
...Percayalah kalau dia sedang jatuh cinta...
Rival melihat Chiko dan Franda ada didepan gerbang sekolah. Kenapa mereka begitu dekat sekali padahal yang Rival tau bahwa mereka tidak pernah dekat. Sorot mata itu melihat ketika Franda ada disana. "Kenapa val? Lo cemburu?"
"Apaan lo bilang gue cemburu? Sama cewek kutu kayak dia? Enggak sama sekali." Rival melajukan mobilnya begitu saja dengan dengan kecepatan sedang sengaja didepan mereka hingga cipratan air yang menggenang didekat Franda mengenai roknya.
"Astaga. Emang dasar tuh anak." Teriak Chiko.
"Lo gak papa kan? Emang bikin ulah aja ya kelakuannya."
"Gak papa kok chik ya udah gue duluan aja kalau gitu." Sahutnya yang melanjutkan langkahnya.
"Fran, mending lo masuk kedalam mobil gue aja karna rok lo udah basah gini mending gue anterin balik aja ya?" Tawarnya.
"Gak---" Chiko tidak mendengarkan jawaban Franda ia langsung saja menyuruh Franda masuk kedalam mobil tanpa basa basi.
"Sialan banget jadi orang bisa-bisanya gak digunakan tuh mata. Masa jahat banget." Kesal Chiko.
"Gak papa kok Chik." Senyum Franda.
"Gak papa gimana dia udah keterlaluan sama lo. Emang dasar tuh anak dikasih pelajaran aja."
"Udah gak papa kok Chik tenang aja gue gak papa kok." Sahut Franda yang melihat Chiko tampak emosi.
"Udah lo masuk ke dalam mobil ya? Gue anterin balik gue gak suka sama penolakan loh?" Ia justru mengancam tapi ia malah tersenyum manis yang membuat Franda tersipu malu.
Selama didalam mobil Chiko selalu saja menyebut kalau Rival bukan cowok yang baik dan tidak sopan.
"Gue gak suka sama sikap dia ke cewek. Tau gak. Tapi lo gak papa kan?" Ini terlalu berlebihan.
"Iya gak papa kok chik, gue kira lo orang yang----"
"Songong? Iya sih gue songong tapi buat mereka yang gak ngerti sama gue aja. Lo tau gak percaya atau enggak gue ini sering dibilang cowok aneh. Makanya gue gak punya sahabat deket sama sekali. Kali aja gitu lo mau jadi temen gue."
"Gak mungkin lo gitu, gue yakin lo orang yang baik kok." Jawabnya.
Ia memiringkan kepalanya dengan menempelkan tangan yang menggenggam di pipinya. Ia masih kepikiran dengan Rival tadi yang marah-marah gak jelas sampai-sampai ia menyempotkan dengan sengaja air yang menggenang dekat dirinya.
"Oh ini rumah lo?"
"Iya, makasih ya chik udah anterin gue." Ia menggangguk paham dan pergi begitu saja.
"Assalamualaikum mah."
"Waalaikumsalam." Ia mencium terlebih dulu sebelum masuk kedalam kamar.
"Loh kok kamu gak bawa tas sih?" Ia berbalik dan meraba punggungnya yang terasa ringan. Ia menepuk jidatnya dan mengejar kearah luar.
Luar terlihat sepi dan kosong. Mungkin Chiko sudah berjalan jauh disana. Ia kali ini Franda terlalu terburu-buru hingga ia lupa kalau tas sekolahnya masih ada didalam mobil Chiko yang sudah menghilang. "Yah ketinggalan didalam mobil."
__ADS_1
"Loh kok bisa?"
"Jadi temen aku nganterin dan aku lupa kalau tas aku masih ada didalam mobilnya. Kok aku bisa ceroboh banget sih?" Ia berdecak kesal.
"Ya udah entar dia akan ngantar kesini atau enggak kamu telfon aja dia?"
"Aku gak punya nomor dia mah? Ah ya udah aku ganti baju dulu ya." Dengan santainya ia masuk ke kamar mengunci pintunya.
"Loh inikan tas Franda? Astaga kok gue tadi gak liat?" Ia melihat cuaca sudah tampak mulai redup karna sebentar lagi maghrib akan menjelang. Ia menutup kembali dan berencana untuk mengantarkan tas Franda nanti malam ini.
Setelah malam menjelang Chiko langsung saja menuju ke rumah Franda tanpa mengabarkan sebelumnya. Dengan pakaian yang modis karna sudah menjadi kebiasaannya yang sering kali dianggap aneh. Kenapa aneh? Karna pernah suatu kejadian ketika Chiko ke warung saja ia bisa menghabiskan separuh parfum makanya tidak heran kalau Chiko terlihat modis.
Ia mengambil tas Franda dan mengetuk pintunya. "Chiko? Lo ngapain disini?"
"Nih gue balikan ini, ini tas lo kan tadi ketinggalan." Ia memberikan tas Franda. Franda tercengang dengan penampilan Chiko yang tampil modis sekali. Bau parfumnya pun tercium pekat sedangkan Franda hanya dengan pakaian tidur panjang.
"Makasih ya, oh iya mau duduk dulu?"
"Oh gak usah, gue langsung balik juga kok."
"Seriusan nih?"
"Iya, gue balik."
Franda memanggil Chiko sebentar "Assalamualaikum."
"Wa--- waalaikumsalam." Ia tersenyum lalu kembali kedalam mobil.
...•••...
Sedekat itu? Bisakah mereka bisa sedekat itu? Padahal yang Rival tau kalau Chiko adalah musuh bebuyutannya sendirinya kenapa bisa dekat dengan Franda? Cewek cupu yang sering ia sebut itu. "Ah.." Ia merasa pusing kali ini sungguh rumit dalam hidup sejak tadi pulang sekolah. Tiffany dan Roy malah bingung dengan diamnya Rival kali ini. Mereka saling bertatap mata satu sama lain memprediksi apa yang sedang Rival pikirkan.
"Val, lo kenapa?"
"Dia kenapa sih kak?" Bisik Tiffany yang malah membuat Roy juga bingung.
"Kenapa si cupu itu malah balik sama Chiko udah tau gue gak suka." Batinnya yang menggerutu sendiri.
Perlahan Roy menepuk lamunan Rival "Apaan sih lo?" Roy dan Tiffany lantas melotot dan saling terkejut satu sama lain. Rival pun juga ikut terkejut dan memundurkan langkahnya kebelakang.
"Lo kenapa sih?"
"Ah, enggak gue keatas ka." Langkah Rival dari belakang terlihat sekali sedang memikirkan sesuatu.
Ia mengunci kamarnya langsung beristirahat untuk sejenak berdiam diri. Ia.duduk dipinggiran tempat tidur tangan yang mengepal ringan. Cewek cupu itu berhasil membuatnya aneh seharian ini.
"Ih kenapa gue bisa kepikiran sama cewek cupu itu. Apa gue suka?" Ia meremas rambutnya dengan kesal. Ia melihat jelas kalau Franda dan Choki sedang mengobrol dipinggiran mobil.
Kenapa harus Choki? Kenapa harus dengan musuh bebuyutan Rival?
__ADS_1
"Val kata mamah lo disuruh turun."
"Ya bentar lagi." Teriaknya. Ia menarik nafas membuka pintu dengan wajah yang masih bete menuruni anak tangga pun jauh lebih cepat. Mata mereka malah bingung dengan Rival hari ini.
"Kenapa pada liatin?"
"Loh lo kenapa?" Tanya Roy yang santai aja tapi Rival malah menatap tajam.
"Biasa mah Rival lagi datang bulan." Bisik Tiffany.
"Udah deh, gak usah pada ribut gue lagi kesel sama----"
"Sama siapa?" Sontak membuat malah tercengang menunggu jawaban Rival.
"Gak kok gak kenapa-napa. Udah makan aja." Rival mengalihkan pembicaraan. Mengambil ayam goreng dan sayur sup kesukaannya masih terlihat asapnya karna masih panas sekali.
"Eee itu ma----"
"Masih panas. Hahaha." Cekikikan membuat Rival semakin kesal sekali tatapannya mengarah satu persatu kearah mereka sebab ia hari ini tidak sedang mood jadi apa saja bisa membuat Rival kesal.
...•••...
Pemandangan Rival tertuju kearah Franda dan Chiko yang ada didepan kelasnya. Ia sontak bertindak dan mendorong kecil Chiko disana. "Kalau lagi pengen ngobrol tuh dipinggir bukan didepan kelas juga. Lo juga sok cantik banget." Pagi ini emang bikin emosi setelah kejadian kemarin. Franda bukan marah tapi bingung begitu pun dengan Chiko padahal ia baru saja melintas di kelas Franda.
"Fran, gue kelas dulu ya." Chiko tersenyum licik kearah Rival dan meninggalkan senyum ke Franda sebelum ia ke kelasnya.
"Dia kenapa sih marah-marah gitu." Bingungnya.
"Sumpah hari ini gue pengen marah-marah terus sama lo. Dasar cewek cupu bikin gue naik darah aja." Gumamnya.
"Eh, coba lo liat deh kenapa Rival kayak gitu ya?" Bima cowok bertubuh gendut bisa saja pagi ini memegang tiga roti ditangannya yang sebentar lagi akan ia santai dalam waktu singkat.
"Udah deh, lo mau makanan lo diambil sama Rival?"
"Tau, Rival emang gitu kalau lagi jatuh cinta." Albert tau betul dengan karakter asli Rival biasanya tebakannya tidak pernah salah.
"Siapa yang lagi jatuh cinta? Enak aja kalian." Bantah Rival.
Bel pun berbunyi, akhirnya jam istirahat pun datang juga. Cerry dan Franda lebih memilih duduk didepan kelas karna hari ini kelas Roy ada jam olahraga. Dan biasanya Cerry sudah anteng didepan kelas rela gak ke kantin cuma demi Roy saja. "Ya ampun kak Roy ganteng banget. Fran kapan sih gue bisa deket sama kak Roy." Cerry melihat Roy sedang bermain basket begitu piawai sekali hingga ia hanya fokus kepada Roy saja padahal masih banyak yang lain apalagi bukan cuman Roy saja cogan.
"Huss, lo kedengaran sama kak Roy."
"Ah gue gak papa. Kak Roy i love you." Ia meniupkan tangannya membuat Franda malah merasa aneh.
"Fran, kak Roy liatin kita tuh astaga ganteng banget keringatnya keren banget. Kayaknya kalau kak Roy kesini mungkin gue bakalan kasih tisu kali ya." Beberapa detik bola basket ada didepan mereka karna ada salah satu anggota mereka tidak sengaja melempar kearah Franda dan Cerry untung saja tidak kena. Roy berlari kecil untuk mengambil keringat ditambah aura gantengnya makin kerasa.
"Waduh maaf mau ambil bola." Dua ekspresi yang berbeda pertama Franda hanya menebar senyum dan kedua Cerry yang malah senyam-senyum gak jelas bukannya mengambilkan tisu sesuai permintaannya tadi malah bengong karna kegantengan Roy.
"Katanya mau ngelapin keringat Roy loh kenapa malah bengong tadi."
__ADS_1
"Gak kuat fran, gak kuat next time aja kali ya." Matanya masih tertuju. Sudah biasa kalau mereka melihat pertandingan basket di lapangan didepan kelas mereka karna apa? Percaya atau enggak keringat cowok sering kali bikin kaum hawa terpesona alias menambah rasa ketertarikan.
"Kak Royyyy, ganteng juga." Gumam Franda yang tidak kalah memuji.