?


Dan apakah Allegra memiliki rasa untuk Morgan?


Apa Allegra masih akan menetap di desa atau kembali ke kota?


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤

__ADS_1


__ADS_2