Mantan Terindah

Mantan Terindah
70. Terbongkar


__ADS_3

"Ya udah yuk." Ajak Rival yang mengajak Franda untuk ikut, tapi ada sesuatu yang harus dituruti oleh Rival yaitu harus jemput Rubi.


"Jemput Rubi ya." Alisnya menaik seketika.


"Iya udah. Ke sekolah Rubi aja kalau gitu." Franda mengiyakan sesuatu itu.


Ada rasa sakit? Sepertinya tidak sama sekali, karna Franda tidak ada rasa cinta sama sekali kepada Rubi, karna ia suka sejak lama adalah Roy kakak kandung Rival sendiri.


Jahat gak sih? Jahatlah. Tapi kalau bicara soal hati susah tidak tau akan berlabuh di hati yang mana.


Apa alasan Rival seperti ini? Entah kenapa ya rasa itu tumbuh begitunya saja tanpa diatur dengan rasa yang aneh dan gengsi yang sangat besar kita perlahan lunak dengan sikap Franda yang lembut dan tidak mudah marah.


Dan kini diperkarakan kembali dengan sosok Rubi masa lalu Rival! Yang ada hubungannya juga dengan Chiko. Bicara kalau cinta Rival tuh kalau udah cinta ia bakalan berusaha sampai ia sudah lelah ketika putus dengan Franda pun karna dua hal yaitu posesif dan cemburu yang berlebih yang dimiliki oleh Rival dan kini berubah kembali ke posisi Rival ke Franda.


Semenjak putus dengan Rubi, Rival tidak lalu pernah menjemput ke sekolah Rubi karna ya gak ada hubungan aja yang kini ia habiskan dengan sosok Franda yang membuatnya menggila. Mobil masih yang sama dan mungkin ada beberapa orang yang ngeh dengan mobil Rival yang nangkring di sekolah mereka apalagi mereka itu teman atau sahabat terdekat Rubi.


"Clar, Rubi mana?" Dia adalah Clara sahabat Rubi dan dia juga tau sejarah perjalanan Rubi dan Rival bahkan hingga putus.


"Ri----" Pandangannya langsung berubah ketika melihat ada perempuan yang ada didalam mobil Rival. Ia bingung kenapa ia kemari.


"Rubi mana?"


"Aaaa---"


Belum sempat dijawab Rubi datang dan menghampiri mereka. Ekspresinya berubah bahagia "Rival? Ngapain lo kesini tumben?"


"Gue jemput lo, mau gak buruan masuk!" Rival menarik nafas sejenak, tanpa basa basi Rubi pun langsung masuk kedalam mobil.


"Clar gue balik dulu ya. Do'ain ya!! Dah...."


Mobil pun berjalan, dan Rubi duduk disamping Rival. Canggung banget apalagi Rival diampit oleh Rubi masa lalunya dan Franda sosok yang tiba-tiba mutusin dengan alasan mau terima dengan syarat harus balikan bareng Rubi.


Rubi sebenarnya sudah tau ini, tapi rasa cinta yang membutakan itu semua. Rival hanya ingin Franda mau dengannya bukan menyuruhnya seperti ini.


"Tumben lo jemput gue val?"


"Gue disu----"


"Dia cerita sama gue fran, kalau dia kangen sama lo! Iya kan val?"Mendengar hal itu Rubi membuka helaian rambutnya dan masih belum yakin dan mengulangnya dua kali. "Serius val?"


"Hm."


"Kita ke mall ya val." Suruh Franda, ia ingin kalau Rubi dan Rival kembali dekat. Ia bahagia kalau orang lain bahagia ia tidak perduli dengan kedepannya.


Rival hanya melihat cermin yang menyorot kebelakang Franda hanya diam dan memainkan ponselnya, ia tersenyum miring. Tapi yang penting Franda masih jadi pacarnya dengan syarat yang tadi. Sedih memang! Cinta butuh perjuangan, dan cinta butuh waktu. "Kalian udah putus ya?" Pertanyaan Rubi menjadi santapan Franda ketika itu.


"Iya rub, Kalau Rival mau balik sama lo, lo bakalan terima gak?"


"Emang iya val?" Menatap Rival tanpa basa basi.


"Liat nanti, soal hati gak bisa dipaksakan. Karna hati tumbuhnya dari kenyamanan dan semua itu berasal dari hati bukan dengan emosi!" Jelas Rival membuat Franda tertohok dengan ucapannya itu.


Terpaksa kah? Iya sangat sekali.


Franda membiarkan Rubi dan Rival berjalan berdua ia hanya dibelakang, kalau ditanya ada rasa sakit gak? Kayaknya enggak sama sekali, jadi selama ini gimana? Ya begitu menerima tapi tidak mencintai. Kok bisa sejahat itu? Ia menerima Rival pun karna terpaksa ketika Rival terdesak disuruh oleh sahabatnya untuk menembak Franda dan ini hasilnya menyatakan cinta di gudang. Kesan yang sungguh sangat sulit untuk dilupakan.


"Eh lo bukan pembokat gue ya, sini bareng!" Tarik Rival agar Franda sejajar.


"Kita mau ngapain nih?"


"Main aja yuk kayaknya keren juga!"


"Oh iya udah lama kita gak main ya val!" Sahut Rubi.


"Tangan rub, bukan muhrim!"


"Oh iya!"


Nomor tak dikenal


Kebahagiaan lo akan menjadi kebahagiaan lo, jangan jadikan kebahagiaan lo, lo berikan ke bahagiaan orang lain.


Franda melirik ke kiri dan ke kanan, apakah ada seseorang yang mengikuti dirinya? Tapi tidak ada seseorang yang dicurigai.

__ADS_1


"Siapa." Batin Franda.


Rubi menggandeng tangan Rival yang ada disebelahnya. Begitu bahagianya kenangan yang terkenang dahulu kini tercipta kembali. Ada rasa cinta diantara salah satu mereka yaitu rasa yang masih besar dimiliki Rubi dan Franda merasakan hal itu.


"Rub. Bisa gak usah gandeng."


"Oh ya udah."


Franda mengikuti mereka dibelakang, ia yakin cinta itu akan datang karna terbiasa.


Membahagiakan itu dengan salah satunya berkorban. Karna berkorban akan membuatnya bahagia, bahagia dengan siapapun orangnya itu akan bahagia dengan orang yang dicinta.


"Duh senengnya bisa balik sama Rival walaupun gak tau kedepannya bakalan balik lagi. Tapi semoga aja kali ya." Batin Rubi.


Ini lah yang diinginkan oleh Franda, Kebahagiaan mereka berdua. Memang sejak dari awal tidak ada rasa suka bahkan cinta, cintanya hanya untuk Roy kakak kandung Rival karna suka pada pandangan pertama. Suka, bukan cinta. Karna cinta datang karna terbiasa mustahil banget kalau cinta langsung pada pandangan pertama.


"Tega banget lo fran." Kesal Rival. Dikala itu Franda tersenyum dan tidak menampakkan rasa cemburu sama sekali.


Tega!! Terlalu baik atau terlalu jahat?


"Eh gue balik dulu kali ya, gue gak bisa lama-lama." Ucap Franda yang melirik kearah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya itu.


"Ya udah balik." Sambut Rival.


"Gak usah val, lo bareng Rubi aja gue bisa balik sendiri kok. Ya udah gue balik dulu ya rub."


"Hati-hati ya."


Kini mereka hanya berdua, males banget kalau mengenang masa lalu yang lumayan lama itu.


"Jangan kaku gitu dong val." Walaupun kedua orang tua mereka lumayan dekat tapi tetap aja, mantan!


Dibalik itu Franda mulai berhasil melepas Rival secara perlahan. Ia tersenyum dan ia yakin kalau Rival bisa bahagia dengan masa lalunya itu yaitu Rubi.


***


Ini adalah hari kedua Rival menjemput Rubi, ia memarkirkan mobil didepan sekolah Rubi. Masa lalu, yang akan terbuka kembali yang seharusnya tidak terulang kembali.


Tidak lama Rubi pun membuka pintu mobil dan duduk disamping Rival. "Habis ini kita langsung pulang aja ya rub."


Rival mengendara mobil dengan fokus kedepan tanpa ada dialog sama sekali, biasanya kala dulu pasti aja ada percakapan yang singkat atau sekedar kegiatan seru apa aja yang terjadi hari ini. Sekarang berubah.


Flashback


Didalam mobil, "Gimana hari ini? Oh iya maaf ya aku telat jemput kamu. Jadi nunggu deh kamu." Rival tersenyum dan gemas sekali dengan pipi Rubi yang chubby itu.


"Maaf ya!!"


"Iya udah."


Flashback Off


Kalau.


Kalau ingat masa itu rasanya ingin balik lagi, balik ketempat Rivaldo yang dulu bukan Rival yang sekarang.


Didalam hati Rival, ia tau Rubi pasti merasa ada rasa yang beda. Dan ia tidak mau masuk kedalam dunia masa lalu mereka dan takut untuk menyakiti itu, ada ruang yang tertutup rapat dan ada rasa yang sudah tepat yaitu Franda.


"Gue langsung balik aja ya rub, gue capek soalnya ada kegiatan di sekolah trus gue juga gak enak badan." Alasannya cukup masuk akal dan pasti Rubi bakalan setuju.


"Oh ya udah, hati-hati ya val."


Rumah Rubi masih tertutup rapat, "Ya udah salam buat nyokap lo ya."


Mobil Rival pun perlahan menjauh, dan Rubi masih berdiri diposisi ia turun dari mobil tadi. Ia tersenyum bahagia sekali ketika Rival bisa kembali, tapi ada rasa yang mengganjal pula Rival bukan lagi Rival yang dulu yang ia kenal. Rival berubah menjadi sosok yang bertolak belakang sekali.


Biasa kalau sampai didepan rumah, Rival pasti menyempatkan untuk mampir atau mengeluarkan kata-kata mutiara.


Ah sulit untuk dilupakan! Rival memang sosok langka kalau ia sudah benci maka ia tidak akan pernah kembali.


***


"Kenapa lo val?" Ucap Tiffany yang memakan makanan ringan diatas meja. Rival hanya diam dan masuk kedalam kamar. Tiffany hanya tersenyum tipis dan cuek aja. Udah biasa kok kalau cowok galau kayak gitu.

__ADS_1


Rival melempar tasnya asal dan mengganti seragam sekolah keatas tempat tidur. Ia memandang kearah jendela, semua masih seperti biasa dan semua seakan hampa.


Cukup, cukup untuk terus seperti ini. Dikala ia sudah mulai berubah kenapa Franda malah seperti ini, mengkhianati cinta yang sudah diberikan tulus.


Akh, ini menjadi sebuah ujian untuk dirinya sendiri. Karna cinta itu butuh apa yang dikorbankan dan penuh pengorbanan. Apapun akan Rival lakukan untuk merubah itu semua.


"Apah?" Ponsel Tiffany tiba-tiba saja terjatuh ke lantai wajahnya panik dan ketakutan.


Ia pun hanya bisa mondar-mandir kesana dan kesini. Ia langsung saja ke kamar Rival untuk ke rumah sakit.


"Val, buka pintu val. Buka." Paniknya.


"Apa sih? Lebay banget. Ada apa?" Sahutnya yang lebih santai.


Dan apa reaksinya ketika mendengar Tiffany mengatakan hal ini..


1


2


3


"Ya udah kita langsung aja ke rumah sakit." Rival tidak banyak pikir ia menarik Tiffany dan menuju ke rumah sakit. Mengambil kunci mobil yang ternyata masih ada di kamar.


"Buruan tif. Bi jaga rumah ya." Suruhnya.


Rival sudah tidak karuan. Ia membawa mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Matanya fokus, pikirannya sudah kemana-mana ini sudsh sangat penting. Bagaimana pun juga dia adalah kakak yang paling menjadi panutan Rival sendiri.


Ya, ini tentang Roy. Roy kecelakaan motor ketika bareng sama Manda, cuma itu yang didapat dari Tiffany yang baru saja ia ketahui sebuah informasi minim. Tiffany sudah panik apalagi saudara kembar yang selalu merasakan hal yang sama ikatan batin yang sangat kuat sekali.


"Tif, lo ditelfon sama Manda?"


"Iya val, gue takut kak Roy kenapa-napa." Air mata pun langsung keluar, sebagai perempuan satu-satunya drama pun seakan terjadi. Rival berusaha tidak sedih agar tidak terbawa suasana padahal ia juga tau sekali kalau Roy adalah orang yang paling teliti dan disiplin.


"Val lo harus hati-hati val."


***


Di sebuah rumah sakit, Roy sudah di tangani dokter ada Manda, sahabat Roy Roni dan ternyata ada Franda dan Cerry juga yang ada disamping Roy. Memang semua terlihat sedih dan terkejut tapi Franda jauh melebihi itu semua. Rival tersenyum miring.


Untungnya Roy masih sadar, dan kakinya sudah dibalut dengan perban dan tangan kanan pun juga di perban. "Kak Roy lo kenapa?"


"Rem gue blong val, gak tau kenapa. Man lo nelfon?"


Manda langsung mengangguk. 


"Lo gak papa kan?" Tanya Rival yang jual mahal tapi ia khawatir sebenarnya.


"Iya gue gak papa."


"Gak papa gimana, kaki lo sama tangan lo di perban gini. Lo bilang gak papa? Kak Roy gue khawatir tau." Drama pun dimulai.


Dan mereka pun tertawa kecil dengan sikap Tiffany yang berlebihan itu.


"Gue gak papa kok tif, makanya jangan terlalu nonton drama deh. Gini lo kan?"


"Tapi gue khawatir beneran kak."


"Makasih ya kembaran gue." Roy pun mengacak puncak kepala Tiffany.


"Fran makasih ya udah kesini."


"Iya kak. Cerry juga." Sahut Franda.


"Oh iya cer makasih ya." Tambahnya.


Manda tersenyum tipis padahal ia yang paling khawatir, diantara yang lain tapi usahanya sia-sia dan Roy tetap memihak ke Franda. Tapi tidak masalah karna kebaikan bukan harus dibalas tapi kebaikan datang karna hati yang tulus bukan dipaksa.


"Manda lo khawatir gak sama kak Roy?" Senggol Rival.


"Eh!."


"Ya khawatir lah kan sahabat gue val,"

__ADS_1


Sahabat? Cuma sahabat doang? Ternyata ya!!


Sakit tau gak Roy!!


__ADS_2