
Perjuangan Juan dan tim tidak sia-sia. Kini Bima sudah sadar. Meskipun masih belum bisa diajak komunikasi dengan lancar. Tapi juan suda bisa bernapas lega.
"Jangan terlalu banyak gerak, Bim. Jahitan di kakimu masih basah," ucap Juan memperingatkan. Seakan dia lupa bahwa pria yang ia nasehati ini adalah seorang dokter.
"Bagaimana keadaan istriku, Bang?" tanya Bima sedikit terbata.
"Vita baik, kamu tenang saja," jawab Juan, sengaja menyembunyikan kabar tentang kematiannya.
"Kasihan istriku, pasti dia khawatir," ucap Bima.
Tentu saja dia khawatir, kamu dikabarkan koid, Bro. Bahkan udah dikebumikan.
Juan tersenyum.
"Tak apa, sesekali buat istri senam jantung. Kan semakin banyak rindu semakin mesra nanti kalo ketemu dan itu baik untuk hubungan kalian," ucap Juan sedikit bercanda.
"Peristiwa ini sih gila loh. Masak aku dipaksa tandatangan surat cerai. Penculiknya gila itu. Siapa sih mereka?" tanya Bima heran.
"Itu bukan surat cerai, Bro. Itu surat persetujuan pengalihan perusahaan." Juan menatap sekilas pada Bima.
"Hah? Kok tanda tanganku, harusnya Vita dong?"
"Kamu juga ikut andil, kan sekarang kamu suaminya Vita. Dengan kamu tanda tangan, itu artinya kamu menyetujui Vita menjual asetnya. Tak tik mereka aja sih. Tapi ya sudahlah. Sekarang semua sudah berakhir. Om Laskar sama tante Sera udah bantu kamu sama Vita urus semuanya. Tandatangan kamu berharga sekarang, Bro. Jadi kudu lebih hati-hati," ucap Juan, sedikit bercanda.
"Ya, Bang. Aku ngerti sekarang. Semoga semua ini nggak akan terjadi lagi. Kasihan istriku," ucap Bima.
"Aamiin, kami semua juga berharap demikian." Juan kembali tersenyum.
"Oiya, Bang, Gani gimana?"
"Gani baik, dia kupulanging ke Surabaya. Biar istirahat dulu. Kasihan dia babak belur juga. Mau nikah tapi mukanya jontor," Juan terkekeh.
"Kasihan Gani. Mungkin kalo Gani nggak nendang aku, pasti aku lewat, Bang." ingat Bima.
"Heemm, dia cerita sih. Makanya kita bisa nemuin kamu. Dari kesaksian dia juga," ucap Juan.
"Aku hutang nyawa sama dia, Bang." Jika tersenyum kecut.
"Kalo mau itung-itungan begitu, kamu punya banyak hutang juga sama Zein, sama om Laskar, sama semua orang yang ada di circle kamu."
__ADS_1
Bima menatap Juan, masih belum bisa memahami arti pernyataan itu. Namun ia tak membantah, Bima tersenyum mengiyakan.
"Cepet sembuh, kita pulang ke Batam. Tempat ini nggak aman sama kamu. Nanti Vita juga ada di sana. Kamu jangan khawatirkan dia lagi, oke."
"Oke, Bang. Semoga Vita nggak marah ya, Bang. Aku sudah janji padanya bakalan kasih kabar terus. Ehhh, beberapa hari ini malah ada musibah begini." Bima berusaha bangkit, namun sekujur tubuhnya serasa kaku.
"Kamu nggak usah paksain diri buat bangun dulu. Releks aja dulu. Pokoknya soa Vita kamu jangan khawatir. Sekarang dia ada di Semarang kok. Sama mamamu, sama adikmu. Mereka sangat sangat sayang sama istrimu, makanya dia bawa pulang ke sana," ucap Juan, masih mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Baguslah, setidaknya dia ada temen." Bima tersenyum. Namun tak dipungkiri bahwa saat ini hatinya bertanya-tanya tentang kabar sang istri. Sebab berkali-kali ia meminta Juan menghubungi Vita, Juan selau menolak. Banyak alasan. Pokoknya Juan hanya bilang sebelum kamu sembuh benar, jangan bicara apapun pada Vita, nanti dia khawatir. Hanya itu jawaban Juan.
Bima berusaha percaya. Berusaha mengerti. Meskipun jujur, ada rasa curiga di dalam hatinya. Mengapa ia tidak diizinkan bercengkrama dengan istrinya. Ada apa ini? Bukankah ini patut di pertanyakan. Bahkan Juan juga tidak mengizinkannya memegang ponsel.
Beberapa kali Bima menggerutu kesal. Juan sama sekali tidak mau mengerti dirinya. Bahwa saat ini, dia sedang tersiksa rindu. Bima sangat rindu dengan suara sang istri. Rindu senyuman wanita itu. Rindu tawa wanita itu. Sungguh, Bima sangat rindu.
***
Di lain pihak, seseorang yang disinyalir dalang dari semua peristiwa ini sudah diamankan oleh pihak yang berwajib. Sedangkan Victor sendiri juga bersedia menjalani hukumannya dengan ikhlas. Bahkan dia menitipkan keselamatan putra semata wayangnya pada Laskar.
"Anak muda jaman sekarang, bikin susah orang tua saja," gerutu Laskar kesal. Sedangkan sang istri hanya tersenyum.
"Mafia sepertimu memang patut di buat repot, Pa!" canda Ibu Laila.
"Apa Mama bilang? Papa mafia? Enak saja. Papa pria baik-baik, Ma." Laskar terlihat sewot. Tidak terima ia dikatain mafia oleh sang istri.
"Cewek cantik? Siapa cewek cantik yang berani ngatain Papa?" tanya Laskar, sepertinya ia lupa, bahwa Nadia pernah mengumpatinya dengan kata-kata itu.
"Itu sahabatnya, Zi. Siapa ya namanya waktu itu? Lupa Mama!"
"Ohhhh, si gadis kampung itu. Eh, iya... di mana dia sekarang ya, Ma? Kangen juga Papa, dah lama nggak nindas dia!" ucap Laskar sembari tersenyum lebar.
"Astaga, Pa! Kasihan tahu, dia itu masih lugu, Pa. Jangan diisengin. Kasihan!" ucap Ibu Laila, memperingatkan. Namun, Laskar adalah seseorang yang jarang bisa diingatkan. Dengan senyum liciknya, pria paruh baya ini pun mengirim pesan pada sang menantu, tujuannya tak lain adalah menanyakan Nadia. Laskar rindu menindas anak itu.
Bersambung...
Sambil nunggu Emak update, kalian bisa main ke karya temen emak🥰🥰🥰
Judul : Merried by accident
By: Ririn Puspita Sari
__ADS_1
Bab 9
"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.
Devan mengangguk.
"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.
"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.
Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.
"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.
"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.
Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.
"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.
"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.
"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.
"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.
Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"
"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.
"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.
"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."
"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.
"Kalau begitu menikah saja denganku!"
"Aku tidak mau!" tolak Bella.
__ADS_1
"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.