Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 3


__ADS_3

Mimpi yang sejati adalah sebuah perjuangan yang dilakukan agar menjadi sebuah kenyataan. Mimpi yang tadinya adalah sebuah angan angan dengan niat dan hati yang mantab, maka mimpi tersebut bukanlah khayalan lagi melainkan cita cita yang dapat diraih. Patrick terpaksa harus meninggalkan Zhavia dalam keadaan hamilnya karena proyek gedung musik nya harus terealisasikan dengan baik. Dia harus membut semuanya sempurna dan orang orang yang melihatnya akan mengakui kehebatannya. Bukan hanya itu, Patrick dan Zhavia juga hendak membuktikan kepada orang tua mereka bahwa kesukaan mereka yang terkadang dianggap remeh malah menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan dan menciptakan orang orang berbakat lainnya juga menjadi lahan pengembangan bisnis. Zhavia dan Patrick adalah contoh pasangan yang hendak mempunyai usahanya sendiri dengan apa yang mereka bisa. Lalu, bagaimana kehidupan rumah tangga mereka? Apakah akan baik baik saja atau malah membuat setiap hati terluka?


...


Patrick menarik tangan Zhavia menuju ke sebuah ruangan yang sudah ia persiapkan untuk istrinya itu. Patrick begitu semangat di hari kedua Zhavia mengikutinya melihat proyek gedung ini sebelum dirinya harus bertolak ke Nederland beberapa hari lagi.


"Patrick, kau mau membawaku kemana? Bukankah gedung utama ini belum jadi?" Tanya Zhavia yang masih mengikuti arah tarikan tangan suaminya.


"Kau akan tahu. Ya ruangan ini ada di bawah auditorium jadi memang ruangan ini dulu yang dibangun sayang. Ini ruangan khusus untukmu!" Kata Patrick sesekali menoleh ke arah istrinya.


"Hem, apa seperti ruangan ganti dan ruang untuk merias diri?" tanya Zhavia lagi menerka.


"Benar sekali!"


"Kau mengingat apa yang kuinginkan, Pat," ujar Zhavia tersipu malu.


"Tentu saja, karena gedung ini sebenarnya adalah hadiah dariku untukmu!" gumam Patrick tersenyum.


"Terimakasih sayang," ucap Zhavia .


Patrick tersenyum lagi dan terus berjalan perlahan ke ruangan tersebut. Mereka melintasi lorong itu dan sampai lah di sebuah ruangan yang memang terdapat di bawah ruang auditorium di atas. Ruangan ini yang nantinya bisa langsung akses ke panggung, jadi jika nanti Zhavia akan melakukan pertunjukan, Zhavia tidak perlu bergabung dengan yang lainnya karena sudah memiliki ruang pribadi sendiri.


Mereka masih ada di depan ruangan tersebut. Patrick belum membukanya. Dia menutup mata Zhavia terlebih dulu.


"Patrick, apa kau harus menutup mataku?" tanya Zhavia sedikit gugup.


"Harus!" Saut Patrick tersenyum. Patrick pun mulai membuka pintunya.


"Kau siap Zhavia?" Bisik Patrick.


"Kau membuat jantungku berdebar tak karuan, Pat!" kata Zhavia lagi benar benar tak sabar.


"Siap ya?" Kata Patrick lagi dan membuka mata Zhavia perlahan lahan.


Zhavia mengucek matanya terlebih dulu sebelum melihat ruangan yang kini membuat matanya makin melebar. Dia juga menutup mulutnya tak percaya.



Di ruangan itu tampak putih bersih bercampur peach dan coklat layu sebagai alas. Di sana terdapat dua meja rias yang saling bertolak belakang. Satu meja rias bergaya klasik dan antik sedangkan meja rias lainnya bergaya Hollywood. Di sisi yang lain terdapat dua buah ruang ganti dan di tengahnya di hiasi sofa juga meja kursi antik untuk beberapa teman Zhavia yang hendak mengobrol atau make up artist yang akan mendadani Zhavia nanti.


Zhavia tentu sangat terkesima dengan semua ini. Dia tidak menyangka suaminya akan membuat seperti apa yang dibayangkan.




"Patrick, kau merancang semuanya?" Pekik Zhavia sambil memasuki ruangan itu.


Patrick menggeleng.


"Lalu siapa? Ini sangat indah dan sesuai apa yang kuinginkan! Aku tidak tahu lagi harus berkata apa!" kata Zhavia lagi berjalan menuju ke meja rias bergaya Hollywood dan merabanya.


"Maka berkata lah pada kekasih Xelino. Aku meminta tolong padanya," tutur Patrick melipat tangannya di depan dadanya.


"Apa? Carolyn? Kau serius mendatangkan dia kemari untuk membuat ini?" pekik Zhavia benar benar tersanjung dengan apa yang dilakukan suaminya.


Patrick mengangguk tersenyum.


"Jarak atau biaya tidak akan membuatku berhenti atau menjadikan yang kau inginkan biasa saja. Aku ingin sesuatu yang istimewa hanya untukmu. Jadi kau menyukainya kan?" selidik Patrick tersenyum melebar.

__ADS_1


Zhavia berbalik dan merentangkan tangannya. Dia harus memberi satu pelukan untuk suaminya.


"Terimakasih sayang, sampai saat ini kau tidak pernah bosan membuatku tersenyum bahkan bahagia," ucap Zhavia menghampiri Patrick dan memeluknya. dia melingkarkan tangannya ke pinggang Patrick. Patrick tentu menerimanya dengan senang hati.


"Itu sudah tugas dan tanggung jawabku Zhavia sayang. Kau alasan ku bekerja dan membuat semua ini. Dan yang terpenting, kau alasan ku untuk hidup. Terimakasih juga Zhavia ku," kata Patrick juga memejamkan matanya dan mengecup puncak kepala Zhavia.


Zhavia makin mengeratkan pelukannya pada Patrick. Dia mengendusi aroma tubuh Patrick yang tidak pernah membuatnya bosan. Selalu ingin merasakan lagi dan lagi.


"Zhavia! Kupikir kau di mana!" suara seorang wanita mencari Zhavia.


"Tuan Muda Kwan, mengapa kau mengajak Zhavia tidak bilang padaku? Aku khawatir sekali!" keluh Molly yang mencemaskan Zhavia yang sedang mengandung.


Zhavia dan Patrick pun berbalik. Patrick pun memeluk Zhavia dari belakang.


"Maafkan aku Molly, aku tidak sabar menunjukan ruangan ini pada sang tuan putri


"Wwaaahhh ini mahakarya yang sangat luar biasa. Semua ini pasti untukmu kan Zhavia?" Seru Sarah melihat lihat penataan interior yang begitu lembut juga bersih.


Zhavia dan Patrick hanya tersenyum. Molly juga memuji ruangan ini yang begitu menakjubkan. Rasanya sangat menenangkan jika menunggu giliran untuk pertunjukan.


"Tuan Muda memang sangat romantis," ucap Molly masih memperhatikan ruangan yang sangat cocok untuk wanita. apalagi wanita seperti Zhavia.


"Thankyou Molly," ucap Patrick dan bersamaan dengan itu, dia merasakan tendangan anaknya dari perut Zhavia karena dia memeluk perut Zhavia.


"Zhavia? Dia menendang tanganku," kata Patrick antusias dan membalikan tubuh Zhavia agar menghadapnya.


"Lil Kwan, kau mendengarku?" Tanya Patrick di depan perut Zhavia sambil berlutut.


Lagi lagi Molly dan Sarah dibuat tersipu karena kemesraan mereka berdua.


"Kau memanggilnya apa, Pat?" selidik Zhavia mencengkram lembut rambut tebal suaminya.


"Ahh kau ini, selalu ada kata kata manis mu. Membuatku lapar saja. Apa kita tidak bisa makan siang sekarang sayang?" tanya Zhavia merasa dirinya harus makan siang. dan mungkin tendangan tersebut karena anaknya juga sudah lapar.


"Oh tentu, ayo kita makan siang!" ajak Patrick segera berdiri.


"Molly, Sarah ayo kita makan siang!" ajak Zhavia pada kedua sahabatnya.


"Oke Zhavia, aku memang sudah sangat lapar sekali!!"


Mereka berempat pun berjalan keluar gedung. Mereka menuju ke restoran di depan gedung tersebut. Mereka makan pada satu meja sambil berbincang bincang. Hari ini Eden ijin tidak datang karena harus mengantar Adeline ke rumah sakit. Mereka akan mengetahui jenis kelamin anak anaknya. Patrick sangat memaklumi hal itu. Oleh sebab itu dia membutuhkan satu teman lagi untuk membantunya.


Patrick pun memberitahu pada Zhavia, Molly dan Sarah bagaimana sistem kerja di gedung musik nya. Dia sudah membuat ruangan ruangan khusus dalam menampung masing masing alat musik. Ada sekitar 10 alat musik yang akan Patrick masukan dalam sekolahnya itu. Di antaranya Piano, Organ, Saxophone, Biola, Harpa, cello, clarinet, flute, drum dan gitar. Setiap siswa bisa memilih dua atau tiga untuk bisa dipelajari. Selain belajar alat musik, Patrick juga akan membuka kelas tarik suara yang terdiri dari penyanyi tunggal, penyanyi group sekitar tujuh sampai tiga belas orang dan paduan suara. Hal ini mengingat keahlian Zhavia yang setelah melahirkan barulah bisa ikut mengajar. Dan yang paling tidak ketinggalan di mana mungkin Patrick, Eden atau satu temannya lagi yang akan mengajar yaitu kelas menjadi seorang komponis atau komposer.


Patrick menceritakan semuanya pada Zhavia, Sarah dan Molly membuat mereka yang mendengar sungguh takjub dengan program dan tatanan yang telah Patrick susun.


"Maka gedung musik kita, akan menjadi gedung musik terbaik dan tersohor sayang," tutur Zhavia sangat bangga.


"Juga terlengkap dan terbesar Zhavia," tambah Sarah.


"lalu akan menjadi yang paling terkenal!" tambah Molly juga begitu antusias.


Patrick tersenyum dan menyeruput cappucino yang ia pesan.


"Sayang, aku bangga padamu!" Bisik Zhavia tepat di telinga Patrick. Patrick setengah menoleh dan memandang istrinya.


"Just for you," bisik Patrick lagi dan berani mendekatkan wajahnya untuk mengecup Zhavia. Entah bagaimana Molly dan Sarah selalu dibuat salah tingkah dengan mereka berdua.


...

__ADS_1


Hari itu pun tiba. Patrick harus pergi ke Nederland. Sebenarnya dia sangat ingin mengajak Zhavia tapi hal ini akan membut Zhavia lelah. Patrick bukan hanya mengunjungi satu perusahaan alat musik tapi banyak perusahaan karena ingin mengetahui kualitas yang paling terbaik. Bukan berarti perusahaan terkenal menghasilkan alat musik yang baik. Malahan para pengrajin yang tidak bekerja sama dengan perusahaan alat musik malah menghasilkan alat musik yang jauh lebih berkualitas dan tahan lama. Nederland merupakan pusat pengrajin grand piano dan harpa terbaik sepanjang masa.


"Sayang, setiap kau melakukan transit, kau harus menghubungiku! Jangan lupa meminum vitaminmu dan meminum ginger tea. Aku sudah menyuruh Eden untuk selalu mengingatkanmu. Harus makan tiga kali sehari agar perutmu tidak sakit! Dan yang terpenting, Kau harus menjaga matamu jangan melihat wanita wanita berpakaian minim! Harus selalu membalas pesanku! Kau mengerti kan?" ujar Zhavia memberikan serentetan pesan untuk suaminya.


"Seharusnya aku yang memberimu pesan! Jangan lupa meminum obat dan vitaminmu! Jangan terlalu sering memasak. Biarkan mommy Sandra yang melakukannya. Pergi ke kamar Adeline bersamanya. Aktifkan selalu ponselmu agar aku bisa memberimu kabar!!" begitu juga dengan Patrick yang tak mau kalah. dia mengingat terkadang istrinya sangat sangat ceroboh.


"Oke tuan muda! Kita memang harus sama sama mengingatkan bukan? Aku sudah membawakanmu lima setelan jas dan tiga setelan piyama," kata Zhavia lagi menutup koper yang akan Patrick bawa.


"Mengapa banyak sekali?!" tanya Patrick memicingkan matanya.


"Kau harus selalu bersih sayang, dan ini parfum mu! Jangan lupa memakainya!" tambah Zhavia lagi menaruh botol parfum slim itu di saku samping koper.


"Bagaimana jika wanita wanita mendekatiku?" tanya Patrick kini memeluk istrinya dari belakang.


"Asal kau jangan menanggapi, kau percaya kan kalau mataku ada di mana mana," decak Zhavia setengah menoleh.


"Haha, ya aku percaya apa yang kau katakan padaku karena setiap ucapanmu merupakan suara hatiku melangkah sayang," ujar Patrick membalikan tubuh Zhavia. mereka saling berpandangan dan Zhavia agak bergidik dengan semua ucapan suaminya.


"Patrick ... Jangan menggombaliku terus nanti aku berubah pikiran," balas Zhavia tersipu malu sambil menunduk.


"Berubah pikiran apa?" tanya Patrick mendongakan wajah Zhavia.


"Mengijinkanmu pergi," dengus Zhavia mengerutkan bibirnya membuat Patrick gemas.


"Kupikir apa, hem sesuatu yang membuatmu ingin," gumam Patrick memandang mesra Zhavia.


"Hem, mesum!! Itu saja pikiranmu. Kapan ibu mertua ku datang?" tanya Zhavia kemudian. dia tahu apa yang diinginkan suaminya.


"Sepertinya satu jam lagi, masih ada waktu Zhavia, aku akan melakukannya dengan cepat, ayo buka bajumu!" pinta Patrick kemudian sudah memegang sisi sisi sweater Zhavia.


"Aahhhh, kau memang ingin melakukannya kan?"


Patrick sudah tidak berkata lagi. Dia mencium bibir Zhavia sambil menaikan sweater yang istrinya kenakan.


"Uhm, Pat," desah Zhavia melenguh merasakan bibir Patrick yang sudah merayap ke leher dan kini mengendusi sisi sisi buah dadanya.


"Semakin hari, dua bulatan kesukaan ku ini semakin membesar Zhavia, tiga hari ke depan aku pasti merindukannya," kata Patrick memuji salah satu keindahan istrinya.


"Hem, pelan pelan sayang, semakin lama juga semakin nyeri," keluh Zhavia mendesah membuat Patrick malah makin bersemangat.


"Hemm, ini nikmat sekali Zhavia!" Kata Patrick kini tangannya melingkar membuka pengait penutup bulatan itu.


Patrick membenamkan wajahnya merasakan lembutnya kedua bulatan kenyal itu. Tak berapa lama dia akhirnya merebahkan Zhavia di tempat tidur. Dia membuka semua bajunya dan tak lupa menyibak rok yang Zhavia kenakan sebelum memasukan benda tumpul kepunyaannya pada senggama istrinya.


"Aahh, sayang! Kau curang sekali melakukan ini sebelum pergi"


"Tiga hari juga waktu yang lama berpisah darimu, Zhavia! Diamlah, ini akan menjadi nikmat sekali kan?"


Dan mereka saling berciuman sambil merasakan kenikmatan pergulatan cinta itu. Meski Patrick mengatakan cepat, dia tetap harus menjaga gerakan dan ritme penyatuan itu mengingat kehamilan Zhavia.


...


hamil hajar terus 😁


next part 4


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕💕

__ADS_1


__ADS_2